Jumat, 24 April 2009

Ibuku Kekasihku 03

Ibuku Kekasihku 03

Sambungan dari bagian 02

Beberapa hari kami tidak betegur sapa dan aku pun cuek padanya. Setiap ada kesempatan, aku selalu pergi mencari Nita dan bercinta dengan Nita. Kupikir bahwa Nita ini benar-benar mencintaiku. Timbul pikiran normalku sekali-sekali bahwa Hesty itu sebenarnya adalah Ibu kandungku, wanita yang melahirkan aku, tapi kenapa sampai akhirnya semuanya jadi begini.

Gimana perasaan Papa bila dia tahu perbuatan terkutuk kami ini? Dan gimana juga kalau sampai Papa tahu tentang hubungan sex abnormal antara Rocky dan Tanty? Kasihan Papa itu, dia seorang laki-laki yang baik yang selalu bekerja keras untuk menghidupi keluarganya, walaupun ada kekurangannya yang tidak disukai Ibu, yaitu suka minum alkohol hingga sering berlebihan. Tetapi dia adalah tetap sebagai ayahku, orang yang sangat kuhormati. Tidak sadar air mataku mengalir, di tengah malam yang kelam dalam kamar tidurku sendirian kubayangi Papa dan Ibuku tidur berpelukan dalam kamar mereka.

Tetapi akhirnya lebih banyak pikiran setan yang menguasi otakku, aku tidak tahan bila melihat Ibu melangkah dan pantatnya bergoyang, padahal selama ini Ibu sudah tidak pernah lagi memakai hot pant di dalam rumah, dan jarang juga memakai celana jeans. Ibu slalu memakai baju panjang atau daster bila lagi di rumah.

Suatu hari aku memergokinya di dapur dan kucubit pantatnya hingga Ibu kaget dan menatapku dengan tidak senang, untung saja pembantu tidak melihat perbuatanku itu. Kegilaanku semakin menjadi, kami tidak pernah ngomong, tapi tiap saat aku selalu melakukan tindakan-tindakan pelecehan seksual terhadap Ibu. Tapi nampaknya Ibu sangat tabah sekali mengahadapi semua tingkah lakuku itu.

*****

Di suatu malam hatiku jadi luluh ketika melihat ke dalam kamar Ibu, dia bersembahyang. Aduh wanita yang cantik ini, wajahnya nampak semakin cantik dan bersinar saat berdoa. Aku merasa berdosa sekali padanya, aku masuk ke dalam kamarku dan menangis. Tetapi akhirnya kembali lagi iblis menguasai jalan pikiranku.

Di suatu siang yang sepi, aku menemui Ibu baru keluar dari kamarnya Rocky dan Ricky, segera kudekap dia dan kutarik. Kuseret dia masuk ke dalam kamarku, Ibu menjerit tertahan dan kutampar pipinya dan menjambak rambutnya dengan kasarnya.
"Kamu jahanam, mau lari dari aku yaa..?" kataku sambil mengeram dan sekali sentak kusobek baju dasternya.
Ibu berdiri telanjang dan ngilu di hadapanku. Dan ketika kusuruh dia untuk membuka celana dalamnya, Ibu melakukannya tanpa melawan sama sekali dan kepalanya hanya menunduk.

Kusuruh pula dia berdiri mengangkangkan kakinya dan menunggingkan badannya ke depan dan kusingkap pantatnya, menguak lubang duburnya yang sudah berlubang besar itu. Tanpa rasa jijik sekalipun, kujilati lubang duburnya Ibu itu. Lidahku menjulur masuk ke dalam goa yang menganga merah kehitam-hitaman itu. Aku sudah tidak perduli dengan bau tinja yang keluar dari lubang anus Ibuku yang langsung menusuk hidungku, aku telah terbiasa dengan bau kotorannya Ibu.

Terdengar suara Ibu merintih tertahan dan selanjutnya aku mulai mensodomi Ibuku lagi sambil menyuruhnya tetap membungkukkan badannya ke depan. Tubuhnya dan kepalanya juga kedua buah dadanya yang masih segar itu terguncang-guncang oleh henjakan-henjakanku yang kuat itu. Suara Ibu mengerang dan mendesah seperti orang sedang sengsara.

