<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8096187244134823528</id><updated>2012-02-16T12:13:35.320-08:00</updated><category term='sex di kalangan kampus'/><title type='text'>ALITA</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://alita-dee.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8096187244134823528/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alita-dee.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>dee alita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15608335270076570228</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_klCrRrqSP08/SfEyqgcHvAI/AAAAAAAAAAk/RLjidh3m4gM/S220/gueeeeeeeeeeeeee.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>87</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8096187244134823528.post-7021070381645266353</id><published>2009-06-30T02:23:00.000-07:00</published><updated>2009-06-30T02:24:31.345-07:00</updated><title type='text'>Istri Untuk Membayar Hutang – 7</title><content type='html'>Bibir Pakde terus melata hingga lutut dan siap memasuki wilayah paha belalang Rini. Ya, paha ini dulu sangat terkenal. Saat Rini bermain volley dalam pertandaingan antar SMU, paha Rinilah yang selalu membuat para siswa lelaki meneteskan air liur. Anak-anak SMU bilang 'paha dan betis belalang Rini' selalu terbawa dalam mimpi mereka. Mungkin maksudnya saat anak-anak itu masturbasi khayalannya terbang menciumi paha Rini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan paha itu kini bukan dalam impian Pakde. Paha itu kini nyata dalam rengkuhannya. Pakde mengecupi dan menjilat setiap sentimeter areal paha Rini. Duh, bukan main gatalnya. Ciuman Pakde dari mulut dan pipi serta dagunya yang bercukur bulu-bulu pendeknya begitu menggelitik sanubari Rini. Gatalnya telah manembus ke hulu hatinya. Rini kelabakan kewalahan menahan derita gatal nikmatnya. Dia menjerit-jerit minta Pakde melepaskannya. Kakinya menendang menolak tubuh Pakde.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi mana mungkin. Tubuh Pakde telah sempurna menindih dan tangannya menjepit dengan kuatnya. Aroma yang menebar dari paha Rini membuat tenaga Pakde semakin kukuh untuk tetap menguasai tingkah Rini. Tidak akan ada kata menyerah. Dan jilatan Pakde itu merambah terus hingga ke selangkangan Rini yang ditumbuhi bulu-bulu kemaluan yang sangat lembut. Pakde merem melek saat lidah dan bibirnya melumat-lumat selangkangan Rini. Dan tak ayal lagi, rambahan itu sampai ke lubang vaginanya. Namun Pakde tidak melanjutkannya. Dia hanya mampir sejenak untuk kemudian dengan tangannya mendorong balik tubuh Rini hingga posisinya tengkurap di kasur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini nampak pantat Rini yang menjumbul dengan indahnya. Pakde sudah kesetanan. Wajahnya langsung nyungsep ke belahan pantat Rini. Dia menjilati lubang duburnya. Tentu saja hal ini membuat Rini tersentak. Bagi Rini lubang dubur adalah hal yang sangat tak senonoh untuk didekati, apalgi dicium atau bahkan dijilati macam yang dilakukan Pakde pada dirinya sekarang ini. Tabu, katanya. Pemali, orang bilang. Tetapi tidak bagi Pakde Karto. Jilatannya terasa 'keri' menusuk-nusuk lubang pantat Rini. Bahkan dengan tenaganya dia mengangkat pinggul Rini sehingga dia berposisi nungging. Pantatnya lebih menonjol dengan lubang duburnya tepat di arah wajah Pakde. Rini yang belum sepenuhnya mau menerima ulah Pakde yang tabu berontak mati-matian untuk menghindarkan Pakde menciumi pantatnya. Dia berusaha bangun sambil,&lt;br /&gt;"Tidaakk.. jangaann.. jangaann.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi larangannya itu justru semakin memicu kehendak nafsu Pakde Karto. Dia cepat berpikir bahwa pantat Rini masih pantat perawan. Kalau dulu Herman merawani vaginanya, kini dia berkesempatan merawani lubang pantatnya. Dia telikung Rini dengan sekuat tenaganya. Dia pegang erat-erat pinggulnya sambil mulutnya tidak melepaskan sedotan-sedotan pada lubang anal yang perawan itu. Dan Pakde sangat kuat. Rini tak mampu melawannya. Perasaan tabunya membuat Rini ketakutan. Tetapi yang dia bisa perbuat sekarang hanyalah menangis sambil memohon,&lt;br /&gt;"Jangaann Pakdee.. ampuunn, jangaann.., ampuunn Pakdee.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apapun rintihan Rini tak lagi didengarnya. Ini sudak perkosaan. Dari balik dinding Herman juga mengutuk Pakdenya. Isak tangis istrinya benar-benar membuatnya iba. Akankah Pakde menyakitinya? Apa yang bisa dia perbuat untuk membantu Rini? Dan ternyata itu baru awal dari hal berikutnya yang akan membuat tangis Rini serasa tak berkesudahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciuman Pakde bergeser ke atas. Pinggul Rini dilumat-lumatnya. Juga punggung kemudian bahu dan kuduknya. Rini yang masih terisak kembali menemukan gelinjangnya. Tetapi itu tak lama. Di bawah sana penis Pakde yang demikian hebat ukurannya terasa mendesaki bokong Rini. Rini puny firasat. Sekali lagi dia berontak untuk mencegah nafsu setan Pakde Karto. Tetapi sekali lagi Pakde Karto mampu membuat isteri Herman itu tak berdaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini rambut Rini yang terurai dijambaknya. Dia gunakan rambut Rini ibarat tali kekang kuda. Dia hela rambut itu kebelakang sementara penis itu mulai menumbuk-numbuk lubang anal Rini. Rasa sakit yang hebat menimpa Rini. Lubang analnya serasa dicolok dengan kayu menyala, Panas dan sakitnya bukan main. Beberapa kali Pakde melumasi dengan ludah pada penisnya agar bisa menembus dengan lubang anal Rini. Memang ada kemajuan. Tetapi apa yang dirasakan Rini? Setiap mili kemajuan penis itu masuk menembus analnya, kepedihan tak terkatakan datang menjemput.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan disinilah dramatiknya. Akhirnya penis itu memang tenggelam tertelan anal Rini, tetapi akibatnya Rini kelenger, pingsan. Pakde tahu, tetapi dia sangat tenang. Dia bisa mengendalikan dirinya. Tanpa melepaskan kemaluannya pada lubang itu, dia raih wewangian aroma terapi yang tersedia di meja samping ranjang. Dia kecroti hidung Rini dengan wewangian itu. Dan, ah manjur benar. Rini terbangun dan langsung kembali menangis karena menahan rasa sakit di pantatnya. Dia tak lagi menolak karena pasti hanyalah sia-sia. Justru tolakannya semakin merangsang nafsu setannya Pakde. Dan Pakde sendiri berusaha sabar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk beberapa saat dia tidak bergerak. Pikirnya, biarlah Rini menyesuaikan diri dulu, dimana penisnya kini sedang menghunjam ke dalam pantatnya. Dia hanya peluki punggung Rini sambil merajuk dan mencumbu. "Nggak apa-apa Rin, jangan takuutt.. nanti ennaakk.. jangan takutt.." sedu sedan Rini masih terdengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke Herman yang kini mengutuk habis-habisan ulah Pakdenya. Tetapi mana berani dia menyampaikan kutukkan itu hingga ke kuping Pakdenya. Yang ada tinggal rasa cemas dan semakin merasa betapa semua itu karena kesalahan dirinya. Rini telah menjadi korban tingkah lakunya yang pengecut. Ooo.., kenapa jadi beginii..??!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aneh, ternyata cumbuan Pakde Karto seperti menyihir Rini. Isakan tangisnya tak lagi terdengar. Walaupun masih sering terdengar kata&lt;br /&gt;"Aduuhh, sakiitt.., yang pelaann.." namun tak ada uapaya menolak dari Rini saat Pakde kembali menggoyang kemaluannya pada anal isteri Herman itu. Dan setelah beberapa saat kemudian goyangan Pakde berubah menjadi pompaan sebagaimana dia memompa vaginanya, Rini sama sekali tidak mengaduh tetapi, nah lihatlah.. Herman melotot keheranan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini dia menyaksikan isterinya mengimbangi goyangan saat penis panjang Pakde menusuki pantatnya. Ternyata Rini dengan cepat memahami kenikmatan yang dijanjikan Pakde Karto. Bahkan ketika beberapa kali penis itu copot dari analnya, tangan Rini dengan sigap menjemputnya kembali untuk diarahkan tepat ke lubang duburnya. Sungguh sebuah pemandangan yang sangat atraktip. Seorang dewi cantik manis dalam posisi menungging dia atas ranjang beralaskan sutra melengkungkan pinggulnya untuk mengangkat tinggi-tinggi pantatnya. Sementara di arah belakang seorang lelaki gagah sedang menusuk-tuskkan penis monsternya ke arah lubang pantat sang dewi. Kini Herman mempercepat kocokkan tangannya. Dia ingin meraih orgasmenya, entah untuk yang keberapa kali sejak sore tadi, saat menyaksikan pemandangan yang sangat atraktip itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pakde Karto benar-benar nampak seperti joki. Kuda betina cantiknya diraih surainya. Dia memompa Rini sambil menarik rambutnya sebagai tali kekang. Dan ketika nafsu-nafsu menjemputi puncak-puncaknya. Ketika Rini merasakan betapa benar kata Pakde bahwa dia akan menerima kenikmatan yang kini sedang menapaki puncaknya. Ketika Herman dari balik dinding tak lagi merasakan lecet-lecet pada kulit kemaluannya karena kenikmatan puncak sedang merambatinya. Dan ketika Pakde Karto tak lagi mampu menahan sperma untuk tidak tumpah, dan bahkan kini telah berada di ambang nikmatnya yang paling tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka badai gaduh, jerit, desah dan rintih pada berhamburan. Mulut Rini menjerit dalam rintihan menahan gelora birahi sambil pantatnya dengan kencang maju mundur menjemputi kemaluan Pakde Karto. Dan Herman dari balik dinding merintih tertahan, karena khawatir tertangkap basah, sambil mempercepat koncokkan penisnya yang juga ngaceng berkilatan. Pakde Karto sendiri yang bagai serigala lapar sedang mengejar mangsa, meracau dan mendesah keras-keras menjemput spermanya yang .. naahh.. achirnyaa.. tak tertahan.. tumpah ruah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pantat Rini masih terus menjemputi, penis Pakde masih memompa, tangan Herman semakin menambah guratan-guratan pedih sebelum ketiganya tumbang, roboh. Rini dan Pakde bergelimpang di ranjang beralaskan sutera. Tetapi Herman bergelimpang di lantai dingin di kamarnya sendiri. Herman langsung tertidur. Hari ini begitu banyak hal yang sagat melelahkan. Tekanan fisik dan mental serta kesenangan birahi silih berganti. Dia terbangun saat matahri telah tinggi. Dia kaget geragapan. Pakde Karto pasti akan marah, pikirnya. Tetapi hal itu tak terjadi. Pakde Karto bersama Rini semalaman merguk kenikmatan madu. Mereka baru usai dan tertidur menjelang subuh. Kini nampak oleh Herman dari balik dinding, isterinya dalam pelukan Pakde Karto meringkuk dalam selimut tebal. Herman yakin mereka sama-sama bertelanjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Herman menjerang air untuk membuat kopi. Dia perlu ngopi. Dia juga membuat kopi untuk yang sekarang masih tidur dalam pelukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perpisahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya Herman terbuka pikirannya. Dia akan dan harus meninggalkan Rini. Tak mungkin lagi baginya merintis dan memperbarui hubungan suami isteri dengan Rini. Hal itu dia yakini akan baik untuk dirinya dan juga baik untuk Rini. Dan dia merasa tak perlu bertanya setuju atau tidaknya pada Rini. Keputusan dia memang sepihak, tetapi itu sudah merupakan keputusan final. Mana mungkin, seorang isteri telah melakukan hubungan seksual dengan penuh nikmat dan sukacita, sementara tahu persis suaminya berada di kamar sebelahnya. Apapun alasannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Herman juga yakin Pakdenya bisa menerima jalan pikirannya. Dan bahkan mungkin setengahnya bersyukur. Bukankah dia sangat tergila-gila pada Rini. Dan kini kehendaknya telah kesampaian. Dan Pakde Karto menujukkan kepuasannya yang luar biasa. Siapa tahu, Pakde Karto akan meneruskan keinginannya untuk melamar dan kemudian menikahi Rini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi yang sangat cerah di Villa Rimbun Ciawi yang sejuk. Pagi itu kedua insan yang sedang mengumbar nafsu syahwatnya kembali saling bercumbu. Mereka menikmati udara segar dan cahaya matahari pagi yang hangat. Dengan latar belakang dedaunan pakis, pohon pinus dan gemericiknya kali kecil yang aitnya jatuh ke bebatuan Pakde Karto menuntun Rini ke rimbunan tanaman hias yang penuh bunga. Wewangian bunga-bunga yang warna-warni itu mengantarkan mereka terbang mengawang-awang nikmat syahwat dan birahi tanpa batas. Lama mereka berpagut. Saling kecup dan jilat pada bagian-bagian tubuh mereka yang paling merangsang nafsu dilakukan di kebun indah di belakang villa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pakde Karto tak puas-puasnya menggeluti Rini yang isteri orang lain itu. Dan sebaliknya Rini yang tak pernah lagi memikirkan Herman suaminya tak lelah-lelahnya melakukan tingkah untuk merangsang syahwat Pakdenya. Dia memang benar-benar perempuan panas yang selalu ingin hubungan seksual dengan lelaki perkasa ini. Dia merasakan betapa Pakde mampu menggali seluruh rahasia nikmat syahwat yang ada pada dirinya. Kini Rinilah yang tergila-gila pada Pakde Karto. Dia bersedia melakukan apapun yang akan diminta Pakde. Bahkan sebagaimana yang kini terjadi. Pakde menggelandang Rini untuk berasyik masyuk di dalam taman Villa Rimbun Ciawi yang sejuk dan indah ini. Mereka kini telah bergulingan di atas matras yang sebelumnya telah disiapkan Herman atas permintaan Pakdenya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Herman juga baru tahu apa maksud permintaan Pakde Karto untuk menggelar matras tadi. Tetapi Herman sekarang juga bukan Herman yang kemarin. Walaupun di depan matanya kini dia saksikan isterinya Rini bergelut nikmat bersama Pakde Karto, dia tidak lagi terbawa emosi. Yang dia pikirkan sekaranga adalah, "Pergi.., pergi, pergi, pergi, pergi..!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah. Herman telah berketatapan untuk meninggalkan semuanya. Meninggalkan isterinya, meninggalkan Pakde yang telah menghancurkannya dan dia juga akan meninggalkan judi togel. Selamat tinggal masa lalu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Pakde bersama Rini sedang mendayung kenikmatan, Herman menyelinap. Dia pergi tanpa pesan.&lt;br /&gt;"Mereka akan tahu, tanpa harus kuucapkan," demikianlah tekad dan keyakinannya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8096187244134823528-7021070381645266353?l=alita-dee.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alita-dee.blogspot.com/feeds/7021070381645266353/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://alita-dee.blogspot.com/2009/06/istri-untuk-membayar-hutang-7.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8096187244134823528/posts/default/7021070381645266353'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8096187244134823528/posts/default/7021070381645266353'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alita-dee.blogspot.com/2009/06/istri-untuk-membayar-hutang-7.html' title='Istri Untuk Membayar Hutang – 7'/><author><name>dee alita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15608335270076570228</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_klCrRrqSP08/SfEyqgcHvAI/AAAAAAAAAAk/RLjidh3m4gM/S220/gueeeeeeeeeeeeee.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8096187244134823528.post-5409648550317999783</id><published>2009-06-30T02:17:00.000-07:00</published><updated>2009-06-30T02:22:20.043-07:00</updated><title type='text'>Istriku Selingkuh dengan Keponakan</title><content type='html'>Kejadian yang terjadi di rumah tanggaku ini tidak akan terulang lagi, karena istriku sendiri sudah menyadari atas kekilafan yang pernah dia lakukan dan dia pun telah minta maaf dan bersumpah untuk tidak mengulanginya lagi. Sebaliknya aku pun demikian, menyadari bahwa semua itu bukan semata-mata kesalahan istriku saja melainkan aku pun merasa ikut bersalah dan memaklumi kalau ini semua tidak direncanakan sebelumnya dan kami anggap sebagai ujian hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksud dan tujuan semua ini aku ceritakan agar dapat dijadikan pegangan dan referensi buat semua orang yang membacanya, supaya kejadian yang kualami tidak terjadi pada orang lain, disamping hal tersebut agar semakin lepas dari sisa beban batin yang mungkin masih ada di diriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadiannya memang tidak diduga dan tidak direncanakan. Awalnya hanya sedikit salah paham antara aku dan istriku. Dari kesalah-pahaman itu, aku sedikit merasa sakit hati dan saat itu aku mencoba untuk tidak mau bertegur sapa dengan istriku. Hal itu aku lakukan, karena awalnya aku ingin menggoda sampai dimana ketahanan nafsu seks istriku bila tidak kusentuh selama seminggu. Karena perlu diketahui pembaca, bahwa istriku dan aku umumnya tiga hari sekali rutin melakukan senggama dan itu semua umumnya berakhir dengan cucuran kenikmatan. Memang selama ini kami berdua selalu bervariasi dalam melakukan hubungan seks, dan kami merasa tidak mengalami masalah dalam hal yang satu ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum kulanjutkan cerita ini, kuceritakan dulu perihal keluargaku. Di rumahku tinggal aku (36 tahun, asal pulau Pariwisata), istriku Ayu (nama panggilan istriku sesuai dengan orangnya) yang cantik molek, kulit kuning langsat karena turunan dari kota kembang, rambut lurus hitam lebat dan ini sama dengan bulu kemaluannya yang hitam dan lebat, umurnya baru 34 tahun dan hidung mancung, lalu ada dua orang laki-laki lagi yang tinggal di rumahku, yaitu Dani, anakku yang baru berumur tiga tahun dan Wisne (25 tahun) keponakanku yang awalnya numpang tinggal karena keperluan mencari kerja dan saat ini tidak lagi tinggal di rumahku karena telah aku suruh pulang karena menyangkut perselingkuhan dengan istriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi setelah selama tiga hari aku mencoba menggoda benteng ketahanan istriku dengan cara tidak bertegur sapa dan tidak memberikan kebutuhan biologisnya, ada sisi lain yang aku bisa nikmati, yaitu aku melihat perubahan tingkah dari istriku, tingkah laku yang serba salah, tidur tidak tenang dan banyak lagi hal-hal yang sebelumnya tidak pernah aku lihat. Hal ini entah karena aku yang memberikan ekstra perhatian secara sembunyi-sembunyi atau memang karena akibat dari situasi perseteruan antara aku dan istriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu malam, kulihat jam menunjuk di angka sembilan malam, saat itu hari keenam aku membisu, aku sengaja pura-pura tidur duluan dan aku yakin istriku tidak lama pasti menyusul masuk kamar seperti biasanya. Pada jam-jam segitu, umumnya kami masih nonton TV bersama di ruang keluarga termasuk juga Wisne keponakanku. Sebenarnya aku sendiri belum ngantuk tapi aku hanya ingin tahu tingkah laku istriku saja. Beberapa menit aku pura-pura sudah tidur dengan sedikit mengeluarkan suara dengkur dan terlihat bayang-bayang (karena pakai lampu tidur) saat itu istriku susah tidur. Dan aku nyaris tidak percaya dengan apa yang aku lihat bahwa istriku memainkan tangannya di selangkangannya sendiri. Awalnya hanya tangannya yang terlihat bergerak, digesek-gesek naik turun dengan irama yang teratur tapi setelah beberapa saat kemudian, kulihat istriku melepaskan CD-nya dan gerakan tangannya semakin tidak beraturan dibarengi nafas yang semakin ngos-ngosan. Darahku berdesir dan hampir aku tidak bisa menahan nafsuku sendiri ketika melihat istriku terengah-engah karena nikmat yang dibuatnya sendiri. Tapi aku tetap pada pendirianku semula, aku seolah-seolah masih sakit hati dan tidak mau bertegur sapa, jadi saat itu aku hanya menikmati tingkah sensual istriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua hari berikutnya, aku lakukan hal yang sama, yaitu sekitar jam sembilan aku masuk kamar. Beberapa menit aku tunggu, istriku tidak masuk kamar seperti biasanya dan aku sengaja menunggu reaksi selanjutnya karena aku sendiri belum merasa mengantuk. Sekitar setengah jam, istriku belum masuk juga, tapi aku sayup-sayup mendengar istriku bicara dengan seseorang. Dan beberapa saat kemudian, istriku masuk kamar tapi cuma sebentar dan kemudian keluar lagi dengan menutup pintu secara perlahan tidak seperti biasanya, mungkin dikiranya aku sudah tertidur pulas pada saat istriku masuk kamar. Aku semakin ingin tahu, apa yang akan dilakukan istriku selanjutnya dan bebarapa menit kemudian, aku mendengar pintu kamar sebelah, yaitu kamar Wisne keponakanku ditutup, tapi suara TV masih menyala. Aku pikir keponakanku pergi tidur dan istriku masih nonton TV sendiri. Sekitar lima belas menit, aku ingin melihat apa yang dilakukan istriku dengan cara naik di atas kursi melihat melalui jendela ventilasi, tapi di sekeliling ruangan keluarga tidak terlihat seorang pun, hanya TV yang menyala, lalu aku bertanya dalam hati kemana perginya istriku, mungkinkah ke kamar mandi, tapi sayup-sayup kudengar ada suara-suara yang sedikit mencurigakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hati aku berpikir, mungkinkah istriku masturbasi di kamar mandi. Karena semakin penasaran, maka secara perlahan, aku keluar kamar dan bergerak ala detektif mencari asal suara yang mencurigakan itu. Hampir aku tidak percaya, datangnya suara dari kamar keponakanku. Karena diluar dugaanku, aku harus bertindak cepat untuk mengetahui apa yang dilakukan istriku di kamar keponakanku sendiri, hatiku berdebar-debar dan aku sadar tidak boleh ceroboh dalam bertindak, maka secara perlahan kuambil kursi untuk melihat sedang apa mereka di kamar keponakanku. Astaga apa yang kulihat, istriku sedang berciuman mesra dengan Wisne, hampir aku langsung mendobrak pintu kamar keponakanku, tapi aku gemetar bercampur rasa penasaran dan ada perasaan unik tersendiri begitu melihat istriku bergumul dan bermesraan dengan orang lain, sehingga kuputuskan untuk mengintip perselingkuhan yang dilakukan istriku. Sebenarnya ada rasa ingin marah dan cemburu, tapi di sisi lain, ada perasaan lain yang membuat aku berdebar-debar ingin menyaksikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulihat mereka masih ciuman sambil bersandar di dinding, tangan kanan istriku telah merogoh batang kejantanan Wisne yang masih pakai celana pendek dan tangan tangan Wisne meremas-remas buah dada istriku yang masih pakai daster. Jantungku semakin berdebar dan tidak terasa aku ikut terangsang karena selama ini aku pun menahan nafsuku. Terlihat keduanya sangat bernafsu, terutama istriku. Sambil tangan kanan tetap meremas dan mengocok batang kemaluan Wisne, tangan kirinya melepaskan kancing dasternya dan dalam beberapa saat, dasternya merosot ke lantai, sedang tangan Wisne terlihat berusaha membuka kaitan BH istriku, lalu mulut Wisne beralih ke puting susu istriku. Terlihat istriku menggeliat keenakan. Dan tangan istriku tidak ketinggalan, membuka kancing celana Wisne dan langsung melorotkan CD Wisne. Terlihat batang kemaluan Wisne telah tegak dengan gagahnya, besar dan panjangnya hampir sama dengan punyaku, hanya punya Wisne agak sedikit bengkok ke atas dan agak lebih kuning dari punyaku, mungkin karena dia masih perjaka dan belum pernah diasah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan setelah kedua-duanya telanjang bulat, mereka bergeser ke arah ranjang dan sambil masih berciuman, istriku direbahkan dengan kaki masih di lantai.&lt;br /&gt;Terdengar suara permohonan istriku pada Wisne, "Wisne cepat masukkan barangmu.. cepaat..!"&lt;br /&gt;Mereka terlihat terburu-buru. Karena terlalu lebatnya bulu kemaluan istriku, batang kejantanan Wisne tidak bisa langsung masuk, dan tangan Wisne terlihat menyibakkan bulu-bulu kemaluan istriku. Batang kejantanannya digesek-gesekkan ingin masuk, tetapi terlihat agak susah. Perlu diketahui, istriku saat melahirkan Dani dengan cara operasi caesar, jadi hingga saat ini, lubang senggama istriku masih normal dan sempit.&lt;br /&gt;Karena agak mengalami hambatan memasukkan batang kejantanannya, lalu istriku sedikit membuka selangkangannya dan, "Bless.." masuklah kepala batang kejantanan Wisne.&lt;br /&gt;Wajah Wisne terlihat nyengir kegelian yang nikmat dan dengan daya tekan ke depan batang keperkasaan Wisne amblass ke liang senggama istriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ohh.. ohh.." keluh kenikmatan istriku.&lt;br /&gt;Dengan posisi badan istriku rebah di ranjang dan kaki sedikit diangkat dan kedua tangan istriku dirangkulkan di leher Wisne, sedang Wisne sendiri dengan posisi berdiri dan tangannya bertopang pada ranjang, terlihat mereka menikmati kocokkan-kocokkan yang dibuatnya. Hanya beberapa saat, kocokkan batang kemaluan Wisne semakin cepat dan terlihat mata Wisne meram melek dan istriku memprotesnya.&lt;br /&gt;"Jangan dulu Wis.. jangan dulu.. Aku belum apa-apa Wis.." pinta istriku.&lt;br /&gt;Dan terdengar suara rintihan nikmat Wisne, "Ehh.. eeh.. creet.. cruutt.."&lt;br /&gt;Mungkin karena belum berpengalaman, dia tidak bisa mengendaliakan senjatanya dan dalam hati, aku bersyukur bahwa istriku tidak mendapatkan kenikmatan dari Wisne dengan harapan nantinya minta dilanjutkan denganku, suaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulihat istriku memukul-mukul pundak Wisne.&lt;br /&gt;"Kamu ini gimana sih..? Baru beberapa menit sudah keluar.. Aku belum apa-apa.." kata istriku.&lt;br /&gt;Wisne sambil ngos-ngosan menjawab, "Maaf Tante, Wisne belum pengalaman.. "&lt;br /&gt;Wisne merebahkan diri telentang di ranjang, batang kejantanannya semakin mengendor, lunglai basah kuyup akibat campuran cairan spermanya dan lendir dari liang senggama istriku. Terlihat istriku mengambil kain untuk membersihkan kemaluannya dari semprotan dan tetesan sperma Wisne dan dilanjutkan membersihkan batang kemaluan Wisne. Kupikir berakhirlah adegan ranjang mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata dengan kelihaian istriku serta nafsu yang masih belum terlampiaskan, batang kejantanan Wisne diusap-usap, dielus dan dikocok-kocok lembut oleh tangan lentik istriku. Akhirnya terlihat mulai mengembang lagi batang keperkasaan Wisne. Biasanya aku kalau habis main dengan istriku, batang kejantananku tidak bisa bangun lagi, mungkin karena tempo permainan yang amat lama dan biasanya istriku langsung terkulai lemas sama seperti aku yang selanjutnya tertidur lelap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini batang keperkasaan Wisne tegak menantang kembali dan istriku tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Dengan posisi Wisne tetap telentang, istriku mengatur posisi jongkok, persis di atas batang keperjakaan Wisne. Otomatis, dalam hal ini, istriku yang berperan. Tangan kanannya memegang batang keperkasaan Wisne dan menuntun masuk ke lubang kemaluannya. Selanjutnya, istriku bergerak naik turun. Terlihat pantatnya yang kuning mulus berayun seirama dengan gerakannya.&lt;br /&gt;Dalam beberapa menit, terdengar rengekkan nikmat istriku, "Ooohh.. oohh.. oohh.. oohh.."&lt;br /&gt;Istriku melenguh nikmat dan kocokannya semakin kencang dan, "Ooohh.. oohh.. oohh.." semakin panjang lengkuhannya.&lt;br /&gt;"Ooohh.. Wisne.., Aku mau keluar Wis.. Ooohh.."&lt;br /&gt;Batang keperkasaan Wisne menancap semua, amblas dan yang terlihat hanya butir-butir kemaluan Wisne. Istriku terkulai lemas di atas dada Wisne. Hal itu dibiarkan saja oleh Wisne, malah kedua tangan Wisne meremas-remas pantat istriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa menit kemudian, Wisne berusaha membalikkan posisi. Istriku ditelentangkan dan Wisne bergantian jongkok tepat di atas liang senggama istriku. Lubang kemaluan istriku terlihat mengkilap karena lendir yang dikeluarkannya. Dengan perlahan, Wisne mulai memompa naik turun dan pinggul istriku ikut menggoyang ke arah kiri dan kanan.&lt;br /&gt;"Ooohh.. oohh.." terpaksa batang kemaluanku kukocok sendiri karena tidak tahan melihat adegan panas istriku.&lt;br /&gt;Kocokan Wisne kali ini lama sekali, tidak berhenti-berhenti dan terdengar istriku minta dipercepat gerakan mengocoknya batang keperkasaan Wisne.&lt;br /&gt;"Teruuss.. teruuss.. cepat kocok terus Wis.., cepat lagi Wis..!" sampai terdengar suara kocokan batang kejantanan Wisne di liang senggama istriku, "Pleekk.. pleekk.. pleekk.."&lt;br /&gt;Wisne mulai melenguh lagi, "Ohh.. eehh.. oohh.. eehh.."&lt;br /&gt;Istriku tidak ketinggalan, juga ikut mendesah, "eehh.. eehh.. eehh.. eehh.. teruuss..! terruuss..! Aku mau keluar lagi Wiiss..! Ooohh.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wisne menekan batang kemaluannya kuat-kuat di lubang kemaluan istriku karena kedua tangan istriku merangkul pantat Wisne untuk ditekankan ke arahnya. Aku pikir, Wisne juga sudah keluar maka batang kemaluanku kukocok terus hingga spermaku muncrat juga.&lt;br /&gt;"Ooohh.. creett.. crett.."&lt;br /&gt;Beberapa menit kemudian, terdengar istriku bicara pada Wisne, "Cabut dulu kontolmu Wis..!"&lt;br /&gt;Wisne mencabut batang kemaluannya dari jepitan liang senggama istriku. Istriku berbalik tengkurap, mau apa lagi mereka. Ternyata kejantanan Wisne masih terangsang berat.&lt;br /&gt;"Masukkan lagi kontolmu Wis.. cepaatt..!" pinta istriku lagi.&lt;br /&gt;Agak sedikit berjongkok, dimasukkan lagi ke liang senggama istriku.&lt;br /&gt;"Ooohh.." terdengar istriku menikmatinya, "Wis.. terasa mengenai dinding rahimku, Wis..!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wisne mulai bergerak maju mundur mengaduk-aduk kemaluan istriku lagi&lt;br /&gt;"Ooohh.. nikmatnya memek Tante.., oohh enak sekali kalau begini Tante.. semakin enak Tante.."&lt;br /&gt;Istriku menikmatinya, "Teruuss.. kocok teruuss Wis..! Aku merasakan kontolmu semakin enak saja Wis..! Teruuss.. Wis.. teruss..!"&lt;br /&gt;Semakin Wisne mendapat angin segar, maka dikuatkan kocokkannya dan, "Plookk.. plookk.. plookk.. cleepp.. cleepp.. plookk.. oohh.. oohh.. nikmat Tante. Memek Tante semakin hangeett Tante, oohh.., plokk.. plookk.. cleepp.. plookk.. cleepp.. oohh, Wisne mau keluar Tante.. oohh.. oohh.. Creett.. creett.. cruutt.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah kisah perselingkuhan istriku dengan keponakanku, Wisne. Dan bila ada pembaca yang ingin berkomentar, silahkan email saja.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8096187244134823528-5409648550317999783?l=alita-dee.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alita-dee.blogspot.com/feeds/5409648550317999783/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://alita-dee.blogspot.com/2009/06/istriku-selingkuh-dengan-keponakan.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8096187244134823528/posts/default/5409648550317999783'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8096187244134823528/posts/default/5409648550317999783'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alita-dee.blogspot.com/2009/06/istriku-selingkuh-dengan-keponakan.html' title='Istriku Selingkuh dengan Keponakan'/><author><name>dee alita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15608335270076570228</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_klCrRrqSP08/SfEyqgcHvAI/AAAAAAAAAAk/RLjidh3m4gM/S220/gueeeeeeeeeeeeee.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8096187244134823528.post-3350573814045184225</id><published>2009-06-30T02:14:00.000-07:00</published><updated>2009-06-30T02:17:33.033-07:00</updated><title type='text'>Istri Pamanku yang Menggairahkan</title><content type='html'>Ma, minta susu..! teriak seorang bocah kepada mamanya.&lt;br /&gt;"Iya bentar!" teriak mamanya dari dalam kamar.&lt;br /&gt;Bocah kecil tersebut adalah anak dari mama yang disebut tadi. Kita sebut saja namanya Ras. Ras merupakan istri dari abang mama saya, mengertikan? Jadi saya seharusnya memanggilnya bibi, tapi karena suatu alasan, dia kami panggil Mbak dan dia tidak keberatan kok dipanggil begitu. Suaminya saat itu bekerja di luar negeri dan dia ditinggal di rumah mertuanya yaitu nenek saya. Suaminya telah lama pergi dan hanya pulang sekali dalam setahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat itu umur saya baru akan menginjak 17 tahun, dan sekolah di salah satu perguruan swasta di kota saya dan pada saat itu sekolah kami sedang libur, jadi otomatis di rumah sepi karena semua penghuni rumah sudah keluar entah ke mana. Di rumah kami tinggal bersama nenek, dan 5 orang sepupu saya yang tentu saja lebih kecil dari saya semuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam baru menunjukkan pukul 9.00 pagi. Nenek saya sedang pergi ke pasar dan biasanya bila beliau ke pasar tidak pernah sebentar. Kelima sepupu saya sudah keluar dari tadi pagi jadi yang tinggal di rumah cuma saya dan Mbak Ras serta anaknya yang baru berumur 5 tahun. Saya dan Mbak Ras bisa dibilang sangat dekat, karena kami sering berbicara dan bercanda bersama. Jadi di antara kami berdua sangat terbuka. Namun pada saat itu saya tidak berani berbuat macam-macam kepadanya, tapi kalau berpikir macam-macam sih pasti ada, he he he.&lt;br /&gt;"Ma, buatkan susu dong!" celoteh bocah tadi menagih janjinya tadi.&lt;br /&gt;"Iya, nih tiap hari minum susu aja. Susu mahal tau!" mamanya menyodorkan sebotol susu kepada anaknya dan diterima anaknya dengan gembira tanda bahwa dia tidak mau mengerti tentang kemahalan susu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang anaknya setiap bangun tidur dan sebelum tidur selalu meminta susu. Kebetulan lagi pada saat itu saya baru selesai sarapan pagi dan timbul keisengan saya untuk bercanda kepada Mbak Ras.&lt;br /&gt;"Saya juga minta susu dong Mbak!" kata saya sambil menyodorkan gelas kepadanya.&lt;br /&gt;"Eh.. loe itu udah gede, itu kan susu buat anak-anak", balas Mbak Ras.&lt;br /&gt;"Lho, jadi kalau udah gede gak boleh minum susu?" tanya saya sambil pasang muka tak berdosa.&lt;br /&gt;"Bukannya nggak boleh, tapi itukan susu buat anak-anak", tegasnya sekali lagi.&lt;br /&gt;"Jadi yang buat orang dewasa mana?" tantang saya kepadanya.&lt;br /&gt;"Ini!" sambil menunjuk kepada buah dadanya yang sepertinya cukup besar dan padat itu.&lt;br /&gt;Terang saja saya terkejut, dan saya pun malu karena dia tidak biasanya bercanda sampai begitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya saya tahu kalau dia itu sebenarnya sudah sangat haus dengan seks. Bayangkan saja selama hampir setahun tidak berhubungan dengan suaminya, siapa yang tahan. Dan argumen saya ini juga telah saya buktikan. Kebetulan kamar saya yang berada di lantai 2 tepat di atas kamar mandi, dan lantai 2 hanya berlantaikan papan jadi iseng-iseng saya melubangi papan itu biar bisa mengintip orang mandi. Saya sering mengintip Mbak Ras mandi dari lubang itu dan saya lihat bahwa Mbak Ras sangat sering merangsang dirinya sendiri di kamar mandi, misalnya dengan memijat-mijat dadanya sendiri dan mengelus-elus kemaluannya sendiri. Jadi dari itu saya mengambil kesimpulan kalau dia sering terangsang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kok bengong? mau minum susu nggak?" ucapnya membuyarkan lamunanku.&lt;br /&gt;"Apa masih ada? anak Mbak kan udah lima tahun?" jawab saya menetralisir kekagetan saya.&lt;br /&gt;"Gak tau dech.. kamu coba aja, hehehe.. udah dech.." katanya sambil melewati saya menuju kamar mandi kemudian berbisik sekilas kepada saya.&lt;br /&gt;"Pintu kamar mandi nggak Mbak kunci."&lt;br /&gt;Terang saja saya senang sekali, soalnya saya sering baca buku porno dan pernah berkhayal kalau saya melakukan hubungan badan dengan Mbak Ras dan sepertinya sekarang bisa terwujud. Saya membuka pintu kamar mandi perlahan dan saya lihat Mbak Ras sedang membelakangi saya menggantung pakaian yang akan dipakainya. Dengan perlahan juga saya tutup pintu kamar mandi dan menguncinya tanpa suara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya melihat Mbak Ras mulai membuka baju tidurnya tanpa membalikkan tubuhnya. Sepertinya dia tidak sadar kalau saya sudah berada di dalam. Setelah baju dilepas kemudian tangan saya menuju ke pengait BH-nya bermaksud membantu membuka BH-nya. Dia kaget karena tiba-tiba ada orang di belakangnya namun setelah mengetahui bahwa yang di belakangnya adalah saya dia tersenyum dan membiarkan saya melanjutkan kegiatan saya. Setelah BH-nya terbuka saya kemudian melemparkannya ke tong tempat baju kotor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mbak, susunya boleh saya minum sekarang", tagih saya kepadanya.&lt;br /&gt;Dia hanya mengangguk dan kemudian membalikkan badannya. Terlihatlah olehku dua buah tonjolan di dalamnya yang selama ini belum pernah saya lihat secara langsung. Sebelumnya saya hanya mengintip. Kemudian dia menyodorkan dadanya kepada saya dan dengan cepat saya sambar dengan mulut saya. Dia hanya mendesis tidak jelas. Lama saya menghisap dan menjilat kedua dadanya membuat dia terus menggelinjang dan menjambak rambut saya. Dadanya kanan kiri secara bergantian menjadi korban keganasan lidah saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mbak Ras kemudian secara lembut membuka kaos saya dan tanpa saya sadari kaos saya sudah terlepas. Mungkin karena keasyikan meminum susu alam. Sementara tangan saya yang kiri mulai meraba-raba perutnya sedangkan yang kanan mengusap-usap dadanya yang sebelah kanan. Sementara mulut saya dengan menjulurkan lidah keluar mempermainkan puting susu yang sebelah kiri yang membuat Mbak Ras semakin ngos-ngosan. Tangan saya sebelah kiri mulai nakal dengan menyusupkan jari-jarinya ke celana tidurnya yang belum dibuka. Tangan Mbak pun tidak mau kalah, dia pun mulai mencari-cari sesuatu di selangkangan saya dan setelah menemukannya dia pijat dengan lembut. Kemaluan saya yang merasakan ada rangsangan dari luar celana semakin meronta minta keluar. Mbak Ras yang sudah berpengalaman itu kemudian membuka reitsleting celana saya dan kemudian melorotkannya ke bawah dengan menggunakan kakinya karena dia tidak bisa membungkuk sebab dadanya sekarang masih berada dalam kekuasaan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah CD saya dibuka, tangannya yang sekarang lebih nakal mulai mengocok perlahan batang kejantanan saya dan itu jelas saja membuat saya terbang tinggi, sebab baru kali ini batang kejantanan saya yang satu ini dipegang oleh tangan seorang wanita yang lembut. Mbak Ras makin menjadi ketika jilatan saya turun ke perutnya dan bermain di sekitar pusarnya dan kemudian dengan sekali tarik celana tidur yang dari tadi menghalangi pemandangan indah saya buka dan sekarang di depan saya berdiri seorang wanita hanya dengan celana dalam krem yang jika diperhatikan lebih seksama bisa dilihat transparan, tapi siapa yang sempat melihat ketransparanannya itu kalau sudah terangsang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jilatan saya turun agak ke bawah menuju ke kemaluannya yang ditumbuhi bulu-bulu yang rapi namun karena sudah basah terlihat acak-acakan. Saya menjilati liang kemaluannya dari luar CD-nya. Itu sengaja saya lakukan agar bisa lebih merangsangnya. Dan ternyata benar dia tidak sabar dan segera menurunkan CD-nya sendiri. Saya hanya tersenyum memandang ketidaksabarannya itu, dan jilatan saya lanjutkan tetapi tetap belum menyentuh lubang kenikmatannya itu yang membuat dia blingsatan dengan menggerakkan pinggulnya ke kiri dan ke kanan yang bertujuan agar jilatan saya berlanjut ke liang kemaluannya. Saya lihat kemaluannya sudah banjir, karena tidak pernah merasakan cairan dari wanita maka jilatan saya pun merambah ke liang kemaluannya. Asin! tapi kok enak yah kata saya dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mbak Ras pun kembali mendesis keenakan, "Ahh.. terus Tango", ujarnya. Lidah saya pun mulai bermain cepat. Tiba-tiba tubuh Mbak Ras mengejang dan diikuti dengan desahan panjang, "Ahh.. nikmat sekati Tango. Pemanasan kamu sungguh hebat." Kemudian dia pun duduk di lantai kamar mandi dengan perlahan. Setelah puas dengan kemaluannya, saya kembali ke atas dan mencoba untuk melumat bibirnya. Bibir yang dari tadi mendesis tidak karuan itu kemudian melumat bibirku yang baru saja sampai di depannya. Lama kami saling melumat sambil tangan kanan saya memainkan puting susunya dan tangan yang satunya lagi mencari lubang kewanitaannya dan menekan-nekan klitorisnya yang jelas saja membuat lumatan bibirnya semakin menjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangannya pun tidak mau kalah, sambil berpagutan dia mencari kembali batang yang tadi sempat dilepasnya karena kenikmatan yang dia rasakan. Setelah ketemu, kemudian dia mulai menggerak-gerakkan tangannya mengocok kemaluanku yang sudah sangat tegang dan membesar sambil sesekali mengusap bagian kepalanya yang sudah mengeluarkan cairan bening kental. Kemudian secara perlahan-lahan saya mendorong kepalanya ke belakang agar dia rebah ke lantai kamar mandi. Setelah dia rebah, Mbak Ras mendorong dada saya lembut yang membuat saya terduduk dan dia kemudian bangkit kembali. Saya terkejut, saya mengira dia telah sadar dengan siapa dia sedang bermain, namun dengan seketika keterkejutan saya hilang sebab dia kemudian dengan sikap merangkak memegangi kelamin saya dan kemudian dia malah memasukkan kelamin saya ke mulutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahh.. terasa nikmat sekali sebab Mbak Ras sangat pandai memainkan kemaluan saya di dalam mulutnya. Saya bisa merasakan lidahnya bermain dengan lincahnya. Saya juga merasakan kepala kemaluan saya dipermainkan dengan lidahnya yang lincah itu. Setelah bermain lama di bawah situ, mulutnya kemudian merambah ke atas menciumi perut, kemudian dada saya dan kemudian kembali ke mulut saya, namun karena saya tahu dia baru saja melepaskan mulutnya dari kemaluan saya, saya berusaha menghindar dari lumatan bibirnya dan mencoba agar dia tidak tersinggung dengan mencium pipinya dan kemudian telinganya. Tangan saya yang menganggur kemudian saya suruh bekerja lagi dengan mengusap-usap selangkangannya dan terdengar dia berbisik kepada saya, "Masukkan ahh.. sekarang yahh, Mbak udahh kepingin.. banget.. nih.. ahh."