"Jeeff.. aku ini kan istrimu, kasihani aku doong..!" katanya.
Aku kaget juga mendengar ucapan Ibu itu, tapi hal itu bersamaan dengan orgasmeku memuncak dan aku semakin kuat menghajar pantat Ibu tanpa rasa mengenal belas kasihan padanya. Separuh spermaku tertumpah di luar dan membasahi selangkangnya Ibu dan meleleh turun ke bawah lewat pahanya. Beberapa saat lamanya kubiarkan batang rudalku tertancap di dalam lubang anus Ibu, menikmati sisa-sisa rasa enaknya sambil aku mengerang kenikmatan.

"Sudah Jeff. Ibu capek nich nungging terus." ucap Ibu dengan suara yang lirih sekali, membuatku jadi tertawa dan mencabut batang rudalku keluar.
Seluruh batang zakarku basah dilumuri tinja yang kekuning-kuningan serta tergantung lesu. Aku puas melihatnya, sementara Ibu menegakkan badannya dan berbalik.
Tiba tiba Ibu menjerit seperti kaget. Cepat aku pun berbalik dan melihat siapa gerangan yang sedang berdiri di pintu kamar memandangi kami berdua. Tanty tersenyum dan segera berbalik keluar dari kamar. Aku berbalik dan memeluk Ibu yang masih dalam keadaan telanjang bulat itu, Ibu menangis terisak-isak dalam pelukanku, dengan penuh sayang kubelai rambutnya dan kucium bibirnya.

"Tenang saja Hesty, apapun yang terjadi aku akan bertanggung jawab, kita akan menikah." kataku.
Aku turun ke kamar Ibu mengambil baju dasternya yang lain untuk dikenakannya. Kukunci pintu kamarku dari dalam dan kubaringkan Ibu di atas ranjangku dan kutindih dari atas sambil membelai rambutnya yang sudah mulai nampak ubannya itu beberapa helai. Setiap saat ketika menatap wajahnya aku tetap saja terpesona oleh kecantikannya wanita yang satu ini, sinar matanya yang hitam bening dan teduh, tempat hasrat dan gejolak jiwaku selalu berteduh padanya.

Kuusap pipinya yang masih mulus itu, Ibu pun lalu tersenyum padaku. Aah..! Betapa senangnya. Betapa bahagianya aku memiliki seorang Ibu seperti wanita ini yang sekalian dia juga adalah kekasihku, wanita selingkuhanku, dan apa lagi sebutan lainnya, aku tidak perduli.
"Hesty.. kamu wanita yang paling cantik, yang paling mempesona dalam hidupku." ucapku.
"Aaah masa. Kamu bohong." jawab Ibu, "Lalu si Nita itu gimana..?"
"Aku merasa lebih mencintaimu Hesty. Aku kadang-kadang ragu terhadap si Nita itu."
"Ragu gimana, kelihatannya dia cinta sama kamu Jeff."
"Tapi aku lebih cinta padamu Hesty." kataku.

Lalu kukulum bibirnya dengan penuh nafsu, rupanya birahiku mulai bangkit lagi dan mulai mengerayangi buah dadanya lagi.
"Jeff.. cukup Jeff, besok lagi kita ulangi, aku capek nich..!" kata Ibu dengan suara memelas.
"Oke lah kalo gitu, tapi Hesty, kenapa tadi kamu bilang kamu itu adalah istriku..?"
"Aku ini Ibu kamu Jeff, yang melahirkan kamu, tapi sekarang aku telah menjadi istrimu."
"Tapi kita kan belum menikah Hes..?"
"Memang kita tidak akan pernah bisa menikah selama Papamu masih hidup Sayang." jawabnya sambil membelai rambutku dan menatapku dengan bola-bola matanya yang hitam bening itu.

"Tapi.." Ibu tidak melanjutkan kata-katanya.
"Tapi apa Hesty..?"
"Sudah Jeff, aku tak mau lama-lama di sini, entar mereka curiga lagi."
Lalu Ibu segera berdiri dan merapikan rambutnya dan bergegas keluar dari kamarku.

Malamnya kutemui Tanty di kamarnya. Rupanya dia lagi belajar, sebab sebentar lagi dia akan maju ujian negara. Dengan hanya memakai celana pendek, dia duduk di kursi, di meja belajarnya dan cuek saja dengan kehadiranku di situ.
"Kamu mau apa Jeff..?" Tanty bertanya tanpa menoleh padaku, nampak sekali kalau dia begitu menganggap enteng padaku. Aku merasa benar-benar tidak berharkat lagi di hadapannya.

"Aku mau ngomong sama Kak Tanty." jawabku pelan seperti orang pesakitan.
"Ngomong soal apa..?" tanya Tanty dan tetap saja tidak mau menoleh kepadaku, terus saja membaca.
"Aku minta supaya Kak Tanty nggak kasih tau sama Papa soal apa yang Kak Tanty lihat tadi itu."
"Oh itu toch..!" ucapnya sambil tertawa seperti mengejekku.
"Nggak kok, Kak Tanty nggak bakalan ngomong, soalnya kamu juga nggak ngomong soal Kak Tanty dengan Rocky kan..?"
Lalu dia berdiri dan menghampiriku, duduk di sampingku.

Sekilas kulihat betis pahanya yang banyak ditumbuhi bulu-bulu halus, bayanganku melayang ke lubang kamluannya Tanty ini yang berbulu lebat. Tidak sadar tanganku mengusap paha kakak tiriku ini, ternyata dia diam saja tidak bereaksi.
"Udah lama ya kamu main sama Ibu Jeff..?" Tanty bertanya.
"Ya udah memasuki tahun ketiga ini." jawabku.
"Duh, cukup lama dong. Pantes lobang dubur Ibu udah jadi gitu melar sekali."
"Bukan aku kok yang pertama kali sodomi Ibu, Kak Tanty."

"Jadi kamu tau siapa orang yang pertama kali sodomi sama Ibu..?"
"Menurut Ibu katanya Oom Errol. Lalu kalau Kak Tanty pertama kali disodomi sama siapa? Apakah Kak Tanty masih perawan atau sudah nggak lagi?"
Kakakku Tanty tidak menjawab, tapi hanya menarik napas panjang dan menatap sayu ke depan seperti sedang menerawang jauh. Sementara itu tanganku semakin berani makin jauh bergerak menelusuri kulit mulus pahanya itu. Birahiku mulai timbul lagi sementara jari-jariku telah sampai ke dekat selangkangannya Kak Tanty ini.

Tiba-tiba Tanty mengangkat tanganku dan mendorongnya dengan kasarnya.
"Kamu mau apa Jeff..?" suaranya tegas seperti marah.
"Ah nggak kok." jawabku merasa malu dan segera berdiri dan keluar dari dalam kamarnya.

*****

Beberapa hari kemudian aku pergi ke rumahnya Oom Peter mencari Nita, aku lagi birahi padanya. Tapi rupanya Nita belum datang, Oom Peter pun lagi sibuk dengan pekerjaanya. Pintu kamar yang biasa dipakai Oom Errol nampak tertutup, lalu pelan kumasuki kamar yang sebelahnya tanpa setahu Oom Peter dan segera aku mengintip ke lubang dinding. Apa yang kulihat itu membuat jantungku berdegub kencang, sulit untuk dapat dipercaya, tapi aku melihatnya jelas sekali, Tanty dan Oom Errol sedang bersetubuh.
Kapan laki laki keparat ini datang? pikirku.
Dia memang laki-laki tampan dan macho, pantas banyak wanita yang tergila-gila padanya. Darahku jadi mendidih mengingat Oom Errol ini. Setelah Ibuku, sekarang giliran kakakku yang jadi korbannya. Kuintip lagi, nampaknya Tanty sangat menikmati persetubuhan ini, buktinya keduanya saling berciuman lama dan mesrahnya sambil Tanty mengoyang-goyang pinggulnya persis seperti seorang pelacur profesional.

Aku kembali ke ruang tengah dan terduduk lesu di sofa, beribu macam pikiranku berkecamuk. Ingin sekali aku membunuh manusia yang bernama Errol ini. Kutunggu hingga keduanya keluar dari dalam kamar. Tanty hanya mengenakan daster yang bagian atasnya terbuka lebar, bahkan kedua gunung montok di dadanya pun nampak menggumpal dengan jelasnya. Di wajahnya yang cantik mulus itu masih ada tetesan keringatnya, juga di lehernya dan dadanya, bahkan rambutnya yang panjang itu juga masih awut-awutan. Tanty terkejut sekali melihatku duduk di situ. Aku menatap Oom Errol dengan tajam penuh amarah dan bangkit menghampirinya, sejenak kami bertatapan, aku mendengus saking marahnya dan mengepal tinjuku.