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kemudian mengambil inisiatif dengan mendorong Mbak Ras agar kembali rebah dan dengan perlahan dia menuruti kemauan saya dengan rebahan di lantai kamar mandi. Saya kemudian mengambil segayung air dan menyiramkan ke tubuhnya dan kemudian satu gayung lagi untuk disiramkan ke tubuh saya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kami berdua basah, tangan kanan saya kemudian meremas-remas dadanya sedangkan tangan kiri saya memegang kejantanan saya menuju ke lubang sejuta kenikmatan. Mbak Ras pun sudah siap menerima terjangan saya dengan membuka kedua kakinya agar memudahkan saya memasukinya. Dengan perlahan tapi pasti saya mencoba untuk memasukkan kepunyaan saya yang dari tadi sudah tegak ke kemaluannya. Namun karena sudah lama dia tidak tersentuh laki-laki, membuat saya agak susah juga untuk menancapkannya. Beberapa kali saya arahkan batang saya, namun agak susah untuk berhasil, dan setelah beberapa tusukan, akhirnya kelamin saya masuk dengan sukses ke selangkangannya. Yah, cengkeraman liang kemaluannya sungguh nikmat, karena saat itu liang kemaluannya sangat sempit dan itu sudah membuat saya merem melek, dan dengan gerakan pelan saya mulai menaik-turunkan pinggul saya. Saya melihat Mbak Ras mengerang kenikmatan sampai bola matanya hilang, dan dia juga meggerak-gerakkan pinggulnya ke kiri dan ke kanan dengan maksud agar semua ruang di liang kemaluannya terjejali dengan kemaluanku yang sudah mulai memompa. Setiap pompaan membuat dia mendesah tidak karuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah beberapa menit, dia kemudian memelukku dengan erat dan membalikkan tubuhku dan tubuhnya. Kini dia sudah berada di atasku, dan gantian dia yang menaik-turunkan pinggulnya mengejar kenikmatan yang tiada tara. Sementara itu tanganku yang sudah bebas kembali memainkan susunya dan mengusap-usap punggungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ssaayyaa.. udah ahh.. mau.. keeluar nihh.." desahnya.&lt;br /&gt;Mendengar desahannya yang begitu seksi saya semakin terangsang dan saya mulai merasakan ada sesuatu tenaga dalam yang ingin dikeluarkan dan semua sepertinya sudah terkumpul di kejantanan saya.&lt;br /&gt;"Saya juga udah mau keluar Mbak..!" desis saya mempercepat gerakan pinggul saya dari bawah.&lt;br /&gt;"Tahann.. sebenntaarr.." katanya.&lt;br /&gt;"Biaarr.. Mbak kee.. luar dulu.. ouhh.."&lt;br /&gt;Saya pun mengerti untuk tidak mengeluarkannya di dalam, sebab dengan alasan apapun saya tidak mau sperma yang saya keluarkan ini menjadi anak dari rahim bibi saya. Saya berusaha untuk menahan, sesaat kemudian terasa cengkeraman di kelamin saya terasa kuat dan terasa hangat, tubuh Mbak Ras kembali mengejang. Kalau saya tidak mencabut kemaluan saya dengan sedikit mendorong perut Mbak Ras, mungkin saya pun akan mengalami orgasme bersamaan dengan Mbak Ras. Untung saja saya sigap, sesaat kemudian Mbak Ras terkulai lemas di atas tubuh saya menikmati sisa-sisa kenikmatan. Paha saya terasa hangat karena pelumas yang keluar dari liang kemaluan Mbak Ras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pun memeluknya, dan membalikkan tubuhnya karena saya belum terpuaskan saya pun kembali merangsang Mbak Ras dengan jilatan di sekitar selangkangannya. Setelah berkisar 3 - 4 menit Mbak Ras kembali terangsang dan menyuruh saya memasukkan lagi kepunyaan saya ke dalam kemaluannya. Tanpa ba-bi-bu lagi, langsung saya tancapkan ke dalam kemaluannya. Kali ini lebih mudah karena kemaluan kami berdua memang telah licin. Setelah memompa beberapa menit, saya kembali merasakan gelombang kenikmatan dan dengan segera saya mencabutnya dan mengocok-ngocoknya dengan tangan sendiri. Namun tidak disangka, Mbak Ras kemudian menangkap kemaluan saya dan menggantikan tangan saya dengan tangannya dan kemudian memasukkan kemaluan saya ke dalam mulutnya. Ahh.. terasa sungguh nikmat, apalagi permainan lidahnya membuat saya tidak bisa bertahan lama dan akhirnya semua saya keluarkan di dalam kuluman mulutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi saya tidak melihat dia melepaskannya, dia seakan tidak mau melepaskan kemaluanku yang sedang muntah dan dia menghisap habis semua muntahannya tanpa sisa. Setelah saya merasakan pelumas dari dalam tubuh saya habis, batang kemaluan saya pun perlahan-lahan kembali mengecil. Melihat hal itu, Mbak Ras kemudian melepaskan batang kemaluan saya, dan tersenyum kepada saya. Kemudian dia berbisik, "Tango, terima kasih yah, Mbak udah lama nggak menikmatinya dari pamanmu, entar lain kali kalau ada kesempatan bisa kan kamu puasin Mbak lagi?" Dengan masih terduduk di lantai saya mengangguk sambil tersenyum nakal kepada Mbak Ras. Kemudian kami pun mandi sama-sama, saling membersihkan diri dan sesekali tangan saya bergerak nakal menyentuh payudaranya yang tadi pentilnya sempat mencuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kejadian pertama itu, kami pun sering melakukannya di hari Minggu atau hari-hari libur dimana keadaan rumah sedang sepi. Kadang di kamar mandi, kadang di kamarnya. Namun setelah beberapa bulan kami melakukanya, dia mendengar bahwa suaminya yang di luar negeri sudah menikah lagi dan dia pun memutuskan untuk kembali ke rumah orang tuanya di Jakarta. Dan setelah kepergiannya atau lebih tepatnya kepulangannya ke Jakarta saya tidak pernah mendengar kabarnya lagi sampai sekarang.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8096187244134823528-3350573814045184225?l=alita-dee.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alita-dee.blogspot.com/feeds/3350573814045184225/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://alita-dee.blogspot.com/2009/06/istri-pamanku-yang-menggairahkan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8096187244134823528/posts/default/3350573814045184225'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8096187244134823528/posts/default/3350573814045184225'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alita-dee.blogspot.com/2009/06/istri-pamanku-yang-menggairahkan.html' title='Istri Pamanku yang Menggairahkan'/><author><name>dee alita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15608335270076570228</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_klCrRrqSP08/SfEyqgcHvAI/AAAAAAAAAAk/RLjidh3m4gM/S220/gueeeeeeeeeeeeee.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8096187244134823528.post-2171011253136379088</id><published>2009-06-30T02:13:00.000-07:00</published><updated>2009-06-30T02:14:11.106-07:00</updated><title type='text'>Istri Kakakku yang Kesepian</title><content type='html'>Sebut namaku Dede, semasa kuliah aku tinggal bersama kakakku Deni dan istrinya Dina. Aku diajak tinggal bersama mereka, karena kampusku dekat dengan rumah mereka, daripada aku kost. Usiaku dengan Kak Deni selisih 5 tahun dan Dina 2 tahun lebih tua dariku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena Kak Deni bertugas di kapal, ia sering jarang di rumah. Sering kulihat Dina kelihatan kesepian karena ditinggal kakakku. Kuhibur dia dan akhirnya kami sering bercanda. Lama-lama Terkesan kalau Dina lebih dekat ke aku dibanding Kak Deni. Karena Kak Deni jarang pulang akhirnya kami sering keluar jalan-jalan. Dan terkadang kami nonton bioskop berdua untuk menghilangkan rasa sepi Dina. Sering Dina dikira pacarku, tentu aku jadi bangga jalan dengannya. Seluk beluk di dirinya membuat mata terpikat dan tak lepas melirik. Keesokan harinya sepulang kuliah kulihat rumah sepi. Sesaat aku bingung ada apa dan kemana Dina. Sesaat kulihat di celah pintu kamarnya ada cahaya TV. Segera kucek apa ia ada di kamar. Kubuka pintunya, sesaat kuterdiam, terlihat di TV kamarnya adegan yang merangsang, sekilas kulihat Dina sedang terlentang dan ia kaget akan kehadiranku. "Maaf Mbak!" sahutku dengan tidak enak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu kututup pintu kamar dan keluar. Sekilas teringat yang sekilas kulihat tadi. Dina sedang asyik memainkan buah dadanya yang besar dan daerahnya yang indah dengan sebagian kulit yang tak tertutup sehingga memamerkan beberapa bagian tubuhnya. Sesaat beberapa lama di dalam kamar. Rasanya kuingin menonton yang Dina tonton tadi. Lalu kusetel CD simpanan di kamarku. Tampaknya birahiku muncul melihat adegan-adegan itu, sesaat terlintas yang dilakukan Dina di kamarnya. Tubuhnya merangsang pikiranku untuk berkhayal. Akhirnya seiring adegan film aku berkhayal bercinta. Kukeluarkan penisku dan kumainkan. Sesaat aku kaget, Dina masuk ke kamarku. Rupanya aku lupa mengunci pintu. Ia terlihat terdiam melihat milikku. Wajahnya tegang dan bingung. Sesaat kami sama-sama terdiam dan bingung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ma.. maaf, ganggu ya," tanya Dina dengan matanya yang menatap milikku.&lt;br /&gt;"Eh.. enggak Mbak, a.. ada apa Mbak," sahutku dengan tanganku yang masih memegang milikku.&lt;br /&gt;"Nggak, tadi ada apa kamu kekamar?" tanya Dina dengan bingung karena kejadian ini.&lt;br /&gt;"Oh itu, sangkain aku rumah kosong, aku nyari Mbak," sahutku sambil kumasukkan milikku lagi.&lt;br /&gt;"Kamu nonton apa?" tanya Dina lalu melihat film yang kusetel.&lt;br /&gt;"I.. itu.. sama yang tadi," sahutku dengan isyarat yang ditonton Dina di kamarnya.&lt;br /&gt;Dina terdiam sesaat sambil melihat film.&lt;br /&gt;"Maaf Mbak, boleh pinjem yang tadi nggak?" tanyaku dengan malu.&lt;br /&gt;"Boleh, kenapa enggak?" jawab Dina.&lt;br /&gt;"Mau minjem Mbak.. apa mau nonton di sini?" tawarku kepada Dina.&lt;br /&gt;"Sekalian aja deh, biar rame," jawabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adegan demi adegan difilm kami lewati, dan beberapa kali kami mengganti film. Kami juga berbincang dan mengobrol tentang yang berhubungan di film. Mungkin karena kami sering berdua dan bicara dari hati ke hati akhirnya kami merasakan ada kesamaan dan kecocokan. Kami tidak canggung lagi. Rasanya kami sama-sama menyukai tapi kami sadari Dina milik kakakku. Kami akhirnya biasa duduk berduaan dengan dekat. Sering dan banyak film kami tonton bersama. Kami akhirnya mulai sering melirik dan bertatapan mata. Sesaat saat film berputar tanpa kami sadari, tatapan mata kami membuat bibir kami bersentuhan. Tampaknya gairah kami sama dan tak bisa dibendung dan kami tergerak mengikuti iringan gairah dan birahi. Aku pikir ciuman tak apalah, akhirnya bibir dan lidah kami saling bersaing. Nafsu membuat kami terus berebutan air liur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa lama kami nikmati kejadian ini, kemudian kami tersadar dan berhenti. Kami hanya bisa diam dalam pelukan. Mata kami tak sanggup bertatapan. Rasanya bingung. Cukup lama kami berpelukan sampai akhirnya kami duduk biasa lagi. Kehangatan tubuh dan sikap Dina memancing birahiku. Beberapa lama kami tak bisa mengeluarkan kata-kata. Perlahan kubuai rambut panjang Dina. Tampaknya ia menyukainya. Perlahan tanganku mengelus pundaknya. Sesaat kami bertatapan lagi. Wajahnya dewasa dan cantik, kurasakan wajah yang mengharapkan sentuhan dan kehangatan. Kurasakan isyarat dari Dina untuk berciuman lagi. Tanpa basa-basi kulahap bibirnya, ahh nikmat rasanya. Bibirnya terasa lembut di bibirku. Lalu dada kami saling berhadapan. Sekilas kulihat buah dadanya yang besar. Lalu kupeluk Dina dengan maksud ingin menyentuh dan merasakan miliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesaat kurasakan miliknya di dadaku, besar, empuk dan besar. Perlahan tanganku mengelus-elus pahanya yang lembut dan halus. Sebagai penjajakan kuelus selangkangannya, tampaknya ia menikmatinya. Kurasakan tanganku ia elus sebagai tanda ia menyukainya. Tanpa menunggu aku segera meraba-raba daerah sensitifnya. Sesaat tanganku ia raih dan ia giring ke dadanya. Ahh, akhirnya kurasakan buah dada yang besar di dekapan tanganku. Sesaat kurasakan milikku didekap tangan Dina, ahh rasanya aku menikmatinya. Perlahan tangannya memainkan, nikmat rasanya. Perlahan kulepaskan tangan Dina dari milikku. Kubuka sebagian celanaku sehingga milikku menghunus tegap. Kuraih tangannya dan kuarahkan ke milikku. Sesaat tangannya mendekap milikku, ia mainkan lalu beberapa lama kemudian wajahnya menuju ke milikku dan ia hisap. Ah, lembutnya mulut Dina. Rupanya ia suka menghisap milikku. milikku keluar masuk di mulutnya secara perlahan seiring tangannya yang mengayun-ayun milikku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan kuangkat kaosnya sehingga terlihat buah dada yang tertutup bra. Kuraih kaitannya dan kulepas. Perlahan tanganku menyusup di branya lalu meraba dan meremas buah dadanya yang besar, halus dan lembut. Kurasakan putingnya yang kenyal mengeras, dadanya pun mengeras. Lalu tanganku menuju celana pendeknya dan kubuka bersama celana dalamnya. Ahh, indah tubuhnya bila tanpa pakaian dan sangat merangsang. Pinggangnya yang ramping dan pinggul yang lumayan, kulitnya putih bersih dan mulus. Kuelus-elus bokongnya yang halus dan lembut. Pahanya kuraba lalu bulunya dan tonjolan sensitifnya. Seiring hisapannya kumainkan bibir vagina yang sudah basah perlahan jariku masuk ke liang vaginanya. Kurasakan lembut di jemariku, nikmat rasanya."Dede.. oouuhh.." ucapnya seiring jariku yang tertancap di liangnya. Sesaat kemudian kurasakan gerakan mulut dan nafasnya tambah cepat. Kurasakan air liur Dina membasahi milikku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup lama mulutnya bermain sampai ku tak tahan menahan maniku. "Mmmhh.." ucap Dina seiring semburanku di dalam mulutnya. Kurasakan mulutnya tetap menghisap milikku, lalu maniku dan terus sampai beberapa lama. Kemudian bibirnya selesai bermain. "Udah De?" sahutnya dengan isyarat apakah aku puas. Aku tersenyum melihat wajah cantiknya yang memucat dan merangsang. Rasanya milikku belum puas masuk di mulutnya. Kemudian ia terbaring dengan jariku yang masih masuk di liangnya. "Mbak yang ini belom," sahutku dengan isyarat jariku yang keluar masuk di liangnya."Emang kenapa?" tanyanya dengan isyarat wajah yang menanyakan apa keinginanku. Kemudian kubuat posisi bersetubuh. Kaki Dina mengangkang lebar dan terangkat seakan siap bermain. Bibir vagina yang agak merah terlihat jelas olehku. Milikku yang terhunus akhirnya menyentuh bibir vaginanya yang lembut yang sudah basah. Perlahan kumasukkan dan akhirnya hilang tertelan di liang Dina yang lembut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mmhh.." desah Dina dengan dagunya yang perlahan terangkat dan telapak kakinya memeluk pinggulku. Milikku keluar-masuk diliangnya dan dada Dina membusung seakan tidak kuat merasakan kenikmatan sentuhanku. "Ooouuhh.. oouuhh.." berulang desahan itu Dina keluarkan. Beberapa lama kurasakan nikmatnya tubuh Dina. Perlahan kurasakan pinggul Dina bergerak sehingga mempercepat gesekan penis dan liangnya. Sessat ia dekap tubuhku. Tubuhnya menegang. "Dede.." ucapnya dengan getaran kenikmatan. Aahh Kurasakan penisku didekap kuat liang Dina. "Ooouuhh," desah nikmat Dina. Kulihat Dina mulai melemas pasrah. Melihat ini gairahku meningkat seakan tubuhnya santapanku. Nafsuku membuat milikku keluar masuk dengan cepat. Ahh, puncakku disaat penisku masih di dalam liang Dina. Aku tak dapat menahan semburanku karena nikmatnya tubuh Dina. "Ooouuhh.." desah Dina mengiringi setiap semburanku. Milikku kubiarkan tertancap terus. Tampaknya Dina tak menolaknya. Tubuhku belum puas menikmati tubuhnya. Terkadang tanganku menikmati dada dan putingnya. Dan beberapa kali kami berciuman lagi. Aku tak peduli walaupun bibirnya bekas milik dan maniku karena benar-benar nikmat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai tenaga kami pulih, kurasakan dekapan liang Dina yang agak mengering basah lagi. Lalu kami bermain lagi. Ini terus kami lakukan sampai kami tak kuat dan tidur kelelahan. Esoknya kami tersadar dan kami mandi bersama. Tampaknya kami menyukai kejadian kemarin. Rasa bersalah hilang karena Kami rasakan kecocokan, dan kami teruskan hubungan ini. Karena kakakku jarang di rumah kami sering berdua, tidur bersama dan mandi bersama dengan sentuhan-sentuhan yang nikmat. Ini menjadi rahasia kami berdua seterusnya. sampai aku memiliki istri dan sama-sama mempunyai anak kami terus berhubungan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8096187244134823528-2171011253136379088?l=alita-dee.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alita-dee.blogspot.com/feeds/2171011253136379088/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://alita-dee.blogspot.com/2009/06/istri-kakakku-yang-kesepian.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8096187244134823528/posts/default/2171011253136379088'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8096187244134823528/posts/default/2171011253136379088'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alita-dee.blogspot.com/2009/06/istri-kakakku-yang-kesepian.html' title='Istri Kakakku yang Kesepian'/><author><name>dee alita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15608335270076570228</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_klCrRrqSP08/SfEyqgcHvAI/AAAAAAAAAAk/RLjidh3m4gM/S220/gueeeeeeeeeeeeee.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8096187244134823528.post-8246338211301574746</id><published>2009-06-30T02:12:00.001-07:00</published><updated>2009-06-30T02:12:55.760-07:00</updated><title type='text'>Indahnya Tubuh Ibuku</title><content type='html'>Malam sudah semakin larut, jam menunjukkan pukul 02.00 kurang lima menit. Aku masih terjaga di tempat tidurku. Rasanya waktu berjalan sangat lambat sekali. Mungkin benar kata orang, menunggu adalah pekerjaan yang membosankan. Yah, aku memang sengaja bergadang, ada sesuatu yang membuatku melakukan hal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bermula dua satu minggu yang lalu ketika aku tak sengaja bangun pagi sekali, sekitar pukul lima lebih sedikit. Biasanya aku baru bangun sekitar jam sembilan, kebetulan aku masuk sekolah pada siang harinya. Tapi pagi itu entah kenapa rasa kantuk langsung hilang begitu aku membuka mata. Terpaksa aku keluar dari kamar, dan kulihat suasana rumah juga masih lengang dan sepi. Ayah tentu masih tidur, begitu juga dengan Raden, adikku yang duduk di kelas 2 SMP. Mungkin ibu sudah bangun karena harus menyiapkan sarapan pagi. Akhirnya aku memutuskan untuk berenang saja, kebetulan air kolam renang biasanya hangat pada pagi hari. Aku pun berjalan menuju kolam renang di belakang rumah. Terdengar suara orang sedang berenang. Aku pun penasaran dan mencoba mendekat, cuaca yang masih remang-remang membuat sosok yang sedang berenang itu terlihat samar-samar. Tetapi begitu sosok tersebut keluar dari kolam renang, aku kini dapat melihatnya dengan jelas karena lampu di pinggir kolam renang masih nyala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sosok tubuh seorang wanita keluar dari kolam renang. Yang membuatku terkejut karena sosok tersebut telanjang bulat. Payudaranya yang bulat dan terlihat masih kencang begitu indah dibasahi oleh air. Dan saat sosok itu menghadap ke arahku aku bertambah terkejut, menyadari kalau sosok tersebut adalah ibuku sendiri. Tubuh ibu yang montok dan mulus berkilat terpantul oleh sinar lampu. Kemaluan ibu terlihat bersih tanpa selembar rambut yang menempel di sana. Tapi aku dapat melihat bibir kemaluan ibu yang sudah menggelambir di sisi-sisinya. Melihat sosok ibu yang telanjang bulat dengan air membasahi tubuhnya, aku hanya sibuk meneguk ludah berulang kali. Sebelumnya aku tidak mempunyai pikiran apapun terhadap ibu. Tapi menyaksikan pemandangan erotis itu tanpa terasa pikiran kotor pun terbentuk di otakku. Aku sudah biasa melihat tubuh telanjang cewek, karena aku sering bercinta dengan pacarku. Tapi tubuh telanjang ibuku memberi rangsangan lain terhadap diriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umur ibuku mungkin sudah tidak muda lagi, mendekati angka 35 tahun. Namun tubuh telanjangnya seakan menegaskan ibu tak kalah menggairahkannya dengan gadis 25-an. Aku langsung buru-buru menyingkir begitu ibu menuju tempatku berdiri. Aku pergi menuju dapur, dan kulihat ibu ngeloyor pergi ke kamar mandi. Kelihatannya ibu mau membersihkan diri. Rasa penasaran yang amat sangat membuatku mencoba mengintip dari lubang kunci kamar mandi. Tapi tidak dapat kutemukan sosok ibu. Aku pun pergi ke kamar dengan sejuta perasaan yang menggunung. Tiba-tiba saja terbersit keinginan untuk bercinta dengan ibu kandungku tersebut. Dan itulah mengapa aku masih terjaga pada malam hari ini. Hampir satu minggu ini kegiatanku adalah mengintip ibu pagi-pagi di kolam renang. Semakin lama keinginan untuk bercinta dengan ibu semakin kuat. Dan malam ini adalah kesempatanku, karena kebetulan ayah sedang pergi ke luar kota (berangkat tadi sore) selama tiga hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat jam menunjukan pukul 02:00 tepat, aku pun keluar dari kamar. Suasana rumah gelap dan sepi, aku berjalan pelan-pelan takut Raden bangun karena kamarnya di sebelahku persis. Tujuanku adalah kamar ibuku yang terletak di lantai bawah. Aku berharap cemas kalau pintu kamar ibuku dikunci, tapi aku langsung tersenyum senang karena pintu kamar ibu tak terkunci. Kamar ibu gelap karena lampu tidak dinyalakan, aku menekan saklar dan ruangan kamar pun terang benderang. Sosok ibuku kutemukan di kasur sedang tidur nyenyak sekali, seperti sleeping beauty. Pakaian yang dikenakannya adalah gaun tipis berwarna pink sebatas lutut. Gairahku langsung naik melihat ibu tidur terlentang dengan gaun tipis. Tubuhnya yang mulus menerawang dari balik gaun. Celana dalam dan BH ibu pun kelihatan. Dengan hati-hati aku mendekati tubuh ibuku. Aku sejenak memandangi wajahnya yang ayu, bibirnya yang tipis dan kecil, hidung ibu yang mancung dan rambut ibu yang hitam dan pendek seleher.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanganku gemetaran saat mencoba meraba kaki ibu mulai dari betis sampai pahanya. Aku takut ibu terbangun, tapi kulihat ibu tidur sangat nyenyak. Kusingkap gaun ibuku sampai sebatas perut, berkali-kali aku meneguk ludah menjerit tertahan dan bertambah keras berontak merasakan kepala batang kemaluanku di ujung lubang kemaluannya. Tapi aku tak peduli, aku paksakan batang kemaluanku untuk masuk ke dalam kemaluan ibu. Karena vagina ibu belum begitu basah dan ditambah batang kemaluanku yang lumayan besar, aku kesulitan menembus kemaluan ibu. Dengan susah payah aku akhirnya berhasil memasukkan batang kemaluanku seluruhnya ke dalam liang vagina ibuku. Aku membiarkan sejenak batang kemaluanku bersemayam di kemaluan ibu. Konsentrasiku terpecah pada gerakan ibu yang semakin keras memberontak. Kedua tangan ibu berusaha memukuliku dan mencakar serta menjambak rambutku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuikat kedua tangan ibuku dengan kaus singletku. Sementara mulutnya kubungkam dengan sarung bantal. Kini aku bisa berkonsentrasi penuh pada kemaluan ibu yang sudah diisi oleh batang kemaluanku. Aku bergerak maju-mundur dengan lambat karena kemaluan ibu yang tidak menerima batang kemaluanku. Tapi aku tak peduli. Gerakan ibu yang terus berontak sedikit demi sedikit membantu pergerakanku. Aku dapat merasakan nikmatnya daya cengkeram vagina ibuku, begitu kuat dan enak. Lama kelamaan kemaluan ibu mulai mengeluarkan cairan sehingga batang kemaluanku lebih leluasa bergerak keluar masuk. Aku makin bersemangat dan mempercepat gerakanku. Leher ibuku yang jenjang dan mulus kuciumi dengan penuh nafsu sementara kepala ibuku terus menggeleng tanda menolak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mencabut batang kemaluanku dari kemaluan ibu, sekilas ibu agak terdiam. Aku langsung membalikkan tubuh ibu, dan dari arah belakang aku kembali menusukkan batang kemaluanku ke lubang vagina ibuku. Pantat ibu yang bulat dan padat memberi sensasi tersendiri saat aku memasukkan batang kemaluanku. Apalagi bunyi selangkanganku yang bertemu dengan pantat ibuku, begitu indah kedengarannya. Lama menyetubuhi ibuku dari belakang tak membuatku mencapai puncak klimaks, sementara kulihat ibu sudah capai untuk memberontak dan hanya terlihat pasrah dengan wajah yang memerah berlumuran air mata. Kuterlentangkan lagi tubuh ibuku, gaun bagian atas kupelorotkan ke bagian perut. BH ibu kurenggut dan kedua payudaranya menjadi sasaranku. Puting susu ibu kuhisap-hisap seperti waktu aku masih bayi, kadang kugigit dengan lembut. Permukaan payudara ibu kujilati samapai mengkilat. Aku turun ke bawah, kali ini kembali lidahku menjilati kemaluan ibuku yang sudah basah kuyup. Lidahku keluar masuk dengan cepat, sesekali klitoris ibuku kujilati dan kugigit. Perbuatanku itu semakin membuat kemaluan ibu bertambah basah dan menarik, rupanya ibu sedikit menikmati seks oral dariku. Kurasakan pantat ibu sedikit bergoyang saat lidahku sibuk dengan kemaluannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah puas untuk pemanasan kedua, aku kembali memasukkan batang kemaluanku lagi ke dalam lubang kemaluan ibuku. Pantatku naik-turun dengan cepat, dan batang kemaluanku pun keluar masuk tanpa kesulitan. Yang mengherankan pantat ibuku kembali bergoyang seakan-akan membantu mengimbangi gerakan naik-turun pantatku. Kedua kaki ibuku pun menekuk bertumpu pada kedua kakiku. Kulihat wajah ibu, matanya sayu dan merah, wajahnya semakin merah dan kelihatan tambah cantik serta penuh nafsu. Nafas ibuku ngos-ngosan, apalagi karena mulutnya kubungkam dengan sarung bantal. Ibuku menyadari aku sedang memandangi wajahnya, mata ibu kelihatan aneh. Ada rasa marah dan nikmat terpancar dari matanya. Iseng kucabut sarung bantal dari mulut ibuku. Kupikir ibuku akan teriak, ternyata yang keluar dari mulut kecilnya hanya desahan. Aku bertambah semangat dan langsung menciumi bibir tipis ibuku. Lidah ibuku menyelusup masuk ke mulutku begitu bibir kami bertemu. Kami berciuman lama sekali, dan pergerakan pantat kami tak juga berhenti. Bahkan kini aku dapat merasakan daya cengkeram kemaluan ibu semakin kuat, dan goyangan pantat ibu semakin keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana ini membuatku akhirnya merasakan puncak kenikmatan yang kuinginkan. Aku menenggelamkan batang kemaluanku dalam-dalam di lubang vagina ibu saat air maniku muncrat. Tubuh ibu juga menegang dan mengejan seperti orang kena ayan beberapa kali. Kami berpelukan sesaat menikmati puncak kenikmatan dan beberapa kali batang kemaluanku merasakan berdenyutnya vagina ibuku yang basah kuyup dibanjir air maniku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruangan kamar hening agak lama, aku tak juga beranjak dari tubuh ibuku. Batang kemaluanku pun masih bersemayam dengan nyaman di kemaluan ibuku. Tiba-tiba kudengar ibu berbicara. "Robby, jika kamu lakukan ini sekali.. lagi, " suara ibu sedikit mendesah akibat kelelahan. "Ibu akan bunuh kamu, kamu mengerti.." Aku cuma tersenyum, dan mencium lembut bibir ibu dan bangkit dari tubuhnya. Kulepas ikatan di tangannya, dan dengan santai pergi dari kamar ibuku.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8096187244134823528-8246338211301574746?l=alita-dee.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alita-dee.blogspot.com/feeds/8246338211301574746/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://alita-dee.blogspot.com/2009/06/indahnya-tubuh-ibuku.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8096187244134823528/posts/default/8246338211301574746'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8096187244134823528/posts/default/8246338211301574746'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alita-dee.blogspot.com/2009/06/indahnya-tubuh-ibuku.html' title='Indahnya Tubuh Ibuku'/><author><name>dee alita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15608335270076570228</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_klCrRrqSP08/SfEyqgcHvAI/AAAAAAAAAAk/RLjidh3m4gM/S220/gueeeeeeeeeeeeee.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8096187244134823528.post-464525668620118620</id><published>2009-06-30T02:11:00.001-07:00</published><updated>2009-06-30T02:12:01.846-07:00</updated><title type='text'>Ibuku, Pelampiasan Birahiku</title><content type='html'>Namaku Jimy, 19 tahun, mahasiswa di sebuah PTS di Surabaya. Kedua orang tuaku cerai sejak aku berumur 6 tahun. Aku tinggal bersama ayahku sampai suatu hari dia terlibat masalah di luar negeri dan aku tinggal bersama ibu dan adikku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibuku sangat seksi dan cantik meski usianya sudah 36 tahun, sedangkan adikku sangat manis dan merangsang meski baru berumur 14 tahun, mungkin ini dikarenakan tubuhnya yang tumbuh dengan pesat sehingga tonjolan di tubuhnya terlihat menggairahkan. Perlu diketahui, nafsuku sangat besar. Hampir setiap hari aku melakukan onani, sampai akhirnya timbul suatu tragedi dalam keluargaku dikarenakan nafsuku ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah 3 minggu aku tinggal bersama mereka timbul nafsu birahiku untuk menyetubuhi ibuku. Bagaimana tidak terangsang melihat wajah cantik yang dewasa dan menggairahkan serta tubuh yang seksi luar biasa (mungkin dikarenakan ikut senam). Setiap ibuku mandi, aku selalu menyempatkan diri untuk mengintipnya. Sambil melihat aku pun melakukan onani sampai-sampai maniku berceceran di lantai tempatku mengintip.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di situlah setiap hari aku melakukan aktifitas ini tanpa takut ketahuan oleh ibu maupun adik dan pembantuku. Terkadang kalau tidak sempat, aku tidak membersihkan bekas maniku karena takut ibuku keburu datang. Aku tidak tahu dia sadar akan hal ini atau tidak, tapi yang pasti sampai 3 minggu ini masih aman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada pagi hari ibu menyiapkan sarapan untukku, aku duduk di meja makan menunggu sarapan tiba. Waktu itu adikku sudah berangkat sekolah sedangkan pembantuku belanja ke pasar. Kulihat ibuku hanya memakai celana dalam sedangkan bagian atasnya dia hanya memakai kaos sehingga tonjolan dadanya terlihat sekali. Mungkin dia tidak risih berpakaian demikian karena seisi rumah biasanya hanya wanita, tetapi aku yang melihatnya membuat jantungku berdegup kencang dan darah mudaku pun mendesir. Apalagi sarapan yang kumakan kebanyakan menambah libido sehingga birahiku pun semakin tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Say celanamu kenapa?" tanyanya.&lt;br /&gt;Memang pada saat itu batang kemaluanku tegang sekali sampai terlihat dari luar celana. Saking kagetnya ditanya demikian, gelas yang sedang kuminum pun tumpah, untung tidak pecah.&lt;br /&gt;"Kalau minum pelan-pelan dong, Sayang.." sahutnya sambil mendekatiku dan mengelap tumpahan air di bajuku. Begitu dia mendekat aku merasa tidak tahan lagi. Aku segera berdiri dan memeluknya serta menghisap lehernya. Waktu itu otakku sudah keruh dan tak peduli apa-apa lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Say, jangan.. aku ini ibumu", hanya itu yang dia katakan tetapi dia sedikit pun tidak melawan, malah kemudian membiarkan aku membuka kaosnya sehingga tubuh indahnya pun terlihat. Aku pun mulai menggerayangi seluruh tubuhnya, payudaranya yang besar kuhisap seperti pada waktu aku bayi dan tanganku kupakai untuk memijat payudara sebelahnya serta untuk memeluknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu daerah erotis lainnya pun segera kunikmati seperti dadanya, ketiak, sampai akhirnya aku terduduk mengarah persis di celana dalamnya. Kulihat waktu itu CD-nya sudah basah sekali lalu kutarik CD-nya ke bawah dan langsung aku melakuan oral seks di liang kewanitaan ibuku. Waktu itu terciumlah bau khas wanita yang sebenarnya kurang sedap, tapi bau itu merupakan bau terindah yang pernah kucium dikarenakan nafsuku sudah memuncak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pun menciumi permukaan kemaluannya sambil lidahku menari-nari di daerah paling sensitifnya, perbuatanku ini membuatnya melonjak seperti kesetrum.&lt;br /&gt;"Cukup Jim, hentikanlaah.. aah.." katanya tetapi tangannya terus memegangi kepalaku yang tenggelam di selangkangannya, bahkan menahanku untuk tetap menjilatinya. Saat lidahku menjilati klitorisnya dengan lembut, tak lama kemudian tubuh ibuku mengejang dengan hebat dan desahannya semakin keras. Aku tak peduli lagi dan terus menjilati kemaluan ibuku yang memuncratkan cairan-cairan kental saat dia mencapai orgasme tadi. Kuhisap semua cairan yang keluar meskipun rasanya aneh di lidah tetapi terasa nikmat sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian ibuku yang terlihat lelah melepaskan kepalaku dan duduk di kursi makan. Aku pun segera berdiri dan melucuti pakaianku. Dia tampak terkesan melihat batang kemaluanku yang besar dengan panjang kira-kira 15 cm dan berdiameter 4 cm. Ketika aku mendekat, ibuku mendorongku hingga aku terduduk di kursi makan dengan sisa tenaganya yang lemas. Kupikir Ibuku menolak dan akan marah tetapi dia segera berlutuk mengarah ke batang kejantananku. Mulutnya begitu dekat ke kemaluanku tetapi dia diam saja. Aku yang sudah tidak tahan segera mendorong kepalanya menuju batang kejantananku. Ibuku langsung mengulum senjataku dengan penuh nafsu. Hal itu terlihat dari kulumannya yang liar dan berirama cepat serta tangannya menggosok pangkal kemaluanku. Sambil dia melakukannya kubelai rambutnya dan merasakan kenikmatan yang luar biasa, tak terkira dan tak dapat kulukiskan dengan kata-kata. Sampai akhirnya aku merasa tidak tahan lagi, air maniku menyembur di dalam mulut ibuku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia segera memuntahkannya dan kemudian membersihkan sisa-sisa air mani yang menetes di batang kejantananku dengan mulutnya. Melihat batang kejantananku masih tegang, dia segera naik ke pangkuanku dan membimbing burungku memasuki sarangnya. Akhirnya tenggelamlah seluruh batang kemaluanku ini ke liang senggamanya. Gila.., rasanya luar biasa sekali. Meski aku sering jajan, tapi kuakui liang kewaniataan ibuku ini terasa nikmat luar biasa dibanding lainnya. Dia mulai naik turun menggosok batang kejantananku sambil memeluk kepalaku sehingga aku berada persis di belahan payudaranya. Hal itu kumanfaatkan untuk menikmati sekitar wilayah dadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya dia berada di puncak orgasmenya dan langsung mengerang kenikmatan. Aku pun mulai kewalahan menghadapi goyangannya yang semakin liar dan akhirnya muncratlah air maniku untuk kedua kalinya di dalam liang senggamanya. Kami pun lalu saling berciuman dengan mesra. Kemudian tanpa berkata apa-apa, dia langsung menuju kamar mandi dan membersihkan badannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu aku sadar bahwa aku telah menyetubuhi ibuku sendiri, karena merasa bersalah aku segera meninggalkannya untuk berangkat kuliah setelah berbenah sementara dia masih di kamar mandi. Aku tak tahu apa nantinya yang kulakukan dan bingung menghadapi ini semua.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8096187244134823528-464525668620118620?l=alita-dee.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alita-dee.blogspot.com/feeds/464525668620118620/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://alita-dee.blogspot.com/2009/06/ibuku-pelampiasan-birahiku.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8096187244134823528/posts/default/464525668620118620'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8096187244134823528/posts/default/464525668620118620'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alita-dee.blogspot.com/2009/06/ibuku-pelampiasan-birahiku.html' title='Ibuku, Pelampiasan Birahiku'/><author><name>dee alita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15608335270076570228</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_klCrRrqSP08/SfEyqgcHvAI/AAAAAAAAAAk/RLjidh3m4gM/S220/gueeeeeeeeeeeeee.