"Kau setan jahaman, setelah Ibu kini Tanty juga kau makan, anjing..!" kataku dengan kasarnya.
Tapi dia hanya tersenyum memandangku setengah mengejek.
"Kalau aku bajingan, lantas kau apa Jeff..?" Oom Errol bertanya sambil terus juga menatapku.
"Kau lebih dari pada bajingan Jeff, Ibu kandungmu kamu perkosa, kakak tirimu mau juga kamu perkosa. Kamu ini sama saja dengan Bapakmu Jeff." kata Oom Errol tajam padaku.
Aku melayangkan tinjuku ke wajahnya, tapi dengan sigap dan cepat Oom Errol mengelak dan melangkah mundur, akibatnya aku jatuh tersungkur ke depan dan menabrak dinding. Tanty cepat merangkulku, memelukku dan kulihat air mata di pipinya meruntuhkan amarahku, walaupun bagaimana juga dia adalah kakakku.

Bersambung ...

Ibuku Kekasihku 04

Sambungan dari bagian 03

Tanty menangis terisak-isak di dadaku, sementara aku hanya berdiri diam seperti patung dan melihat Oom Errol berjalan keluar dari rumah. Aku yakin sekali dapat mengalahkan laki-laki jahanam itu kalau kami berkelahi, sebab pasti dirinya lagi lemas sehabis selesai bersetubuh. Oom Peter datang menenteramkan aku. Aku menatap laki-laki Ambon ini dengan tatapan tajam pula, rasanya ingin juga kuhancurkan kepalanya.

"Rupanya rumah Oom Peter ini sudah jadi rumah mesum ya..?" kataku.
"Rumahku ini bukan rumah mesum Jeff, tetapi adalah rumah di mana Ibu kamu mencari duit dan kasih sayang, tempat bagi Nita mencari nafkah, dan juga tempat bagi kakakmu Tanty ini untuk mencari kasih sayang, kamu ngerti sekarang..?" jawab Oom Peter, rupanya dia tersinggung.
"Emangnya kenapa dengan Nita..?" aku bertanya ingin tahu.
"Emangnya kamu pikir si Nita itu cuman tidur dengan kamu ya?" katanya sambil memandangku sinis.

Segera kutarik lengan Tanty untuk mengajaknya pulang.
"Aku ganti baju dulu Jeff.." katanya.
Aku menunggunya sebentar di dalam mobil, lalu kami meninggalkan tempat tersebut. Dalam perjalanan menuju pulang kami saling membisu.

Bebarapa hari ini aku hanya mengurung diri di dalam kamarku, aku sama sekali tidak ingin keluar rumah. Seorang teman yang datang ke rumah mengajakku bekerja bersama dia, tapi aku menolak. Aku berjanji dalam hati bila si Errol keparat itu berani muncul di rumah sini, aku berniat untuk menghabisinya. Persetan dengan penjara.

*****

Beberapa hari ini kulihat ada perubahan lain dari Ibu, wajahnya sering nampak pucat dan suka muntah-muntah. Tapi setiap kutanyakan, Ibu hanya bilang bahwa dia masuk angin. Hingga di suatu pagi Ibu mengajakku menemaninya ke rumah sakit. Betapa kagetnya aku ketika Ibu menuju ke bagian dokter spesialis kandungan. Aku hampir-hampir mau pingsan ketika sepulang dari rumah sakit Ibu memberitahukanku bahwa saat ini Ibu sedang hamil, dan katanya aku lah yang menghamilinya.

"Kamu pasti nggak percaya, soalnya kamu lebih banyak sodomi sama Ibu, tapi kamu ingat waktu di kamarnya Ibu siang-siang itu, sewaktu kamu marah dan kamu setubuhi Ibu dengan kasarnya itu? Waktu itu Ibu lagi masa suburnya." ucap Ibu dengan suara terbata-bata menahan sedihnya.
"Ya.. sekarang aku ingat, tapi usia Ibu sekarang sudah empat puluh tujuh, apa nggak bahaya itu?"
"Kata dokter sih nggak apa-apa, asalkan Ibu mesti hati-hati dan banyak istirahat."
"Jadi sekarang kita mesti gimana Bu..?" aku bertanya, soalnya aku bingung, bingung sekali.
Aku menghamili Ibu kandungku sendiri, aduh..!

"Ibu takut mengugurkannya Jeff, apalagi di usia yang sudah ngga muda lagi, Ibu bisa berbahaya."
Hatiku terharu sekali, suara Ibu begitu sendu memohon padaku, jadi aku mesti bertanggung jawab. Kupeluk Ibu, kucium dia dengan penuh haru dan sayang, kubelai rambutnya yang mulai agak beruban itu. Wanita yang begitu kusayangi dan kucintai dia, air mataku jatuh membasahi pipinya, aku menangis tersedu dalam pelukannya sambil kami berpelukan erat-erat.