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8096187244134823528.post-2040834857661393206</id><published>2009-06-30T02:10:00.001-07:00</published><updated>2009-06-30T02:11:03.426-07:00</updated><title type='text'>Ibuku yang Menggairahkan</title><content type='html'>Namaku Ikin. Umurku sekarang 18 tahun dan Ibuku berumur 38 tahun. Ibuku Sangat cantik dan seksi layaknya gadis umur 25 tahunan. Dia pandai merawat tubuhnya. Kulitnya yang putih mulus, buah dada yang besar dengan putingnya yang kecoklatan, dan juga kakinya yang jenjang dan seksi. Aku tak mengerti mengapa memandang ibuku seperti itu, tapi aku dapat memastikan setiap laki-laki yang melihat ibuku pasti ingin memilikinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayahku pengusaha sukses yang sangat sibuk, Ia biasa bepergian ke luar kota bahkan ke berbagai negara untuk mengurus bisnisnya. Dia memberikan semua kebutuhan kami seperti rumah yang sangat besar dengan taman yang luas, juga sarana olah raga di rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ceritanya bermula ketika usiaku 15 tahun dan ibuku 35 tahun. Suatu hari kulihat ayahku sedang bersiap-siap untuk perjalanan bisnisnya selama kurang lebih dua minggu. Ketika akan berangkat, dia berpesan agar menjaga rumah dan ibuku, dan agar jangan macam-macam sehingga menyusahkan ibuku, selama ayah keluar kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu berlalu seperti biasanya tanpa sesuatu hal luar biasa yang terjadi. Kesokan harinya cuaca sangat panas dan kering, lebih panas dan kering dari biasanya karena saat itu lagi puncaknya musim kemarau. Kebetulan waktu itu lagi libur semesteran jadi aku tidak ke sekolah. Ketika keluar dari kamarku, kucari ibuku ke tempat biasanya. Kulihat ibuku di kolam renang mengenakan bikini yang belum pernah kulihat sebelumnya. Ketika kulihat dadanya yang seperti mengambang di air, kurasakan burungku mulai mengeras. Begitu melihatku, dia menyuruhku mengambil sarapan yang telah disiapkan di dapur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika aku didapur, ibuku selesai dari kolam renang kemudian membersihkan badannya di kamar mandi. Kucoba untuk mengintipnya, tapi pintu kamar mandi terkunci rapat. Aku pergi ke ruang tengah sambil tetap membayangkan goyangan dadanya dengan air bercucuran sampai ke kaki jenjangnya yang seksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah selesai mandi dan berganti pakaian dia menghampiriku ke ruang tengah dan aku tak dapat membuang bayangan tubuh ibuku yang sangat menggairahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam 11 siang ketika sedang nonton TV, ibuku bilang akan tidur siang. Aku berharap dia akan mengajaku tidur bersama di sampingnya. Ketika berjalan menaiki tangga, kulihat goyangan pinggulnya yang membuat burungku mengeras lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam 12 siang aku bermaksud tidur siang. di kamarku aku tidak bisa tidur karena cuaca yang tidak enak, dan aku tak bisa membuang lamunanku tentang tubuh indah ibuku. Aku pegang burungku yang sudah sangat keras dan kukocok-kocok sambil membayangkan goyangan dada ibuku waktu di kolam renang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah selesai, kucoba untuk tidur kembali, tetapi meskipun mata terpejam tetap tidak bisa tidur. Burungku masih sangat keras. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku sangat menginginkan ibuku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku keluar kamarku memakai celana pendek, kemudian ke kamar ibuku. Pintunya terbuka. Dia tidur tengkurap dengan kedua kakinya agak terbuka. dia memamakai celana kolor tapi masih menutupi pantatnya. Ibuku kalau tidur seperti orang mati, susah bangunya, tapi aku takut sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mulai mengelus-ngelus burungku yang masih dalam celana pendekku. Aku merasakan sesuatu yang nikmat sekali, sampai aku tak tahan lagi. Aku berdiri di samping ranjangnya dan kusemprotkan seluruh maniku disekujur kaki jenjangnya. Aku melenguh dan mendesah perlahan sekali, Aku merasa takut sekali kalau dia terbangun karena cucuran maniku yang panas di sekujur kakinya. Aku kembali ke kamarku, tak dapat kupercaya kusemprotkan maniku ke tubuh ibuku. Aku merasa berdosa sekali, kemudian aku tertidur lelap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paginya deg-degan aku sudah siap-siap akan kemarahan ibuku, tapi kok ya.., tidak apa-apa, sepertinya dia tidak menemukan bekas maniku pada saat dia bangun. Aku berjanji pada diriku sendiri tidak akan melakukan itu lagi, karena dia adalah ibuku. Sepanjang siang itu sikap ibuku biasa-bisa saja seperti tidak ada apa-apa. Kupikir dia tahu tapi dia menyukainya, entahlah.., Atau maniku telah mengering waktu dia bangun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua malam kemudian burungku tegang lagi. Malam itu adalah malam terpanas pada musim kemarau tsb. Aku tak bisa tidur lagi, kulihat pintu kamar ibuku tertutup. Kupikir dia tahu apa yang telah kulakukan dan dia menginginkanya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kubuka perlahan-lahan tanpa menimbulkan suara dan kemudian masuk ke kamar ibuku. Kulihat ibuku tertidur hanya memakai celana dalam dan BH. Tak dapat kupercaya mataku melihatnya setengah telanjang. Kupegang burungku dan kukocok dengan keras, ketika maniku akan keluar, kusemprotkan di selangkanganya dan di atas celana dalamnya. cepat-cepat aku kembali ke kamarku. Kupikirkan apa yang telah terjadi sampai aku terdidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paginya masih seperti biasa ibuku tidak apa-apa. Aku masih penasaran, tahu nggak sih kelakuanku, gimana caranya untuk meyakinkan hal itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam berikutnya aku ke kamar ibuku lagi, dia memakai celana dalam dan BH saja, tapi kali ini tidurnya miring. Wah.., gimana caranya ngocok nih. Aku mau kemut teteknya, mungkin dia akan membunuhku kalau sampai terbangun. Kucoba untuk merabanya, waduh gimana caranya ya.., aku gemetaran.., Kulihat ada vaseline di meja rias. Lalu kuambil dan kuoleskan pada burungku. Lalu aku nekad akan kucoba gesek-gesekan burungku ke ibuku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku naik ke ranjang dan berbaring di belakangnya dan mulai mengesek-gesekan burungku ke pantatnya. Dia masih tertidur, tidak bergerak. Kuselipkan burungku lebih bawah lagi diantara kakinya dan mulai kutekan-tekan. Sebenarnya aku takut dia bangun kalau aka kebanyakan bergerak, tapi aku nggak tahan. Aku pompa burungku keluar masuk di antara kakinya. Tak berapa lama maniku muncrat di antara kedua kakinya dan sebagian meleleh kena vaginanya. Aku kembali ke kamarku dengan pikiran dipenuhi bayangan vaginanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paginya masih seperti biasa, ibuku tidak ngomong apa-apa, sehingga menambah rasa penasaranku, masak sih dia tidak merasakan ada bekas vaseline dan maniku di kakinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kucoba untuk mengetesnya. Kutunggu di kamarku sampai jam 6 pagi. Aku tahu persis ibuku selalu bangun jam 7 pagi setiap hari, aku ke kamarnya dan menggesek-gesekan burungku di antara kakinya, butuh waktu 30 menit untuk muncrat di kakinya, kemudian akau keluar tiduran sambil menunggu apa yang akan terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam 7 pagi ibuku bangun terus mandi. Aku keluar kamar terus ke dapur. Dia sedang sarapan dan bicaranya wajar seperti tidak ada apa-apa sambil mencuci piring. Aku ke kamar mandinya, kulihat celana dalamnya basah kuyup oleh maniku. Sekarang akau yakin sekali, ibuku tahu kelakuanku. Malah aku jadi bingung sendiri, soalnya ibuku tidak memperlihatkan perubahan apapun. Dia pergi ke supermarket dan kembali tiga jam kemudian. Aku masih memikirkan apa yang akan kulakun dengan ibuku malam ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita nonton TV, kemudian ibuku bilang akan pergi tidur. Kutunggu hampir 2 jam, biar dia tidur nyenyak dulu. Kemudian masuk kamarnya dan kulihat dia tidur berselimut. sialan.., rupanya dia tidak suka aku kerjain. Aku sudah tegang banget, kuambil vaseline kuoleskan ke burungku kemudian akau naik keranjang. Dia tidur tengkurap dengan kakinya terbuka sangat lebar. Kucoba singkap selimutnya agar bisa mengocok di antara kakinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kusingkap selimutnya, jantungku hampir berhenti berdenyut, dia telanjang bulat! Aku lihat vaginanya dengan jelas dan bibir vaginanya kelihatannya begitu hangat. Dengan tangan gemetaran kusentuh vaginanya perlahan kemudian kuusap-usap dengan lembut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lama-lama vaginanya semakin basah, kemudian kutarik kedua kakinya berlawanan sehingga kakinya semakin membentang lebar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba dia bergerak, posisinya menjadi miring membelakangiku. Tapi kedua kakinya masih terbuka lebar. Aku berbaring di belakangnya dan mulai mengocokkan burungku di antara kakinya dan kucoba menyentuh vaginanya. Dia tidak bergerak ketika perlahan-lahan burungku masuk makin dalam ke vaginanya. Aku mulai memompanya keluar masuk perlahan-lahan, kudengar dia mendesah kayaknya sedang mimpi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku nggak tahan lagi, sehingga kocokanku semakin keras dan cepat. Kurasakan cairan di vaginanya semakin deras. Aku juga merasakan sudah waktunya akan orgasme, tiba-tiba dia melepaskan burungku dari vaginanya sehingga maniku berhamburan di bibir vaginanya. Kemudian dia tidur lagi telentang dengan kedua kakinya dirapatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulihat kedua teteknya yang besar. Kemudian kujilat dan kuhisap-hisap. Ibuku mendesah-desah ketika kuhisap putingnya. Aku mulai menggesek-gesekan burungku lagi dan air maniku berceceran di antara teteknya. Aku kembali kekamarku dan sulit kupercaya apa yang telah terjadi aku telah ngentotin ibuku. Kemudian aku tertidur dengan nyenyak sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi harinya kulihat ibuku memakai daster. Kulihat juga puting susunya di balik dasternya yang tipis. Dia tidak ngomong apapun tentang semalam. Heran.., kenapa dia melepaskan vaginanya sebelum aku orgasme. Aku masih takut-takut untuk mulai ngomong denganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siangnya ibuku pergi dengan temannya untuk menghadiri pesta perkawinan. Jam 11 malam baru pulang, mungkin jalan-jalan dulu. Dia bilang sangat lelah sekali dan ingin tidur dengan nyenyak. Ketika ngomong begitu dia tersenyum manis sekali kemudian menciumku dan bilang selamat malam. Kutunggu hampir 1 jam, kemudian kulepas semua pakaianku kemudian kekamar ibuku, pintunya terbuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wwaaw..!, Dia tidur telanjang tanpa sehelai benangpun menutupi tubuhnya. Tidurnya telentang dengan kedua kakinya terbuka sangat lebar. Aku berlutut di antara kedua kakinya dan mulai mengelus-elus vaginanya dengan tangan sebelahnya kuusap-usap putingnya. Vaginanya semakin basah saja dan burungku semakin keras. Kuarahkan burungku ke vaginanya, "Hmm.., nikmatnya", dan dia kudengar mendesah juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurasakan otot vaginanya meremas-remas burungku sehingga aku mulai memompa lebih cepat dan keras. Aku hisap putingnya juga. Ibuku terbangun!, dengan suaranya yang perlahan nyaris tak terdengar dia bilang, "Oh.., Ikin apa yang kamu lakukan?, aku ibumu".&lt;br /&gt;"Aku sangat mencintaimu Mam dan aku akan ngentotin Mami jika Mami menginginkanya juga"&lt;br /&gt;Kemudian dia bilang sambil mendesah, "Ok, tapi jangan semprotkan di dalam, Aku tak mau dihamili anaku sendiri".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kudengar itu, kugenjot semakin keras dan keras.&lt;br /&gt;Dia bilang, "Oh Kin, Yang keras lagi dong. Mami suka burung besarmu. Oooh.., Mami mau sampai, Kin, Mami.., ssaammppaaii.."&lt;br /&gt;Kugenjot tambah keras lagi. Kurasakan aku mau sampai juga.&lt;br /&gt;"Aku ingin semprotkan di dalam Mam, Akan kusemprotkan semuanya di dalam."&lt;br /&gt;"Jangan kin.., tolong jangan.., Mami tidak pakai kontrasepsi.., ntar Mami hamil anakmu"&lt;br /&gt;"Nggak bisa Mam, aku sangat menginginkanya. Sekaranghh Mam.., Mam aku sampai"&lt;br /&gt;"Kin manimu panas sekali, Mami suka sekali sayang."&lt;br /&gt;"Tapi.., iyer.., terus sayang.., teruskan.., a..aahh"&lt;br /&gt;Ternyata dia sangat menyukainya, so kita ngentot tiap hari sampai ayahku pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, kita selalu tidur sekamar kalau ayah keluar kota lagi. Sekarang umurku 18. Ibuku 38 dan kita masih ngentot terus. Ibuku hamil, tapi dia putuskan untuk mengugurkannya karena dia tidak ingin punya bayi dariku. Tapi dia bilang, boleh ngentotin dia terus kalau ayah bepergian.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8096187244134823528-2040834857661393206?l=alita-dee.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alita-dee.blogspot.com/feeds/2040834857661393206/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://alita-dee.blogspot.com/2009/06/ibuku-yang-menggairahkan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8096187244134823528/posts/default/2040834857661393206'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8096187244134823528/posts/default/2040834857661393206'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alita-dee.blogspot.com/2009/06/ibuku-yang-menggairahkan.html' title='Ibuku yang Menggairahkan'/><author><name>dee alita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15608335270076570228</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_klCrRrqSP08/SfEyqgcHvAI/AAAAAAAAAAk/RLjidh3m4gM/S220/gueeeeeeeeeeeeee.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8096187244134823528.post-6762768961537581257</id><published>2009-06-30T02:09:00.001-07:00</published><updated>2009-06-30T02:10:15.355-07:00</updated><title type='text'>Ibuku Yang Tercinta</title><content type='html'>Namaku Ronald. Aku berusia 19 tahun. Saat ini aku bersekolah di sebuah sekolah swasta yang sangat terkenal di kota Surabaya ini. Saat ini aku tinggal bersama dengan ibuku. Kedua orang tuaku bercerai saat aku masih kecil. Sejak saat itu, aku tinggal berdua dengan ibuku. Ibuku adalah seorang yang memiliki jabatan strategis di sebuah perusahaan importir, dengan demikian kami tidak pernah kesulitan secara finansial. Ibuku sering kali ditugaskan keluar kota, oleh sebab itu aku sering pula ditinggal sendiri di rumah. Kami sudah lama tidak menggunakan jasa pembantu karena aku telah dianggap cukup dewasa untuk mandiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibuku adalah seorang yang sangat cantik. Saat ini dia berusia 41 tahun. Walaupun demikian, dia terlihat masih lebih muda daripada umur sebenarnya. Badannya langsing dan berbodi indah. Rambutnya yang sebahu terkadang membuat diriku sendiri terpesona. Kulitnya berwarna terang dan bersih dari noda kulit. Tinggi badannya antara 160 – 165 cm, sedangkan berat badannya tidak lebih dari 45 kg. Ibuku memakai bra berukuran 34 B. Kemaluannya dihiasi oleh bulu-bulu yang membuat aku selalu terangsang saat aku mengintipnya baik saat mandi maupun saat ganti baju di kamar. Aku sangat mencintai ibuku. Setiap hari aku membayangkan bagaimana rasanya jika aku melakukan hubungan sex dengan ibuku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memiliki kunci cadangan untuk seluruh penjuru rumah, oleh sebab itu aku selalu dapat dengan leluasa masuk ke dalam kamar tidur ibuku. Aku memasang kamera CCTV yang dihubungkan ke komputerku dalam kamar mandi dan kamar tidurnya. Bila ibuku mandi atau berganti baju, maka aku akan menontonnya dari komputer kamarku. Tubuh telanjang ibuku selalu menggodaku untuk melakukan masturbasi saat aku menontonnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila ibuku sedang tidak ada di rumah atau sedang dinas ke luar kota, maka aku suka membuka lemari pakaiannya. Saat itu aku akan memilih-milih pakaian dalam milik ibuku seperti bra, celana dalam atau gaun tidurnya. Aku sangat suka mencium-cium dan memakainya. Saat itu aku merasakan seolah-olah aku sedang melakukan hubungan sex dengan ibuku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari semua pakaian dalam itu, bikini pantai yang berwarna orange adalah favoritku. Bikini itu sudah lama menjadi miliknya. Saat pertama kali aku melihat ibuku memakainya sewaktu aku masih kecil, aku sangat terpesona. Bikini itu terdiri atas bra dan celana dalam. Bra bikini itu dipakai dengan cara mengikatkan tali bra tersebut di belakang leher dan punggung, sedangkan celana dalam bikini itu dipakai dengan cara mengikat tali celana dalam tersebut di pinggul kiri dan kanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sering kali memakai bikini itu saat ibuku tidak ada di rumah. Waktunya bisa sampai berhari-hari. Aku memakainya untuk setiap kegiatanku di rumah seperti makan, nonton TV, belajar, saat santai, baca buku, main game, masturbasi bahkan untuk tidur sampai keesokan harinya. Kalau aku keluar rumah, aku tidak segan-segan memakainya di balik baju dan celana luarku. Aku sering memakai bikini tersebut sebagai pakaian dalam kemana saja baik itu ke mall atau plaza, rumah teman maupun ke sekolah. Ya, aku memakainya di balik seragam sekolahku. Bahan kain bajuku yang cukup tebal dapat menyembunyikan berkas tali braku yang kupakai di balik seragam sekolahku. Aku selalu menganggap pakaian dalam ibuku yang kupakai sebagai bagian dari tubuhnya yang menempel padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lama kelamaan, keinginanku untuk berhubungan sex dengan ibuku semakin menjadi-jadi. Aku mulai menyusun siasat untuk mewujudkannya. Setelah mendapatkan cara, maka aku menunggu hari untuk mewujudkannya. Setelah ditunggu-tunggu, kesempatan itu datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu, hari minggu sore. Setelah menonton adegan ibuku mandi dan memakai baju santainya, aku mengeluarkan obat tidur dengan reaksi yang cepat dan kuselipkan di kantong celana pendekku. Tak lama kemudian, terdengar ibuku memanggilku untuk makan bersama. Saat selesai makan, aku menawarkan diriku untuk membawakan ibuku segelas air minum. Ibuku mengiayakan permintaanku ini, maka aku mengambil segelas air di dapur. Diam-diam air itu aku campur dengan bubuk obat tidur tadi. Setelah tercampur, aku membawakannya kepada ibuku dan dia langsung meminumnya sampai habis. Setelah itu, kami duduk-duduk di ruang keluarga sambil nonton televisi dan ngobrol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurang lebih sepuluh menit, ibuku mengatakan kalau dia merasa sangat capek dan mengantuk. Aku sangat gembira mendengarnya, namun aku menyembunyikannya dengan baik. Ibuku kemudian masuk kamar dan tidur. Lima menit kemudian, aku menyusulnya masuk ke kamar. Aku melihat ibuku terbaring pulas. Mula-mula aku mencoba membangunkannya dengan menggoyangnya, bahkan memanggilnya, tetapi sepertinya obat tidur itu bekerja dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kemudian membuka lemari pakaian ibuku. Dari dalam aku mengambil bikini pantai yang biasanya aku pakai. Aku kemudian membuka seluruh pakaianku dan memakai bikini tersebut. Setelah itu, aku menghampiri ibuku. Mula-mula aku membelai-belai rambutnya yang indah. Sejenak kemudian aku mengecup dahinya, pipinya lalu bibirnya. Kemudian aku menelantangkan tubuh ibuku. Aku membuka kaos dan celana pendek yang dipakainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuh ibuku yang sexy hanya terbalut bra putih setengah cup dan celana dalam satin putih berenda sexy terpampang di depanku. Aku kemudian mencium buah dadanya dan menghirup keharuman tubuhnya. Setelah itu, aku menarik sedikit cupnya, mengeluarkan putingnya dan menghisap serta menjilat-jilatnya. Waktu itu tidak ada sedikitpun reaksi dari ibuku. Berulang-ulang aku menikmati buah dadanya dari yang sebelah kiri, ke kanan, ke kiri dan seterusnya sampai aku betul-betul puas. Remasan, gigitan, jilatan dan ciuman menghujani kedua buah dada ibuku itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kemudian membuka celana dalam yang dipakainya. Setelah terlepas, aku mencium celana dalam itu, lalu melemparkannya ke samping tempat tidur. Aku membuka kedua belahan kakinya dan mulai menjilati liang kewanitaannya. Walaupun tertidur, rupanya tubuh ibuku memberikan reaksi terhadap apa yang aku lakukan. Cairan kewanitaannya mengalir dari liang itu dan segera saja dijilati olehku. Setelah beberapa saat menjilat-jilat kemaluan ibuku, aku tidak tahan lagi. Segera saja aku menarik kedua tali pengikat celana dalam bikiniku sampai lepas dan memperlihatkan kemaluanku yang sejak tadi terus menegang. Setelah itu, aku mengarahkan kemaluanku dalam liang sanggama ibuku dan menusukkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu aku merasakan kalau liang sanggamanya masih sempit dan terasa sangat enak. Sejenak kemudian, aku menggerakkan pinggulku maju mundur menusuk-nusuk kemaluan ibuku. Kenikmatan yang luar biasa terus menjalari diriku. Beberapa kali aku hampir ejakulasi, namun berhasil kutahan. Kedua tanganku terus menerus meremas-remas kedua buah dada ibuku saat aku menusuk-nusuk kemaluannya. Agak lama kemudian pertahananku jebol. Dengan teriakan nikmat yang tertahan, aku melepaskan spermaku ke dalam rahim ibuku sejadi-jadinya. Untung saja hari itu bukan hari subur ibuku, sebab kalau tidak ibuku bisa hamil karena ulahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, aku mencabut batang kejantananku dan mengelap kemaluan ibuku dengan celana dalam bikininya yang dipakai olehku tadi di bagian yang selalu bersentuhan dengan kemaluannya. Aku memakaikan semua pakaian ibuku kembali seperti sedia kala. Saat itu ibuku tetap terlelap seolah-olah terbius dengan sempurna. Aku sendiri tidak memakai bajuku lagi, tetapi mengenakan kembali celana dalam bikini yang kulepas saat berhubungan sex dengan ibuku. Aku kembali ke kamarku dan tidur dengan mengenakan bikini itu sampai pagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya, saat kami bangun untuk sarapan, ibuku berkata bahwa tadi malam dia sangat capek dan tertidur lelap. Dia juga mengatakan bahwa beberapa bagian tubuhnya terasa pegal tanpa tahu sebabnya. Dalam hati aku menerka-nerka kalau itu adalah akibat dari hubungan sex kami atau bukan, tetapi ibuku hanya berkata kalau dia hendak mengambil cuti untuk istirahat sehari lagi. Sepertinya ibuku memang betul-betul tidak tahu apa yang sedang terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak saat itu, aku hanya sekali melakukan hubungan sex lagi dengan ibuku. Aku ingin mengulanginya kembali, tetapi aku harus menunggu waktu yang tepat. Mungkin dengan cara yang berlainan. Sementara ini aku tetap menikmati tontonan telanjang ibuku dari kamar mandi dan kamar tidurnya serta memakai bikini pantai milik ibuku ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8096187244134823528-6762768961537581257?l=alita-dee.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alita-dee.blogspot.com/feeds/6762768961537581257/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://alita-dee.blogspot.com/2009/06/ibuku-yang-tercinta.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8096187244134823528/posts/default/6762768961537581257'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8096187244134823528/posts/default/6762768961537581257'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alita-dee.blogspot.com/2009/06/ibuku-yang-tercinta.html' title='Ibuku Yang Tercinta'/><author><name>dee alita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15608335270076570228</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_klCrRrqSP08/SfEyqgcHvAI/AAAAAAAAAAk/RLjidh3m4gM/S220/gueeeeeeeeeeeeee.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8096187244134823528.post-1785992248636395541</id><published>2009-06-30T02:07:00.000-07:00</published><updated>2009-06-30T02:09:13.929-07:00</updated><title type='text'>Ibuku Istriku</title><content type='html'>Matahari sudah tinggi saat aku bangun dari tidur. Aku baru masuk siang hari nanti, oleh karenanya aku sengaja bangun agak siang. Rumah sudah kelihatan sepi, Mbak Mona sudah berangkat sekolah dan ayah sudah ke kantor, tinggal aku dan ibu yang ada dirumah, setiap harinya Aku menuju keruang makan untuk sarapan, tapi hari in tidak ada nasi atau roti yang biasanya disediakan oleh ibuku. Kemana ibu ini, padahal perutku sudah sangat lapar sekali. Aku pergi ke dapur, tapi lagi-lagi ibu tak ada di sana, akhirnya kuputuskan untuk mencarinya di kamar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pintu kamar sedikit terbuka saat aku sampai disana. Dan.., deg! Jantungku tiba-tiba berdebar-debar saat dari sela-sela pintu kulihat sosok tubuh mulus, tanpa sehelai baju sedang berdiri di depan cermin. Ibuku sedang asyik mengamati tubuhnya, sesekali ibu memutar badannya, Kedua tangannya sesekali meremas kedua payudaranya -yang dulu sering kuisap saat masih kecil- dan meraba pinggangnya yang kecil. Umur ibuku yang baru 34 tahun tak menghalangi kekagumanku pada kemulusan dan keseksian tubuh Ibu. Lama-lama kelamaan aku jadi terangsang melihat tubuh telanjang Ibuku tersebut, Berkali-kali aku meneguk ludah melihat pantat Ibu yang kelihatan masih padat dan bulat, atau ketika tangan Ibu mengusap kemaluannya dengan lembut, aku seperti menyaksikan striptease yang menggairahkan, dan tanpa sadar tubuhku mennyenggol pintu kamar sehingga bunyi pintu yang terbuka mengagetkan Ibu maupun aku sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu memandangku sambil melotot karena merasa malu melihat anaknya sedang memergokinya bertelanjang bulat, tapi anehnya aku tak merasa takut atau malu, aku malah menikmati pemandangan di depanku, tubuh putih mulus dengan buah dada yang bulat dan kemaluan yang penuh dengan rambut hitam, "Ryan, sejak kapan.. kamu di situ?!" tanya Ibuku sambil menahan amarah, aku hanya tersenyum kecil, karena melihat Ibuku malah bertolak pinggang dan tidak menutupi kemaluan maupun buah dadanya. "Salah Ibu sendiri tidak menutup pintu..", kataku sambil mendekati Ibu, "..atau Ibu sengaja supaya Ryan mengintip.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba tangan kanan Ibu melayang hendak menampar pipiku, tapi aku lebih cepat dan menangkap tangan Ibu. Dengan gerakan cepat tubuh Ibu sudah berada dalam pelukanku, kini aku dapat merasakan harum dan mulusnya tubuh Ibuku sendiri, mendapat perlakuan seperti itu tentu saja Ibuku meronta dan mencoba melepaskan diri. Namun kedua tanganku cukup kuat untuk menahan tubuh Ibuku dalam pelukanku, "Ryan.., lepaskan!! Aku Ibumu ..jangan lakukan ini kepada Ibu, nak..!" aku tak peduli lagi, leher Ibu yang jenjang jadi sasaran mulutku. Pipinya juga tak luput dari ciuman bertubi-tubi dan penuh nafsu dari mulutku. Ibuku terus meronta tiada henti dan membuat kami terjatuh ke tempat tidur, kesempatan ini kugunakan untuk menindih tubuh Ibuku dan melepas kaos yang kupakai, tapi akibatnya fatal, Ibu dapat mendorong tubuhku dan mencoba melarikan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan sigap, aku menangkap kedua kaki Ibu dan kembali menindih tubuh mulus Ibuku, kali ini posisi Ibuku telungkup dengan badanku di atasnya. Sementara tangan kananku memegangi kedua tangannya, tangan kiriku mencoba melepas celana pendekku. Untung aku tidak memakai celana dalam, hingga dalam sekejap aku sudah telanjang bulat seperti Ibuku. Tanpa pemanasan lebih lanjut aku mencoba mencari lubang kemaluan Ibu dan memasukkan kontolku ke dalam memeknya, tapi posisi Ibu yang telungkup menyulitkanku untuk dapat memasukkan kontolku ke lubang vagina Ibu. Apalagi Ibu tak henti-hentinya meronta dan mencoba mendorong tubuhku, akhirnya tubuh Ibu sedikit kumiringkan dan dengan bantuan tangan kiriku yang bebas, kontolku dapat menemukan kemaluan Ibuku, aku kembali kesulitan menerobos kemaluan Ibu yang seret karena tidak begitu basah dan kontolku sendiri lumayan besar. Tapi aku tidak putus asa, dengan sedikit usaha dan terus memaksa akhirnya kontolku bisa masuk seluruhnya ke memek Ibuku. "..Aghh..!!" Ibu berseru sedikit sakit karena kontolku yang memaksa masuk. "..Ryan.. tolong.. berhenti.. aku Ibumu..!!" Aku diam saja karena sibuk memasukkan dan mengeluarkan kontolku dari lubang vagina Ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuh Ibu yang terus meronta sedikit membantuku dalam menggoyang tubuhnya, kemaluanku keluar masuk dengan agak mulus dan cepat, rupanya Ibu lelah meronta terus dan kelihatan pasrah karena mendadak tubuhnya berhenti meronta. Aku langsung membalikan tubuh Ibuku sehingga posisinya kini telentang, sementara kontolku masih bersemayam di memek Ibuku, kembali aku menggenjot tubuhku dan kontolku semakin cepat keluar masuk dari lubang kemaluan Ibuku itu. Mulusnya gerakan kontolku terbantu karena vagina Ibu mulai mengeluarkan cairan kewanitaannya, dan Ibu pun banyak diam serta sesekali mendesah kecil. Mata Ibu sedikit tertutup dan kelihatan sayu sekali. Aku yang mengira Ibu sudah bergairah menjadi bersemangat dalam bergerak maju dan mundur, payudara Ibu yang basah oleh keringatnya kuciumi dengan panuh nafsu, putingnya kuisap-isap lembut, dan sesekali kugigit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu sedikit menggelinjang saat kuperlakukan seperti itu. Kedua kaki Ibuku kuangkat keatas sehingga lubang kemaluannya sedikit menyempit. Aku menggerakan pantatku sedikit lambat dan saat memajukan kudorong pantatku agak keras. Ibu rupanya suka dengan gerakan ini karena desahan Ibu semakin keras, bahkan kini aku dapat merasakan pantat Ibu bergoyang untuk mengimbangi gerakanku, aku jadi bertambah bernafsu untuk dapat mengentoti Ibuku lebih lama lagi, tubuh Ibuku kembali kubalik dan kini posisi tubuh Ibuku sedikit kutekuk menyerupai gaya anjing. Ibu yang sudah pasrah menuruti keinginanku, lewat gaya anjing ngentot ini aku terus memasukkan dan mengeluarkan kontolku dengan cepat, kemaluan Ibu yang kini benar-benar basah memudahkan gerakan kontolku menelusuri liang vagina tempat aku dulu lahir, akhirnya aku tak tahan lagi dengan cepat aku menghujamkan kontolku dalam-dalam ke lubang kemaluan Ibuku saat kepuasan itu datang, dan air maniku pun muncrat begitu deras dan banyak, membasahi memek Ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tergeletak kesamping, sementara Ibuku masih dalam posisi telungkup membelakangiku, tanganku menyentuh pinggang Ibu dan mencoba membalikkan tubuhnya, tapi Ibu malah menolak dan bangkit dari tempat tidurnya, Ibu berdiri dan menatapku dengan mata yang sembab, "Keluar Ryan.. tinggalkan Ibu sendiri, tolong?!", tangan Ibu menunjuk ke arah pintu kamar, aku hanya angkat bahu dan meraih pakaianku serta pergi dari situ. Sebelum pergi aku menatap wajah Ibuku, tapi dia membuang muka. Akupun keluar dari kamar orang tuaku, di kamarku aku baru merenungi perbuatanku sendiri barusan, tapi entah kenapa aku malah benar-benar merasa sangat puas setelah mengentoti Ibuku sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir satu setengah jam aku diam di kamar, semakin lama aku berpikir aku malah menikmati bayangan saat aku dan Ibu bercinta tadi, dan gairahku kembali bangkit membayangkan harum tubuh Ibuku dan permainan yang baru kujalani. Kemaluanku kembali mengeras, saat ini aku benar-benar kembali butuh memek Ibuku lagi, tanpa pikir panjang lagi aku segera keluar kamar dan mencari Ibuku di kamarnya, tapi Ibu sudah tidak ada di kamarnya, aku pun mencarinya di ruang tengah, ternyata tidak ada juga. Saat itu kulihat Ibu sedang di dapur dan sedang memasak air, Ibu memakai daster tanpa lengan, dan lekuk tubuhnya yang ramping semakin membuatku bernafsu untuk segera bercinta dengan Ibuku. Ibu melihat kedatanganku, Ibu sedikit mundur kebelakang saat aku mendekatinya. "Kamu mau ngapain lagi ..?" suara Ibu sedikit bergetar, Aku tak menjawab, tangan kananku merengkuh pinggang Ibu yang kecil, dalam sekejap tubuh Ibu sudah dalam pelukanku, tapi aneh Ibu tidak meronta atau mendorong tubuhku, Ibu hanya diam dan saat lehernya kuciumi Ibu masih diam tak bereaksi, "Ryan.. kalau kamu menginginkan tubuh Ibu, tolong jangan pernah mengeluarkan air mani kamu di dalam.." suara Ibu terdengar tertekan di kupingku, "..Ibu nggak mau kamu hamilin atau aborsi.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku yang mendapat 'angin', bertambah nafsu lagi, dengan sedikit terburu-buru aku melepas daster Ibu, dan aku sedikit kaget melihat Ibu tidak memakai celana dalam maupun BH, Aku mencari mulut Ibu, dan bibir Ibu kulumat dengan penuh gairah, Ibu yang sudah pasrah membalasnya dengan hangat, dan dapat kurasakan lidah Ibu bermain di rongga mulutku dengan liar, kami berciuman lama sekali sehingga hampir membuatku kehabisan nafas, dan Ibu sendiri terengah-engah saat kulepas bibirku dari bibirnya, aku lalu meminta Ibu untuk telentang di meja makan, tubuh Ibu menjadi sasaran mulutku saat Ibu tiduran di meja, payudaranya kuremas dan kujilati, putingnya yang mengeras kuisap-isap seperti waktu aku bayi, Ibu mendesah-desah tak henti-hentinya mendapat perlakuan tersebut. Mulutku kembali mencari sasaran berikutnya, perut Ibu kuciumi sebentar dan berikutnya selangkangan Ibu sudah di depan mukaku, kemaluan Ibu yang hitam karena penuh dengan bulu jembut, kuusap-usap dengan lembut, mulutku kubenamkan di kemaluan yang melahirkanku 16 tahun yang lalu, liang vagina Ibu yang basah memancarkan aroma yang menggairahkan, lidahku menjilati bibir vagina Ibu yang agak menggelambir di kedua sisinya, dinding-dinding vagina Ibu tak luput dari lidahku, kelentit Ibuku yang sebesar kacang juga ikut kujilati dengan penuh nafsu, suara Ibu yang mendesah dan melenguh mengiringi jilatan lidahku pada kemaluan Ibuku, tampaknya Ibu benar-benar menyukai oral sex yang kuberikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puas menjilati kemaluan Ibu aku naik ke atas meja, kusodorkan kontolku pada mulut Ibu yang langsung melahap kontolku dengan ganasnya, kontolku tenggelam dalam mulut Ibu yang kecil, Ibu hampir gelagapan saat mencoba menelan kontolku seluruhnya, mulut Ibu terus melahap kemaluanku dengan cepat dan liar, hingga kemaluanku berkilat akibat ludah Ibu yang menempel di kemaluanku, Ibu benar-benar ganas saat mempermainkan kontolku dengan mulutnya, hampir saja air maniku muncrat karena kenikmatan yang diberikan mulut Ibuku pada kontolku. Segera saja aku menyuruh Ibu melepaskan kontolku dan aku pun turun ke bawah, dengan posisi berdiri aku memasukkan kontolku kedalam lubang kemaluan Ibuku yang sudah basah kuyup. Kali ini aku tidak mengalami kesulitan, dan dengan mulusnya kontolku tenggelam dalam memek Ibu, Aku pun bergerak maju muindur dengan cepat, sementara Ibu langsung menggoyangkan pantatnya dengan lambat, aku dapat merasakan nikmat vagina Ibu yang mencengkeram erat kontolku saat Ibu menggoyangkan pantatnya, kadang Ibu mengangkat pantatnya untuk menyambut hunjaman kontolku yang akan masuk kedalam memek Ibu, permainan berlangsung cukup lama dan Ibu kelihatan begitu menikmatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata Ibu terus merem melek, mulutnya yang kecil mendesah, makin lama desahan Ibu semakin keras, dan kedua tangan Ibu mencengkeram bahuku, rupanya Ibu hampir mencapai puncak kenikmatannya. Aku semakin mempercepat gerakanku, dan Ibu pun mempercepat goyangan pantatnya, Dan saat Ibu mencapai orgasmenya, tubuhnya menegang dan memeknya kurasakan semakin basah. Aku lalu berhenti bergerak dan memeluk tubuh mulus Ibu untuk memberinya kesempatan menikmati orgasmenya. Aku kemudian mengangkat tubuh Ibuku dari meja sementara kontolku masih menempel di kemaluan Ibuku, Kududukkan tubuh Ibuku di kursi, dan kembali aku memajukan dan memundurkan pantatku, Ibu yang sudah lemas, pasrah dengan aksiku. Tubuhnya terguncang-guncang menerima gerakanku yang cepat, tangan Ibu melingkar di pinggangku dan ikut memajukan badanku saat kuhunjamkan kontolku kedalam memek Ibuku, posisi ini tak juga membuatku mencapai puncak kenikmatan, padahal Ibu sudah kelihatan capek dan sedikit mengimbangi dengan goyangan pantatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku lalu melepas kontolku dari memek Ibuku dan berdiri, aku menyuruh Ibuku menungging di lantai, Ibu menurut dan turun ke lantai dengan posisi menungging, Ibu tentu menyangka aku mau memasukkan kontolku ke memeknya dari belakang, tapi bukan itu maksudku, aku ikut menungging dan mulutku menjilati anus Ibu, sesekali Ibu jariku menusuk anusnya agar lubangnya membesar, Ibu tentu saja kaget dengan kelakuanku, "Ryan.. jangan, jangan dari anus ..", Ibu menoleh ke arahku dan memohon, "itu sakit sekali.." Aku cuman tersenyum kecil dan terus menjilati anus Ibuku sampai basah. Setelah kurasa cukup, kedua tanganku memegangi pantat Ibu dan melebarkannya sehingga lubang anus Ibu kelihatan. Saat kepala kontolku mencoba masuk, Ibu menjerit kecil dan terjatuh, Posisi tubuhnya kini menelungkup, aku terus berusaha melebarkan lubang anus Ibuku agar dapat cukup dimasuki kontolku, Ibu semakin menjerit tertahan, begitu batang kontolku masuk kedalam lubang anus Ibu, dan saat kontolku masuk seluruhnya kedalam lubang anus Ibuku, Ibu mencengkeram kaki kursi kuat-kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lubang anus Ibuku yang seret membuat kontolku susah payah untuk bisa masuk keluar, Tapi hal itu malah membuatku semakin merasakan kenikmatan yang tiada tara, sementara Ibu hanya bisa menahan sakit dan perih di sekitar anusnya, kenikmatan mengentoti anus Ibu membuat ku cepat mencapai ejakulasi, begitu aku merasakan air maniku mau keluar aku segera melepas kontolku dari anus Ibu, tubuhnya dengan cepat kubalikkan sehingga posisi Ibu terlentang, Dan belum sempat Ibu mencegah aku sudah menghujamkan kontolku kedalam lubang kemaluan Ibu dan berejakulasi dengan kepuasan yang tiada tara, seluruh batang kontolku kubenamkan dalam-dalam dan memuncratkan cairan panas yang banyak kedalam lubang vagina Ibu, Aku tergeletak disamping tubuh Ibuku yang penuh keringat dan masih sedikit kesakitan akibat anusnya yang kutembus tadi, "Ryan.. kenapa kamu keluarkan didalam..? Dan kamu masuk.. dari anus lagi.." Aku cuman tersenyum dan mencium bibir Ibu dengan lembut, "Nggak 'pa-'pa kan? Anus Ibu juga entar lama-lama dapat nikmat seperti memek Ibu kok.. udah ah Ryan capek mau mandi, Kapan-kapan kita bercinta lagi OK, Ibu tersayang?" Aku bangkit dan meraih pakaianku dan menuju kamarku untuk mandi sementara Ibu masih tidur terlentang di lantai dapur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semenjak aku bebas untuk bercinta dengan Ibuku sendiri, Ibu tidak menolak kalau kuajak bercinta di mana saja, dan dari Ibu baru kuketahui kalau ayah terkena penyakit impotensi sehingga tidak mampu bercinta dengan Ibu semenjak dua bulan yang lalu, dan aku satu-satunya orang yang bercinta dengan Ibu setelah ayah tak mampu lagi bercinta. Setiap hari kami bebas untuk bercinta karena di rumah sangat sepi, bahkan kalau malam, aku sering meminta Ibu datang ke kamarku untuk melayaniku, Ibu yang memang masih bergairah tak pernah menolakku, dan Ibu termasuk wanita dengan gairah sex yang besar. Pernah saat aku mandi, Ibu tiba-tiba masuk kedalam dan langsung mengajakku bercinta padahal saat itu ayah dan Mbak Mona lagi nonton TV di ruang tengah dengan ditemani keluarga adik ayahku, atau saat aku menemani Ibu belanja di supermaket, dan saat pulang tanpa disangka Ibu mengajakku bercinta di mobil saat berada di garasi, padahal aku takut ayah tiba-tiba muncul atau Mbak Mona karena mendengar mobil masuk garasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak heran satu setengah bulan kemudian Ibu positif hamil, tapi anehnya Ibu tidak menggugurkan kandungannya itu, dan saat ayah mengetahui hal itu, beliau marah besar dan menceraikan Ibu karena Ibu tidak mau mengatakan siapa yang menghamilinya. Selepas ayah pergi dari rumah aku semakin bebas bercinta dengan Ibuku, apalagi Mbak Mona kadang-kadang semakin sering pergi bermain, keadaan Ibu yang sedang hamil tak menghalangi nafsu kami untuk tetap bercinta, aku bahkan semakin bergairah bercinta dengan Ibu saat perutnya semakin besar, dan tak habis-habisnya memek dan anus Ibu menjadi sasaran kontolku, hanya saja begitu kehamilan Ibu mencapai 7 bulan, aku dan Ibu lebih banyak beroral sex untuk mencegah sesuatu yang fatal bagi bayi kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku benar-benar tak dapat membayangkan saat Ibu melahirkan karena aku yang dulu dilahirkan oleh Ibu kini punya anak yang juga dilahirkan oleh wanita yang sama dengan yang melahirkanku, dan anak laki-laki yang kuberi nama Aldo itu tumbuh sehat seperti anak lainnya, dibawah bimbinganku dan Ibuku. Mbak Mona sendiri selepas SMA pergi ke Yogyakarta untuk melanjutkan kuliah, sehingga keadaan ini membuatku dan Ibu seperti sepasang suami istri di rumah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8096187244134823528-1785992248636395541?l=alita-dee.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alita-dee.blogspot.com/feeds/1785992248636395541/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://alita-dee.blogspot.com/2009/06/ibuku-istriku.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8096187244134823528/posts/default/1785992248636395541'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8096187244134823528/posts/default/1785992248636395541'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alita-dee.blogspot.com/2009/06/ibuku-istriku.html' title='Ibuku Istriku'/><author><name>dee alita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15608335270076570228</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_klCrRrqSP08/SfEyqgcHvAI/AAAAAAAAAAk/RLjidh3m4gM/S220/gueeeeeeeeeeeeee.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8096187244134823528.post-975886556760230729</id><published>2009-06-30T02:06:00.000-07:00</published><updated>2009-06-30T02:07:27.121-07:00</updated><title type='text'>Ibu Mertuaku, Kekasihku</title><content type='html'>Perkenalkan dulu namaku Tomy. Sudah satu minggu ini akau berada di rumah sendirian. Istriku, Riris, sedang ditugaskan dari kantor tempatnya bekerja untuk mengikuti suatu pelatihan yang dilaksanakan di kota lain selama dua minggu. Terus terang saja aku jadi kesepian juga rasanya. Kalau mau tidur rasanya kok aneh juga, kok sendirian dan sepi, padahal biasanya ada istri di sisiku. Memang perkawinan kami belum dikaruniai anak. Maklum baru 1 tahun berjalan. Karena sendirian itu, dan maklum karena otak laki-laki, pikirannya jadi kemana-mana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku teringat peristiwa yang aku alami dengan ibu mertuaku. Ibu mertuaku memang bukan ibu kandung istriku, karena ibu kandung Riris telah meninggal dunia. Ayah mertuaku kemudian kawin lagi dengan ibu mertuaku yang sekarang ini dan kebetulan tidak mempunyai anak. Ibu mertuaku ini umurnya sekitar 40 tahun, wajahnya ayu, dan tubuhnya benar-benar sintal dan padat sesuai dengan wanita idamanku. Buah dadanya besar sesuai dengan pinggulnya. Demikian juga pantatnya juga bahenol banget. Aku sering membayangkan ibu mertuaku itu kalau sedang telentang pasti vaginanya membusung ke atas terganjal pantatnya yang besar itu. Hemm, sungguh menggairahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa itu terjadi waktu malam dua hari sebelum hari perkawainanku dengan Riris. Waktu itu aku duduk berdua di kamar keluarga sambil membicarakan persiapan perkawinanku. Mendadak lampu mati. Dalam kegelapan itu, ibu mertuaku (waktu itu masih calon) berdiri, saya pikir akan mencari lilin, tetapi justru ibu mertuaku memeluk dan menciumi pipi dan bibirku dengan lembut dan mesra. Aku kaget dan melongo karena aku tidak mengira sama sekali diciumi oleh calon ibu mertuaku yang cantik itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari-hari berikutnya aku bersikap seperti biasa, demikian juga ibu mertuaku. Pada saat-saat aku duduk berdua dengan dia, aku sering memberanikan diri memandang ibu mertuaku lama-lama, dan dia biasanya tersenyum manis dan berkata, "Apaa..?, sudah-sudah, ibu jadi malu".&lt;br /&gt;Terus terang saja aku sebenarnya merindukan untuk dapat bermesraan dengan ibu mertuaku itu. Aku kadang-kadang sagat merasa bersalah dengan Riris istriku, dan juga ayahku mertua yang baik hati. Kadang-kadang aku demikian kurang ajar membayangkan ibu mertuaku disetubuhi ayah mertuaku, aku bayangkan kemaluan ayah mertuaku keluar masuk vagina ibu mertuaku, Ooh alangkah..! Tetapi aku selalu menaruh hormat kepada ayah dan ibu mertuaku. Ibu mertuaku juga sayang sama kami, walaupun Riris adalah anak tirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi-pagi hari berikutnya, aku ditelepon ibu mertuaku, minta agar sore harinya aku dapat mengantarkan ibu menengok famili yang sedang berada di rumah sakit, karena ayah mertuaku sedang pergi ke kota lain untuk urusan bisnis. Aku sih setuju saja. Sore harinya kami jadi pergi ke rumah sakit, dan pulang sudah sehabis maghrib. Seperti biasa aku selalu bersikap sopan dan hormat pada ibu mertuaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalan pulang itu, aku memberanikan diri bertanya, "Bu, ngapain sih dulu ibu kok cium Tomy?".&lt;br /&gt;"Aah, kamu ini kok maih diingat-ingat juga siih", jawab ibuku sambil memandangku.&lt;br /&gt;"Jelas dong buu.., Kan asyiik", kataku menggoda.&lt;br /&gt;"Naah, tambah kurang ajar thoo, Ingat Riris lho Tom.., Nanti kedengaran ayahmu juga bisa geger lho Tom".&lt;br /&gt;"Tapii, sebenarnya kenapa siih bu.., Tomy jadi penasaran lho".&lt;br /&gt;"Aah, ini anak kok nggak mau diem siih, Tapi eeh.., anu.., Tom, sebenarnya waktu itu, waktu kita jagongan itu, ibu lihat tampangmu itu kok ganteng banget. Hidungmu, bibirmu, matamu yang agak kurang ajar itu kok membuat ibu jadi gemes banget deeh sama kamu. Makanya waktu lampu mati itu, entah setan dari mana, ibu jadi pengin banget menciummu dan merangkulmu. Ibu sebenarnya jadi malu sekali. Ibu macam apa kau ini, masa lihat menantunya sendiri kok blingsatan".&lt;br /&gt;"Mungkin, setannya ya Tomy ini Bu.., Saat ini setannya itu juga deg-degan kalau lihat ibu mertuanya. Ibu boleh percaya boleh tidak, kadang-kadang kalau Tomy lagi sama Riris, malah bayangin Ibu lho. Bener-bener nih. Sumpah deh. Kalau Ibu pernah bayangin Tomy nggak kalau lagi sama Bapak", aku semakin berani.&lt;br /&gt;"aah nggak tahu ah.., udaah.., udaah.., nanti kalau keterusan kan nggak baik. Hati-hati setirnya. Nanti kalau nabrak-nabrak dikiranya nyetir sambil pacaran ama ibu mertuanya. Pasti ibu yang disalahin orang, Dikiranya yang tua niih yang ngebet", katanya.&lt;br /&gt;"Padahal dua-duanya ngebet lo Bu. Buu, maafin Tomy deeh. Tomy jadi pengiin banget sama ibu lho.., Gimana niih, punya Tomy sakit kejepit celana nihh", aku makin berani.&lt;br /&gt;"Aduuh Toom, jangan gitu dong. Ibu jadi susah nih. Tapi terus terang aja Toom.., Ibu jadi kayak orang jatuh cinta sama kamu.., Kalau udah begini, udah naik begini, ibu jadi pengin ngeloni kamu Tom.., Tom kita cepat pulang saja yaa.., Nanti diterusin dirumah.., Kita pulang ke rumahmu saja sekarang.., Toh lagi kosong khan.., Tapi Tom menggir sebentar Tom, ibu pengen cium kamu di sini", kata ibu dengan suara bergetar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ooh aku jadi berdebar-debar sekali. Mungkin terpengaruh juga karena aku sudah satu minggu tidak bersetubuh dengan istriku. Aku jadi nafsu banget. Aku minggir di tempat yang agak gelap. Sebenarnya kaca mobilku juga sudah gelap, sehingga tidak takut ketahuan orang. Aku dan ibu mertuaku berangkulan, berciuman dengan lembut penuh kerinduan. Benar-benar, selama ini kami saling merindukan.&lt;br /&gt;"eehhm.., Toom ibu kangen banget Toom", bisik ibu mertuaku.&lt;br /&gt;"Tomy juga buu", bisikku.&lt;br /&gt;"Toom.., udah dulu Tom.., eehmm udah dulu", napas kami memburu.&lt;br /&gt;"Ayo jalan lagi.., Hati-hati yaa", kata ibu mertuaku.&lt;br /&gt;"Buu penisku kejepit niih.., Sakit", kataku.&lt;br /&gt;"iich anak nakal", Pahaku dicubitnya.&lt;br /&gt;"Okey.., buka dulu ritsluitingnya", katanya.&lt;br /&gt;Cepat-cepat aku buka celanaku, aku turuni celana dalamku. Woo, langsung berdiri tegang banget. Tangan kiri ibu, aku tuntun untuk memegang penisku.&lt;br /&gt;"Aduuh Toom. Gede banget pelirmu.., Biar ibu pegangin, Ayo jalan. Hati-hati setirnya".&lt;br /&gt;Aku masukkan persneling satu, dan mobil melaju pulang. Penisku dipegangi ibu mertuaku, jempolnya mengelus-elus kepala penisku dengan lembut. Aduuh, gelii.. nikmat sekali. Mobil berjalan tenang, kami berdiam diri, tetapi tangan ibu terus memijat dan mengelus-elus penisku dengan lembut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di rumahku, aku turun membuka pintu, dan langsung masuk garasi. Garasi aku tutup kembali. Kami bergandengan tangan masuk ke ruang tamu. Kami duduk di sofa dan berpandangan dengan penuh kerinduan. Suasana begitu hening dan romantis, kami berpelukan lagi, berciuman lagi, makin menggelora. Kami tumpahkan kerinduan kami. Aku ciumi ibu mertuaku dengan penuh nafsu. Aku rogoh buah dadanya yang selalu aku bayangkan, aduuh benar-benar besar dan lembut.&lt;br /&gt;"Buu, Tomy kangen banget buu.., Tomy kangen banget".&lt;br /&gt;"Aduuh Toom, ibu juga.., Peluklah ibu Tom, peluklah ibu" nafasnya semakin memburu.&lt;br /&gt;Matanya terpejam, aku ciumi matanya, pipinya, aku lumat bibirnya, dan lidahku aku masukkan ke mulutnya. Ibu agak kaget dan membuka matanya. Kemudian dengan serta-merta lidahku disedotnya dengan penuh nafsu.&lt;br /&gt;"Eehhmm.., Tom, ibu belum pernah ciuman seperti ini.., Lagi Tom masukkan lidahmu ke mulut ibu"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu mendorongku pelan, memandangku dengan mesra. Dirangkulnya lagi diriku dan berbisik, "Tom, bawalah Ibu ke kamar.., Enakan di kamar, jangan disini".&lt;br /&gt;Dengan berangkulan kami masuk ke kamar tengah yang kosong. Aku merasa tidak enak di tempat tidur kami. Aku merasa tidak enak dengan Riris apabila kami memakai tempat tidur di kamar kami.&lt;br /&gt;"Bu kita pakai kamar tengah saja yaa".&lt;br /&gt;"Okey, Tom. Aku juga nggak enak pakai kamar tidurmu. Lebih bebas di kamar ini", kata ibu mertuaku penuh pengertian. Aku remas pantatnya yang bahenol.&lt;br /&gt;"iich.., dasar anak nakal", ibu mertuaku merengut manja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami duduk di tempat tidur, sambil beciuman aku buka pakaian ibu mertuaku. Aku sungguh terpesona dengan kulit ibuku yang putih bersih dan mulus dengan buah dadanya yang besar menggantung indah. Ibu aku rebahkan di tempat tidur. Celana dalamnya aku pelorotkan dan aku pelorotkan dari kakinya yang indah. Sekali lagi aku kagum melihat vagina ibu mertuaku yang tebal dengan bulunya yang tebal keriting. Seperti aku membayangkan selama ini, vagina ibu mertuaku benar menonjol ke atas terganjal pantatnya yang besar. Aku tidak tahan lagi memandang keindahan ibu mertuaku telentang di depanku. Aku buka pakaianku dan penisku sudah benar-benar tegak sempurna. Ibu mertuaku memandangku dengan tanpa berkedip. Kami saling merindukan kebersamaan ini. Aku berbaring miring di samping ibu mertuaku. Aku ciumi, kuraba, kuelus semuanya, dari bibirnya sampai pahanya yang mulus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku remas lembut buah dadanya, kuelus perutnya, vaginanya, klitorisnya aku main-mainkan. Liangnya vaginanya sudah basah. Jariku aku basahi dengan cairan vagina ibu mertuaku, dan aku usapkan lembut di clitorisnya. Ibu menggelinjang keenakan dan mendesis-desis. Sementara peliku dipegang ibu dan dielus-elusnya. Kerinduan kami selama ini sudah mendesak untuk ditumpahkan dan dituntaskan malam ini. Ibu menggeliat-geliat, meremas-remas kepalaku dan rambutku, mengelus punggungku, pantatku, dan akhirnya memegang penisku yang sudah siap sedia masuk ke liang vagina ibu mertuaku.&lt;br /&gt;"Buu, aku kaangen banget buu.., Tomyy kanget banget.., Tomy anak nakal buu..", bisikku.&lt;br /&gt;"Toom.., ibu juga. sshh.., masukin Toom.., masukin sekarang.., Ibu sudah pengiin banget Toom, Toomm..", bisik ibuku tersengal-sengal. Aku naik ke atas ibu mertuaku bertelakn pada siku dan lututku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangan kananku mengelus wajahnya, pipinya, hidungnya dan bibir ibu mertuaku. Kami berpandangan. Berpandangan sangat mesra. Penisku dituntunnya masuk ke liang vaginanya yang sudah basah. Ditempelkannya dan digesek-gesekan di bibir vaginanya, di clitorisnya. Tangan kirinya memegang pantatku, menekan turun sedikit dan melepaskan tekanannya memberi komando penisku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaki ibu mertuaku dikangkangnya lebar-lebar, dan aku sudah tidak sabar lagi untuk masuk ke vagina ibu mertuaku. Kepala penisku mulai masuk, makin dalam, makin dalam dan akhirnya masuk semuanya sampai ke pangkalnya. Aku mulai turun naik dengan teratur, keluar masuk, keluar masuk dalam vagina yang basah dan licin. Aduuh enaak, enaak sekali.&lt;br /&gt;"Masukkan separo saja Tom. Keluar-masukkan kepalanya yang besar ini.., Aduuh garis kepalanya enaak sekali".&lt;br /&gt;Nafsu kami semakin menggelora. Aku semakin cepat, semakin memompa penisku ke vagina ibu mertuaku. "Buu, Tomy masuk semua, masuk semua buu"&lt;br /&gt;"Iyaa Toom, enaak banget. Pelirmu ngganjel banget. Gede banget rasane. Ibu marem banget" kami mendesis-desis, menggeliat-geliat, melenguh penuh kenikmatan. Sementara itu kakinya yang tadi mengangkang sekarang dirapatkan.&lt;br /&gt;Aduuh, vaginanya tebal banget. Aku paling tidak tahan lagi kalau sudah begini. Aku semakin ngotot menyetubuhi ibu mertuaku, mencoblos vagina ibu mertuaku yang licin, yang tebal, yang sempit (karena sudah kontraksi mau puncak). Bunyinya kecepak-kecepok membuat aku semakin bernafsu. Aduuh, aku sudah tidak tahan lagi.&lt;br /&gt;"Buu Tomy mau keluaar buu.., Aduuh buu.., enaak bangeet".&lt;br /&gt;"ssh.., hiiya Toom, keluariin Toom, keluarin".&lt;br /&gt;"Ibu juga mau muncaak, mau muncaak.., Toomm, Tomm, Teruss Toomm", Kami berpagutan kuat-kuat. Napas kami terhenti. Penisku aku tekan kuat-kuat ke dalam vagina ibu mertuaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pangkal penisku berdenyut-denyut. menyemprotlah sudah spermaku ke vagina ibu mertuaku. Kami bersama-sama menikmati puncak persetubuhan kami. Kerinduan, ketegangan kami tumpah sudah. Rasanya lemas sekali. Napas yang tadi hampir terputus semakin menurun.&lt;br /&gt;Aku angkat badanku. Akan aku cabut penisku yang sudah menancap dari dalam liang vaginanya, tetapi ditahan ibu mertuaku.&lt;br /&gt;"Biar di dalam dulu Toom.., Ayo miring, kamu berat sekali. Kamu nekad saja.., masa' orang ditindih sekuatnya", katanya sambil memencet hidungku. Kami miring, berhadapan, Ibu mertuaku memencet hidungku lagi, "Dasar anak kurang ajar.., Berani sama ibunya.., Masa ibunya dinaikin, Tapi Toom.., ibu nikmat banget, 'marem' banget. Ibu belum pernah merasakan seperti ini".&lt;br /&gt;"Buu, Tomy juga buu. Mungkin karena curian ini ya buu, bukan miliknya.., Punya bapaknya kok dimakan. Ibu juga, punya anakya kok ya dimakan, diminum", kataku menggodanya.&lt;br /&gt;"Huush, dasar anak nakal.., Ayo dilepas Toom.., Aduuh berantakan niih Spermamu pada tumpah di sprei, Keringatmu juga basahi tetek ibu niih".&lt;br /&gt;"Buu, malam ini ibu nggak usah pulang. Aku pengin dikelonin ibu malam ini. Aku pengin diteteki sampai pagi", kataku.&lt;br /&gt;"Ooh jangan cah bagus.., kalau dituruti Ibu juga penginnya begitu. Tapi tidak boleh begitu. Kalau ketahuan orang bisa geger deeh", jawab ibuku.&lt;br /&gt;"Tapi buu, Tomy rasanya emoh pisah sama ibu".&lt;br /&gt;"Hiyya, ibu tahu, tapi kita harus pakai otak dong. Toh, ibu tidak akan kabur.., justru kalau kita tidak hati-hati, semuanya akan bubar deh".&lt;br /&gt;Kami saling berpegangan tangan, berpandangan dengan mesra, berciuman lagi penuh kelembutan. Tiada kata-kata yang keluar, tidak dapat diwujudkan dalam kata-kata. Kami saling mengasihi, antara ibu dan anak, antara seorang pria dan seorang wanita, kami tulus mengasihi satu sama lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu kami mandi bersama, saling menyabuni, menggosok, meraba dan membelai. Penisku dicuci oleh ibu mertuaku, sampai tegak lagi.&lt;br /&gt;"Sudaah, sudaah, jangan nekad saja. Ayo nanti keburu malam".&lt;br /&gt;Malam itu sungguh sangat berkesan dalam hidupku. Hari-hari selanjutnya berjalan normal seperti biasanya. Kami saling menjaga diri. Kami menumpahkan kerinduan kami hanya apabila benar-benar aman. Tetapi kami banyak kesempatan untuk sekedar berciuman dan membelai. Kadang-kadang dengan berpandangan mata saja kami sudah menyalurkan kerinduan kami. Kami semakin sabar, semakain dewasa dalam menjaga hubungan cinta-kasih kami.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8096187244134823528-975886556760230729?l=alita-dee.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alita-dee.blogspot.com/feeds/975886556760230729/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://alita-dee.blogspot.com/2009/06/ibu-mertuaku-kekasihku.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8096187244134823528/posts/default/975886556760230729'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8096187244134823528/posts/default/975886556760230729'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alita-dee.blogspot.com/2009/06/ibu-mertuaku-kekasihku.html' title='Ibu Mertuaku, Kekasihku'/><author><name>dee alita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15608335270076570228</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_klCrRrqSP08/SfEyqgcHvAI/AAAAAAAAAAk/RLjidh3m4gM/S220/gueeeeeeeeeeeeee.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8096187244134823528.post-5061354031440187956</id><published>2009-06-30T01:56:00.000-07:00</published><updated>2009-06-30T01:58:40.289-07:00</updated><title type='text'>Ibu dan Anak 02</title><content type='html'>Sabtu sore itu aku tiba di rumah mereka sekitar jam 17.00, dan ketika masuk ke rumah hanya ada Cindy, keponakanku yang baru berumur tiga belas tahun dan duduk di kelas dua SLTP. Ibunya, Vivi, sedang pergi arisan di rumah temannya sejak jam 12.00 siang tadi dan menurut Cindy baru akan kembali sekitar jam delapan malam, seperti biasanya. Ayah Cindy adalah seorang teman karibku yang telah meninggal dunia tiga tahun yang lalu dalam sebuah kecelakaan lalu lintas di luar kota, dan sejak itu aku sering mengunjungi keluarga ini untuk menghibur agar mereka tidak terlalu merasa kesepian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan mereka ditopang oleh ibu Cindy, yang bekerja di sebuah perusahaan asing sebagai sekretaris dan kelihatannya mereka dapat hidup berkecukupan. Vivi, ibu Cindy telah lama kenal denganku dan kami sering pergi bertiga kemana-mana bila ada waktu luang, dan tanpa terasa aku seolah telah menjadi pengganti kepala keluarga mereka. Keduanya sangat manja kepadaku sehingga seringkali aku merasa seolah berada di tengah keluarga sendiri bila sedang bersama mereka, dan terutama Cindy yang kukenal sejak lahir, walaupun telah berumur tiga belas tahun tapi ia tidak segan untuk duduk di pangkuanku bila menginginkan sesuatu dariku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setibanya di rumah mereka, aku segera menuju ke kamarku yang memang selalu mereka sediakan untukku dan kemudian aku mandi untuk menghilangkan rasa lelah. Selesai mandi aku berpakaian santai, baju kaos dan celana pendek, lalu menonton TV di ruang tengah dimana Cindy berada dari tadi. Aku duduk di sofa dan Cindy duduk di sampingku dengan kedua kaki dilipat disofa, ia hanya memakai daster rumah saja karena hari itu adalah akhir minggu, sehingga ia tidak mempunyai tugas sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami menonton acara mengenai kehidupan sebuah keluarga yang tidak memiliki ayah lagi, sehingga si ibu harus bekerja keras untuk menghidupi dirinya dan kedua anaknya yang masih bersekolah, dan di tengah keasyikan kami menonton Cindy berkata.&lt;br /&gt;"Oom, kasihan ya keluarga itu, Ibunya mesti kerja keras untuk sekolah anak-anaknya!"&lt;br /&gt;"Ya Cindy, begitulah orang tua, selalu mendahulukan kepentingan anak, kamu untung memiliki Mama yang bekerja dengan penghasilan cukup, sehingga kalian tidak kekurangan." jawabku.&lt;br /&gt;"Iya Oom, Cindy juga merasa beruntung masih ada Oom yang mau memperhatikan kami, kalau enggak entah bagaimana nasib kami." ujar Cindy lagi.&lt;br /&gt;"Oom 'kan sudah kenal kamu sejak lahir, masa Oom mau lupa sama kalian, apalagi Mama juga baik sama Oom!" jawabku menimpali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya Oom, tapi Cindy sekarang 'kan sudah besar Oom, sudah tiga belas tahun, maunya Oom jangan menganggap Cindy seperti anak kecil lagi dong!" ujarnya manja.&lt;br /&gt;"Lho.., maksudmu bagaimana..? Kan Oom juga memperlakukan Cindy sebagai seorang anak gadis sekarang?" aku menjawab.&lt;br /&gt;"Betul Oom? Cindy sudah Oom anggap seperti seorang gadis?" ia menyela dengan nada riang.&lt;br /&gt;"Iya, betul dong, masa Oom akan menganggap kamu seperti anak kecil terus! 'Kan kamu sekarang sudah besar, tubuhmu juga sudah tumbuh menjadi seorang gadis!" aku menjawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cindy rupanya merasa senang sekali dengan jawabanku, lalu sambil mendekatkan tubuhnya padaku ia mengatakan sesuatu yang membuatku terkejut.&lt;br /&gt;"Kalau begitu Oom mesti anggap Cindy sebagai seorang gadis ya, enggak boleh anggap Cindy sebagai keponakan lagi. Benar ya Oom!"&lt;br /&gt;Walaupun tidak mengerti maksudnya, aku hanya mengangguk saja sambil terus menonton TV, dan Cindy menyandarkan tubuhnya kepadaku. Kepalanya disandarkan di dadaku lalu ia berkata.&lt;br /&gt;"Oom, sebenarnya Cindy dan Mama sering membicarakan Oom, kami ingin Oom turut dalam kegiatan pribadi Cindy dan Mama supaya lengkap!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tambah tidak mengerti dan bertanya, "Apa maksudmu dengan kegiatan pribadimu dengan Mama?"&lt;br /&gt;"Begini Oom, tapi janji ya Oom tidak akan marah?" aku mengangguk berjanji.&lt;br /&gt;"Sebetulnya Mama dan Cindy 'kan sering bermain seks karena tidak ada hiburan kalau sudah malam, apalagi kalau sudah sepi!"&lt;br /&gt;Aku terkejut bukan main mendengar penjelasannya yang tidak disangka-sangka itu, dan di tengah keingin tahuanku, aku bertanya lagi padanya.&lt;br /&gt;"Maksudmu apa sih Cindy? Masa kamu main seks dengan Mama? 'Kan sama-sama wanita?"&lt;br /&gt;"Iya Oom, Mama yang ngajarin Cindy sejak setengah tahun yang lalu, waktu Cindy baru naik kekelas dua, terus Mama kasih hadiah itu. Cara-cara main seks dengan Mama! Tapi Mama bilang permainan itu akan lebih seru lagi kalau ada pasangan pria, jadi permainannya bisa lebih lengkap! Oom enggak marah 'kan Cindy ceritain begitu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sungguh tidak menduga bahwa Vivi telah menggunakan anaknya sendiri untuk mengatasi keinginan seksnya setelah ditinggalkan suami selama tiga tahun, aku dapat mengerti bahwa Vivi membutuhkan penyaluran untuk kebutuhan biologisnya, tetapi bahwa ia mempergunakan anaknya sungguh-sungguh di luar dugaanku. Dan tanpa kusadari Cindy kini telah duduk di pangkuanku sambil memelukkan kedua tangannya ke leherku dan berkata lembut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oom enggak percaya ya..? Mari Cindy tunjukin sama Oom bahwa Cindy juga sudah bisa bermain seks sama lelaki.. 'kan Mama suka ceritain caranya sama Cindy kalau kami lagi asyik berdua di kamar Mama..!"&lt;br /&gt;Lalu ia mulai mencium mulutku dengan lembut dan terasa lidahnya menjulur keluar dan menyelip masuk ke mulutku, lalu menjilati seluruh bagian dalam mulutku. Aku memang mulai terangsang oleh ulah keponakanku ini, apalagi aroma tubuhnya yang harum itu membuatku terhanyut dalam keadaan ini, namun aku berusaha melepaskan ciumannya dan bertanya dalam keterengahan nafasku yang memburu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lalu kalau kamu sedang main sama Mama, bagaimana caranya supaya kalian berdua bisa mencapai klimaks..?"&lt;br /&gt;Sementara itu Cindy mulai melepaskan kancing atas dasternya, sehingga kedua buah dadanya yang mungil dapat kulihat dengan putingnya yang berwarna merah jambu.&lt;br /&gt;"Biasanya sih Cindy dan Mama suka cara enam sembilan Oom, tapi kadang-kadang kami pakai dildo juga Oom supaya lebih seru, karena bisa klimaks terus selama dildonya masih jalan..!"&lt;br /&gt;"Jadi kalau begitu kamu sudah tidak perawan lagi..?" aku bertanya dengan bodohnya.&lt;br /&gt;"Ya enggak lagi dong Oom.. bagaimana sih Oom ini..!" Cindy menjawab sambil melepas kancing dasternya yang terakhir, lalu ia berdiri dari pangkuanku dan mulai melepaskan t-shirtku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian ia merebahkan diriku di sofa dan melepaskan celana pendek serta celana dalamku. Kini kami berdua sudah telanjang bulat, aku terbaring di sofa dan Cindy menelungkupkan tubuhnya di atasku dan mulai lagi menciumi mulutku. Kali ini dengan bernafsu sekali! Nafsuku mulai memuncak, penisku mulai mengeras diantara gesekan kedua pahanya yang putih dan lembut itu serta tekanan kedua buah dadanya yang mungil membuat nafsuku semakin memuncak, walaupun aku masih membayangkan bahwa gadis yang sekarang berada di atas tubuhku adalah keponakanku yang kukenal sejak ia lahir ke dunia ini. Sungguh tidak masuk akal tetapi sekarang sedang terjadi sebuah peristiwa yang tidak pernah terbayang sebelumnya..!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cindy mengulum mulutku dengan ahli dan penuh nafsu. Aku tak dapat menguasai diriku lagi dan mulai membalas kumulannya dengan penuh nafsu pula. Aku mulai menghisap mulutnya dan lidahku pun masuk ke mulutnya dan menjilati seluruh bagian dalam mulutnya. Punggungnya kuusap lembut dengan kedua tanganku, lalu usapan tanganku semakin turun ke arah pinggulnya dan akhirnya sampai ke pangkal pahanya yang lembut sekali dan terasa olehku Cindy membuka kedua pahanya, sehingga tanganku leluasa bermain mengelus-elus diantara kedua pahanya. Dan akhirnya tanganku tiba pada vaginanya yang sudah basah.. masih belum berbulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memasukkan jariku sedikit ke dalam vaginanya dan terasa bagaimana vagina yang mungil itu berdenyut lembut pada jariku. Ini membuatku semakin bernafsu dan akhirnya aku sudah tak memikirkan apa-apa lagi, tubuhnya kuangkat dari tubuhku dan Cindy kugendong menuju kamarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setibanya di kamar aku segera membaringkan tubuhnya di atas tempat tidurnya, lalu aku berbaring di sampingnya sambil memandang kedua buah dadanya yang kecil mungil. Dan dengan perlahan mulutku mulai mengisap puting dadanya yang sebelah kiri, lembut dan harum. Aku menghisapnya lebih kuat dan terdengar Cindy merintih lirih.&lt;br /&gt;"Aduuhh Oom.. terus Oom.. isap yang kuat Ooomm.. aduuhh.. teruuss Ooomm.. aduuhh..!"&lt;br /&gt;Aku semakin tak kuasa menahan nafsuku ketika terasa tangan Cindy menggenggam penisku yang sudah tegang dan keras dan mulai mengocoknya dengan lembut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sendiri masih terus menghisap buah dadanya, sementara tangan kiriku terus mengelus dan mengusap vaginanya yang sudah sangat basah. Kedua pahanya sudah terbuka lebar. Lalu mulutku pindah ke buah dadanya yang kanan dan menghisap dengan kuat sampai seluruh dagingnya masuk ke dalam mulutku. Nafas Cindy terengah-engah dan rintihannya terus terdengar lemah.&lt;br /&gt;"Aduuhh Ooom.. teruuss Ooomm.. adduuhh.. aadduuhh.. teruuss Ooomm..!" tubuhnya yang mungil menggelinjang tidak karuan menahan kenikmatan yang dirasakannya.&lt;br /&gt;Remasan tangannya pada penisku bertambah kuat dan cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku merasa bahwa Cindy sudah hampir mencapai klimaksnya. Tangannya yang meremas-remas penisku terasa menarik penisku ke arah vaginanya. Aku sendiri sudah tidak dapat menguasai diri lagi. Tubuhku mengikuti tarikan tangan Cindy, dan akhirnya aku sudah berada di antara kedua pahanya yang terbuka lebar dan ujung penisku terasa menyentuh vaginanya, hangat dan basah serta berdenyut.&lt;br /&gt;Cindy kembali merintih, "Ayoo Ooomm.. masukin sekarang Ooomm.. Cindy enggak tahan lagi Ooomm.. ayoo Ooomm.. aadduuhh..!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menekan sedikit dan terasa kepala penisku masuk ke dalam vaginanya yang agak sempit. Denyutan vaginanya terasa lembut meremas kepala penisku. Aku menekan lagi dan terus menekan sampai akhirnya seluruh penisku telah masuk dan terasa remasan vaginanya yang begitu lembut bagai sutera membuatku tidak dapat menahan nafsuku lagi dan aku mulai mengeluar-masukkan penisku dengan gerakan lambat diikuti oleh gerakan pinggul Cindy yang memutar. Dan kami berdua segera asyik dalam sanggama yang pertama bagi aku dan Cindy, gadis berusia tiga belas tahun ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terus memompa Cindy dengan gerakan lambat dan panjang, sedangkan gerakan pinggulnya yang memutar-mutar mulai terasa tidak beraturan lagi. Cindy sudah semakin dekat pada klimaksnya, kedua tangannya memeluk tubuhku dengan eratnya. Nafasnya terengah-engah, tubuh kami bercucuran keringat. Kami semakin asyik dalam sanggama yang nikmat ini. Denyutan vaginanya yang sempit terasa semakin cepat dan kuat, rintihannya juga semakin kuat.&lt;br /&gt;"Aadduuhh Ooomm.. Cindy enggak tahan lagi.. aadduuhh.. Ooomm.. lebih cepat Ooomm.. lagii Ooomm.. aadduuhh.. ayoo Ooomm.. aadduuhh.. aadduuhh..!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sendiri semakin bernafsu dan mulai tak dapat menguasai gerakanku lagi. Aku memompa Cindy semakin cepat dan kuat. Cindy sendiri sudah begitu asyik dengan kenikmatan yang dirasakannya. Pinggulnya memutar dengan tidak beraturan lagi. Nafasnya mendengus dan rintihannya semakin kuat pula.&lt;br /&gt;"Ayoo Ooomm.. lebih cepat Ooomm.. Cindy sudah mau keluaar.. aadduuhh.. mau keluaarr.. aadduuhh.. Cindy keluar Ooomm.. keluaarr.. aadduuhh..!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuh Cindy menggelinjang hebat. Kedua tangannya memelukku erat sekali dan tiba-tiba tubuhnya menyentak kuat, lalu menggelinjang hebat saat Cindy tiba dan meledak dalam orgasme yang begitu dahsyat pada puncak klimaksnya yang nikmat luar biasa. Yang terdengar hanya rintihannya.&lt;br /&gt;"Cindy keluar.. keluaarr.. hah.. hah.. aadduuhh.. keluaarr.. aadduuhh..!"&lt;br /&gt;Dan tubuhnya terus menggelinjang sementara aku terus memompanya dengan cepat. Aku juga merasa semakin dekat dengan klimaksku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rintihan klimaks Cindy membuat nafsuku semakin memuncak dan aku terus memompa dengan cepat. Aku sudah merasa hampir tiba pada klimaksku. Aku semakin dekat dan penisku terasa semakin besar dan besar dan akhirnya aku tak kuasa menahannya lagi. Dan penisku meledak bergumpal-gumpal di tengah kenikmatan remasan vagina Cindy yang lembut luar biasa. Tubuhku menegang sebentar, kemudian aku tersentak-sentak tak dapat menahan kenikmatan luar biasa yang diberikan oleh vagina Cindy yang meremas lembut penisku. Tubuh kami saling menyentak dan menggelinjang dalam kenikmatan luar biasa yang kami rasakan sebelum akhirnya kami berdua terkulai lemas dengan nafas terengah-engah dan keringat membasahi tubuh kami dan aku masih tetap berada di atas tubuh Cindy dengan penisku di dalam vaginanya yang masih berdenyut lemah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah beberapa saat, Cindy mulai menciumi wajahku sambil berkata, "Aduuhh Oom.. Oom hebat sekali ya.. baru ini Cindy merasakan orgasme yang begitu hebat.. hebat Oom..!"&lt;br /&gt;Aku hanya diam saja dan kemudian mencabut penisku dari vaginanya, dan berbaring di sampingnya. Tubuh kami berkeringat dan terasa lemah setelah klimaks yang luar biasa tadi. Untuk beberapa saat kami beristirahat, lalu aku bangun dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Cindy kemudian menyusulku di kamar mandi dan akhirnya kami mandi bersama-sama di bawah siraman shower yang hangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami saling menyabuni tubuh kami, dan ketika aku menyabuni Cindy, tanganku tiba pada daerah dadanya dan dengan lembut aku menyabuni kedua buah dadanya. Aku merasa terangsang oleh kelembutan kedua buah dadanya yang mungil itu. Tanganku terus mengusap dan meremas kedua buah dadanya dengan sabun, dan tiba-tiba kurasakan tangan Cindy menyabuni penisku dengan amat lembutnya. Rupanya kami sama-sama terangsang dengan permainan sabun ini. Penisku mulai mengeras lagi dalam genggaman tangan Cindy yang terus menyabuninya dengan sedikit remasan-remasan lembut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku semakin terangsang, dan penisku semakin keras dan panjang, sementara Cindy masih terus meremasnya dengan tangannya yang lembut bersabun. Dan tanpa sadar tiba-tiba aku sudah terduduk di lantai kamar mandi dan bersandar ke dinding. Cindy berlutut di hadapanku dengan tangan terus mengocok penisku yang sudah tegang sekali. Siraman air hangat dari shower telah menghanyutkan semua sabun di tubuh kami. Tubuh Cindy kuraih dan kupeluk, lalu buah dadanya kuhisap dengan kuat sampai tubuh Cindy tersentak. Kedua putingnya kuhisap bergantian dan tanganku kembali mengelus di antara kedua pahanya, dan ternyata vaginanya sudah basah lagi. Jariku terus mengelus lembut vaginanya yang basah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cindy kembali membuka kedua pahanya lebih lebar sambil terus mengocok penisku dengan tangannya yang lembut. Aku tak dapat menahan gejolak nafsuku lagi, lalu aku berdiri dan mematikan shower, kemudian tubuh Cindy kukeringkan dengan handuk, dan setelah itu Cindy mengeringkan tubuhku. Lalu kami menuju ke kamarnya dan berbaring lagi di tempat tidurnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini tubuh Cindy yang berada di atas tubuhku dengan kedua paha terbuka lebar. Tanganku terus mengelus vaginanya yang basah sekali, sementara Cindy menghisap mulutku dengan bernafsu. Lalu tubuhnya kuangkat, aku duduk di tempat tidur dan Cindy kududukkan di pangkuanku dengan kedua pahanya di samping tubuhku dan mulai menghisap kedua buah dadanya dengan kuat sampai tubuh Cindy tersentak-sentak, sementara tanganku yang lain terus mengelus vaginanya. Tangan Cindy terus meremas-remas penisku yang sudah tegang dan besar sekali. Rintihan Cindy mulai terdengar.&lt;br /&gt;"Aduuhh Ooom.. aadduuhh.. isap teruuss Oom.. isap yang kuat Ooomm.. lagii.. lagii.. aadduuhh..!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuh kami kembali berkeringat dalam pergumulan ini. Aku terus menghisap kedua buah dadanya bergantian, dan tanganku juga terus mengelus vaginanya yang sudah basah sekali. Rupanya Cindy tak dapat menguasai dirinya lagi, tubuhnya tak henti-hentinya menyentak dan menggeliat, sementara mulutku tak lepas dari kedua buah dadanya yang mungil lembut itu. Ia mengangkat tubuhnya sedikit, lalu menurunkan vaginanya tepat pada penisku dan dengan sekejap penisku telah masuk seluruhnya ke vaginanya yang berdenyut basah disertai rintihan lirihnya.&lt;br /&gt;"Ayoo Ooomm.. Cindy enggak tahan lagi.. aadduuhh Ooomm.. ayoo Ooomm.. aduuhh..!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Cindy mulai menggerakkan tubuhnya naik turun dengan liar, sementara aku terus saja menghisap kedua buah dadanya bergantian yang membuat Cindy semakin bernafsu. Rintihan Cindy terdengar semakin kuat.&lt;br /&gt;"Aadduuhh Ooomm.. aadduuhh.. Cindy enggak tahan lagi Ooomm.. aadduuhh.. aadduuhh.. Ooomm..!"&lt;br /&gt;Gerakan Cindy semakin kuat dan denyutan vaginanya semakin kuat pula. Aku mulai terbawa oleh irama nafsu Cindy yang sudah memuncak. Aku menghisap kedua buah dadanya lebih kuat. Penisku terasa semakin panjang dan besar di tengah remasan vaginanya yang begitu lembut. Kami begitu asyik dalam pergumulan seks ini dan sudah tak dapat menguasai diri kami lagi.&lt;br /&gt;Nafas kami terengah-engah dengan keringat membasahi sekujur tubuh. Gerakan Cindy semakin cepat dan cepat, sementara denyutan vaginanya juga terasa semakin kuat. Kami sudah tidak perduli dengan keadaan di sekitar kami.&lt;br /&gt;"Aadduuhh Ooomm.. Cindy mau keluaarr.. aadduuhh.. mau keluar Ooomm.. aadduuh Ooomm.. Cindy mau keluaarr.. aadduuhh..!"&lt;br /&gt;Aku juga merasa semakin dekat dengan klimaksku. Rasanya aku pun tak dapat menahannya lagi, dan pada saat itu aku merebahkan tubuhku dengan Cindy tetap berada di atasku. Kedua pahanya yang lembut halus terbuka lebar dan aku mulai memompa Cindy dengan cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba tubuh Cindy menyentak kuat lalu menggelinjang hebat, dan terdengar rintihan nikmatnya.&lt;br /&gt;"Aadduuhh Ooomm.. Cindy keluaarr.. aadduuhh.. keluaarr.. Ooomm.. aadduuhh..!"&lt;br /&gt;Cindy meledak dalam puncak orgasmenya yang nikmat luar biasa disertai gelinjang tubuh yang menyentak-nyentak dan gigitan kuat pada bahuku. Aku juga sudah dekat sekali dengan klimaksku. Penisku rasanya membesar dan membengkak di antara remasan kuat vaginanya yang begitu lembut. Aku tak dapat menahannya lagi. Dan akhirnya.. tak dapat kutahan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penisku meledak bergumpal-gumpal dalam orgasme yang nikmat luar biasa yang membuat tubuhku menyentak dan menggelepar-gelepar di tengah kenikmatan luar biasa remasan vagina Cindy yang begitu lembut. Aku masih terus memompa Cindy dengan cepat dan kuat, sementara tubuh kami berdua menggelepar-gelepar tidak karuan tak dapat menahan kenikmatan luar biasa yang kami alami saat itu. Sampai akhirnya kami terkulai lemah dengan Cindy tetap berada di atas tubuhku dan penisku masih berada di dalam vaginanya yang masih terus berdenyut-denyut lemah. Dan akhirnya kami tertidur lelap dalam kelelahan setelah mengalami klimaks yang nikmat luar biasa tadi. &lt;br /&gt;Kategori : Sedarah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa membuang waktu lebih lama lagi, aku menurunkan badanku secara perlahan-lahan dan ketika melewati dadanya kembali kuciumi serta kujilati payudara ibu mertuaku yang sudah tidak terlalu keras lagi, setelah beberapa saat kuciumi payudara ibu, aku segera menurunkan badanku lagi secara perlahan sedangkan ibu mertuaku meremas-remas rambutku, juga terasa seperti berusaha mendorong kepalaku agar cepat-cepat sampai ke bawah. Kuciumi dan kujilati perut dan pusar ibu sambil salah satu tanganku kugunakan untuk menurunkan CD-nya. Kemudian dengan cekatan ku lepas CD-nya dan kulemparkan ke atas lantai. Kulihat vagina ibu mertuaku begitu lebat ditumbuhi bulu-bulu yang hitam mengitari liang vaginanya. Mungkin karena terlalu lama aku menjilati perut dan sekitarnya, kembali kurasakan tangan ibu yang ada di kepalaku menekan ke bawah dan kali ini kuikuti dengan menurunkan badanku pelan-pelan ke bawah dan sesampainya di dekat vaginanya, kuciumi daerah di sekitarnya dan apa yang kulakukan ini mungkin menyebabkan ibu tidak sabaran lagi, sehingga kudengar suara ibu mertuaku, "Nak Suur.., toloong.., cepaat.., saa.., yaang.., ayoo.., Suur".