Semalaman aku tidak dapat tertidur memikirkan hal ini, aneh juga! Terus gimana status anak itu nanti? Dia adalah anakku sebab dia berasal dari benihku, tetapi juga adalah adikku, sebab dia keluar dari dalam rahim Ibu di mana dulu aku juga keluar dari situ. Jelas dia itu anaknya Ibu tetapi juga adalah cucunya Ibu. Dan apakah nanti Ibu dapat melahirkan dengan selamat?

Hari-hari terus berlalu dan kehamilan Ibu mulai nampak jelas. Selama ini aku tetap dengan setianya mengawal Ibu ke rumah sakit untuk periksa kehamilannya itu. Kami berjalan berdampingan bergandeng tangan persis seperti sepasang suami istri. Dan suatu surprised bagiku, yaitu lamaranku ke sebuah Hotel diterima setelah menjalani testing. Pada hari yang ditentukan aku mulai masuk kerja di Hotel itu, berarti akhir bulan nanti aku terima gaji dan semua uang gajiku itu pasti mesti kuserahkan pada istriku, yaitu Ibu kandungku sendiri.

Selama itu bila bertemu dengan Tanty di dalam rumah, dia selalu menatapku dengan tajam, tapi seperti mengejekku. Dan nampaknya dia mulai berani terang-terangan berpacaran sekarang, sepertinya dia tidak takut lagi sama Papa dan Ibu. Ada dua orang laki-laki yang secara bergantian mengapelinya ke rumah. Dan suatu saat aku mendapat berita dari seorang teman bahwa Tanty dan cowoknya itu sering short time di hotel. Ada tiga orang laki-laki yang saat ini sedang berhubungan dengan Tanty, termasuk si Errol jahanam itu.

Rupanya Tanty melarangnya tidak boleh datang ke rumah, dan rupanya Errol telah memutuskan hubungannya dengan Ibu setelah tahu kalau aku telah selingkuh dengan Ibu. Dan kulihat si Rocky ini sudah menggandeng cewek lain lagi. Hanya Papa yang kelihatannya seperti orang bengong saja dan badannya makin tambah kurus saja, dia 'minum' terus. Hampir tiap hari Papa pulang dalam keadaan mabuk berat.

*****

Ketika kandungan Ibu memasuki bulan keempat, aku tidak berani lagi menyetubuhinya. Atas anjuran dokter, Ibu mesti banyak istirahat dan jaga kondisi. Akhirnya tidak ada jalan lain, aku meminta Ibu main oral saja.

Berkali-kali aku melakukan oral seks dengan Ibu. Ibu menghisap rudalku, memainkan lidahnya pada kepala kemaluanku dan aku merasa begitu sangat kenikmatan juga. Setiap begitu terasa mau keluar, kupegang kepala Ibu kuat-kuat. Kuhujamkan batang rudalku ke dalam mulut Ibu sedalam-dalamnya sampai ke dalam tenggorokannya, membuat Ibu hampir-hampir tidak dapat bernapas. Sering sekali kusemprotkan semua spermaku langsung masuk ke dalam kerongkongan Ibu yang terpaksa harus menelannya.

Para pembaca semuanya, akhirnya kuambil keputusan dalam hidupku ini, bahwa aku tidak akan pernah menikah dengan wanita siapapun juga selama hidupku. Sebab aku mesti bertanggung jawab atas perbuatanku terhadap Ibu kandungku sendiri, walau kami tidak pernah menikah secara resmi.

*****

Akhirnya Ibu telah hamil tua, perutnya semakin membesar dan jalannya kepayahan. Aku jadi semakin cinta padanya. Setiap pulang kerja, ada-ada saja oleh-oleh yang kubawa untuk Ibu, untuk menyenangkan hatinya. Dan di masa hamilnya itu, wajahnya semakin cantik bersinar. Suatu siang ketika pulang dari Hotel kudapati Ibu sedang duduk di ruang tengah, wajahnya berkeringat tapi senyum manisnya tetap menghiasi bibirnya itu, kuhampiri dia dan mencium dahinya.

Ada suara mendehem di belakang, Papa rupanya yang memandangku, membuatku terkesiap. Betapa tajamnya pandangan mata Papa itu, seperti penuh rasa kebencian dan amarah. Aku jadi tergagap dan segera berlalu dari situ.