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa kujawab permintaannya, aku mulai melebarkan kakinya dan kuletakkan badanku di antara kedua pahanya, lalu kusibak bulu vaginanya yang lebat itu untuk melihat belahan vagina ibu dan setelah bibir vagina ibu terlihat jelas lalu kubuka bibir kemaluannya dengan kedua jari tanganku, ternyata vagina ibu mertuaku telah basah sekali. Ketika ujung lidahku kujilatkan ke dalam vaginanya, kurasakan tubuh ibu menggelinjang agak keras sambil berkata, "Cepaat.., Suur.., ibu sudah nggak tahaan".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan cepat kumasukkan mulut dan lidahku ke dalam vaginanya sambil kujilati dan kusedot-sedot dan ini menyebabkan ibu mulai menaik-turunkan pantatnya serta bersuara, "sshh.., aahh.., Suur.., teruus.., adduuhh.., enaak.., Suur", Lalu kukecup clitorisnya berulang kali hingga mengeras, hal ini membuat ibu mertuaku menggelinjang hebat, "Aahh.., oohh.., Suur.., betuul.., yang itu.., Suur.., enaak.., aduuh.., Suur.., teruskaan.., aahh", sambil kedua tangannya menjambak rambutku serta menekan kepalaku lebih dalam masuk ke vaginanya. Kecupan demi kecupan di vagina ibu ini kuteruskan sehingga gerakan badan ibu mertuaku semakin menggila dan tiba-tiba kudengar suara ibu setengah mengerang, "aahh.., ooh.., duuh.., Suur.., ibuu.., mau.., mauu.., sampaii.., Naak.., ooh", disertai dengan gerakan pantatnya naik turun secara cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerakan badannya terhenti dan yang kudengar adalah nafasnya yang menjadi terengah-engah dengan begitu cepatnya dan tangannyapun sudah tidak meremas-remas rambutku lagi, sementara itu jilatan lidahku di vagina ibu hanya kulakukan sekedarnya di bagian bibirnya saja. Dengan nafasnya yang masih memburu itu, tiba-tiba ibu mertuaku bangun dan duduk serta berusaha menarik kepalaku seraya berkata, "Naak Suur.., ke sinii.., saayaang", dan tanpa menolak kuikuti saja tarikan tangan ibu, ketika kepalaku sudah di dekat kepalanya, ibu mertuaku langsung saja memelukku seraya berkata dengan suara terputus-putus karena nafasnya yang masih memburu, "Suur.., Ibu puas dengan apa yang Nak Suur.., lakukan tadi, terima kasiih.., Naak". Ibu mertuaku bertubi-tubi mencium wajahku dan kubalas juga ciumannya dengan menciumi wajahnya sambil kukatakan untuk menyenangkan hatinya, "Buu.., saya sayang Ibuu.., saya ingin ibu menjadi.., puu..aas".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah nafas ibu sudah kembali normal dan tetap saja masih menciumi seluruh wajahku dan sesekali bibirku, dia berkata, "Naak Suur.., Ibu masih belum puas sekali.., Suur.., toloong puasin ibu sampai benar-benar puaas.., Naak", seraya kurasakan ibu merenggangkan kedua kakinya. Karena aku masih belum memberikan reaksi atas ucapannya itu, karena tiba-tiba aku terpikir akan istriku dan yang kugeluti ini adalah ibu kandungnya, aku menjadi tersadar ketika ibu bersuara kembali, "Sayaang.., ayoo.., toloong Ibu dipuasin lagi Suur, tolong masukkan punyamu yang besar itu ke punya ibu".&lt;br /&gt;"Buu.., seharusnya saya tidak boleh melakukan ini.., apalagi kepada Ibuu", sahutku di dekat telinganya.&lt;br /&gt;"Suur.., nggak apa-apa.., Naak.., Ibu yang kepingin, lakukanlah Naak.., lakukan sampai Ibu benar-benar puas Suur", katanya dengan suara setengah mengiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"aahh.., biarlah, kenapa kutolak", pikirku dan tanpa membuang waktu lagi aku lalu mengambil ancang-ancang dan kupegang penisku serta kuusap-usapkan di belahan bibir vagina ibu mertuaku yang sudah sedikit terbuka. Sambil kucium telinga ibu lalu kubisikkan, "Buu.., maaf yaa.., saya mau masukkan sekarang, boleh?".&lt;br /&gt;"Suur.., cepat masukkan, Ibu sudah kepingin sekali Naak", sahutnya seperti tidak sabar lagi dan tanpa menunggu ibu menyelesaikan kalimatnya aku tusukkan penisku ke dalam vaginanya, mungkin entah tusukan penisku terlalu cepat atau karena ibu katanya sudah lama tidak pernah digauli oleh suaminya langsung saja beliau berteriak kecil, "Aduuh.., Suur.., pelan-pelan saayaang.., ibu agak sakit niih", katanya dengan wajah yang agak meringis mungkin menahan rasa kesakitan. Kuhentikan tusukan penisku di vaginanya, "Maaf Buu.., saya sudah menyakiti Ibu.., maaf ya Bu". Ibu mertuaku kembali menciumku, "Tidak apa-apa Suur.., Ibu cuma sakit sedikit saja kok, coba lagi Suur..", sambil merangkulkan kedua tangannya di pungungku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Buu.., saya mau masukkan lagi yaa dan tolong Ibu bilang yaa.., kalau ibu merasa sakit", sahutku. Tanpa menunggu jawaban ibu segera saja kutusukkan kembali penisku tetapi sekarang kulakukan dengan lebih pelan. Ketika kepala penisku sudah menancap di lubang vaginanya, kulihat ibu sedikit meringis tetapi tidak mengeluarkan keluhan, "Buu.., sakit.., yaa?". Ibu hanya menggelengkan kepalanya serta menjawab, "Suur.., masukkan saja sayaang", sambil kurasakan kedua tangan ibu menekan punggungku. Aku segera kembali menekan penisku di lubang vaginanya dan sedikit terasa kepala penisku sudah bisa membuka lubang vaginanya, tetapi kembali kulihat wajah ibu meringis menahan sakit. Karena ibu tidak mengeluh maka aku teruskan saja tusukan penisku dan, "Bleess", penisku mulai membongkar masuk ke liang vaginanya diikuti dengan teriakan kecil, "Aduuh.., Suur", sambil menengkeramkan kedua tangannya di punggungku dan tentu saja gerakan penisku masuk ke dalam vaginanya segera kutahan agar tidak menambah sakit bagi ibu.&lt;br /&gt;"Buu.., sakit yaa..? maaf ya Buu". Ibu mertuaku hanya menggelengkan kepalanya.&lt;br /&gt;"Enggak kok sayaang.., ibu hanya kaget sedikit saja", lalu mencium wajahku sambil berucap kembali, "Suur.., besar betul punyamu itu".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelan-pelan kunaik-turunkan pantatku sehingga penisku yang terjepit di dalam vaginanya keluar masuk dan ibupun mulai menggoyang-goyangkan pantatnya pelan-pelan sambil berdesah, "sshh.., ooh.., aahh.., sayaang.., nikmat.., teruuskan.., Naak", katanya seraya mempercepat goyangan pantatnya. Akupun sudah mulai merasakan enaknya vaginan ibu dan kusahut desahannya, "Buu.., aahh.., punyaa Ibu juga nikmat, buu", sambil kuciumi pipinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makin lama gerakanku dan ibu semakin cepat dan ibupun semakin sering mendesah, "Aah.., Suurr.., ooh.., teruus.., Suur". Ketika sedang nikmat-enaknya menggerakkan penisku keluar masuk vaginanya, ibu menghentikan goyangan pantatnya. Aku tersentak kaget, "Buu.., kenapa? apa ibu capeek?", Ibu hanya menggelengkan kepalanya saja, sambil mencium leherku ibu berucap, "Suur.., coba hentikan gerakanmu itu sebentar".&lt;br /&gt;"Ada apa Buu", sahutku sambil menghentikan goyangan pantatku naik turun.&lt;br /&gt;"Suur.., kamu diam saja dan coba rasakan ini", kata ibu tanpa menjelaskan apa maksudnya dan tidak kuduga tiba-tiba terasa penisku seperti tersedot dan terhisap di dalam vagina ibu mertuaku, sehingga tanpa sadar aku mengatakan, "Buu.., aduuh.., enaak.., Buu.., teruus Bu, ooh.., nikmat Buu", dan tanpa sadar, aku kembali menggerakkan penisku keluar masuk dengan cepat dan ibupun mulai kembali menggoyangkan pantatnya.&lt;br /&gt;"ooh.., aah.., Suur.., enaak Suur", dan nafasnya dan nafaskupun semakin cepat dan tidak terkontrol lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengetahui nafas Ibu serta goyangan pantat Ibu sudah tidak terkontrol lagi, aku tidak ingin ibu cepat-cepat mencapai orgasmenya, lalu segera saja kuhentikan gerakan pantatku dan kucabut penisku dari dalam vaginanya yang menyebabkan ibu mertuaku protes, "Kenapa.., Suur.., kok berhenti?", tapi protes ibu tidak kutanggapi dan aku segera melepaskan diri dari pelukannya lalu bangun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa bertanya, lalu badan ibu mertuaku kumiringkan ke hadapanku dan kaki kirinya kuangkat serta kuletakkan di pundakku, sedangkan ibu mertuaku hanya mengikuti saja apa yang kulakukan itu. Dengan posisi seperti ini, segera saja kutusukkan kembali penisku masuk ke dalam vagina ibu mertuaku yang sudah sangat basah itu tanpa kesulitan. Ketika seluruh batang penisku sudak masuk semua ke dalam vaginanya, segera saja kutekan badanku kuat-kuat ke badan ibu sehingga ibu mulai berteriak kecil, "Suur.., aduuh.., punyamu masuk dalam sekali.., naak.., aduuh.., teruus sayaang.., aah", dan aku meneruskan gerakan keluar masuk penisku dengan kuat. Setiap kali penisku kutekan dengan kuat ke dalam vagina ibu mertuaku, ibu terus saja berdesah, "Ooohh.., aahh.., Suur.., enaak.., terus, tekan yang kuaat sayaang".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak berlama-lama dengan posisi seperti ini. Kembali kehentikan gerakanku dan kucabut penisku dari dalam vaginanya. Kulihat ibu hanya diam saja tanpa protes lagi dan lalu kukatakan pada ibu, "Buu.., coba ibu tengkurap dan nungging", kataku sambil kubantu membalikkan badan dan mengatur kaki ibu sewaktu nungging, "Aduuh.., Suur.., kamu kok macem-macem sih", komentar Ibu mertuaku. Aku tidak menanggapi komentarnya dan tanpa kuberi aba-aba penisku kutusukkan langsung masuk ke dalam vagina ibu serta kutekan kuat-kuat dengan memegang pinggangnya sehingga ibu berteriak, "Aduuh Suur, ooh", dan tanpa kupedulikan teriakan ibu, langsung saja kukocok penisku keluar masuk vaginanya dengan cepat dan kuat hingga membuat badan ibu tergetar ketika sodokanku menyentuh tubuhnya dan setiap kali kudengar ibu berteriak, "ooh.., ooh.., Suur", dan tidak lama kemudian ibu mengeluh lagi, "Suur.., Ibu capek Naak.., sudaah Suur.., Ibuu capeek", dan tanpa kuduga ibu lalu menjatuhkan dirinya tertidur tengkurap dengan nafasnya yang terengah-engah, sehingga mau tak mau penisku jadi keluar dari vaginanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa mempedulikan kata-katanya, segera saja kubalik badan ibu yang jatuh tengkurap. Sekarang sudah tidur telentang lagi, kuangkat kedua kakinya lalu kuletakkan di atas kedua bahuku. Ibu yang kulihat sudah tidak bertenaga itu hanya mengikuti saja apa yang kuperbuat. Segera saja kumasukkan penisku dengan mudah ke dalam vagina ibu mertuaku yang memang sudah semakin basah itu, kutekan dan kutarik kuat sehingga payudaranya yang memang sudah aggak lembek itu terguncang-guncang. Ibu mertuaku nafasnya terdengar sangat cepat, "Suur.., jangaan.., kuat-kuat Naak.., badan ibu sakit semua", sambil memegang kedua tanganku yang kuletakkan di samping badannya untuk menahan badanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar kata-kata ibu mertuaku, aku menjadi tersadar dan teringat kalau yang ada di hadapanku ini adalah ibu mertuaku sendiri dan segera saja kehentikan gerakan penisku keluar masuk vaginanya serta kuturunkan kedua kaki ibu dari bahuku dan langsung saja kupeluk badan ibu serta kuucapkan, "Maaf.., Buu.., kalau saya menyakiti Ibu, saya akan mencoba untuk pelan-pelan", segera saja ibu berucap, "Suur nggak apa-apa Nak, tapi Ibu lebih suka dengan posisi seperti ini saja, ayoo.., Suur mainkan lagi punyamu agar ibu cepat puaas".&lt;br /&gt;"Iyaa.., Buu.., saya akan coba lagi", sahutku sambil kembali kunaik-turunkan pantatku sehingga penisku keluar masuk vagina ibu dan kali ini aku lakukan dengan hati-hati agar tidak menyakiti badan ibu, dan ibu mertuakupun sekarang sudah mulai menggoyangkan pantatnya serta sesekali mempermainkan otot-otot di vaginanya, sehingga kadang-kadang terasa penisku terasa tertahan sewaktu memasuki liang vaginanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika salah satu payudara ibu kuhisap-hisap puting susunya yang sudah mengeras itu, ibu mertuaku semakin mempercepat goyangan pinggulnya dan terdengar desahannya yang agak keras diantara nafasnya yang sudah mulai memburu, "oohh.., aahh.., Suur.., teruus.., ooh", seraya meremas-remas rambutku lebih keras. Akupun ikut mempercepat keluar masuknya penisku di dalam vaginanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Goyangan pinggul ibu mertuakupun semakin cepat dan sepertinya sudah tidak bisa mengontrol dirinya lagi. Disertai nafasnya yang semakin terengah-engah dan kedua tangannya dirangkulkan ke punggungku kuat-kuat, ibu mengatakan dengan terbata-bata, "Nak Suur.., aduuh.., Ibuu.., sudaah.., ooh.., mauu kelluaar". Aku sulit bernafas karena punggungku dipeluk dan dicengkeramnya dengan kuat dan kemudian ibu mertuaku menjadi terdiam, hanya nafasnya saja yang kudengar terengah-engah dengan keras dan genjotan penisku keluar masuk vaginanya. Untuk sementara aku hentikan untuk memberikan kesempatan pada ibu menikmati orgasmenya sambil kuciumi wajahnya, "Bagaimana.., Buu?, mudah-mudahan ibu cukup puas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu mertuaku tetap masih menutup matanya dan tidak segera menjawab pertanyaanku, yang pasti nafas ibu masih memburu tetapi sudah mulai berkurang dibanding sebelumnya. Karena ibu masih diam, aku menjadi sangat kasihan dan kusambung pertanyaanku tadi di dekat telinganya, "Buu.., saya tahu ibu pasti capek sekali, lebih baik ibu istirahat dulu saja.., yaa?", seraya aku mulai mengangkat pantatku agar penisku bisa keluar dari vagina ibu yang sudah sangat basah itu. Tetapi baru saja pantatku ingin kuangkat, ternyata ibu mertuaku cepat-cepat mencengkeram pinggulku dengan kedua tangannya dan sambil membuka matanya, memandang ke wajahku, "Jangaan.., Suur.., jangan dilepas punyamu itu, ibu diam saja karena ingin melepaskan lelah sambil menikmati punyamu yang besar itu mengganjal di tempat ibuu, jangaan dicabut dulu.., yaa.., sayaang", terus kembali menutup matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar permintaan ibu itu, aku tidak jadi mencabut penisku dari dalam vagina ibu dan kembali kujatuhkan badanku pelan-pelan di atas badan ibu yang nafasnya sekarang sudah kelihatan mulai agak teratur, sambil kukatakan, "Tidaak.., Buu.., saya tidak akan mencabutnya, saya juga masih kepingin terus seperti ini", sambil kurangkul leher ibu dengan tangan kananku. Ibu hanya diam saja dengan pernyataanku itu, tetapi tiba-tiba penisku yang sejak tadi kudiamkan di dalam vaginanya terasa seperti dijepit dan tersedot vagina ibu mertuaku, dan tanpa sadar aku mengaduh, "Aduuh.., ooh.., Buu".&lt;br /&gt;"Kenapa.., sayaang.., enaak yaa?", sahut ibu sambil mencium bibirku dengan lembut dan sambil kucium hidungnya kukatakan, "Buu.., enaak sekalii", dan seperti tadi, sewaktu ibu mertuaku mula-mula menjepit dan menyedot penisku dengan vaginanya, secara tidak sengaja aku mulai menggerakkan lagi penisku keluar masuk vaginanya dan ibu mertuakupun kembali mendesah, "ooh.., aah.., Suur.., teruus.., naak.., aduuh.., enaak sekali".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin lama gerakan pinggul ibu semakin cepat dan kembali kudengar nafasnya semakin lama semakin memburu. Gerakan pinggul ibu kuimbangi dengan mempercepat kocokan penisku keluar masuk vaginanya. Makin lama aku sepertinya sudah tidak kuat untuk menahan agar air maniku tetap tidak keluar, "Buu.., sebentar lagi.., sayaa.., sudaah.., mau keluaar", sambil kupercepat penisku keluar masuk vaginanya dan mungkin karena mendengar aku sudah mendekati klimaks, ibu mertuakupun semakin mempercepat gerakan pinggulnya serta mempererat cengkeraman tangannya di punggungku seraya berkata, "Suur.., teruuss.., Naak.., Ibuu.., jugaa.., sudah dekat, oohh.., ayoo Suur.., semproot Ibuu dengan airmuu.., sekaraang".&lt;br /&gt;"Iyaa.., Buu.., tahaan", sambil kutekan pantatku kuat-kuat dan kami akhiri teriakan itu dengan berpelukan sangat kuat serta tetap kutekan penisku dalam-dalam ke vagina ibu mertuaku. Dalam klimaksnya terasa vagina ibu memijat penisku dengan kuat dan kami terus terdiam dengan nafas terengah-engah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah nafas kami berdua agak teratur, lalu kucabut penisku dari dalam vagina ibu dan kujatuhkan badanku serta kutarik kepala ibu mertuaku dan kuletakkan di dadaku.Setelah nafasku mulai teratur kembali dan kuperhatikan nafas ibupun begitu, aku jadi ingat akan tugas yang diberikan oleh istriku.&lt;br /&gt;"Buu.., apa ini yang menyebabkan ibu selalu marah-marah pada Bapak..?", tanyaku.&lt;br /&gt;"Mungkin saja Suur.., kenapa Suur?", Sahutnya sambil tersenyum dan mencium pipiku.&lt;br /&gt;"Buu.., kalau benar, tolong ibu kurangi marah-marahnya kepada Bapak, kasihan dia", ibu hanya diam dan seperti berfikir.&lt;br /&gt;Setelah diam sebentar lalu kukatakan, "Buu.., sudah siang lho, seraya kubangunkan tubuh ibu serta kubimbing ke kamar mandi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah peristiwa ini terjadi, ibu seringkali mengunjungi rumah kami dengan alasan kangen cucu dan anaknya Mur, tetapi kenyataannya ibu mertuaku selalu mengontakku melalui telepon di kantor dan meminta jatahnya di suatu motel, sebelum menuju ke rumahku. Untungnya sampai sekarang Istriku tidak curiga, hanya saja dia merasa aneh, karena setiap bulannya ibunya selalu mengunjung rumah kami.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8096187244134823528-5061354031440187956?l=alita-dee.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alita-dee.blogspot.com/feeds/5061354031440187956/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://alita-dee.blogspot.com/2009/06/ibu-dan-anak-02.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8096187244134823528/posts/default/5061354031440187956'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8096187244134823528/posts/default/5061354031440187956'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alita-dee.blogspot.com/2009/06/ibu-dan-anak-02.html' title='Ibu dan Anak 02'/><author><name>dee alita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15608335270076570228</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_klCrRrqSP08/SfEyqgcHvAI/AAAAAAAAAAk/RLjidh3m4gM/S220/gueeeeeeeeeeeeee.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8096187244134823528.post-929868593603427881</id><published>2009-06-30T01:55:00.001-07:00</published><updated>2009-06-30T01:55:55.936-07:00</updated><title type='text'>Home Sweet Home</title><content type='html'>Namaku Boy, aku tinggal di Medan. Aku mau menceritakan pengalaman seksku di rumahku sendiri. Kejadian ini baru terjadi dua bulan yang lalu. Aku mempunyai seorang kakak, namanya Dewi. Kak Dewi orangnya cantik. Dia mempunyai tinggi badan 171 cm, kulit putih bersih, dadanya kira-kira 36 dan pantatnya sangat montok. Aku sangat terangsang jika melihatnya. Suatu hari, tepatnya malam minggu.Waktu itu mama dan papaku sedang pergi. Aku sendiri juga lagi malas di rumah. Lalu aku pergi kerumah teman kuliahku. Jadi dirumah hanya Kak dewi sendirian yang lagi nungguin pacarnya. Tapi dasar sial temanku juga lagi keluar. Lalu untuk ngilangin suntuk aku mutar-mutar (jalan2) sendirian. Setelah puas jalan jalan aku pun pulang. Sampai di rumah kulihat ada kendaraan pacar Kak dewi di depan rumah. "Aduh.. jagain orang pacaran nih..", pikirku. Aku langsung masuk ke teras. Tapi aku terkejut. Kulihat Kak dewi sedang ditunggangi oleh pacarnya (ngentot). Kubatalkan niatku dan aku terus mengintip permainan mereka. Aku benar2 terangsang melihat adegan tersebut. Apalagi melihat Kak dewi yang sedang bugil dan mendesah desah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memperhatikan mereka dan mengelus-elus penisku. Terpaksa aku bersolo seks dan memuntahkannya di pot bunga. Lalu aku pergi lagi meninggalkan mereka berdua. Setengah jam kemudian aku kembali dan kulihat mereka sedang duduk mesra diruang tengah. Kutegur mereka dan aku langsung masuk ke kamarku. Di kamar aku terus membayangkan Kak Dewi. Selang beberapa menit aku keluar kamar dan kulihat cowoknya sudah pulang. Kulihat Kak Dewi masuk ke kamarnya. Lalu aku duduk sendirian di ruang tengah. Aku benar benar terangsang. Aku lalu bangkit dan masuk kekamar Kak Dewi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya Kak Dewi sedang ganti baju. Dia terkejut melihatku. "Ngapain kamu?", tanyanya. "Tadi kakak ngapain sama cowok kakak?", aku balik bertanya. Dia hanya diam. "Emang kamu tahu?", tanyanya lagi. Aku hanya mengangguk. "Jangan bilang siapa-siapa ya..!", katanya lagi. "Oke.. tapi kakak harus mau begituan juga sama aku!", ujarku. "Kamu mau juga ya..", katanya manja. Dia lalu menarikku ke tempat tidur. Dibukanya bajunya, lalu dibukanya juga bajuku. Langsung dilumatnya penisku. Rasanya enak sekali. Diisapnya penisku sampai kusemprotkan spermaku di dalam mulutnya. Aku cukup puas atas perlakuannya. Lalu dia menyuruhku menjilati vaginanya .oohh.. ahh.. erangnya. Lalu aku pindah meremas dan menjilati payudaranya. mmhh.. terus.. nggh.. Kujilati payudaranya, perutnya sampai kujilati lagi vaginanya. oh.. ah.. ena.. k.. erangnya. Nafsuku naik lagi. Penisku mulai berdiri lagi. Masu.. kin aja.. pintanya. Lalu kumasukin penisku dan memompanya. Rasanya enak sekali, penisku dijepit oleh otot vaginanya. ahh.. terus.. sayang.. jeritnya. Lalu dibaliknya tubuhku. Dengan posisi diatas, dia menggoyangkan pantatnya turun naik. Tanganku meremas pantatnya yang montok. Payudaranya bergoyang-goyang. Aku mau keluar.. erangku. Tahann.. sayang.. ujarnya. Lalu ahh.. agh.. oh.. Kak Dewi mengerang panjang pertanda orgasme. Dia terus bergoyang dan crot.. crot.. crot.. kusemburkan spermaku didalam vaginanya. Lalu dia mencium bibirku. Kami pun tergeletak bersampingan. "Makasih kak.. betul-betul nikmat", ujarku sambil meremas payudaranya. "Iya.. kamu hebat juga", katanya "Maukan kakak beginian lagi..?", tanyaku "Kapan aja kamu pengen", ujarnya sambil tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku langsung keluar dan masuk ke kamarku. Aku senang sekali. Aku terus minta jatah sama Kak Dewi. Kapan ada kesempatan kami pasti melakukannya dengan berbagai macam gaya. Aku juga sudah merasakan pantatnya yang montok. Waktu itu Kak Dewi lagi haid, jadi kusorong aja pantatnya. Rasanya sama-sama enak kok. Sampai pada suatu hari, Waktu itu aku pulang kuliah, kulihat pintu kamar Kak Dewi terbuka dan dia berbaring mengenakan handuk. Aku terangsang melihatnya. Aku masuk dan kubuka bajuku lalu kupeluk dan kucumbu. Ah.. jangan sekarang! ada Mama tuh! ujarnya. Tapi aku tak peduli dan terus merangsangnya. Akhirnya dia pasrah. Kubuka handuknya dan kujilati payudaranya. Kak Dewi mendesah. Lalu dia bangkit, menimpaku sambil berbalik. Kami melakukan gaya 69, Dikocoknya dan diisapnya penisku. Aku pun menjilati vaginanya sambil meremas pantatnya. Lagi asyik menjilat, tiba-tiba pintu kamar dibuka. Kami sangat terkejut. Ternyata mama sedang memergoki kami berbuat mesum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mama masuk dan menutup pintu. Muka Mamaku tampak marah melihat perbuatan kami. Aku dan Kak Dewi hanya bisa terdiam. Matanya menatap kami tajam. "Maafin kami ma!, ini salah Boy. Boy yang ngajak Kak Dewi. Soalnya Boy lagi terangsang! ujarku. "Kenapa harus Kak Dewi?", tanya mamaku. "Daripada dengan PSK lebih baik dengan aku, Ma!" sambung Kak dewi "Lagi pula aku juga mau kok", ujar Kak dewi membelaku. "Terserah Mama mau marah, kami kan udah gede dan punya hasrat seks yang harus disalurkan", ujarku. Mamaku terdiam sejenak "Ya.., udah terserah kalian. Tapi perbuatan kalian jangan sampai ketahuan papa!", ujarnya. "Satu hal lagi Boy, jangan sampai Kak Dewi hamil", katanya sambil menatapku. "Ya..udah sebagai hukumannya mama mau lihat bagaimana kalian melepaskan hasrat seks kalian itu", ujarnya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku dan Kak Dewi saling pandang. Lalu kami lanjutkan permainan kami. Aku mulai merangsang Kak Dewi lagi. Kujilati payudaranya. Lalu kujilati vaginanya. Ah..sst.. mmh.. desahnya. Tanpa lama2 kumasukkan penisku ke liang vaginanya dan kugoyang. Akkh..ohh..ngghh..ah.. ah..desahnya. Aku makin mempercepat kocokanku. Dan akhh..ahh ..akhhkhh.., jeritnya panjang. Kurasakan Kak Dewi sudah mencapai orgasme. Semakin cepat goyanganku. ck .ckk.. ck..suara kocokan penisku di vaginanya yang sudah basah bercampur cairan orgasmenya. "Mau keluar nih..", jeritku "dimulutku aja!", ujarnya sambil menahan sodokan penisku, kucabut penisku. Kak dewi langsung menggenggam penisku dan mengocoknya dalam mulutnya. Crott.. crot..crot..crot kusemburkan spermaku ke mulutnya sebanyak 8 kali. Mulutnya penuh dengan spermaku. Sampai menetes keluar dari sela mulutnya. Dan ditelannya semua. Aku terbaring puas, dan Kak Dewi menjilati penisku untuk membersihkan sisa sperma. Kulihat mama menggelengkan kepalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu mama pergi keluar dari kamar. Aku dan Kak Dewi hanya tersenyum. Kami akan lebih bebas melakukannya dirumah, walaupun mama mengetahuinya. Kami saling berpelukan dan berciuman. Aku lalu berpakaian dan masuk ke kamarku. Di kamar aku masih memikirkan kejadian tadi. "Mama tidak melarang aku ngeseks dengan kakakku sendiri. Berarti aku juga bisa ngeseks dengan mama", pikirku. Lagian body mama masih sip abis. Soalnya mamaku ikut fitness. Walaupun usianya udah 44 tahun tapi masih oke (bukan membanggakan). Lagi pula mama pasti lebih berpengalaman. Aku berpikir lama mengenai ide gilaku ini. Kuputuskan, aku harus bisa merasakan ngeseks dengan mamaku sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu aku keluar dan masuk kekamar mamaku. Kulihat mamaku berbaring membelakangiku. Kulihat pantatnya yang montok dan pahanya yang mulus. Kubuka bajuku semuanya. Dan sambil menelan ludah aku naik ke tempat tidur dalam keadaan bugil. Kupeluk mamaku dari belakang dan kugesek penisku yang sudah tegang. Tiba2 mama terbangun "Ngapain kamu, Boy?", tanyanya. "Pengen ngeseks sama mama", jawabku manja. Aku langsung memeluk dan menciumnya. Mamaku diam saja. Kubuka kimononya. Wow ..mama tidak pakai BH dan CD. Payudaranya besar (lebih besar daripada punya Kak Dewi. Kak Dewi aja 36B) dan masih kencang. Vaginanya merah merekah. Pantas papa sayang terus sama mama. Aku langsung meremas payudaranya, menjilatinya dan menggigitnya. Mama hanya mendesah kecil. "Jilatin anu mama ya.. kayak Kak dewi tadi..", pintanya sambil meraba vaginanya. Aku lalu menjilati vagina mama sambil memainkan klitorisnya dengan gigi dan lidahku. Ahh..terus.. sayang.. okh.. e. na. k..desah mama. Kepalaku dijepitnya dengan kedua pahanya dan rambutku dijambaknya. Agar aku terus menjilati vaginanya. 10 menit lidahku menari di vagina mamaku dan akhirnya mamaku orgasme juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurasakan cairan hangat di lidahku. Lalu mama bangkit dan menyuruhku telentang. Mama lalu mengambil baby oil dan mengoleskan kepenisku. Lalu dikulumnya penisku dengan nikmat. ohh..rasanya benar2 nikmat sampe ubun2. Isapan mama jauh lebih enak daripada Kak Dewi. Aku merasakan kenikmatan yang dahsyat. Mama mengulum semua penisku beserta buah zakarku. Yang paling sensasional kurasakan saat mama mengocok penisku sambil menjilati lubang duburku. Wow benar2 asyik dan nikmat. Aku sampai merinding kenikmatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar 10 menitan kesemprotkan spermaku di depan wajah mamaku. Mama ku sibuk menjilati spermaku yang muncrat kemana mana. "Wah.. benar-benar nikmat ma..", ujarku. "Mama jago istong (isap totong)", pujiku "Kamu juga jago jilatannya, mama sampe merinding", ujarnya "Papa kalo jilat kurang nikmat, lagian papa jarang mau jilat", ujarnya lagi "Gimana, mau dilanjutkan?", tanya mamaku "Iya dong..aku kan mau ngerasain anunya mama!", ujarku sambil melihat vaginanya. "Mama juga mau ngerasain sodokan penismu!", jawabnya manja. Lalu mama mengajakku ke kamar mandi, untuk membersihkan vaginanya dan penisku. Kuhidupkan air di bathtub setinggi mata kaki. Kami berdua masuk dan kucumbu Mama, kucium bibirnya dan kuremas-remas payudaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berdua sangat bernafsu, terutama aku. Padahal aku sudah main sebelumnya dengan Kak Dewi. Aku sudah nggak tahan untuk memasukkan penisku ke vagina mama. Kutusukkan penisku dan bless.. amblas semuanya terbenam. Kurasakan jepitan liang surga mama masih kuat. Kupompa penisku menghujam vagina mama. Kaki mama menjepit sisi bathtub. Ohh..yeahh.. ahh.. jerit mama. Sekitar 3 menit mama minta ganti posisi menyamping dengan posisi kaki belipat ke arah samping dan aku menggoyang dari atas menyodok vagina mama. Mama tampak sangat menikmatinya. Lalu mama minta doggy style. Kami bangkit dan mama nungging bertumpuan dengan sisi bathtub. Kusodok vagina mama dari belakang. Mama mendesah campur menjerit kecil. Pantatnya yang montok beradu dengan pangkal pahaku. Kupeluk mamaku dari belakang sambil terus bergoyang perlahan, meremas payudaranya. "Ma..masukin ke lubang anus ya..", bisikku "Pelan2 mama belum pernah ..", jawabnya. Kucabut penisku dan kumasukkan pelan pelan ke lubang anus mamaku. Mamaku merintih kecil menahan sakit. Lubang anus mama memang belum pernah dijamah. Masih terasa ketat. Kugoyang perlahan-lahan sambil tanganku mengusap-usap bibir vaginannya dari belakang. Oh.. ahhk.. oh.. nikmat.. mama mendesah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar 4 menit kucabut penisku kubalikkan tubuh mama dan satu kakinya kuangkat dan kuletakkan di washtafel. Kumasukkan penisku lagi dan kugoyang lagi. sekitar 1 menit, kuangkat Mama dan kutidurkan di lantai kamar mandi. Kakinya mengangkang dan aku mulai menggenjotnya lagi. Shh.. ohh.. akhh.. mama terus menjerit merasakan nikmatnya. Dan ohh.. ahh.. mama melenguh sambil memejamkan matanya menikmati orgasmenya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terus bergoyang. Lalu aku mengakhiri permainanku dengan semprotan spermaku di dalam rahim mama tempat aku dikandung dulu. Aku benar-benar puas. Aku mencium mama. "Makasih ma.. permainan Mama sangat hebat", pujiku "Mama mau kan..ngeseks sama boy lagi..?", tanyaku. Mamaku tersenyum dan mengangguk "Asal.. jangan ketahuan Papa ya..!", katanya. Aku cuma tersenyum. Lalu kami mandi bersama dalam bathtub. Malamnya aku terlelap tidur. Esok paginya, aku bangun pukul 7 pagi dan bersiap mandi. Kulihat Papa dan Kak Dewi sedang sarapan, sedangkan Mama sedang di dapur. Kudatangi mama dan kuremas pantatnya. "Aduh.. kamu nakal ya..", ujarnya. Kubuka celanaku dan kukelurkan penisku yang tegang. Kugesekkan ke pantat Mamaku. "Ma..ayo.. dong..", bujukku "Gak.. ah..ntar dilihat papa!", tolaknya "Please..", rayuku "Isap aja ya..", tawar mamaku "Ya.., deh..!", sahutku lalu Mama jongkok dan mengisap penisku. Mataku meram melek menahan nikmatnya. Sampai kusemburkan lahar hangat kemulut mama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu aku mandi dan berangkat kuliah. Di kampus aku rasanya pengen cepat pulang. Pukul 2 siang aku tiba dirumah. Kupanggil Kak Dewi dan Mama kekamarku. "Gimana.. kalo kita main bertiga", usulku "Hah..!!", jawab Mama dan Kak Dewi serentak. "Aduh.. nih..anak.. nafsu amat ya..", ujar Mamaku "Kayaknya asyik juga tuh.", sahut Kak Dewi. Kak Dewi langsung membuka bajunya. Dan menimpaku. Bibirku dilumatnya sambil tangannya melucuti pakaianku. Mama akhirnya membuka bajunya dan ikut bergabung. Mama langsung mengisap penisku sambil menjilatinya. Sedangkan aku menjilati vagina Kak Dewi. Lalu kusuruh Mama tidur telentang sambil mengangkang. Kujilati vagina Mama dan Kak Dewi menjilati dan meremas remas payudara Mama. Ssst.. enaak.. ahh.. erang mama. Lalu gantian, kujilati vagina Kak Dewi dan Mama menjilati payudara Kak Dewi. Aku mulai memasukkan penisku ke vagina Kak dewi dan memompanya. Sedangkan Mama menjilati payudara Kak Dewi sambil menggosok2 vaginanya sendiri. Aaahh..ohh.. oh.. Kak Dewi menjerit kecil berbarengan dengan deru napasnya yang tidak teratur. Kupercepat goyanganku. Aku harus membuat Kak Dewi orgasme terlebih dahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa saat kemudian Kak dewi mengerang puas ah. a. h.. ah. ah. ah. ahh.. ha.. sambil nafasnya agak tersengal. Penisku terasa dijepit otot vagina Kak Dewi yang yang berkontraksi. Kucabut penisku dan kutarik Mamaku. Lalu kumasukkan penisku ke liang surganya dan kugoyang. Mamaku hanya mendesah kecil. Aku menikmati goyanganku. Aku lalu membalikkan tubuh Mama keatas. Mama bergoyang bagai menaiki kuda. Tanganku meremas-remas pantat Mama dan membantunya turun naik. Ooo.. ahh.. yehh.. erang mama sambil memejamkan matanya. Payudaranya bergantung dan bergoyang. Ohh..ahh.. kudengar erangan mamaku sambil memejamkan mata dan menahan ludah. Kurasakan Mama sudah orgasme. Kupeluk Mama dan kubalikkan badannya. Kak Dewi langsung mendekat dan menjilati payudara Mama. Aku langsung menggenjot mamaku lagi dengan posisi Mama telentang. Sekitar dua menitan, kurasakan aku mau mencapai puncak. Langsung kucabut penisku dan kusemburkan ke mulut Kak Dewi dan Mama. Mereka berebutan. Spermaku muncrat kewajah mereka berdua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku lalu terduduk lemas.Kulihat mama dan Kak dewi saling menjilati spermaku yang muncrat kewajah mereka. Setelah 10 menit Kak Dewi keluar dari kamarku. Dan aku memainkan satu ronde lagi dengan Mamaku. Dan kuakhiri dengan semburan sperma di dalam lubang anusnya. Setelah itu Mama keluar dan mandi. Sekarang aku benar-benar betah berada di rumah, kapan saja ada saja yang melayaniku (Mama dan Kak Dewi). Hampir tiap pagi aku mendapat jatah istong dari Mama. Tapi semua sudah kuatur. Kalo siang aku mainnya sama Mama, dan kalo malam malam lagi pengen, aku mainnya sama Kak Dewi. Tapi kadang nggak tentu juga, yang mana aja. Kalo Papa nggak ada kami main bertiga. Apalagi kalo Papa keluar kota kami makin bebas tidur bersama. Bahkan aku pernah bolos kuliah karena kecapekan melayani Mama dan Kak Dewi. Kejadian ini membuatku betah di rumah. Home Sweet Home.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8096187244134823528-929868593603427881?l=alita-dee.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alita-dee.blogspot.com/feeds/929868593603427881/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://alita-dee.blogspot.com/2009/06/home-sweet-home.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8096187244134823528/posts/default/929868593603427881'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8096187244134823528/posts/default/929868593603427881'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alita-dee.blogspot.com/2009/06/home-sweet-home.html' title='Home Sweet Home'/><author><name>dee alita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15608335270076570228</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_klCrRrqSP08/SfEyqgcHvAI/AAAAAAAAAAk/RLjidh3m4gM/S220/gueeeeeeeeeeeeee.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8096187244134823528.post-5039018040753275237</id><published>2009-06-30T01:54:00.001-07:00</published><updated>2009-06-30T01:54:57.774-07:00</updated><title type='text'>Herry, Teganya Kau...</title><content type='html'>Saya ingin menceritakan pengalaman seks saya 8 tahun yang lalu, sekarang saya sudah berumur 22 tahun. Cerita ini mengenai mengapa saya kehilangan perawan saya untuk pertama kali. Semenjak itu, saya menjadi kesal dengan semua laki-laki tapi bukan berarti saya menjadi lesbi. Saya bukan lesbi tapi saya juga tidak mau mengenal laki-laki. Tidak tahu lagi apa itu namanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya adalah cewek yang lumayan cantik karena saya memiliki hidung yang mancung dengan mata yang kecil dan lentik. Payudara saya cukup besar untuk cewek berumur 14 tahun saat itu. Saya tidak mempunyai pacar karena saya ingin belajar giat supaya saya bisa bersekolah di Philadelphia, United States setelah saya lulus SMA nanti. Saya memiliki kakak laki-laki yang usianya 2 tahun di atas saya. Namanya adalah Herry Susanto (Nama belakangnya bukan nama keluarga saya karena nama belakangnya adalah karangan saya saja). Dia satu sekolah dengan saya sehingga tiap hari Herry selalu menemani saya di sekolah. Saya tidak pernah berpikir kenapa dia sampai melakukan perbuatan maksiat itu terhadap saya apalagi saya adalah adik perempuannya satu-satunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu kami berdua sedang libur setelah 2 minggu menjalankan ujian kenaikan kelas. Saya masih ingat sekali bahwa hari kejadian itu adalah hari senin. Saat itu saya sedang nonton VCD Donald Duck dan Mickey Mouse. Ketika saya sedang menonton film tersebut, tiba-tiba saya mau pipis sehingga saya meninggalkan TV untuk cepat-cepat pergi ke kamar mandi karena saya tidak mau ngompol di sofa di mana saya sedang tiduran karena saya bisa dimarahi mama nantinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya lari ke kamar mandi dan langsung pipis. Itulah kesalahan saya yang fatal karena saya lupa menutup pintu. Sewaktu saya sedang pipis, kakak saya Herry datang tergopoh-gopoh. Saya yakin sekali bahwa Herry pasti habis memakai putaw atau jenis drugs yang lain karena saya sering melihat dia teler kalau habis pakai obat. Herry melihat saya sedang pipis dan saya membiarkan saja ketika dia masuk ke kamar mandi karena saya tidak ada perasaan curiga pada dia. Ketika dia masuk, tiba-tiba dia mengunci pintu kamar mandi dan tiba-tiba dia menyerang tubuh saya yang saat itu sedang pipis. Saya kaget dan hendak berteriak tetapi dengan cepat Herry menutup mulut saya dan mengancam mau membunuh saya kalau saya berteriak. Saya langsung menangis karena saya tidak mengerti kenapa kakak saya tega melakukan perbuatan bejad kepada saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya cuma menangis saja menyaksikan Herry membuka pakaian dan celana dalam yang saya kenakan. Setelah saya tidak memakai busana apa-apa lagi, Herry langsung menciumi puting susu saya dengan ganasnya sementara jari-jarinya memainkan klitoris saya. Saya masih menangis karena saya masih tidak mengerti tetapi di lain pihak, saya mulai menikmati permainan kakak saya karena saya kadang-kadang mendesah di tengah tangisan saya, apalagi saya sempat merasakan pipis beberapa kali ketika Herry mulai menjilati liang kemaluan saya dan memainkan lidahnya di dalam lubang kemaluan saya. Saya yakin dia menelan semua cairan kewanitaan saya. Perasaan saya saat itu tidak karuan karena saya mulai menyenangi permainannya dan sekaligus benci dengan sikapnya yang telah memperkosa saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Herry terus menjilati kemaluan saya dan saya sudah 2 kali merasakan ingin pipis tetapi saya tidak mengerti kenapa saya ingin pipis ketika dia menjilati kemaluan saya, saya merasakan kenikmatan yang maha dasyat. Tiba-tiba saya melihat Herry mulai membuka pakaiannya dan mulai mempersiapkan batang kemaluannya yang sudah mengacung sempurna. Herry langsung menciumi saya dan saya cuma bisa berkata, "Jangan.. jangan..", tetapi Herry diam saja dan mulai memasukkan batang kemaluannya ke dalam liang kenikmatan saya. Saya tahu saya masih perawan makanya saya meronta-ronta ketika dia mau memasukkan batang kemaluannya. Saya menampar pipinya tetapi dia malah membalas tamparan saya sehingga saya menjadi sangat takut waktu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya saya cuma diam saja sambil menangis sementara Herry mulai mengarahkan batang kenikmatannya ke dalam liang kemaluan saya. Ketika batang kemaluan Herry mulai masuk ke dalam kemaluan saya, saya merasakan sakit yang amat sangat tetapi saya tidak bisa melakukan apa-apa karena saya sangat ketakutan apalagi saya tahu dia dalam pengaruh obat, jadinya dia tidak menyadari bahwa dia sedang menyetubuhi adiknya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di saat Herry mulai memainkan batangannya di dalam lubang kenikmatan saya, saya merasakan ada cairan darah perawan yang keluar dari liang senggama saya yang sudah dirobek oleh kakak saya sendiri. Saya tiba-tiba menjadi tidak mengerti karena saya mulai menyukai goyangan batang kemaluannya di dalam liang kenikmatan saya karena secara otomatis saya mulai bergoyang-goyang mengikuti irama batang kemaluan Herry di dalam liang senggama saya walaupun saat itu saya masih menangis. Herry memeluk tubuh saya sambil terus menggenjot tubuh saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama 20 menit Herry tetap menggenjot tubuh saya dengan tubuhnya dan batang kenikmatannya yang tertanam di dalam liang kemaluan saya. Saya mulai merasakan bahwa saya ingin pipis tetapi kali ini saya merasakan sesuatu yang belum pernah saya rasakan sebelumnya tetapi rasanya enak sekali dan saya sama sekali tidak mengerti apa itu tetapi ketika saya mengeluarkan cairan nikmat saya, saya berteriak dan memeluk kakak saya erat-erat dan ketika saya memeluknya erat-erat, rupanya batang kemaluan kakakku sepertinya tertanam lebih dalam lagi di liang kenikmatan saya sehingga dia sepertinya mengeluarkan cairan dari dalam batang kelaminnya dan membasahi lapisan kemaluan saya. Setelah itu, herry melepaskan pelukan saya serta mencabut batang kemaluannya dari dalam liang kenikmatan saya dan kemudian meninggalkan saya seorang diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya masih sempat melihat ada cairan bekas Herry yang masih menetes dari dalam lubang kemaluan saya. Saya hanya diam dan tiba-tiba saya menangis sedih karena harga diri saya telah dirusak oleh kakak saya sendiri. Sejak saat itu saya mulai membenci laki-laki, tetapi saya mulai mengenal seks karena ketika saya ingin sekali merasakan pipis nikmat, saya selalu melakukan masturbasi di kamar mandi atau bahkan di kamar tidur saya. Tapi tentunya saya selalu melakukannya kalau tidak ada orang di rumah. Sejak saat itu saya membenci kakak saya dan setiap kali ada lelaki yang mencoba mendekati saya, saya selalu mengolok-oloknya dengan kata-kata yang kasar sehingga satu persatu dari mereka menjauhi saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang saya berada di Philadelphia dan banyak teman saya yang mengatakan bahwa saya ini termasuk cewek bodoh karena saya selalu menolak cowok baik-baik yang cakap dan pandai dan itu tidak terjadi sekali. Saya memang membenci laki-laki tetapi saya bukan lesbi karena ketika saya menghindari semua laki-laki di dalam hidup saya, ada seorang lesbi yang mendekati saya dan saya juga menghindarinya. Akibatnya persahabatan kami menjadi renggang dan dia mulai meninggalkan saya. Saya hanya dapat mencapai orgasme ketika saya melakukan masturbasi ketika saya sedang mandi atau sebelum tidur. Jadinya itu membuat saya berpikir, kenapa saya perlu laki-laki kalau saya bisa memuaskan nafsu saya dengan swalayan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8096187244134823528-5039018040753275237?l=alita-dee.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alita-dee.blogspot.com/feeds/5039018040753275237/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://alita-dee.blogspot.com/2009/06/herry-teganya-kau.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8096187244134823528/posts/default/5039018040753275237'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8096187244134823528/posts/default/5039018040753275237'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alita-dee.blogspot.com/2009/06/herry-teganya-kau.html' title='Herry, Teganya Kau...'/><author><name>dee alita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15608335270076570228</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_klCrRrqSP08/SfEyqgcHvAI/AAAAAAAAAAk/RLjidh3m4gM/S220/gueeeeeeeeeeeeee.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8096187244134823528.post-6861979332316937289</id><published>2009-06-30T01:53:00.001-07:00</published><updated>2009-06-30T01:54:03.666-07:00</updated><title type='text'>Sedarah</title><content type='html'>Suatu malam aku di telepon oleh saudara perempuanku yang bernama Yenny. Dia adalah anak dari adik perempuan ibuku. Umurnya 4 tahun lebih tua dariku. Hubungan keluargaku dengan keluarga adik ibuku lumayan dekat dan akrab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu adalah Jumat malam kira-kira pukul 23.00, aku diminta tolong untuk menjemputnya di sebuah cafe di salah satu hotel berbintang 5. Salah satu temannya mengadakan acara pesta ulang tahun. Karena tidak ada yang bisa menjemput maka aku dimintai tolong. Orang tuanya sedang pulang kampung dan suaminya sedang dinas di luar negeri. Padahal aku sendiri juga ada janji kumpul bareng teman-teman dan menginap. Aku berpikiran, hanya menjemput dan mengantar pulang saja tidak akan makan waktu lama, apalagi sudah tengah malam, aku masih bisa menyusul teman-temanku yang sedang dugem. Setelah kuparkir mobilku di basement, aku langsung naik elevator dan menuju lantai 3 tempat cafe itu berada dari depan dapat kudengan dentuman suara musik dance yang cepat. Suasana di dalam gelap, hanya ada beberapa penerangan di sudut-sudut ruangan. Aku berkeliling mencari Yenny. Ternyata dia sedang di lantai bernari dengan sedikit liar bersama teman-teman wanitanya. Ada beberapa yang seksi dan menarik perhatian ku. Tapi tujuan utama ku adalah mengantar Yenny pulang dan bergabung kembali dengan teman-temanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yenny!", Seruku.&lt;br /&gt;Ternyata dia tidak mendengar karena musik yang dimainkan sangat keras. Kupegang pundaknya, ia pun menoleh dan langsung mengenaliku.&lt;br /&gt;"Indra...!", Sapanya.&lt;br /&gt;Aku dapat mencium bau alkohol dari mulutnya, dan dia memang terlihat sangat mabuk.&lt;br /&gt;"Kapan datangnya? Sudah lama?", tanyanya sambil bergoyang mengikuti alunan musik.&lt;br /&gt;"Baru sampai, Sudah jam 11 lewat nanti Jimmy marah loh kalo pulangnya kemaleman.", Jawabku sambil sedikit berteriak.&lt;br /&gt;"Iya aku tahu... Sebentar ya...", Yenny meninggalkanku dan berpamitan pada teman-temannya.&lt;br /&gt;Tidak lama kemudian, Yenny menghampiriku dan kami pun meninggalkan tempat pesta itu. Setelah berjalan beberapa langkah, Yenny kehilangan keseimbangannya dan hampir terjatuh. Secara reflek aku memegang lengan dan pinggangnya.&lt;br /&gt;"Apakah kamu baik-baik saja?", tanyaku.&lt;br /&gt;"Iya... Tidak apa-apa koq..", jawabnya.&lt;br /&gt;Karena takut dia jatuh, maka aku terus memegangi pinggang dan lengannya.&lt;br /&gt;Setelah sampai di mobil, langsung kunyalakan mesin dan kuarahkan ke rumahnya. Tidak sampai lima menit, Yenny telah tertidur dengan pulas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15 menit kemudian aku telah sampai di rumahnya. Aku coba untuk membangunkannya, tetapi tidak bisa. Yenny benar-benar tertidur lelap sekali.&lt;br /&gt;Ku buka tas tangannya dan kuambil kunci rumahnya. Terpaksa aku menggendongnya ke dalam rumah.&lt;br /&gt;Kubaringkan dia di ranjangnya dan timbul sebuah ide di dalam kepalaku. Aku telah bersusah payah menggendongnya ke kamarnya yang terletak di lantai 2, seharusnya aku mendapatkan imbalan yang setimpal. Imbalan yang kuinginkan tidak lain adalah kepuasan duniawi untuk penisku.&lt;br /&gt;Aku langsung membongkar lemari pakaiannya. Tanganku meraba-raba celana dalamnya yang semuanya berukuran mini dan halus dengan berbagai warna, seleranya memang bagus. Kuambil satu yang berwarna kulit dan kuhirup dalam-dalam. Tidak tercium aroma dari vaginanya, tapi cukup untuk membuatku bergairah. Aku berpaling ke arah Yenny, dia masih tertidur. Tiba-tiba saja aku tersentak dan langsung aku kembali membongkar-bongkar lemari bajunya. Akhirnya aku menemukan apa yang kucari, namun terdapat juga sedikit rasa kecewa. Dengan tangan yang sedikit bergetar kuangkat harta karun ku. Kubuka lipatannya dengan perlahan, terbentanglah sebuah stocking nylon berwarna kulit yang sheer toe dan lacy top ( transparan sampai ujung kaki dan pengikatnya berupa renda-renda yang seksi ). Penisku langsung berereksi dengan kuat. Langsung otaku memerintahkan seluruh tubuhku untuk masturbasi sambil mengenakan stocking dan celana dalam Yenny.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi kuperhatikan Yenny yang sedang tidur, kemudian aku masuk ke kamar mandi dan melepaskan semua pakaianku. Perlahan-lahan ku tarik stocking tersebut sampai ke tengah pahaku. Seluruh tubuhku diselimuti oleh getaran-getaran erotis ketika stockingnya bergesekan dengan kulitku. Demikian pula ketika celana dalamnya menyelimuti selangkanganku, pantatku dan buah zakar ku. Celananya terlalu kecil sehingga tidak dapat menyelimuti penisku, tapi ini memudahkanku untuk bermasturbasi. Akan lebih nikmat lagi jika ada sebuah celana dalam lagi untuk membalut kejantananku, maka akupun keluar dari kamar mandi dan kuambil sebuah celana dalam lagi yang berwarna merah muda. Langsung kubalutkan pada penisku. Ku kocok penisku sambil membayangkan bercinta dengan saudaraku.&lt;br /&gt;Tanpa sadar aku menoleh ke arah Yenny dan timbul sebuah pemikiran untuk langsung bersetubuh dengannya. Namun ada pertentangan di dalam batinku. Akhirnya aku memutuskan untuk bermasturbasi dengan melihat Yenny dari dekat dan mencoba untuk menyentuhnya bila memungkinkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berutut di samping ranjang Yenny. Dia tidur dengan terlentang, kuamati dari ujung kepala sampai dengan ujung kaki. Wajahnya yang cantik dan manis, rambutnya yang sedikit dicat coklat selalu terbayang-bayang di dalam hatiku. Payudaranya yang tidak terlalu besar namun padat berisi. Gaun pestanya berwarna hitam terbuat dari sutra yang halus, hanya ada sebuah tali yang menyimpang dari pundaknya untuk menggantung gaun tersebut. Gaun sutra itu membungkus tubuhnya yang langsing dan padat dengan ketat, dan berakhir di atas lututnya. Ditambah lagi ada belahan di sebelah kanan sampai tengah pahanya menambah keseksian gaun tersebut dan tentu saja pemakainya. Kakinya padat dan proporsional di balut oleh stocking hitam yang sangat transparan dan kakinya memakai sepatu tali ( hanya ada 3 buah tali ) berwarna hitam yang menggiurkan. Kutelan ludahku, tidak dapat kupercaya saudara ku yang sering menjadi fantasi masturbasiku terbaring di hadapanku, seolah-olah mengundangku untuk menyetubuhinya. Dengan gugup jari tengah kananku menyentuh pergelangan kaki kanannya. Kuamati wajah Yenny, ternyata tidak ada reaksi. Kutelusuri tulang keringnya sampai tengah pahanya dengan jariku. Tidak ada reaksi darinya. Kugunakan telapak tanganku dan kutelusuri kembali sampai ke pergelangan kakinya. Kejantananku berdenyut-denyut dengan hebat, rasanya aku bisa orgasme dengan hanya mengelus-elus kakinya yang di lapisi oleh stocking yang halus. Berulang kali aku mengelus-elus kaki kanan dan kirinya dan sesekali memperhatikan wajah Yenny.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kusentuh dengan ringan pipinya yang halus dan kencang, kudekatkan wajahku dengan wajahnya, sampai aku dapat mendengar nafasnya. Kukecup bibirnya dengan lembut, rasanya sungguh menghanyutkan. Kukulum dan kujilat bibirnya untuk beberapa saat, kemudian ku kecup dan kujilati dadanya. Payudaranya terasa lembut dan benar-benar pas dengan pijatan tanganku. Aku hendak mencicipinya namun gaun yang masih ia kenakan, terpaksa kukecup bersama gaunnya yang tipisdan halus. Aku tidak menyangka Yenny tertidur begitu lelap hingga tidak dapat merasakan payudaranya sedang kuremas-remas. Pertama-tama kuremas dengan pelan dan lembut, kemudian remasan ku bertambah kuat dan kuat tetapi tetap lembut, karena aku tidak ingin menyakitinya. Melihat reaksi Yenny yang tetap tidak terbangun dengan apa yang sedang kulakukan, memompa gairahku untuk bertindak lebih jauh, bahkan saat ini aku tidak perduli jika saudaraku yang cantik ini terbangun. Aku beralih ke jar-jari kakinya. Kutempelkan hidungku pada jari kakinya yang mungil yang masih terbungkus manis oleh stocking dan sepatu talinya. Kuhirup dalam-dalam, aromanya benar-benar membuat kepalaku melayang, tidak tercium bau kaki yang memuakan tetapi suatu wangi yang seksi dan menggetarkan. Ku kecup satu persatu semua jari kakinya kemudian kulahap ke dalam mulutku. Hasratku meledak saat itu juga, ku oral kakinya yang terbalut stocking hitam yang halus dan lembut. Baru kali ini aku begitu bernafsu french kiss dengan kaki perempuan. Aku tidak mau melakukannya jika pasangan seksku tidak memakai stocking tau pantyhose. Setelah puas melahap jar-jari kakinya, aku lanjutkan kecupan dan jilatanku ke pergelangan kakinya, pelan-pelan naik ke betis dan lututnya. Ku geser roknya sampai ke pertengahan pahanya. Yenny mengenakan stocking dengan bagian atas yang berenda ( lacy top ) dan benar-benar cocok di pahanya yang putih mulus. Tidak diragukan lagi, kujilati dan kukecup semua bagian pahanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba HP ku berbunyi. Aku terkejut dan langsung berlari dan mematikan suara HP ku. Ternyata aku mendapat SMS dari temanku, dan aku baru ingat kalau aku ada janji dengan mereka. Aku tidak mungkin melewatkan kesempatan yang langka ini, meskipun tabu tetapi aku tetap ingin menikmatinya. Akhirnya kubatalkan rencanaku dengan teman-temanku. HP aku matikan, dan aku kembali menghadap Yenny yang tidur bagaikan patung. Ku kocok sebentar penisku yang sekeras batu dan kulanjutkan kembali menodai saudaraku. Siapa suruh dia begitu cantik dan merangsang gairahku. Ku angkat roknya sampai di atas lembah cintanya. Spontan saja kejantananku bergetar dengan kuat, sekujur tubuhku serasa lumpuh dengan gairah yang kurasakan. Tidak kusangka ia mengenakan celana dalam G string berwarna hitam yang sangat kecil. Bagian depannya hanya berupa segitiga kecil yang berpangkal di tempat bulu pubik tumbuh, hebatnya lagi Yenny mencukur bulunya sampai bersih. Kain yang menyentuh bibir vaginanya tidak lebih dari 2 cm sehingga terbenam di dalam bibir vaginanya yang berwarna merah muda segar. Secara tidak sadar aku melepaskan desahan nafsu dan hasratku. Kusentuh segitiga kecil yang seksi itu, bahannya benar-benar halus dan lembut. Kutarik garis lurus ke arah gua cintanya. Bagaikan petir yang menyambar tubuhku, ternyata vaginanya terasa basah dan licin. Jari tengah kananku bolak balik menelusuri garis kenikmatannya. Makin lama makin terasa basah. Madu cintanya pasti terperangkap di dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulebarkan kedua kaki Yenny, kemudian kuposisikan diriku di tengah-tengah vaginanya. Kutempelkan hidungku dan kihirup aromanya dalam-dalam, kepalaku serasa berputar. Aromanya sungguh segar dan memabukan. Setelah beberapa kali kuhirup dan kunikmati aromanya, kujulurkan lidahku dan menyentuh bibir vaginanya. Lembut, basah dan menakjubkan. Kujilat pelan-pelan seperti anak kucing menjilati susunya. Kutelan semua madu yang berhasil dikumpulkan oleh lidahku. Makin lama makin basah, akupun sudah tidak sabar lagi, aku ingin meneguk madu cintanya. Kulahap vaginanya dan kukeringkan madu yang berceceran disekitarnya. Kugunakan jariku untuk menggeser G string nya. Mulutku langsung menampung dan menyedot madu yang mengalir dengan deras. Aku terus menyedot bagaikan vacuum. Tak dapat dihindari, suara sedotan pun terdengar nyaring. Aku tidak melihat lagi bagaimana ekspresi atau keadaan Yenny karena malam ini Aku akan bercinta dengan saudaraku. Setelah mereda, kukulum bibir vaginanya. Aku berhenti sejenak dan memperhatikan bibir vaginanya yang mekar bagaikan bunga. Kugunakan ke dua jariku untuk membuka pintu kenikmatannya, lidahku langsung menelusuri sisi dalamnya. Klitoris adalah sasaran utamaku. Kukulum dan lidahku menari dengan irama sedang. Klitorisnya tak dapat menolak ajakan dansaku dan bergerak mengikuti iramaku. Aku dapat merasakan tubuh Yenny bergetar dan sedikit bergerak. Ini adalah tanda yang bagus. Ia pasti menikmatinya. Kunaikkan iramaku dan lidahku berdansa dengan liar. Tubuh saudaraku menggeliat dan otot-otot pinggulnya bergetar. Aku semaki terpacu dan bernafsu. Kuvariasikan gerakan lidahku dan kadang-kadang ku gigit dengan lembut. Tubuh Yenny semakin tidak terkendali. Kunaikan pandangan mataku dan kulihat matanya masih tertutup, mulutnya sedikit terbuka, kepalanya bergerak ke kanan dan kiri, tangan dan kakinya pun ikut bergerak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih ingin menikmatinya lebih lama, ku arahkan lidahku ke dalam gua kenikmatan duniawinya. Kujulurkan lidahku sejauh mungkin dan kujelajahi semua bagian dalamnya yang hangat dan lembut. Cairan hasratnya terus mengalir dan membasahi hidung dan daguku.&lt;br /&gt;Yenny sangat menikmatinya sama seperti aku. Aku jadi ingin bercinta dengannya dalam keadaan sadar, pasti akan lebih seru lagi. Aku iri sekali dengan suaminya, tetapi malam ini Yenny adalah milikku. Aku kembali pada klitorisnya. Tidak lama, aku mendengar suara desahan halus yang bagaikan musik di telingaku.&lt;br /&gt;Desahannya makin kencang dan cepat, pinggulnya terangkat dan otot-otonya mengejang, untuk sesaat tidak terdengar desahannya. Setelah beberapa detik pinggulnya mendarat kemabli ke kasur, Yenny kembali mendesah dengan penuh kenikmatan, otot-ototnya mengejang dan mengendur beberapa kali dan madu cintanya kembali membanjir keluar. Tidak kusia-siakan sedikitpun madu yang keluar. Badannya mulai tenang, tapi kini giliranku. Kuposisikan tubuhku di atasnya dan bertumpu dengan tanganku. Kukecup bibirnya yang sedikit terbuka. Dengan sedikit dorongan kejantananku masuk ke dalam lembah kenikmatan yang hangat. Badan Yenny sedikit terangkat laluturun lagi. Kudorong lagi penisku hingga setengah panjangnya. Yenny kembali menggeliat, dan mulutnya terbuka lebih lebar dan kepalanya sedikit terangkat. Kutarik ke luar sampai ujung kepala penisku lalu kudorong masuk lagi untuk beberapa kali, tidak ada hambatan yang terjadi, yang ada hanyalah jalan tol yang mulus.&lt;br /&gt;Kali ini kudorong masuk semuanya. Vaginanya terasa kencang dan hangat. Aku tidak berani menimpanya jadi kusangga tubuh bagian atasku dengan tangan, pinggangku bergerak perlahan-lahan. Aku tidak berani terlalu cepat dan kencang, tapi aku jadi penasaran minuman beralkohol apa yang dia minum. Belum pernah aku bersetubuh dengan gerakan selambat ini, alhasil aku dapat merasakan semua sensasi yang terjadi pada waktu mendorong dan menarik. Yenny kembali mendesah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuangkat kaki kanannya dan posisi Yenny bertumpu pada sisi badan sebelah kiri. Kupeluk kakinya yang menggairahkan dan kaki kiriku berada di depan, seperti posisi berlutut dengan satu kaki. Kuposisikan kejantananku pada gerbang kenikmatan cintanya dan kudorong masuk dan kutarik keluar dengan perlahan. Kubelai-belai kakinya yang mulus dan kupeluk bagaikan guling. Kembali kulahap jari-jari kakinya. Ini benar-benar menakjubkan, orgasmeku sudah berada diambang kenikmatan. Ingin sekali kukeluarkan madu murniku di dalam goa cintanya.&lt;br /&gt;Kukembalikan posisi Yenny sehingga ia tidur terlentang. Kuangkat ke dua kakinya membentuk huruf V. Kutarik penisku sampai hampir keluar dari pintu surga dunianya, kemudian kudorong masuk hingga ke pangkalnya. Setiap dorongan masuk yang mantap selalu membuat tubuh Yenny menegang. Melihat respons yang indah ini, kupercepat irama percintaanku. Ternyata memang benar, tubuhnya menggeliat dengan hebat. Suara merdunya kembali terdengar menyanyikan puncak kenikmatan duniawi yang hanya dapat dicapai dengan orgasme. Tubuhnya bergetar dan berkontraksi dengan hebat, dapat kurasakan dinding-dinding vaginanya menegang dengan kuat kemudian merenggang sebentar dan menegang lagi. Aku pun semakin bernafsu menyetubuhinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orgasme yang melanda Yenny sungguh hebat, meskipun tidak sadar tetapi organ seksualnya masih bekerja dengan baik. Satu dorongan, dua dorongan, tiga dorongan, akhirnya tibalah waktuku untuk menikmati indahnya dunia. Kucabut kejantananku, dan kuposisikan diriku di bawah dagunya. Tangan kiriku dengan intensif mengocok penisku yang hampir meledak. Tubuhku bergetar dengan sangat kuat, kesadaranku diambil alih oleh dahsyatnya orgasme. Kutempelkan ujung penisku pada pipi kirinya, semprotan pertamaku yang begitu kuat mencapai alisnya. Guncangan tubuhku yang kuat menggeser posisi penisku ke dagu Yenny. Disinilah aku menghabiskan empat semprotan terakhir. Lima gelombang ejakulasi yang panjang, membuat tubuhku melayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah tenang, aku memperhatikan hasil karyaku. Ada sebuah garis putih dari alis kirinya, memanjang ke mata dan pipinya dan berakhir di dagunya. Dagunya dipenuhi oleh madu cintaku sampai mengalir sepanjang lehernya. Ada cukup banyak maduku yang mendarat di bibirnya, aku yakin ada yang masuk ke dalam mulutnya. Tiba-tiba Yenny menelannya, spontan aku terkejut dan menjadi terangsang lagi. Wajahnya yang cantik berhiaskan madu putihku membuatnya begitu cantik dan menggairahkan. Aku segera mengambil HP dan memotretnya dengan kamera HP. Kuhabiskan seluruh memory untuk fotonya. Aku berpose dengan penisku di bibirnya, dan juga ketika penisku memasuki gerbang kenikmatannya. Ini adalah koleksi yang sangat berharga.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8096187244134823528-6861979332316937289?l=alita-dee.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alita-dee.blogspot.com/feeds/6861979332316937289/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://alita-dee.blogspot.com/2009/06/sedarah.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8096187244134823528/posts/default/6861979332316937289'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8096187244134823528/posts/default/6861979332316937289'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alita-dee.blogspot.com/2009/06/sedarah.html' title='Sedarah'/><author><name>dee alita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15608335270076570228</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_klCrRrqSP08/SfEyqgcHvAI/AAAAAAAAAAk/RLjidh3m4gM/S220/gueeeeeeeeeeeeee.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8096187244134823528.post-6079788597680463898</id><published>2009-06-30T01:51:00.000-07:00</published><updated>2009-06-30T01:52:57.302-07:00</updated><title type='text'>Memijiti Mama</title><content type='html'>"Mah, kemana saja sih kok sudah sebulan ini baru datang?", tanyaku sengit ketika Mama ku datang mengunjungiku di Bandung.&lt;br /&gt;"Mama sudah dapat pacar baru ya? sampe enggak sempet datang? Pokoknya aku enggak mau kalo Mama dapat Papa baru".&lt;br /&gt;Mama ku terlihat kaget ketika aku marah, padahal beliau baru saja datang dari Jakarta hari jumat sore itu. Tetapi ketika kepalaku di elus-elusnya dan mama mengatakan minta maaf karena terlalu sibuk dengan pekerjaannya dan sekaligus juga mengatakan kalau mama tetap sayang denganku, perasaan marahku pun jadi luluh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Masak sih Mas (namaku sebenarnya Pur tetapi mama selalu memangggilku Mas sejak aku masih kecil), kamu enggak percaya sama mama? Mama terlalu sayang padamu, jadi kamu jangan curiga kalau mama pacaran lagi", katanya terisak sambil menciumi pipiku dan akhirnya kami berpelukan.&lt;br /&gt;Setelah makan malam, lalu kami berdua ngobrol di ruang tamu sambil melihat acara TV.&lt;br /&gt;"Mas, rambutmu itu sudah mulai banyak lagi yang putih... sini mama cabutin", kata mama yang biasanya selalu mencabuti ubanku bila datang ke Bandung. Segera saja aku bergegas ke kamar untuk mengambil cabutan rambut lalu duduk menghadap kearah TV di lantai sambil sandaran di sofa yang diduduki mama.&lt;br /&gt;Terus terang, aku paling senang kalau mama sudah mulai mencabuti ubanku, soalnya bisa sampai ngantuk.&lt;br /&gt;"Banyak betul sih Mas ubanmu ini?", komentar mama sambil mulai mencabuti ubanku.&lt;br /&gt;"Habis sih... Mama sudah lama enggak kesini... cuman ngurusin kerjaan melulu."&lt;br /&gt;"Ya sudah, sekarang deh mama cabutin ubanmu sampai habis."&lt;br /&gt;Kami lalu diam tanpa berkata kata.&lt;br /&gt;"Mas""ngomong2 kamu sudah punya pacar apa belum?", tanya mama tiba2, sambil masih tetap mencabuti ubanku di kepala bagian belakang.&lt;br /&gt;"Belum kok Ma"..masih dalam penjajakan", sahutku.&lt;br /&gt;"Tuh... kan. Kamu ngelarang mama cari pacar, tapi kamu sendiri malah mau pacaran.", sahut mama dengan nada agak kesal.&lt;br /&gt;"Pokoknya, mama enggak mau lho kalau kamu mulai pacaran, apalagi masih sekolah bisa2 pelajaranmu jadi ketinggalan dan berarti kamu juga sudah enggak sayang lagi sama mama", tambahnya.&lt;br /&gt;"Enggak kok Ma, aku masih sayang kok sama mama."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sudah selesai Mas yang belakang, sekarang yang bagian depan", perintahnya.&lt;br /&gt;Lalu kuputar dudukku menghadap ke arah Mama dan tetap duduk dilantai diantara kedua paha mamaku serta Mamapun langsung saja meneruskan mencabuti uban-ubanku.&lt;br /&gt;"Mas, kamu kan sekarang sudah tambah dewasa, apa enggak pingin punya pacar atau pingin meluk atau dipeluk seorang perempuan?", kata mama tiba2.&lt;br /&gt;"Atau kamu sudah jadi laki-laki yang enggak normal barangkali ya, Sayang?", lanjut Mama.&lt;br /&gt;"Ah, mama ini kok nanyanya yang enggak2 sih?", sambil kucubit paha mama yang mulus dan putih bersih.&lt;br /&gt;"Habisnya selama ini kan kamu enggak pernah cerita soal temen wanita kamu, Mas.", sahut mama.&lt;br /&gt;"Aku ini masih laki-laki tulen Mah. Kalau mama enggak percaya, boleh deh dibuktiin atau di test ke dokter.", tambahku sambil kuelus-elus paha mama. Kata Mama, aku enggak boleh pacaran dulu, tambahku.&lt;br /&gt;"Naaah... gitu dong Mas. Pacarannya nanti-nanti saja deh Mas, kalau kamu sudah lulus".&lt;br /&gt;"Tapi, kamu kan sudah dewasa, apa enggak kepingin meluk dan mencium lawan jenis kamu", tanyanya lagi.&lt;br /&gt;"Kadang-kadang sih kepingin juga sih Ma, apalagi banyak teman-temanku yang sudah punya pasangan masing-masing. Tapi ngapain sih Ma, kok nanya2 gituan?"&lt;br /&gt;"Ya... enggak apa apa sih, mama cuman pingin tahu saja.", sahut mama sambil tetap mencari ubanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena aku duduk menghadap mama dan jaraknya sangat dekat, tanpa kusadari mataku tertuju kebagian dada mama dan karena Mama ku hanya memakai baju tidur putih yang tipis sekali, maka tetek dan puting susunya secara transparan terlihat dengan jelas.&lt;br /&gt;"Mah... ngapain sih Mama pake baju tidur ini?"&lt;br /&gt;"Lho... memangnya kenapa mas dengan baju tidur mama ini? emangnya kamu enggak suka ya Mas?", tanya mamaku, tanpa menghentikan kerjanya mencabuti ubanku.&lt;br /&gt;"Emangnya Mama enggak malu?"... tuh kelihatan?", sambil kututul puting tetek mama yang terlihat menonjol keluar dari balik baju tidurnya dengan ujung jariku.&lt;br /&gt;"Huuuusss, teriak mama kaget. Mama kirain kenapa? wong enggak ada orang lain saja kecuali kamu dan bibi dirumah ini. Lagipula mama kan enggak keluar rumah. Memangnya kamu enggak suka ya Mas?", sahut mama menghentikan kerjanya dan memandang mataku.&lt;br /&gt;"Wah"... ya suka bangeet dong Mah. Apalagi kalau boleh megang...", senyumku.&lt;br /&gt;"Huussss...", sambil menjundul dahiku.&lt;br /&gt;"Wong kamu ini masih kecil saja", tambahnya.&lt;br /&gt;"Mah. Aku ini sudah mahasiswa lho.. bukan anak TK lagi, masak sih aku masih kecil? kalo ngeliat sedikit kan enggak apa apa kan mah... boleh kan Mah?", rengekku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mama tidak segera menjawab dan tetap saja meneruskan mencabuti ubanku seolah olah enggak ada apa-apa.&lt;br /&gt;Setelah kutunggu sebentar dan mama tidak menjawab atau melarangku, akhirnya kuberanikan untuk menjulurkan tanganku kearah kancing baju tidurnya didekat dadanya.&lt;br /&gt;"Sebentar aja lho Mas ngelihatnya", ujarnya tanpa menghalangi tanganku yang sudah melepas 3 buah kancing bajunya.&lt;br /&gt;"Aduh Mah...putih betul sih tetek mama." komentarku sambil membuka baju tidurnya sehingga tetek mamaku tersembul keluar. Aku enggak tahu ukurannya, tetapi yang pasti tidak terlalu besar sehingga kelihatan tegang menantang serta berwarna merah gelap di sekitar puting nya.&lt;br /&gt;"Sudah ah Mas, tutup lagi sekarang", katanya sambil tetap mencabuti ubanku.&lt;br /&gt;"Lho... Kok malah bengong, tutup dong Mas?", katanya lagi ketika kata-kata mama enggak aku ikutin dan tetap memandang kedua tetek mama yang kupandang begitu indah.&lt;br /&gt;"Bentar dong Mah... aku belum puas nih Mah, melihat tetek mama yang begitu indah ini. Boleh ya Mah pegang dikit?"&lt;br /&gt;"Tuh kan... Mas ini sudah ngelunjak. Katanya tadi cuman mau ngelihat sebentar, eeeh sekarang pingin pegang.", sahut mama sambil tetap melanjutkan mencabut ubanku.&lt;br /&gt;"Sebentar aja lho...", sahutnya tiba2 ketika melihatku hanya bengong aja mengagumi tetek mama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Mama mengizinkan dan dengan penuh keraguan serta tanpa berani melihat wajah Mama, segera saja kuremas pelan kedua tetek mama dengan kedua telapak tanganku.&lt;br /&gt;"Aahh... sungguh terasa halus dan kenyal tetek mama", gumanku dalam hati. Lalu kedua tetek mama kuelus2 dan kuremas2 dengan kedua tanganku.&lt;br /&gt;Karena asyiknya meremasi tetek mama, baru aku sadar kalau tangan mama sudah tidak lagi mencabuti ubanku lagi di kepalaku dan setelah kulirik, ternyata mama telah bersandar di sofa dengan mata tertutup rapat, mungkin sedang menikmati nikmatnya remasan tangan ku di tetek nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat mamaku hanya diam saja dan memejamkan matanya, lalu timbul keberanianku dan segera saja kumajukan wajahku mendekati tetek kirinya dan mulai kujilat puting teteknya dengan ujung lidahku.&lt;br /&gt;Setelah beberapa kali teteknya kuremas dan tetek satunya kujilati, kudengar desahan mama sangat pelan "ssshhh... ssssshhhh... aaaahh.. Maaaass... suuuudaaaahh..."&lt;br /&gt;Desahan ini walaupun hampir tidak terdengar membuat ku semakin berani dan jilatan di puting teteknya dan kuselingi dengan hisapan halus serta remasan di tetek mama sebelah kanan pun kuselingi dengan elusan elusan lembut.&lt;br /&gt;Tiba2 saja terdengar bunyi "kling" di lantai dan itu mungkin cabutan ubanku yang sudah terlepas dari tangan mama, karena bersamaan dengan itu, terasa kedua tangan mama sudah meremas remas rambutku dan kepalaku di tekannya kearah badannya sehingga kepalaku sudah menempel rapat di tetek mama dan nafasku pun sedikit tersengal. Desahan dari mulut mamaku pun semakin keras.&lt;br /&gt;"Ssssshhh... ooooohh... aaaaahhh... Maaaaaassss..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desahan yang keluar dari mulut mamaku ini menjadikan ku semakin bersemangat dan kugeser kepalaku yang sedang dipegangi mama kearah tetek yang satunya dan tangan kananku kuremaskan lembut di tetek kiri mama dan tak henti2 nya desahan mama terdengar semakin kuat dengan nafas cepat.&lt;br /&gt;"Maaasss... aaaaahhh", desah mama dengan keras dan tubuhnya meliuk liuk, seraya mendekap kepalaku sangat kuat sehingga wajahku tenggelam kedalam teteknya.&lt;br /&gt;"Aaaahhhh", teriaknya dan diakhiri dengan nafasnya yang cepat dan tersengal-sengal.&lt;br /&gt;"Maaas, mama lemes sekali", kata mama dengan suara yang hampir tidak terdengar dengan nafasnya yang masih tersengal-sengal. "Maass, tolong bawa mama ke kamar", tambahnya dengan nafasnya yang masih cepat.&lt;br /&gt;"Ayoooo Maas. Cepat bawa mama ke kamar", katanya lagi dan tanpa berfikir panjang akhirnya kubopong mama dan kuangkat ke tempat tidurnya dan dengan hati2 kutidurkan terlentang di tempat tidurnya dan mata Mama masih tetap merem tapi nafasnya yang cepat sudah sedikit mereda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku enggak tahu harus berbuat apa, jadi aku hanya tiduran saja disamping mama sambil ku elus elus dahi yang berkeringat dan rambutnya serta pandanganku tidak pernah lepas dari wajah mama karena takut terjadi apa2, tapi sering juga mataku tertuju ke tetek mama yang menyembul keluar dari baju tidurnya yang terbuka. Nafas mama makin lama semakin teratur.&lt;br /&gt;Tak lama kemudian mata mama mulai terbuka pelan-pelan dan ketika melihatku ada disampingnya, mama tersenyum manis sambil tangannya dieluskan ke wajahku.&lt;br /&gt;"Kenapa Mah. Aku sampai takut", kataku sambil kuciumi tangan yang sedang memegang wajahku.&lt;br /&gt;"Mama lemes sekali sayang... kaki mama gemetaran, tolong kamu pijitin mama", perintahnya dengan suara yang hampir tidak terdengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa membantah, segera saja aku berpindah ke dekat kaki mama dan ketika kedua kakinya di geser kearah berlawanan, lalu kutempatkan dudukku diantara kedua paha mama yang sudah terbuka lebar. Kulihat mama sudah menutup matanya kembali.&lt;br /&gt;Penisku yang tadi sudah tidur karena rasa takut, kembali mulai bangun ketika baju tidur mama yang tersingkap dan cd nya terlihat jelas. Benar-benar merupakan pemandangan yang sangat indah, pahanya yang putih mulus serta padat berisi itu membuat jantungku serasa mau copot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena enggak pernah tahu bagaimana caranya memijat, akhirnya kedua tanganku kuletakkan di kedua paha mama dan kupijit-pijit dari bawah ke atas. Aku enggak tahu, apakah pijitanku itu enak apa tidak, tetapi kelihatannya mama tetap memejamkan matanya tanpa ada protes. Demikian juga ketika kedua tanganku kusodokan di cdnya beberapa kali, mama pun tetap diam saja.&lt;br /&gt;Memang godaan syahwat bisa mengalahkan segalanya. Penisku pun sudah begitu tegang sehingga kugunakan salah satu tanganku untuk membetulkan arahnya keatas agar tidak terasa sakit.&lt;br /&gt;"Mah... celana mama mengganggu nih. Aku buka saja ya mah?", tanyaku minta izin sambil memandang ke arah nya.&lt;br /&gt;Mama enggak segera menjawab, tapi kuperhatikan mama mengangguk sedikit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa berlama-lama walaupun aku masih ragu, segera kutarik turun cdnya dan ketika bagian bawah pantat mama sulit kutarik, mama malah membantunya dengan mengangkat badannya sedikit sehingga cdnya dengan mudah kupelas dari kedua kakinya. Lalu sekalian saja kulepas beberapa kancing baju tidur nya yang tersisa dengan salah satu tanganku dan dengan cepat, kupelas juga kaos dan celana yang melekat di tubuhku.&lt;br /&gt;Sambil kembali kupijati paha mama, mataku enggak lepas memandang memek mama yang baru pertama kali ini kulihat. Bulu jembutnya terlihat hanya beberapa lembar sehingga bentuk memeknya terlihat dengan jelas dan dari celah bibirnya kulihat sudah berair. Detak jantungku menjadi kian kencang terpacu melihat bagian-bagian indah milik mamaku.&lt;br /&gt;Karena enggak tahan cuma memelototi lubang kenikmatan mama, lalu kuselonjorkan badanku kebelakang sehingga wajahku pun sudah berada tepat diatas memek mama tapi tanganku pun masih memijati pahanya walaupun itu hanya berupa elusan elusan barangkali.&lt;br /&gt;Awalnya sih aku hanya mencoba membaui memek mama dengan hidungku. Ah, ada bau yang meruap asing di hidungku, segar dan membuatku tambah terangsang. Eeeh... kuperhatikan mama tetap tenang saja, walaupun nafasnya sudah lebih cepat dari biasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika lidahku mulai kumainkan dengan menjilat di seputar belahan bibir memeknya yang sudah terlihat basah dari tadi dan terasa asin tapi enak, pinggul mama tergelinjang keras sehingga hidungku basah terkena cairan mama.&lt;br /&gt;"Aduuuuh Mas!", teriak mama tiba2 dengan suara serak dan tersendat sendat diantara nafasnya yang sudah memburu. tetapi mama kembali diam dan aku artikan mama setuju saja dengan apa yang aku lakukan dan walaupun kedua tangannya memegangi kepalaku.&lt;br /&gt;Tanpa minta izin, segera saja jari-jariku kugunakan untuk membuka bibir vagina dan memainkan bibir vagina serta daging kecil yang sudah menyembul dari sela-sela bibir vaginanya.&lt;br /&gt;"Aduh... aaaaaah... aaahhh... Maaaaas", kudengar desahan mama agak keras.&lt;br /&gt;Dapat kurasakan cairan lendirnya yang sudah semakin membasahi vagina mama yang indah itu. Betapa nikmat rasanya, apalagi dengan desahan mama yang semakin lama semakin keras, membuatku semakin bersemangat dan mulai kujilati, kuendus dan kumasukkan hidungku kedalam vaginanya serta kumainkan lidahku di lobang memek mama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin karena keenakan, desahan mama sudah menjadi erangan yang keras dan rambut kepalaku pun sudah diremas remas mama seraya di tekan tekannya kepalaku dan pantatnya pun digoyangnya naik turun sehingga seluruh wajahku terasa basah semua terkena cairan yang keluar dari memek mama. Aku terus saja memainkan lidahku tetapi tidak berapa lama kemudian bisa kurasakan goyangan tubuh mama semakin cepat dan nafasnya pun sudah terdengar cepat dan keras sekali. Tubuh mama mengejang dan akhirnya dia mendesah keras,&lt;br /&gt;"Maaaas... addduuuuh... aaaaaah... ssssh. teee..ruuuuusss..maaas", sambil kepalaku ditekannya dalam dalam kearah memeknya. Lalu mama terkapar melepas tangan nya dari kepalaku dengan nafas ngos2an yang cepat dan aku yakin sekali kalau mama sudah mencapai orgasmenya lagi.&lt;br /&gt;Tanpa disuruh aku segera naik dan tiduran miring menghadapnya disamping mama yang terlentang dengan nafasnya yang masih cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aduuuh"maaas, kamu nakal sekali ya? kamu bikin mama jadi keenakan sampe lemes sekali", katanya setelah nafasnya agak normal sambil memencet hidungku.&lt;br /&gt;"Mah... booo leeeh enggak aaaa kuuuu?", tanyaku tapi enggak berani meneruskan kalimatnya, sambil ku usap2 dahi mama yang masih berkerigat. Mudah2an saja mama mengerti maksudku itu, soalnya penisku sudah tegang sekali.&lt;br /&gt;"jangan ya sayang...", jawab mama seraya mengecup pipiku dan jawaban itu tentu saja membuatku menjadi sedikit kecewa.&lt;br /&gt;Mungkin mama melihat perubahan wajahku dan karena merasa kasihan, lalu katanya "...Mas, boleh deh, tapi hanya digesek gesekin saja ya di luar?". Mendengar jawaban itu membuat hatiku agak lega. Yah... dari pada enggak boleh sama sekali, padahal rasa kepinginku sudah sampe diujung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sini sayang naiklah", lanjut nya sambil meraih tubuhku untuk naik di atas tubuh mama dan dari rasa sentuhan dikakiku, terasa mama juga sudah membuka ke dua pahanya, tapi tidak terlalu lebar.&lt;br /&gt;Tanpa berkata kata, lalu kunaiki tubuh mama dengan penisku yang sudah siap tempur dengan kepalanya yang mengkilap tegang. Tangan mama sudah memegangi penisku dan mengarahkan batang kemaluanku ke memeknya. Lalu, penisku yang sedang dipegangnya di gesek2an keatas dan kebawah secara perlahan-lahan di memeknya yang memang sudah licin dan kupergunakan kesempatan ini untuk menjilati leher mama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pun harus bersabar sedikit dan menunggu agar nafsu mama naik kembali karena sentuhan penisku dimemeknya dan jilatan2 ku di lehernya. Sesekali kuperhatikan wajah mama dan kulihat mama sedang memejamkan kedua matanya yang mungkin sedang menikmati gesekan2 penisku di memeknya.