*****

Suatu malam tiba-tiba Tanty memasuki kamarku.
"Jeff, kamu dipanggil sama istrimu." suaranya pelan tapi cukup untuk membuatku kaget setengah mati, sementara Tanty hanya menatapku dengan senyum mengejek.
"Rupanya istrimu mau melahirkan Jeff." katanya lalu segera berlari keluar dari kamarku.
Aku mengejarnya menuruni tangga, Ibu dan Papa serta Erick sedang berada di ruang tengah, juga ada si Boyke pacarnya Tanty dan Tanty juga. Ibu nampaknya lemah dan sakit.
"Jeff, kita bawa Ibu ke rumah sakit aja, rupanya sudah waktunya untuk Ibu." kata papa.

Tanpa banyak komentar, kupegang Ibu dan memapahnya berdiri dan memeluknya, sementara Erick telah mengeluarkan mobil dari garasi. Aku duduk di belakang memeluk Ibu di samping Papa. Erick menyetir mobil, Tanty dan Boyke ikut dari belakang dengan mobilnya Boyke. Jantungku berdegub keras, ini pengalaman pertama bagiku melihat istriku yang sekaligus adalah Ibuku melahirkan.

Kami semua menunggu di depan ruang persalinan dengan tegang, apalagi aku. Sudah satu jam lebih Ibu masuk ke dalam dan belum ada berita apa-apa, aku tambah gelisah saja. Tidak sadar tanganku dipegang sama Tanty yang menatapku dengan senyum.
"Kuatkan hatimu Jeff." katanya dengan senyum untuk menentramkan hatiku.

Tiba-tiba seorang suster keluar dan memanggil namaku, aku diminta untuk masuk ke dalam. Aku jadi tegang ketika memasuki ruangan bersalin itu. Di atas tempat tidur kulihat Ibu sedang berjuang menghadapi maut, wajahnya pucat pasi dengan mimik wajah sangat kesakitan dan berkeringat. Kuhampiri tempat tidur dan memegang erat-erat tangannya, sementara dokter kelihatan sibuk di antara kedua pahanya Ibu, mengutak-atik vaginanya Ibu yang sedang berusaha kuat untuk mengeluarkan si bayi itu.

Aku yang jarang berdoa lalu tiba-tiba jadi bisa berdoa komat kamit.
"Tuhan, tolong kami Tuhan." pintaku dengan sangat.
Tanpa terasa air mataku pun ikut mengalir sambil tetap kugengam erat-erat tangan Ibu. Kalau saja Tuhan mengijinkan, biar saja nyawaku yang Dia ambil, jangan nyawanya Ibu atau nyawanya anakku. Ooh Tuhaann..!

Tiba-tiba terdengar jerit tangis bayi yang sangat kuat, aku terkejut bercampur gembira, kupeluk istriku Hesty dan kami berdua sama-sama berderai dalam air mata, air mata kebahagiaan. Sebuah tangan yang halus menyentuh pundakku dan aku berpaling, kulihat seraut wajah cantik yang mulus dan berlinang air mata menatapku dengan tersenyum, Tanty. Aku memeluknya dengan penuh haru, kami bertiga berpelukan dalam tangis, aku, Ibu dan Tanty. Kemudian Ibu dibawa pergi ke ruang sebelah untuk dibersihkan badannya, juga si bayi itu dan kami semuanya keluar dari ruang bersalin itu.

Baru kusadari bahwa Papa tadi tidak ikut masuk. Aku mencari Papa di luar, dia sedang duduk terpekur seorang diri di kursi di pojok ruang tunggu itu. Kuhampiri Papa dan memeluknya penuh haru, kulihat mata Papa memerah.
"Papa, Ibu dan bayi dua-duanya selamat." kataku penuh gembira.
Papa hanya menatapku sedih, "Ya, tapi Papa tidak tau siapa ayah dari bayi itu." suara Papa terdengar parau dan bergetar.

Oh Tuhan, aku hampir pingsan mendengarnya, berarti selama ini Papa benar-benar tidak tahu tentang penyelewenganku dengan Ibu, bahkan sampai Ibu hamil pun Papa tidak pernah mengetahui siapa pelakunya. Aku memeluknya penuh haru, dia orang yang sangat baik, tapi dosa-dosaku padanya sungguh tidak terampun lagi.

Akhirnya Ibu dan bayi boleh pulang setelah dua hari dirawat di rumah sakit. Dan para pembaca sekalian, lima tahun kemudian Ibu telah nampak tua, tapi sisa-sisa dari kecantikannya masih tetap membekas. Dia duduk memangku anakku, anak kami berdua. Soraya namanya. Dia cantik manis dan lucu sekali.

TAMAT

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

apa kesan saat anda membaca blog saya nie?...