&lt;br /&gt;Suatu ketika, mama menghentikan gerakan tangannya dan melepaskan pegangan tangannya di penisku.&lt;br /&gt;Kedua tangan mama lalu memegangi kepalaku dan melepaskanku dari dadanya yang sedang kujilati serta memandangku dengan mata sayu.&lt;br /&gt;"Gimana... sayang, enak enggak?", tanyanya.&lt;br /&gt;"Ya enak dong maaaah... tapiii...", jawabku di telinganya tanpa berani meneruskan.&lt;br /&gt;"Tapi... kenapa Maaas?", tanya mama pura2 enggak mengerti kata-kataku tadi.&lt;br /&gt;"Boo.. leh ya maaaah dimasukin?", jawabku agak gugup didekat telinganya lagi.&lt;br /&gt;Belum sampai kata-kata yang aku ucapkan itu selesai, terasa ibu telah berusaha merenggangkan ke dua kakinya pelan2 lebih lebar lagi dan kulihat ibu tidak berusaha menjawab, tapi malah terus menutup matanya.&lt;br /&gt;Dengan tanpa melihat, karena aku sibuk menjilati telinga dan leher mama dan kedua tangan mama hanya dipelukannya di punggungku, kutekan pantatku sedikit dan mama lalu menggeser pantatnya sedikit saat penisku sudah menempel di memeknya, sepertinya mama yang memang sudah lebih berpengalaman, sedang berusaha menempatkan lobang memeknya agar penisku mudah memasukinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika mama sudah tidak menggerakkan tubuhnya lagi, pelan2 kutekan penisku ke memek mama, tetapi sepertinya kepala penisku terganjal dan tidak mudah masuk atau mungkin salah tempat, walau aku tahu memek ibu sudah basah sekali dari tadi.&lt;br /&gt;Tetapi ketika kuperhatikan wajah mama yang lagi merem itu, sepertinya mama agak menyeringai, mungkin sedang menahan rasa sakit sewaktu penisku kutekan ke memeknya...&lt;br /&gt;"Peel.. laaan.. pelaaan sayyy...aang, saaa...kiiitt, mama sudah lama enggak pernah lagi", kudengar bisik mama didekat telingaku. Karena kasihan mendengar suara mama yang kesakitan, segera saja kuangkat pelan2 penisku tetapi tangan mama yang dari tadi ada di punggungku sepertinya berusaha menahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nggggak aaapppaa aapa Maaas", terdengar bisik mama lagi. Aku nggak menjawab apa2, tetapi kemudian terasa tangan mama sepertinya menekan pantatku, mungkin menyuruhku untuk mencoba memasukan penisku, lalu kutusukkan lagi saja penisku pelan2 ke memek mama dan "..ssssrreeeeeeeet", terasa kepala penisku seperti menguak sesuatu yang tadinya tertutup rapat dan langsung saja kuhentikan tusukan penisku ke memek mama, karena terlihat mama menyeringai menahan sakit dan terdengar lagi mama merintih.&lt;br /&gt;"Aduuuuhh... maaaaas...", sambil kedua tangannya menahan punggungku sedikit dan kembali tekanan pantatku kebawah segera kuhentikan. Aku jadi kasihan melihat wajah mama selalu menyeringai seperti kesakitan.&lt;br /&gt;Tetapi beberapa saat kemudian,&lt;br /&gt;"Teken lagi mas, tapi pelan pelan ya...", sambil kedua tangan mama menekan pantatku pelan-pelan, langsung saja aku mengikuti tekanan tangan dipantatku menekan pelan2 dan tiba2 "..sssrrrrreeett... bleesss...", terasa kepala penisku masuk ke memek mama.&lt;br /&gt;"...Maaaaasss!..", teriak mama pelan bersamaan dengan masuknya kepala penisku.&lt;br /&gt;"Sudah maaass..suuuuukk... saaa... yaang...", lanjutnya sambil melepas nafas panjang tapi tangan mama malah menahan tekanan pantatku.&lt;br /&gt;Aku diamkan sebentar pergerakan penisku sambil menunggu reaksi mama, tetapi dalam keadaan diam seperti ini, aku merasa penisku sedang terhisap kuat di dalam memek mama dan tanpa kusadari terucap dari mulutku,&lt;br /&gt;"..Maaah... maaah... terr... uuusss... Maaah e...naaaaak.'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saking enaknya, aku sudah nggak memperhatikan tangan atau wajah mama lagi, lalu kegerakkan pantatku naik turun pelan2 dan mamapun mengimbanginya dengan mengerakkan pantatnya seperti berputar-putar.&lt;br /&gt;"Maaasss.. terus... maaas.. enaaakk... aduuuhhh... enak Mas...", kudengar kata-kata mama terbata-bata dan kubungkam bibir mama dengan mulutku sambil lidahku kuputar didalam mulutnya, serta kedua tanganku kucengkeram kuat diwajah mama..&lt;br /&gt;Sedang kan kedua tangan mama masih tetap di posisi pantatku dan menekan pantatku apabila pantatku lagi naik. Goyangan dan gerakan aku dan mama semakin cepat dan kudengar bunyi&lt;br /&gt;"Crreeettt... creeettt.. creeetttt."&lt;br /&gt;Secara teratur sesuai dengan gerakan naik-turunnya pantatku serta bunyi suara mama, "Hhhmmm... aaahhhh... aaahhh...", yang nggak keluar karena bibirnya tertutup bibirku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba2 saja mama menghentikan gerakan tubuhnya dan mengatakan, "berhenti sebenar sayang".&lt;br /&gt;"Kenapa Ma?"&lt;br /&gt;"Maasss, tolong cabut punyamu dulu, mama mau mengelap punya mama supaya agak kering sedikit, biar kita sama sama enak nantinya", katanya.&lt;br /&gt;Bener juga kata Mama, kataku dalam hati, tadi memek Mama terasa sangat basah sekali. Lalu pelan2 kontolku kucabut keluar dari Memek Mama dan kuambil handuk kecil yang ada di tempat tidur sambil kukatakan, "Maaam, biar aku saja deh yang ngelap..boleeeh kan Maaam?"&lt;br /&gt;"Terserah kamu deh Maasss", jawab Mama pendek sambil membuka kedua kakinya lebar2 dan aku merangkak mendekati memek Mama dan setelah dekat dengan memek Mama, lalu kukatakan, "Aku bersihkan sekarang ya maaaaa?", dan kudengar Mama hanya menjawab pendek.&lt;br /&gt;"Boleh sayaaang". Lalu kupegang dan kubuka bibir memek Mama dan kutundukkan kepalaku ke memeknya lalu kujilat-jilat itil dan belahan memek mama dan pantat Mama tergelinjang keras mungkin karena kaget sambil berseru, "Maaas... kamu... nakal yaaaaa!".&lt;br /&gt;Tanpa menjawab, aku teruskan isapan dan jilatan di semua bagian memek Mama dan membuat Mama menggerak-gerakkan terus pantatnya dan kedua tangannya kembali menekan kepalaku. Beberapa saat kemudian, terasa kepalaku seperti ditarik Mama sambil berkata, "Maas... sudaaaah sayaaaaang. Mama nggak tahaaan. Kalau kamu gituin terus. Sini... yaaaang".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu kuikuti tarikan tangan Mama dan aku langsung naik diatas badan Mama dan setelah itu kudengar mama seperti berbisik di telingaku, "Mas, masukin lagi... punyamu... sayaaang... Mama sudah ngak tahan... ya aang", dan tanpa membuang-buang waktu, kuangkat kedua kaki Mami dan kutaruh diatas pundakku sambil ingin mempraktekkan seperti apa yang kulihat di blue film yang sering kulihat dan sambil kupegang batang kontolku, kuarahkan ke memek Mama yang bibirnya terbuka lebar lalu kutusukkan pelan2, sedangkan mama dengan menutup matanya seperti pasrah saja dengan apa yang kuperbuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena memek Mama masih tetap basah dan apalagi baru kujilat dan kuisap-isap, membuat memek mama semakin basah sehingga sodokan kontolku dapat dengan mudah memasuki lobang memek Mama.&lt;br /&gt;Mama mulai meggerakkan pantatnya naik turun mengikuti gerakan kontolku yang keluar masuk memeknya.&lt;br /&gt;"Mas, terus teken yang kuat", desah mama dan tanpa perintah kedua kalinya, akupun menggenjot memeknya lebih kuat sehingga terdengar bunyi "crroooooot... croooott", mungkin akibat memek mamaku yang sudah basah sekali.&lt;br /&gt;"Ayyooo maaasss", serunya lagi dengan nafasnya yang sudah tersengal sengal.&lt;br /&gt;"Maas... turunkan kaki mama", mintanya dan sambil kontolku masih kusodok sodokkan kedalam memek mama, satu persatu kakinya kuturunkan dari bahuku dan akupun sudah menempel tubuh mama serta mama mulai menciumi seluruh wajahku sampai basah semua...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nggak lama kemudian gerakan pantat mama yang berputar itu semakin cepat dan kedua tangannya mencengkeram kuat2 di pantatku dan... tiba-tiba mama melepas ciumanku serta berkata tersendat-sendat agak keras ".. Maaaaassss... mama.. haam.. piirr.. maaaas... aa... yyoooo ..maass.. cepppaaaat..'&lt;br /&gt;Moment ini nggak kusia-siakan, karena aku sudah nggak kuat menahan desakan pejuku yang akan keluar. "Ayyooo maaaah... Aduuuh... maaah...", sambil kutekan kontolku kuat2 kedalam memek mama dan kurasakan cengkeraman kuat kedua tangan mama di pantatku makin keras dan agak sakit seakan ada kukunya yang menusuk pantatku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuperhatikan mama dengan nafas yang masih ter-engah2 terdiam lemas seperti tanpa tenaga dan kedua tangannya walau terkulai tapi masih dalam posisi memelukku, sedangkan posisiku yang masih diatas tubuh mama dengan kontolku masih menancap semuanya didalam memeknya.&lt;br /&gt;Karena mama hanya diam saja tapi nafasnya mulai agar teratur, aku berpikir mama mau istirahat atau langsung tidur, lalu kuangkat pantatku pelan2 untuk mencabut kontolku yang masih ada di dalam memek mama, eeehh... nggak tahunya mama dengan kedua tangannya yang masih tetap di punggungku dan memiringkan badannya sehingga aku tergeletak disampingnya lalu dengan matanya masih terpejam dia berguman pelan, "Maaas... biarkan.. Mas. Biarkan punyamu itu didalam sebentar. Rasanya enak... ada yang mengganjel didalam...", sambil mencium bibirku mesra sekali dan kami terus ketiduran sambil berpelukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah berapa lama aku sudah tertidur dan akhirnya aku terbangun karena aku merasakan ada sesuatu yang menghisap-hisap kontolku. Ketika kulihat jam diding, kulihat sudah jam 5 pagi dan kulihat pula mamaku sudah berada di bagian bawah lagi asyik mengulum dan mengocok ngocok kontolku. Aku pura2 masih tidur sambil menikmati kuluman mulut mama di kontolku. Mama mengulum kontolku dan memainkan dengan lidahnya, aku terasa geli.&lt;br /&gt;Sambil mengulum, terasa kelembutan jari jemari mama mengusap dan membelai batang kontolku. Diusap dan diurutnya keatas dan kebawah. Terasa mau tercabut batang kontolku diperlakukan seperti itu. Aku hanya mendesis geli sambil mendongakkan kepala menahan nikmat yang luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, giliran pangkal paha kananku diselusurinya. Lidah mama mengusap-usap pangkal pahaku, terus menyusur ke paha dan terus naik lagi ke buah zakar, ke batang kontolku, ke kepala kontolku, enuaaaknyaa.&lt;br /&gt;Tetapi lama lama tidak tahan juga sehingga mau tak mau pantanku pun mulai kugerakkan naik turun dan yang membuat mama nengok kearahku dan melepas kuluman di kontolku tapi tetap masih memeganginya.&lt;br /&gt;"Sudah bangun saayaaang.", katanya dengan suara lembut.&lt;br /&gt;"Terus maaah, enaaaaakk", kataku dan kembali mamaku mengulum kontolku sehingga terlihat kontolku keluar masuk mulut mama. Setelah beberapa lama kontolku dikulum dan mengurut batang kontolku, tiba-tiba saja mama melepas kontolku. Kini, lidah mama sudah naik menyusuri perutku, menjilat-jilat pusarku, terus naik lagi ke dada kanan, melumuri puting susu kananku dengan air liur yang hangat, lalu ke leher, dan akhirnya ke mulutku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lidah mama ketika memasuki mulutku, kugigit sedikit dengan gemas... Tiba-tiba, aduuhhhh... aku merasa batang kemaluanku memasuki jepitan daging hangat, kenyal dan berlendir.... memek mama. Rupanya saat mulutku asyik menikmati lidahnya, mama menyodokkan vaginanya ke kontolku yang memang sudah tegang sekali. Tanpa mengeluarkan lidahnya dari mulutku, mama mulai menekan pantatnya ke bawah. "Blesssss...", kontolku menerobos masuk kedalam memek mama. Hangat rasanya.&lt;br /&gt;Mama terus melakukan gerakan memompa.&lt;br /&gt;Aduhhhhh batang kontolku merasakan elusan dan remasan dinding vagina mama... Akupun menggelepar sehingga lidah mama keluar dari mulutku. Tapi lidah mama terus mengejar mulutku sehingga bisa kembali masuk ke dalam mulutku. Sementara pantatnya tetap memompa dan terdengar bunyia "crooot... croott..."&lt;br /&gt;"Aduhhhh... enaaaknya", seruku tanpa sadar.&lt;br /&gt;"Enaaak sayaaaaang?", tanya mama.&lt;br /&gt;"Terruuss maaaaah, enak sekali..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba saja mama melepaskan mulutnya dari mulutku. Lalu tangan mama diletakkan dan bertumpu di dadaku, serta mulai naik turun memompa dan memutar-mutar pantatnya.&lt;br /&gt;"Serrrr... serrr..."&lt;br /&gt;Batang kontolku pun serasa ikut terputar seirama dengan putaran pantat mama.&lt;br /&gt;"Addduuuuuuhhhh, maaaaah, aku nggak tahaannn nih..." ,desisku.&lt;br /&gt;Mama kelihatannya tidak ambil pusing dengan rintihanku, dia tetap memutar, memompa, memutar, memompa pantatnya, tapi nafasnya pun sudah begitu cepat.&lt;br /&gt;Tetek mama yang ada dihadapanku pun juga ikut tergoyang-goyang seirama dengan gerakkan tubuhnya dan kuremas remas keduanya dengan tanganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar beberapa menit aku terombang-ambing dalam kenikmatan yang luar biasa, sampai akhirnya ketika ibu mulai mengubah posisi dengan membalik tubuhku sehingga aku sekarang sudah berada diatas tubuh mama dan nafas mama kuperhatikan sudah begitu cepat.&lt;br /&gt;"Maaaas... ceeepaaaat, teken yang kuat maaass", perintahnya sambil memeluk punggungku erat-erat serta menggerakkan pinggulnya naik turun dengan cepat sehingga membuat kontolku terasa sedikit ngilu.&lt;br /&gt;"Cepaaaat Maaas", serunya lagi dengan nada suara yang cukup keras seraya tangannya mendekap punggungku kuat-kuat. Mungkin mama sudah mendekati orgasmenya barangkali, padahal akupun sudah hampir tidak kuat menahan air maniku agar tidak keluar.&lt;br /&gt;"Ini maaaah. Ini tahan yaaa maaah...", sahutku seraya kugenjot memek mama kuat2 beberapa kali.&lt;br /&gt;"Ter..rrruss..saaayang terruuuus", katanya lagi dengan gerakan pinggulnya semakin liar saja.&lt;br /&gt;"Maaah...maaaaaaah. Aku gak tahan lagiiiiiii", teriakku kuat-kuat kutekan kontolku lebih kuat lagi kedalam memek mama dan "crreeeeet...", air maniku akhirnya jebol dan menyemprot kuat kedalam memek mama dan mungkin setelah menerima semprotan air maniku akhirnya mama pun berteriak, "Maaaaassss, mama juuuugaaaaaaaa", teriaknya sambil merangkulkan kedua kakinya kuat2 dipunggungku dan cengkeraman tangannya pun membuat punggungku terasa sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akupun akhirnya menjatuhkan tubuh ku disamping mama dan sama2 terengah engah kecapaian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah nafas kami mulai teratur, sambil memelukku mama berkata serasa berbisik dekat telingaku.&lt;br /&gt;"Enaaak.. maaaaaasss?"&lt;br /&gt;"Enak sekali maaaah.".&lt;br /&gt;"Mas, jangan sampai ada yang tahu soal ini yaaaa? Kamu kan bisa jaga rahasia kita ya", kata mama.&lt;br /&gt;"Iya maaah".&lt;br /&gt;"Dan satu lagi...", kata mama sambil memandangku tajam.&lt;br /&gt;"Apa itu Maaah?"&lt;br /&gt;"Yang ini punya mama. Jangan kamu kasihkan ke orang lain ya?", katanya seraya mencengkeram kontolku yang lagi tidur kecapean dan mengelus elusnya.&lt;br /&gt;"Janji ya.. saaaayang?", tambahnya lagi.&lt;br /&gt;"Asal ini semua juga buat saya ya Maaah.", sahutku sambil kuremas memek mama dan kueluskan jariku dibelahan memek mama yang masih terasa basah oleh air maniku.&lt;br /&gt;Akhirnya kami tertawa berbarengan dan tiba2 saja ada ketukan di pintu kamar, "Buuuu... sudah siang!". Rupanya ketukan dari pembantu karena saat itu sudah jam 9.00 pagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, mama selalu tidak pernah absen mengunjungiku di Bandung atau kalau mama berhalangan, maka akulah yang datang ke Jakarta.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8096187244134823528-6079788597680463898?l=alita-dee.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alita-dee.blogspot.com/feeds/6079788597680463898/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://alita-dee.blogspot.com/2009/06/memijiti-mama_30.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8096187244134823528/posts/default/6079788597680463898'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8096187244134823528/posts/default/6079788597680463898'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alita-dee.blogspot.com/2009/06/memijiti-mama_30.html' title='Memijiti Mama'/><author><name>dee alita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15608335270076570228</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_klCrRrqSP08/SfEyqgcHvAI/AAAAAAAAAAk/RLjidh3m4gM/S220/gueeeeeeeeeeeeee.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8096187244134823528.post-5886652794673835931</id><published>2009-06-30T01:45:00.000-07:00</published><updated>2009-06-30T01:46:19.218-07:00</updated><title type='text'>Nini Yang Misterius</title><content type='html'>Nini tidak tinggal diam, badannya disusupkan telentang di bawah badan Rara. Kepalanya sekarang berada tepat di bawah vagina Rara sehingga dapat melihat dengan jelas penisku yang keluar masuk vagina Rara. Ditariknya bantal dan ditempatkan di bawah kepalanya. Nini mulai menjilati klitoris Rara dan penisku setiap kali penisku keluar dari vagina Rara. Rara tampak sangat menikmati tusukan penisku dan jilatan Nini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aahh.. Aakkuu.. Kkeelluuaarr.. Ohh.. Ohh.. Aacchh.. Yyeess.. i'm cumming!" jeritnya menikmati saat mencapai klimaks sementara penisku terasa dipijat dan diremas-remas oleh vaginanya yang mengeluarkan cairan hangat dan menyiram batang penisku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kucabut penisku, ganti Nini menghisap vagina Rara dan menjilati seluruh cairan yang keluar dari vagina Rara. Aku mulai mengarahkan lidahku ke anus Rara, kudorong lidahku dalam-dalam lalu kusedot kuat-kuat. Rara berkelojotan diserang oleh kami berdua hingga Rara ambruk menindih Nini yang berada di bawahnya. Lalu aku berciuman dengan Nini sambil sesekali menjilat vagina dan anus Rara yang berada tepat di hadapan kami berdua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang Nini duduk menghadap kami berdua sambil meraba dan melakukan masturbasi. Keadaan ini membuatku semakin bersemangat, lalu kuminta Rara untuk mengubah posisi dan menggenjotnya. Aku mendudukkan Rara di meja dan aku berada di depannya. Rara telentang di atas meja. Aku mengangkat kedua kakinya dan aku letakkan di pundakku hingga membuat penisku langsung menghadap vagina Rara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kumasukkan batang kejantananku dan aku menggenjot Rara lagi. Nini naik ke atas meja dan menduduki wajah Rara hingga mau tak mau Rara mengeluarkan lidahnya dan mengaduk-aduk vagina Nini. Sesekali Nini juga menyodorkan anusnya untuk dijilat Rara hingga tak ada jalan lain bagi Rara untuk juga menjilati dan menyedotnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Shh.. Aahh.. Yyeess.. Keluarin.. Ach. Ach.. Yyeeahh" desahnya nikmat. Sementara tanganku masih meremas kedua payudaranya, kedua tangan Rara mencengkeram pinggir meja makan dan..&lt;br /&gt;"Oohh.. Vir.. Aammppuunn.. Aakkuu.. Gaakk.. Kuuatt..!" jeritnya menikmati klimaks untuk kedua kalinya. Lalu Rara berdiri dan menciumku.&lt;br /&gt;"Makasih ya Viir.. Kontol kamu enak banget" bisiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Nini yang masih mengusap dan memasukkan jarinya ke vaginanya mendorongku hingga telentang dan memasukkan penisku yang masih tegang agar masuk ke vaginanya. Nini mulai menggenjot. Kuraih kepala Rara, kucium lalu kuminta dia agar menghisap anus Nini dari belakang. Rara segera melakukan yang kuminta, jarinya didorong memasuki anus Nini dan mengocoknya dari pelan menjadi semakin cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oohh.. Ra.. Kamu nakal.." jerit Nini nikmat ketika aku menyodok vaginanya dengan penisku serta Rara mengorek anusnya.&lt;br /&gt;"Cepet Say.. Cepet Say.. Aku.. Keluar.. Aakkuu.. Aahh.. Aahh..!" jerit Nini, badannya bergetar mencapai klimaks. Aku terus menggenjot Nini dan..&lt;br /&gt;"Aahh.. Nini..!" jeritku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nini buru-buru mencabut dan menghisap penisku. Aku klimaks lagi. Nini menelan sebagian spermaku dan Rara menghampiri untuk minta bagian. Lalu mereka saling berciuman dengan hangat dan bermain-main dengan spermaku. Kemudian Rara terduduk memandangiku sambil tersenyum. Setelah itu aku mandi dan mengganti baju di kamar. Dari kamar mandi yang pintunya tidak kututup, aku dapat mendengar pembicaraan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wah.. Ni, gila bener lu.. Permainan lu menakjubkan, pantas saja kata Virano, lu is the best, kalian seimbang ya?" kata Rara.&lt;br /&gt;"He is the best for me too Ra.., waktu pertama kali main sama dia, agak kewalahan juga gua, kalo sekarang gua dan dia udah biasa dan memang gua rasa, kami seimbang dan cocok. Gua bisa sangat terbuka, demikian juga dia dalam soal sex. Padalah gua juga baru kenal 3 hari yang lalu, tapi rasanya sudah kenal berbulan-bulan" kata Nini.&lt;br /&gt;"Gua baru kali ini main bertiga gini lho" kata Rara.&lt;br /&gt;"Gak pa-pa lah. Buat sekali-kali cari sensasi. Dari pada ama suami sendiri terus. Bosen. Gayanya gitu-gitu aja kan?" Nini membalas.&lt;br /&gt;"Tapi jujur lho. Baru kali ini gue ngesex dengan sepenuh hati kaya tadi. Nafsu birahi benar benar membakar tubuhku, gua nggak sadar kenapa bisa gua lakukan hal-hal seperti tadi" kata Rara lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku keluar dari kamar mandi lalu berbaring kecapaian di ranjang. Sementara Nini dan Rara terus mengobrol, aku tertidur. Pada jam 5 aku terbangun, kulihat mereka telah tertidur di sampingku. Kujilat puting susu Nini lalu beralih ke vaginanya. Nini terbangun lalu tangannya bergerak mencari penisku, dielus elus dan dikocoknya. Aku mendekat ke telinga Nini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mau sensasi lebih?" bisikku.&lt;br /&gt;"Siapa lagi?" rupanya Nini mengerti maksudku.&lt;br /&gt;"Arif" sahutku pelan.&lt;br /&gt;"Lebih baik jangan, karena tampaknya dia tahu siapa aku" sahutnya, aku membenarkannya.&lt;br /&gt;"OK, kita keluar malam ini bertiga, kamu boleh menentukan cowok yang kamu sukai, nanti biar aku yang atur" kataku.&lt;br /&gt;"Deal" sambutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah makan malam, kami bertiga mengunjungi sebuah club yang berada di tepi pantai kawasan Legian. Nini memakai rok terusan ketat mini warna kulit berbahan kaus tipis agak transparan mencetak tubuhnya, tanpa lengan dengan belahan V yang rendah hingga memperlihatkan sebagian buah dadanya yang tidak mengenakan BH. Rara mengejutkanku, dia memakai rok terusan hitam yang dia pakai saat pertama kali ngesex denganku 7 tahun silam, namun kali ini dia tidak mengenakan BH.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hey, Ra.. Aku masih ingat baju itu, kamu masih menyimpannya?" aku bertanya.&lt;br /&gt;"Sejak saat itu aku simpan dan tidak pernah kupakai, baru kali ini kupakai lagi" jawabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat beberapa gelas minuman telah habis, Nini mulai tampak liar, berdansa meliuk-liukan badannya sambil tangannya terkadang diangkat ke atas membuat rangsangan pada kaum lelaki. Karena club ini open air dan tidak ada AC, sebentar saja tubuh Nini telah berkeringat hingga membuat bajunya basah dan memperlihatkan bentuk tubuhnya dengan jelas. Bagian dadanya sangat jelas tampak dengan puting yang tercetak di dadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan Rara pun telah bergelayut di leherku sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya hingga kembali membuat penisku menegang sementara Nini di sampingku. Kulihat seorang pria mencoba mendekati Nini dan bergoyang di depannya. Nini dengan demonstratif menari semakin erotis di hadapan pria itu. Kulihat pria tersebut, lumayan keren.. Akhirnya kulihat Nini sudah memegang pinggang cowok tersebut sambil menggesekkan bagian bawah perutnya ke penis cowok tersebut hingga keenakan cowok tersebut dibuatnya. Terlihat cowok tersebut memegang erat pantat Nini dan meremasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Vir.. Kenapa kamu biarkan Nini seperti itu? Kamu nggak marah..?" Rara bertanya.&lt;br /&gt;"I am an easy going person, Sayang, kalau dia senang melakukan itu, biarlah dia melakukannya" jawabku.&lt;br /&gt;"Kalian sangat moderat ya" bisiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil masih berpelukan dengan cowok tersebut, Nini melangkah mundur mendekatiku lalu menyandar di badanku sehingga tangan cowok tersebut terjepit di antara Nini dan aku, tapi cepat cepat ditariknya tangannya. Nini menarik tangan kiriku dan dibawanya ke pantatnya kemudian aku raba pantatnya sampai ke pinggangnya. Kubisikan sambil kujilat telinganya di depan muka sang cowok..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu nggak pakai CD ya?" Nini membalikkan wajahnya sambil tersenyum padaku.&lt;br /&gt;"Katanya disuruh cari sensasi baru?" jawabnya manja sambil diraihnya kepalaku dengan tangan kanannya, lalu kami berciuman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara tangan kananku masih memeluk Rara, jari kiriku kumasukan ke mulut Nini agar basah, lalu menjalar ke balik roknya mencari lubang anusnya. Setelah kutemukan, kukorek dan kumasukkan jariku ke dalam anusnya. Nini menggelinjang lalu diraihnya tangan kiriku dan dibawanya ke arah dadanya melewati pinggangnya lalu kuremas dadanya. Tak hanya sampai di situ, tangan kiri Nini menjalar ke belakang menggapai penisku yang telah mengeras lalu diremas-remasnya dengan penuh nafsu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nini melakukan semua itu dengan liarnya di depan hidung sang cowok itu hingga cowok tersebut memandang sampai terbengong-bengong tak dapat berkata apa pun melihat kelakuan Nini. Akhirnya Nini melepaskan ciumannya padaku dan kembali menghadap ke depan lalu menarik leher cowok tersebut. Kudengar Nini berkata..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tadi lu ngajak gua ngewe kan?" Cowok tersebut masih bengong.&lt;br /&gt;"Dia ini cowokku, tapi gua malam ini mau cowok satu lagi, kalau lu bisa penuhi dua syarat gua, mungkin lu bisa ikut kami bertiga sekarang" Nini berkata lagi.&lt;br /&gt;"Syaratnya apa?" tanya cowok tersebut.&lt;br /&gt;"Pertama gua mau coba lidah lu di vagina gua sekarang" Wah, Nini sangat liar malam ini, pikirku.&lt;br /&gt;"Kedua, kontol lu musti setidaknya sama besar dan panjang seperti cowok gua" tantang Nini. Aku setengah terkejut mendengar syarat Nini tapi aku juga tersenyum mendengar persyaratan yang kedua itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin cowo tersebut sudah sedemikian bernafsunya sehingga mengiyakan saja syarat yang diminta Nini. Kebetulan meja kami berada di pojok dekat pinggir laut dan berada di kegelapan. Nini yang duduk di kursi tinggi lalu menarik roknya ke atas serta membuka kakinya. Cowok tersebut menunduk dan mulai menjilat vagina Nini sementara Nini tetap menggoyangkan badannya. Sekitar semenit cowo tersebut menjilat vagina Nini lalu Nini menghentikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sudah, sudah, not bad.." kata Nini akhirnya.&lt;br /&gt;"Sekarang lu kan sudah terangsang jilatin vagina gua, coba gua pegang kontol lu", dengan enteng Nini meraih celana cowok tersebut lalu membuka ritsletingnya dan mengeluarkan penis cowok tersebut. Berukuran kira-kira 13 cm, tapi lingkarannya kecil, mungkin 3 cm saja. Hmm.. Aku tersenyum melihatnya.&lt;br /&gt;"Nggak lulus, punya cowok gua lebih panjang dan besar, perlu bukti??", Nini meraih celanaku dan mengeluarkan penisku yang masih lemas. Nini menundukkan kepalanya lalu mulai menjilat dan menghisap penisku. Seketika itu pula penisku mengeras namun belum sempurna. Nini melepaskan kulumannya dan meminta cowok tersebut untuk melihatnya.&lt;br /&gt;"Percaya?" kata Nini sambil dengan kurang ajar sedikit mendorong kepala cowok tersebut ke bawah untuk dapat melihat dengan jelas penisku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cowok tersebut pergi meninggalkan kami dengan kecewa dan Nini hanya tertawa sambil meneruskan goyangannya. Untung saja kami berada di pojok kegelapan dan yakin bahwa tidak ada orang yang mengetahui perbuatan Nini tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Huuh.. Apakah sensasiku cukup menarik buat kamu, Sayang?" kata Nini.&lt;br /&gt;"Lu gila Ni.. Gimana kalau cowok tadi marah lu permainkan gitu?" kata Rara.&lt;br /&gt;"Kalau dia marah, paling-paling gua kasih blow job, bereslah" jawab Nini seenaknya.&lt;br /&gt;"Mau di sini terus atau mau pindah?" ajak Nini.&lt;br /&gt;"Pindah aja" tegas Rara.&lt;br /&gt;"Pusing gua liat Nini, lama-lama jadi horny lagi gua" lanjutnya.&lt;br /&gt;"Bukannya memang udah horny lu, tuh ada Virano bisa bantuin lu, atau mau sama gua lagi? Tapi Virano juga musti ikut, soalnya gua kan bukan lesbi asli" kata Nini seenaknya.&lt;br /&gt;"Mumpung di Bali, jarang ada yang kenal, kalau di Jakarta nggak mungkin lah gua kaya begitu" katanya pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu kami meninggalkan tempat itu menuju hotel. Aku dan Nini berdua mengeroyok Rara habis-habisan sampai Rara berteriak menyerah setelah orgasmenya yang ke-5, sedangkan aku dan Nini masing masing orgasme sekali. Lalu kami mengantar Rara pulang ke rumahnya dan kami kembali ke hotel melanjutkan nafsu yang tertahan karena aku masih ingin memberi kenikmatan lebih pada Nini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam sudah menunjukkan pukul 5 pagi. Sore harinya Rara akan datang kembali ke hotel. Aku dan Nini kembali ke Jakarta pada hari Senin dengan pesawat yang berbeda tentunya. Hubungan sex-ku dengan Nini terus berlanjut 3-4 kali dalam sebulan dan berlangsung kurang lebih selama 3 tahun. Kalau di Jakarta pasti dilakukan di rumahnya, tapi kadang kami juga pergi ke luar kota atau luar negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Variasi dan teknik permainan Nini yang begitu beragam seakan tidak pernah ada habisnya, selalu saja ada kejutan-kejutan baru yang sampai dengan saat tulisan ini dibuat, menurutku she is the best amongst all up to now. Saat itu pernah aku berpikir, tidak heran bahwa Nini dapat memperoleh kehidupan yang sedemikian mapan serta teknik permainan sex yang luar biasa seperti itu karena mungkin hal ini memang sangat berhubungan erat dengan pekerjaan dan karier yang dibinanya selama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Profesinya itulah yang kubiarkan tetap menjadi misteri dalam cerita ini, barangkali saja ada pembaca yang bisa mengungkap. Atau mungkin saja ada di antara pembaca yang juga pernah berhubungan dengan Nini sehingga tentunya akan dengan mudah menebak siapa dia sebenarnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8096187244134823528-5886652794673835931?l=alita-dee.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alita-dee.blogspot.com/feeds/5886652794673835931/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://alita-dee.blogspot.com/2009/06/nini-yang-misterius.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8096187244134823528/posts/default/5886652794673835931'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8096187244134823528/posts/default/5886652794673835931'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alita-dee.blogspot.com/2009/06/nini-yang-misterius.html' title='Nini Yang Misterius'/><author><name>dee alita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15608335270076570228</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_klCrRrqSP08/SfEyqgcHvAI/AAAAAAAAAAk/RLjidh3m4gM/S220/gueeeeeeeeeeeeee.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8096187244134823528.post-3261734239954119145</id><published>2009-06-30T01:42:00.000-07:00</published><updated>2009-06-30T01:44:59.415-07:00</updated><title type='text'>Kencan Waria di Jakarta</title><content type='html'>Berti minta aku tiarap dengan pantatku diangkat tinggi sehingga lubang analku terpampang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ambil nafas dan relaks," seperti suhu relaksasi yang mengajari para muridnya bagaimana harus bersikap relaks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurasakan ujung kontolnya menyentuhi lubang analku. Sementara sebelumnya Berti telah melumasi lubangku dan ujung kontolnya dengan ludahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ahh.. Sakit Berr.." aku mengaduh.&lt;br /&gt;"Sabar Mass.. N'tar enak dehh.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berusaha percaya. Namun ketika bonggol gede itu kembali berusaha menguak lubangku aku kembali berteriak sakit. Untung aku bukan orang yang mudah menyerah. Kupastikan kontol itu bisa menembusi analku. Aku bertahan dan menahan rasa sakit dengan berusaha lebih relaks dan kendor sambil mengatur nafasku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya gerbang kritis terlewati. Kontol Berti yang telah menyeruak ke gerbang analku sementara berdiam memberi kesempatan padaku untuk adaptasi. Di lain bagian bibir Berti terus melumati punggung dan belikatku. Dia berusaha merawat hasrat syahwatku. Rasa aneh menyelimutiku. Ada benda hangat kini menyumpal lubang pantatku. Namun bukan hanya rasa aneh, pelan-pelan saraf peka di dinding analku memberikan sinyal nikmat. Kontol Berti terasa nikmat menyentuhi dinding analku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Terus maass.. Enakk.." aku jadi bersemangat banget.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berti mulai mendorong lagi. Kini disamping rasa sakit aku juga merasakan nikmat legit kontol gede yang menyeruak lubang taiku. Blezz.. Rasa itu sungguh sangat nikmat. Kepala dan batang kontol Berti yang segede jagung bakar itu menyentuhi saraf peka analku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan puncak kesakitan akhirnya datang. Namun aku sudah tak mampu menghindar. Berti memeluk erat tubuhku. Seperti anjing kawin, dengan setengah menaiki tubuhku tanpa ampun Berti menggenjot dan mengayun-ayunkan kontolnya. Analku seakan dimasuki pipa panas. Aku menjerit tanpa suara, aku meremasi kasur pondokkan itu. Seluruh tubuhku merasakan sakit dan mengeluarkan keringat dengan derasnya. Aku pengin pingsan rasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahh.. Pada ujungnya siksa ini ditutup dengan nikmat syahwat. Saat ayunan mengencang dengan sangat cepat aku terjatuh meratap ke kasur. Dan bersamaan itu datang kedutan besar kontol Berti yang disusul siraman hangat spermanya. Berti mendapatkan ejakulasinya. Dia juga langsung rubuh. Namun siraman hangat itu seperti air es yang memadamkan panas duburku. Aku mendapatkan sensasi seksual dari muncratnya sperma Berti ke lubang analku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pedihnya pantatku berlangsung hingga 3 hari. Namun pada hari-hari itu juga aku dipenuhi kenangan erotis. Aku melakukan masturbasi. Aku mengkhayal kontol Berti menusuki analku hingga kontolku menyemprotkan pejuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waria Terminal Grogol, cerita Abong&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pulang kampus sekitar jam 9 malam aku nunggu kendaraan omprengan di halte depan terminal Grogol. Setelah menunggu cukup lama tak ada omprengan sedianya menyeberang jalan nunggu dari arah lain, namun seseorang menyapa aku,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hai ganteng, mau kemana? Bagi rokok donk?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, lagi-lagi waria. Ngapain ngasih rokok lu, suara dalam hatiku. Namun aku nggak tega. Kusodorkan juga sebatang dengan apinya. Dia tersenyum padaku. Ternyata manis banget nih banci, pikirku Saat tersenyum tadi kulihat pipinya yang 'dekik', dan itu membuatnya nampak manis. Aku tak lagi terburu-buru pergi. Kusempatkan waktuku untuk ngomong,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Siapa namamu Mbak?"&lt;br /&gt;"Erni, Mas. Mau kemana sih, kok buru-buru? Duduk dulu yok"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pikir OK sajalah. Aku bisa pulang ke tempat kost jam berapa saja. Erni mengajak aku minggir dan mepet ke tembok. Di situ ada batu kanstin sisa bangunan jalan yang tertinggal. Tangan-tangan kami saling menjelajah tubuh, saling raba dan remas hingga hasrat syahwat melonjak tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kita pindah ke dalam yok," ajaknya.&lt;br /&gt;"Ke dalam mana?"&lt;br /&gt;"Ada tempat yang nggak banyak orang di sana, ayoo," aku heran, itu khan kampusku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun nafsu birahi yang telah menggelegak membuat pertimbanganku asal OK saja. Ternyata dia mangajak aku ke belakang gardu PLN yang gelap remang-remang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aman nggak?" tanyaku khawatir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun Erni langsung saja hendak mengeluarkan kontolku dari celana. Aku pegang tangannya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku dulu yang ngisep kamu punya," kataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soalnya aku akan kehilangan selera kalau sudah telanjur pejuhku muncrat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berjongkok dan merogoh kontol dari roknya. Aku mulai mengisepnya. Kontol yang tak terlampau gede. Pas untuk mulutku. Erni mulai naik tensinya. Kepalaku diraihnya. Pantatnya maju mundur ngentot mulutku. Nafsu birahiku menyala. Rasanya aku mau makan dan telan apa saja yang keluar dari anak manis ini. Aku merintih dan mendesah dalam sesaknya kontol di mulutku. Aku merasakan kontol Erni semakin kaku dan keras. Sementara pantatnya semakin cepat maju mundur. Erni sedang menunggu muncratnya spermanya. Aku mencoba menyempitkan kuluman bibirku. Lidahku kuputar-putar untuk memberikan nikmat pada ujung kontolnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan jambakan yang pedih di rambutku kontol Erni berkedut-kedut yang kemudian disusuli pejuhnya yang tumpah ruah ke mulutku. Aku sibuk mengunyah dan menelannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sudah lebih dari seminggu pejuhku nggak keluar, Mas," dia memberikan info kenapa begitu banyak pejuhnya.&lt;br /&gt;"Sekarang gantian. Mas keluarin ya..." dia melepasi celanaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali kutahan. Aku ingin lain. Terobsesi dalam khayal birahiku untuk menikmati ludah Erni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku pengin ngocok sendiri kontolku. Kamu ludahi saja mulutku ya".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya Erni tahu keinginan erotisku. Dia menganggukkan kepalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Boleh. Mas suka ya?" aku tak perlu menjawabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kembali berjongkok. Atau kami sama-sama berduduk. Dan akhirnya kami temukan posisi yang enak. Erni duduk setengah jongkok di semen gardu itu dan aku telentang selonjor dengan kepalaku ditahan tangannya di pangkuannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa kali Erni meludahi mulutku sementara tanganku mengocok kontolku. Kulihat setiap kali mulutnya mengumpulkan liur berikut busanya untuk diludahkan ke mulutku. Kocokkan kontolku semakin cepat. Khayal birahiku mengajak aku terbang ke awang. Aku memasuki alam nikmat tanpa batas. Ludah Erni membasahi tenggorokanku. Saraf pekaku mengisyaratkan air maniku akan tumpah. Aku terus menganga menunggu buangan ludahnya. Aarrcchh.. Aarrcchh..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kontolku berdenyut keras. Airmaniku muncrat ke langit. Kembali berkedut dan muncrat. Muncrat lagi.. Dduuhh.. Ternyata sangat nikmat bermain syahwat birahi dengan banci semanis Erni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutinggalkan rokok yang tersisa dalam bungkusan untuk Erni. Kuberikan seluruh uangku yang di dompet yang hanya 20 ribu rupiah. Aku cukup beberapa recehan untuk pulang. Aku berjanji untuk ketemu lagi dengannya kalau kiriman uang dari 'ortu' sudah sampai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waria Bekasi, Cerita Tarjo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagiku Bekasi adalah Jakarta juga. Dan pangkalan waria Bekasi yang di sepanjang rel KA di belakang pompa bensin ii salah satu tempat yang paling sering aku datangi. Soalnya tidak begitu jauh dari rumahku yang di kompleks Jaka Sampurna, Kali Malang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesudah mengisi bensin aku parkir dan titip mobil pada penjaga pompa. Dengan 10 ribu rupiah dia akan menjaga sepenuhnya mobil bututku ini. Tempat ini cukup ramai dan banyak orang Jakarta yang datang ke mari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sudah pernah berhubungan dengan beberapa waria Bekasi ini. Aku suka mengisepi kontol mereka dan minum spermanya. Itu memang obsesi seksualku. Ada yang gede panjang, ada yang sedang-sedang saja atau bahkan yang kecil. Dari yang kecil ini bahkan bisa mengeluarkan sperma sangat banyaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku juga tak pernah melewatkan untuk menjilati dan mencium ketiak mereka. Bau ketiak-ketiak para waria sungguh-sungguh sangat mendongkrak syahwat birahiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku juga suka mencium dan menjilati lubang dubur. Waria yang cantik, atau setidaknya nampak bersih selalu menggoda syahwatku untuk menjilati pantatnya. Sungguh nikmat saat menyedot-nyedot lubang tai sambil mendengarkan desah atau rintih nikmat dari bibir-bibir waria ini. Tangan mereka menggapai-gapai untuk meraih rambutku dan meremasinya. Bagiku aroma lubang tai sangat menjanjikan kepuasan orgasme yang sangat tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan pernah seorang waria yang baru kukenal, dia baru datang dari Sukabumi, aku tungguin saat dia buang air besar di sawah di dekat rel itu. Aku bisikkan padanya bahwa aku ingin mencebokinya. Dan aku akan memberikan 100 ribu rupiah untuk kesempatan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namanya Erna, 19 tahun. Jangkung, mungkin hampir 170 cm, berkulit kuning, buah dadanya sangat ranum, dadanya bidang dengan bahu dan ketiaknya yang sangat mempesona. Aku langsung mendekatinya saat melihatnya datang turun dari ojek. Aku menggamitnya. Pikirku, biarlah malam ini aku akan habiskan waktuku dengan dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memakai rok terusan berwana gelap kulit kuningnya sangat resep di pandangan mataku. Rasanya aku jatuh cinta pada Erna ini. Aku ajak Erna ke tenda kumuh yang paling mewah milik Cak Rus penjaga sawah di situ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sudah mulai menggeluti tubuh sensualnya saat dia bilang perutnya mules dan pengin berak dulu. Tak masalah. Aku bisa menunggunya. Erna keluar tenda dan melangkah berjalan di pematang menjauh dari keramaian.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8096187244134823528-3261734239954119145?l=alita-dee.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alita-dee.blogspot.com/feeds/3261734239954119145/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://alita-dee.blogspot.com/2009/06/kencan-waria-di-jakarta.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8096187244134823528/posts/default/3261734239954119145'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8096187244134823528/posts/default/3261734239954119145'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alita-dee.blogspot.com/2009/06/kencan-waria-di-jakarta.html' title='Kencan Waria di Jakarta'/><author><name>dee alita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15608335270076570228</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_klCrRrqSP08/SfEyqgcHvAI/AAAAAAAAAAk/RLjidh3m4gM/S220/gueeeeeeeeeeeeee.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8096187244134823528.post-6659231412978037710</id><published>2009-06-30T01:41:00.001-07:00</published><updated>2009-06-30T01:42:01.306-07:00</updated><title type='text'>Utang Uang, Dibayar Istri</title><content type='html'>Aku sebenarnya tidak tega menagih utang pada kawanku yang satu ini. Namun, karena keadaanku juga sangat mendesak, aku memberanikan diri dengan harapan temanku bisa membayar; minimal separuhnya dulu. Sayang sekali, Darta, kawanku yang baru menikah enam bulan yang lalu ini, tak bisa membayar barang sedikit pun. Memang aku mengerti keadaannya. Ia menikah pun karena desakan orang tua Mila, yang kini jadi istrinya. Darta sendiri, sampai saat ini belum punya pekerjaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena hari sudah larut, aku tahu diri, segera permisi pada Darta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Gua jadi enggak enak nih.."&lt;br /&gt;"Sudahlah Ta. Gua gak apa-apa koq. Gua cuma nyoba aja, barangkali ada," aku menukasnya, takut membuatnya jadi beban pikiran.&lt;br /&gt;"Ma, gua mau bisikin sesuatu..' tiba-tiba Darta mendekatkan mulutnya ke arah telingaku. Dan aku benar-benar terkejut, ketika Darta menawarkan istrinya untuk kutiduri.&lt;br /&gt;"Gila lu.. Sialan.." ucapku.&lt;br /&gt;"Sstt.. Jangan berisik. Gua juga kan ingin balas budi sama elu. Soalnya eu udah banyak berbuat baik sama gua. Gak ada salahnya kan, kalau kita saling berbagi kesenangan.." begitulah ucap Darta dengan serius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang diam-diam sudah sejak lama aku selalu memperhatikan Mila. Bahkan aku pun memuji Darta, bisa mendapatkan gadis secantik Mila. Selain posturnya yang tinggi, Mila memiliki kulitnya yang putih dan mulus. Tubuhnya menggairahkan. Memang selalu terbungkus rapat, dengan baju yang longgar. Namun aku dapat membayangkan, betapa kenyalnya tubuh Mila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru melihat wajah dan jemari tangannya pun, aku memang suka langsung berpantasi; membayangkan Mila jika berada di hadapanku tanpa busana. Lalu Mila kugumuli dengan sesuka hati. Namun untuk berbuat macam-macam, rasanya kubuang jauh-jauh. Karena aku sangat tahu, Mila itu orang baik-baik, dan keturunan orang baik-baik pula. Lihat saja penampilannya, yang selalu terbungkus sopan dan rapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lu serius, Ta? Bagaimana dengan Mila? Apa dia mau?" aku pun akhirnya mulai terbuka.&lt;br /&gt;"Kita pasang strategi, donk! Kalau secara langsung, jelas istri gua kagak bakalan mau," jawabnya.&lt;br /&gt;"Gimana caranya?" aku penasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Darta kembali membisikan lagi rencana gilanya. Aku memang sangat menginginkan hal itu terjadi. Sudah kubayangkan, betapa nikmatnya bersetubuh dengan perempuan aduhai seperti Mila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mila..! Mila..! Milaa..!" Darta memanggil istrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tanpa selang waktu lama, Mila ke luar dari dalam kamarnya dengan dandanan yang tetap rapat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ada apa, Bang?" tanya Mila.&lt;br /&gt;"Tolong belikan rokok ke warung..!" kata Darta sambil merogoh uang ribuan ke dalam sakunya.&lt;br /&gt;"Baik, Bang," Mila menerima uang itu, lalu ke luar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Darta segera menyuruhku masuk ke dalam kamarnya, seraya masuk ke kolong ranjang. Aku mau saja, berbaring di tembok dingin, di bawah ranjang. Lalu Darta ke luar lagi. Pintu kamar, tampak masih terbuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak lama kemudian, terdengar suara Mila yang datang. Mereka bercakap-cakap di ruang tamu. Dan Darta mengatakan kalau aku sudah pulang, karena ada ditelepon sama bos-ku. Mila kedengarannya tidak banyak tanya. Dia tak terlalu mempedulikan kehadiranku. Hingga suara pintu yang dikunci pun, bisa terdengar dengan jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulihat dua pasang kaki memasuki kamar. Pintu ditutup. Dikunci pula. Bahkan termasuk lampu pun dimatikan, sehingga mataku tak melihat apa-apa lagi. Yang kudengar hanya suara ranjang yang berderit dan suara kecupan bibir, entah siapa yang mengecup. Lalu ada juga yang terdengar suara seleting celana, dan nafas Mila yang mulai tak beraturan. Pluk, pluk, pluk.. Sepertinya pakaian mereka mulai dilemparkan ke lantai, satu persatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Emh.. Ah.. Uh.. Oh.." Jelas, itu suara milik Mila.&lt;br /&gt;"Euh.. He.. Euh.." nah kalau itu, suara Darta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampaknya mereka sudah mulai bercumbu dengam hebatnya. Ranjang pun sampai bergoyang-goyang begitu dahsyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Emh.. Akh.. Ayo Bang.. Aduuh ss.." suara Mila membuat nafasku bergerak lebih kencang dari biasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bisa merasakan, Mila sedang ada dalam puncak nafsunya. Aku sudah tidak tahan mendengar suara dengusan nafas kedua insan yang tengah memadu berahi ini. Hingga aku mulai membuka celanaku, bajuku dan celana dalamku. Aku sudah telanjang bulat. Lalu aku bergerak perlahan, ke luar dari tempat persembunyian, kolong tempat tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski keadaan sangat gelap, namun aku masih bisa melihat dua tubuh yang bergumul. Terutama tubuh Mila, yang putih mulus. Darta sudah memasukan penisnya, dan sedang memompanya turun naik, diiringi desahan nafas yang tersengal-sengal. Konvensional. Mila sepertinya lebih menikmati berada di posisi bawah, sambil kedua tangannya memeluk erat tubuh Darta, dan kakinya menjepit pantat Darta. Aku mulai tidak tahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba Darta semakin mempercepat pompaannya. Ranjang bergoyang lebih ganas lagi. Dan suara erangan tertahan Mila semakin menjadi-jadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Emh, emh, emh, emh.. Ah.. Oh.." Hanya itu yang keluar dari mulut Mila, karena mulutnya disumpal oleh mulut Darta. Dan akhirnya.&lt;br /&gt;"Agh.. Agh..!" suara Darta mengakhiri pendakian itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun tampaknya Mila belum selesai. Terbukti, kakinya masih menyilang erat, mengunci paha Darta, agar tak segera mencabut penisnya. Tetapi apa hendak dikata, Darta sudah lemas. Ia tergolek dengan nafas yang lemah-lunglai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesempatan inilah, saatnya aku harus masuk. Demikian yang direncanakan Darta tadi. Maka tanpa ragu lagi, aku segera melompat ke atas ranjang. Meraih tubuh Mila dan langsung menindihnya. Tentu saja Mila terpekik kaget.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Siapa Kau..! Kurang ajar..! Pergi..! Ke luar..! jangan..! setaan..!" Mila berontak. Ia sangat marah tampaknya.&lt;br /&gt;"Mila, aku punya hutang pada kawanku. Berilah ia sedikit kesempatan.." Darta yang menjawab, sambil mengelus rambutnya.&lt;br /&gt;"Biadab..! Aku tidak mau..! Lepaskan..! bangsat..!" Mila mendorong tubuhku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun karena nafsuku sudah memuncak, aku tak mungkin menyerah. Kutekan lebih keras tubuhnya, sambil tanganku berusaha menuntun agar penisku segera masuk. Mila tetap meronta. Mila berkali-kali meludahi mukaku. Tetapi aku diam-diam menikmatinya. Bahkan ludahnya malah kusedot dari bibirnya, dan kutelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun liang vagina Mila sudah licin, namun penisku tetap agak seret untuk segera menembusnya. Mila terpekik, ketika aku menekan dan memaksakannya sekaligus. Bles..! Akhirnya masuk juga. Kudiamkan beberapa saat, karena aku ingin mencumbu dulu bibirnya. Mila tetap berontak, sampai akhirnya kehabisan tenaga. Akhirnya ia hanya diam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurasakan ada air mata yang mengalr dari kedua kelopak matanya. Tetapi aku semakin bernafsu. Kuremas-remas payu daranya yang ternyata memang cukup besar dan begitu kenyal. Lalu aku mulai memompa penisku. Mila terpekik kembali. Kasihan juga, aku melihatnya. Sehingga aku bergerak perlahan-lahan, sampai akhirnya vagina Mila bisa beradaptasi dengan penisku. Mila tidak bereaksi. Ia diam saja. Namun aku sangat menikmatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun Mila diam, tentunya jauh lebih nikmat dari pada melakukannya dengan patung. Aku terus memompanya, sampai napasku mulai ngos-ngosan. Kucoba menyalurkan nafasku ke arah telinga Mila. Dan hasilnya cukup bagus. Lama kelamaan, di sela isakan tangisnya, diam-diam kurasakan vaginanya diangkat, seakan Mila ingin menerima hunjaman penisku lebih dalam. Tentu saja aku semakin bersemangat. Kupompa lebih cepat lagi. Tiba-tiba isakan tangisnya berhenti, diganti dengan nafasnya yang kian memburu. Dan yang lebih mengagetkan lagi, kakinya tiba-tiba mengunci pantatku. Aku tersenyum, sambil mencumbui telinganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau menikmatinya, sayang?" bisikku.&lt;br /&gt;"Diam..!" dia membentakku. Namun aku yakin, Mila hanya tidak mau mengakui kekalahan dirinya. Buktinya, ketika penisku kucabut, Mila menekan pantatku. Tangannya pun memeluk tubuhku, agar aku merapatkannya kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu ada suara erangan dari bibirnya yang tertahan. Bersamaan erangan itu, kedua kakinya semakin erat menekan pantatku. Dan vaginanya ditekan pula ke atas. Aku pun sangat terangsang. Hingga detik-detik akhir pun akan segera tiba. Kupeluk erat pula tubuh Mila. Kugenjot lebih cepat dan lebih keras. Sampai akhirnya tiba pada genjotan yang terakhir. Aku tekan sangat kuat. Kugigit pelan lehernya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Agh.. Agh.. Agh.." Maniku keluar di dalam vaginanya. Begitupun Mila.&lt;br /&gt;"Akh.. Akh.. Akh.. Ss.." begitulah yang keluar dari mulut Mila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu kemudian Mila mendorong tubuhku dan seakan menyesali dan tak mau lagi bersentuhan denganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Posted by 17 Tahun&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8096187244134823528-6659231412978037710?l=alita-dee.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alita-dee.blogspot.com/feeds/6659231412978037710/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://alita-dee.blogspot.com/2009/06/utang-uang-dibayar-istri_30.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8096187244134823528/posts/default/6659231412978037710'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8096187244134823528/posts/default/6659231412978037710'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alita-dee.blogspot.com/2009/06/utang-uang-dibayar-istri_30.html' title='Utang Uang, Dibayar Istri'/><author><name>dee alita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15608335270076570228</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_klCrRrqSP08/SfEyqgcHvAI/AAAAAAAAAAk/RLjidh3m4gM/S220/gueeeeeeeeeeeeee.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8096187244134823528.post-5193385992721004973</id><published>2009-06-30T01:39:00.000-07:00</published><updated>2009-06-30T01:41:00.937-07:00</updated><title type='text'>pesta perawan</title><content type='html'>Dengan langkah ragu-ragu aku mendekati ruang dosen di mana Pak Hr berada.&lt;br /&gt;"Winda...", sebuah suara memanggil.&lt;br /&gt;"Hei Ratna!".&lt;br /&gt;"Ngapain kau cari-cari dosen killer itu?", Ratna itu bertanya heran.&lt;br /&gt;"Tau nih, aku mau minta ujian susulan, sudah dua kali aku minta diundur terus, kenapa ya?".&lt;br /&gt;"Idih jahat banget!".&lt;br /&gt;"Makanya, aku takut nanti di raport merah, mata kuliah dia kan penting!, tauk nih, bentar ya aku masuk dulu!".&lt;br /&gt;"He-eh deh, sampai nanti!" Ratna berlalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan memberanikan diri aku mengetuk pintu.&lt;br /&gt;"Masuk...!", Sebuah suara yang amat ditakutinya menyilakannya masuk.&lt;br /&gt;"Selamat siang pak!".&lt;br /&gt;"Selamat siang, kamu siapa?", tanyanya tanpa meninggalkan pekerjaan yang sedang dikerjakannya.&lt;br /&gt;"Saya Winda...!".&lt;br /&gt;"Aku..? Oh, yang mau minta ujian lagi itu ya?".&lt;br /&gt;"Iya benar pak."&lt;br /&gt;"Saya tidak ada waktu, nanti hari Mminggu saja kamu datang ke rumah saya, ini kartu nama saya", Katanya acuh tak acuh sambil menyerahkan kartu namanya.&lt;br /&gt;"Ada lagi?" tanya dosen itu.&lt;br /&gt;"Tidak pak, selamat siang!"&lt;br /&gt;"Selamat siang!".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan lemas aku beranjak keluar dari ruangan itu. Kesal sekali rasanya, sudah belajar sampai larut malam, sampai di sini harus kembali lagi hari Minggu, huh!&lt;br /&gt;Mungkin hanya akulah yang hari Minggu masih berjalan sambil membawa tas hendak kuliah. Hari ini aku harus memenuhi ujian susulan di rumah Pak Hr, dosen berengsek itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah Pak Hr terletak di sebuah perumahan elite, di atas sebuah bukit, agak jauh dari rumah-rumah lainnya. Belum sempat memijit Bel pintu sudah terbuka, Seraut wajah yang sudah mulai tua tetapi tetap segar muncul.&lt;br /&gt;"Ehh...! Winda, ayo masuk!", sapa orang itu yang tak lain adalah pak Hr sendiri.&lt;br /&gt;"Permisi pak! Ibu mana?", tanyaku berbasa-basi.&lt;br /&gt;"Ibu sedang pergi dengan anak-anak ke rumah neneknya!", sahut pak Hr ramah.&lt;br /&gt;"Sebentar ya...", katanya lagi sambil masuk ke dalam ruangan.&lt;br /&gt;Tumben tidak sepeti biasanya ketika mengajar di kelas, dosen ini terkenal paling killer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah Pak Hr tertata rapi. Dinding ruang tamunya bercat putih. Di sudut ruangan terdapat seperangkat lemari kaca temapat tersimpan berbagai barang hiasan porselin. Di tengahnya ada hamparan permadani berbulu, dan kursi sofa kelas satu.&lt;br /&gt;"Gimana sudah siap?", tanya pak Hr mengejutkan aku dari lamunannya.&lt;br /&gt;"Eh sudah pak!"&lt;br /&gt;"Sebenarnya..., sebenarnya Winda tidak perlu mengikuti ulang susulan kalau..., kalau...!"&lt;br /&gt;"Kalau apa pak?", aku bertanya tak mengerti. Belum habis bicaranya, Pak Hr sudah menuburuk tubuhku.&lt;br /&gt;"Pak..., apa-apaan ini?", tanyaku kaget sambil meronta mencoba melepaskan diri.&lt;br /&gt;"Jangan berpura-pura Winda sayang, aku membutuhkannya dan kau membutuhkan nilai bukan, kau akan kululuskan asalkan mau melayani aku!", sahut lelaki itu sambil berusaha menciumi bibirku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serentak Bulu kudukku berdiri. Geli, jijik..., namun detah dari mana asalnya perasaan hasrat menggebu-gebu juga kembali menyerangku. Ingin rasanya membiarkan lelaki tua ini berlaku semaunya atas diriku. Harus kuakui memang, walaupun dia lebih pantas jadi bapakku, namun sebenarnya lelaki tua ini sering membuatku berdebar-debar juga kalau sedang mengajar. Tapi aku tetap berusaha meronta-ronta, untuk menaikkan harga diriku di mata Pak Hr.&lt;br /&gt;"Lepaskan..., Pak jangan hhmmpppff...!", kata-kataku tidak terselesaikan karena terburu bibirku tersumbat mulut pak Hr.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku meronta dan berhasil melepaskan diri. Aku bangkit dan berlari menghindar. Namun entah mengapa aku justru berlari masuk ke sebuah kamar tidur. Kurapatkan tubuhku di sudut ruangan sambil mengatur kembali nafasku yang terengah-engah, entah mengapa birahiku sedemikian cepat naik. Seluruh wajahku terasa panas, kedua kakikupun terasa gemetar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Hr seperti diberi kesempatan emas. Ia berjalan memasuki kamar dan mengunci pintunya. Lalu dengan perlahan ia mendekatiku. Tubuhku bergetar hebat manakala lelaki tua itu mengulurkan tangannya untuk merengkuh diriku. Dengan sekali tarik aku jatuh ke pelukan Pak Hr, bibirku segera tersumbat bibir laki-laki tua itu. Terasa lidahnya yang kasap bermain menyapu telak di dalam mulutku. Perasaanku bercampur aduk jadi satu, benci, jijik bercampur dengan rasa ingin dicumbui yang semakin kuat hingga akhirnya akupun merasa sudah kepalang basah, hati kecilku juga menginginkannya. Terbayang olehku saat-saat aku dicumbui seperti itu oleh Aldy, entah sedang di mana dia sekarang. aku tidak menolak lagi. bahkan kini malah membalas dengan hangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merasa mendapat angin kini tangan Pak Hr bahkan makin berani menelusup di balik blouse yang aku pakai, tidak berhenti di situ, terus menelup ke balik beha yang aku pakai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jantungku berdegup kencang ketika tangan laki-laki itu meremas-remas gundukan daging kenyal yang ada di dadaku dengan gemas. Terasa benar, telapak tangannya yang kasap di permukaan buah dadaku, ditingkahi dengan jari-jarinya yang nakal mepermainkan puting susuku. Gemas sekali nampaknya dia. Tangannya makin lama makin kasar bergerak di dadaku ke kanan dan ke kiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah puas, dengan tidak sabaran tangannya mulai melucuti pakaian yang aku pakai satu demi satu hingga berceceran di lantai. Hingga akhirnya aku hanya memakai secarik G-string saja. Bergegas pula Pak Hr melucuti kaos oblong dan sarungnya. Di baliknya menyembul batang penis laki-laki itu yang telah menegang, sebesar lengan Bayi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak terasa aku menjerit ngeri, aku belum pernah melihat alat vital lelaki sebesar itu. Aku sedikit ngeri. Bisa jebol milikku dimasuki benda itu. Namun aku tak dapat menyembunyikan kekagumanku. Seolah ada pesona tersendiri hingga pandangan mataku terus tertuju ke benda itu. Pak Hr berjalan mendekatiku, tangannya meraih kunciran rambutku dan menariknya hingga ikatannya lepas dan rambutku bebas tergerai sampai ke punggung.&lt;br /&gt;"Kau Cantik sekali Winda...", gumam pak Hr mengagumi kecantikanku.&lt;br /&gt;Aku hanya tersenyum tersipu-sipu mendengar pujian itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan lembut Pak Hr mendorong tubuhku sampai terduduk di pinggir kasur. Lalu ia menarik G-string, kain terakhir yang menutupi tubuhku dan dibuangnya ke lantai. Kini kami berdua telah telanjang bulat. Tanpa melepaskan kedua belah kakiku, bahkan dengan gemas ia mementangkan kedua belah pahaku lebar-lebar. Matanya benar-benar nanar memandang daerah di sekitar selangkanganku. Nafas laki-laki itu demikian memburu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian Pak membenamkan kepalanya di situ. Mulut dan lidahnya menjilat-jilat penuh nafsu di sekitar kemaluanku yang tertutup rambut lebat itu. Aku memejamkan mata, oohh, indahnya, aku sungguh menikmatinya, sampai-sampai tubuhku dibuat menggelinjang-gelinjang kegelian.&lt;br /&gt;"Pak...!", rintihku memelas.&lt;br /&gt;"Pak..., aku tak tahan lagi...!", aku memelas sambil menggigit bibir. Sungguh aku tak tahan lagi mengalamai siksaan birahi yang dilancarkan Pak Hr. Namun rupanya lelaki tua itu tidak peduli, bahkan senang melihat aku dalam keadaan demikian. Ini terlihat dari gerakan tangannya yang kini bahkan terjulur ke atas meremas-remas payudaraku, tetapi tidak menyudahi perbuatannya. Padahal aku sudah kewalahan dan telah sangat basah kuyup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Paakk..., aakkhh...!", aku mengerang keras, kakinya menjepit kepala Pak Hr melampiaskan derita birahiku, kujambak rambut Pak Hr keras-keras. Kini aku tak peduli lagi bahwa lelaki itu adalah dosen yang aku hormati. Sungguh lihai laki-laki ini membangkitkan gairahku. aku yakin dengan nafsunya yang sebesar itu dia tentu sangat berpengalaman dalam hal ini, bahkan sangat mungkin sudah puluhan atau ratusan mahasiswi yang sudah digaulinya. Tapi apa peduliku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba Pak Hr melepaskan diri, lalu ia berdiri di depanku yang masih terduduk di tepi ranjang dengan bagian bawah perutnya persis berada di depan wajahku. aku sudah tahu apa yang dia mau, namun tanpa sempat melakukannya sendiri, tangannya telah meraih kepalaku untuk dibawa mendekati kejantanannya yang aduh mak.., Sungguh besar itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa melawan sama sekali aku membuka mulut selebar-lebarnya, Lalu kukulum sekalian alat vital Pak Hr ke dalam mulutku hingga membuat lelaki itu melek merem keenakan. Benda itu hanya masuk bagian kepala dan sedikit batangnya saja ke dalam mulutku. Itupun sudah terasa penuh. Aku hampir sesak nafas dibuatnya. Aku pun bekerja keras, menghisap, mengulum serta mempermainkan batang itu keluar masuk ke dalam mulutku. Terasa benar kepala itu bergetar hebat setiap kali lidahku menyapu kepalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa saat kemudian Pak Hr melepaskan diri, ia membaringkan aku di tempat tidur dan menyusul berbaring di sisiku, kaki kiriku diangkat disilangkan di pinggangnya. Lalu Ia berusaha memasuki tubuhku belakang. Ketika itu pula kepala penis Pak Hr yang besar itu menggesek clitoris di liang senggamaku hingga aku merintih kenikmatan. Ia terus berusaha menekankan miliknya ke dalam milikku yang memang sudah sangat basah. Pelahan-lahan benda itu meluncur masuk ke dalam milikku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ketika dengan kasar dia tiba-tiba menekankan miliknya seluruhnya amblas ke dalam diriku aku tak kuasa menahan diri untuk tidak memekik. Perasaan luar biasa bercampur sedikit pedih menguasai diriku, hingga badanku mengejang beberapa detik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Hr cukup mengerti keadaan diriku, ketika dia selesai masuk seluruhnya dia memberi kesempatan padaku untuk menguasai diri beberapa saat. Sebelum kemudian dia mulai menggoyangkan pinggulnya pelan-pelan kemudian makin lama makin cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sungguh tak kuasa untuk tidak merintih setiap Pak Hr menggerakkan tubuhnya, gesekan demi gesekan di dinding dalam liang senggamaku sungguh membuatku lupa ingatan. Pak Hr menyetubuhi aku dengan cara itu. Sementara bibirnya tak hentinya melumat bibir, tengkuk dan leherku, tangannya selalu meremas-remas payudaraku. Aku dapat merasakan puting susuku mulai mengeras, runcing dan kaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bisa melihat bagaimana batang penis lelaki itu keluar masuk ke dalam liang kemaluanku. Aku selalu menahan nafas ketika benda itu menusuk ke dalam. Milikku hampir tidak dapat menampung ukuran Pak Hr yang super itu, dan ini makin membuat Pak Hr tergila-gila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak sampai di situ, beberapa menit kemudian Pak Hr membalik tubuhku hingga menungging di hadapannya. Ia ingin pakai doggy style rupanya. Tangan lelaki itu kini lebih leluasa meremas-remas kedua belah payudara aku yang kini menggantung berat ke bawah. Sebagai seorang wanita aku memiliki daya tahan alami dalam bersetubuh. Tapi bahkan kini aku kewalahan menghadapi Pak Hr. Laki-laki itu benar-benar luar biasa tenaganya. Sudah hampir setengah jam ia bertahan. Aku yang kini duduk mengangkangi tubuhnya hampir kehabisan nafas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kupacu terus goyangan pinggulku, karena aku merasa sebentar lagi aku akan memperolehnya. Terus..., terus..., aku tak peduli lagi dengan gerakanku yang brutal ataupun suaraku yang kadang-kadang memekik menahan rasa luar biasa itu. Dan ketika klimaks itu sampai, aku tak peduli lagi..., aku memekik keras sambil menjambak rambutnya. Dunia serasa berputar. Sekujur tubuhku mengejang. Sungguh hebat rasa yang kurasakan kali ini. Sungguh ironi memang, aku mendapatkan kenikmatan seperti ini bukan dengan orang yang aku sukai. Tapi masa bodohlah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkali-kali kuusap keringat yang membasahi dahiku. Pak Hr kemudian kembali mengambil inisiatif. kini gantian Pak Hr yang menindihi tubuhku. Ia memacu keras untuk mencapai klimaks. Desah nafasnya mendengus-dengus seperti kuda liar, sementara goyangan pinggulnya pun semakin cepat dan kasar. Peluhnya sudah penuh membasahi sekujur tubuhnya dan tubuhku. Sementara kami terus berpacu. Sungguh hebat laki-laki ini. Walaupun sudah berumur tapi masih bertahan segitu lama. Bahkan mengalahkan semua cowok-cowok yang pernah tidur denganku, walaupun mereka rata-rata sebaya denganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun beberapa saat kemudian, Pak Hr mulai menggeram sambil mengeretakkan giginya. Tubuh lelaki tua itu bergetar hebat di atas tubuhku. Penisnya menyemburkan cairan kental yang hangat ke dalam liang kemaluanku dengan derasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa saat kemudian, perlahan-lahan kami memisahkan diri. Kami terbaring kelelahan di atas kasur itu. Nafasku yang tinggal satu-satu bercampur dengan bunyi nafasnya yang berat. Kami masing-masing terdiam mengumpulkan tenaga kami yang sudah tercerai berai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sendiri terpejam sambil mencoba merasakan kenikmatan yang baru saja aku alami di sekujur tubuhku ini. Terasa benar ada cairan kental yang hangat perlahan-lahan meluncur masuk ke dalam liang vaginaku. Hangat dan sedikit gatal menggelitik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian bawah tubuhku itu terasa benar-benar banjir, basah kuyub. Aku menggerakkan tanganku untuk menyeka bibir bawahku itu dan tanganku pun langsung dipenuhi dengan cairan kental berwarna putih susu yang berlepotan di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bukan main Winda, ternyata kau pun seperti kuda liar!" kata Pak Hr penuh kepuasan. Aku yang berbaring menelungkup di atas kasur hanya tersenyum lemah. aku sungguh sangat kelelahan, kupejamkan mataku untuk sejenak beristirahat. Persetan dengan tubuhku yang masih telanjang bulat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Hr kemudian bangkit berdiri, ia menyulut sebatang rokok. Lalu lelaki tua itu mulai mengenakan kembali pakaiannya. Aku pun dengan malas bangkit dan mengumpulkan pakaiannya yang berserakan di lantai.&lt;br /&gt;Sambil berpakaian ia bertanya, "Bagaimana dengan ujian saya pak?".&lt;br /&gt;"Minggu depan kamu dapat mengambil hasilnya", sahut laki-laki itu pendek.&lt;br /&gt;"Kenapa tidak besok pagi saja?", protes aku tak puas.&lt;br /&gt;"Aku masih ingin bertemu kamu, selama seminggu ini aku minta agar kau tidak tidur dengan lelaki lain kecuali aku!", jawab Pak Hr.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sedikit terkejut dengan jawabannya itu. Tapi akupun segera dapat menguasai keadaanku. Rupanya dia belum puas dengan pelayanan habis-habisanku barusan.&lt;br /&gt;"Aku tidak bisa janji!", sahutku seenaknya sambil bangkit berdiri dan keluar dari kamar mencari kamar mandi. Pak Hr hanya mampu terbengong mendengar jawabanku yang seenaknya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sedang berjalan santai meninggalkan rumah pak Hr, ini pertemuanku yang ketiga dengan laki-laki itu demi menebus nilai ujianku yang selalu jeblok jika ujian dengan dia. Mungkin malah sengaja dibuat jeblok biar dia bisa main denganku. Dasar..., namun harus kuakui, dia laki-laki hebat, daya tahannya sungguh luar biasa jika dibandingkan dengan usianya yang hapir mencapai usia pensiun itu. Bahkan dari pagi hingga sore hari ini dia masih sanggup menggarapku tiga kali, sekali di ruang tengah begitu aku datang, dan dua kali di kamar tidur. Aku sempat terlelap sesudahnya beberapa jam sebelum membersihkan diri dan pulang. Berutung kali ini, aku bisa memaksanya menandatangani berkas ujian susulanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Masih ada mata kuliah Pengantar Berorganisasi dan Kepemimpinan", katanya sambil membubuhkan nilai A di berkas ujianku.&lt;br /&gt;"Selama bapak masih bisa memberiku nilai A", kataku pendek.&lt;br /&gt;"Segeralah mendaftar, kuliah akan dimulai minggu depan!".&lt;br /&gt;"Terima kasih pak!" kataku sambil tak lupa memberikan senyum semanis mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Winda!" teriakan seseorang mengejutkan lamunanku. Aku menoleh ke arah sumber suara tadi yang aku perkirakan berasal dari dalam mobil yang berjalan perlahan menghampiriku. Seseorang membuka pintu mobil itu, wajah yang sangat aku benci muncul dari balik pintu Mitsubishi Galant keluaran tahun terakhir itu.&lt;br /&gt;"Masuklah Winda...".&lt;br /&gt;"Tidak, terima kasih. Aku bisa jalan sendiri koq!", Aku masih mencoba menolak dengan halus.&lt;br /&gt;"Ayolah, masa kau tega menolak ajakanku, padahal dengan pak Hr saja kau mau!".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tertegun sesaat, Bagai disambar petir di siang bolong.&lt;br /&gt;"Da...,Darimana kau tahu?".&lt;br /&gt;"Nah, jadi benar kan..., padahal aku tadi hanya menduga-duga!"&lt;br /&gt;"Sialan!", Aku mengumpat di dalam hati, harusnya tadi aku bersikap lebih tenang, aku memang selalu nervous kalau ketemu cowok satu ini, rasanya ingin buru-buru pergi dari hadapannya dan tidak ingin melihat mukanya yang memang seram itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti tipikal orang Indonesia bagian daerah paling timur, cowok ini hitam tinggi besar dengan postur sedikit gemuk, janggut dan cambang yang tidak pernah dirapikan dengan rambut keritingnya yang dipelihara panjang ditambah dengan caranya memakai kemeja yang tidak pernah dikancingkan dengan benar sehingga memamerkan dadanya yang penuh bulu. Dengan asesoris kalung, gelang dan cincin emas, arloji rolex yang dihiasi berlian..., cukup menunjukkan bahwa dia ini orang yang memang punya duit. Namun, aku menjadi muak dengan penampilan seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dino memang salah satu jawara di kampus, anak buahnya banyak dan dengan kekuatan uang serta gaya jawara seperti itu membuat dia menjadi salah satu momok yang paling menakutkan di lingkungan kampus. Dia itu mahasiswa lama, dan mungkin bahkan tidak pernah lulus, namun tidak ada orang yang berani mengusik keberadaannya di kamus, bahkan dari kalangan akademik sekalipun.&lt;br /&gt;"Gimana? Masih tidak mau masuk?", tanya dia setengah mendesak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tertegun sesaat, belum mau masuk. Aku memang sangat tidak menyukai laki-laki ini, Tetapi kelihatannya aku tidak punya pilihan lain, bisa-bisa semua orang tahu apa yang kuperbuat dengan pak Hr, dan aku sungguh-sungguh ingin menjaga rahasia ini, terutama terhadap Erwin, tunanganku. Namun saat ini aku benar benar terdesak dan ingin segera membiarkan masalah ini berlalu dariku. Makanya tanpa pikir panjang aku mengiyakan saja ajakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dino tertawa penuh kemenangan, ia lalu berbicara dengan orang yang berada di sebelahnya supaya berpindah ke jok belakang. Aku membanting pantatku ke kursi mobil depan, dan pemuda itu langsung menancap gas. Sambil nyengir kuda. Kesenangan.&lt;br /&gt;"Ke mana kita?", tanyaku hambar.&lt;br /&gt;"Lho? Mestinya aku yang harus tanya, kau mau ke mana?", tanya Dino pura-pura heran.&lt;br /&gt;"Sudahlah Dino, tak usah berpura-pura lagi, kau mau apa?", Suaraku sudah sedemikian pasrahnya. Aku sudah tidak mau berpikir panjang lagi untuk meminta dia menutup-nutupi perbuatanku. Orang yang duduk di belakangku tertawa.&lt;br /&gt;"Rupanya dia cukup mengerti apa kemauanmu Dino!", Dia berkomentar.&lt;br /&gt;"Ah, diam kau Maki!" Rupanya orang itu namanya Maki, orang dengan penampilan hampir mirip dengan Dino kecuali rambutnya yang dipotong crew-cut.&lt;br /&gt;"Bagaimana kalau ke rumahku saja? Aku sangat merindukanmu Winda!", pancing Dino.&lt;br /&gt;"Sesukamulah...!", Aku tahu benar memang itu yang diinginkannya.&lt;br /&gt;Dino tertawa penuh kemenangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia melarikan mobilnya makin kencang ke arah sebuah kompleks perumahan. Lalu mobil yang ditumpangi mereka memasuki pekarangan sebuah rumah yang cukup besar. Di pekarangan itu sudah ada 2 buah mobil lain, satu Mitsubishi Pajero dan satu lagi Toyota Great Corolla namun keduanya kelihatan diparkir sekenanya tak beraturan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Interior depan rumah itu sederhana saja. Cuma satu stel sofa, sebuah rak perabotan pecah belah. Tak lebih. Dindingnya polos. Demikian juga tempok ruang tengah. Terasa betapa luas dan kosongnya ruangan tengah itu, meski sebuah bar dengan rak minuman beraneka ragam terdapat di sudut ruangan, menghadap ke taman samping. Sebuah stereo set terpasang di ujung bar. Tampaknya baru saja dimatikan dengan tergesa-gesa. Pitanya sebagian tergantung keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pintu samping kemudian muncul empat orang pemuda dan seorang gadis, yang jelas-jelas masih menggunakan seragam SMU. Mereka semua mengeluarkan suara setengah berbisik. Keempat orang laki-laki itu, tiga orang sepertinya sesuku dengan Dino atau sebangsanya, sedangkan yang satu lagi seperti bule dengan rambutnya yang gondrong. Sementara si gadis berperawakan tinggi langsing, berkulit putih dan rambutnya yang hitam lurus dan panjang tergerai sampai ke pinggang, ia memakai bandana lebar di kepalanya dengan poni tebal menutupi dahinya. Wajahnya yang oval dan bermata sipit menandakan bahwa ia keturunan Cina atau sebangsanya. Harus kuakui dia memang cantik, seperti bintang film drama Mandarin. Berbeda dengan penampilan ketiga laki-laki itu, gadis ini kelihatannya bukan merupakan gerombolan mereka, dilihat dari tampangnya yang masih lugu. Ia masih mengenakan seragam sebuah sekolah Katolik yang langsung bisa aku kenali karena memang khas. Namun entah mengapa dia bisa bergaul dengan orang-orang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dino bertepuk tangan. Kemudian memperkenalkan diriku dengan mereka. Yos, dan Bram seperti tipikal orang sebangsa Dino, Tito berbadan tambun dan yang bule namanya Marchell, sementara gadis SMU itu bernama Shelly. Mereka semua yang laki-laki memandang diriku dengan mata "lapar" membuat aku tanpa sadar menyilangkan tangan di depan dadaku, seolah-olah mereka bisa melihat tubuhku di balik pakaian yang aku kenakan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampak tak sabaran Dino menarik diriku ke loteng. Langsung menuju sebuah kamar yang ada di ujung. Kamar itu tidak berdaun pintu, sebenarnya lebih tepat disebut ruang penyangga antara teras dengan kamar-kamar yang lain Sebab di salah satu ujungnya merupakan pintu tembusan ke ruang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sana ada sebuah kasur yang terhampar begitu saja di lantai kamar. Dengan sprei yang sudah acak-acakan. Di sudut terdapat dua buah kursi sofa besar dan sebuah meja kaca yang mungil. Di bawahnya berserakan majalah-majalah yang cover depannya saja bisa membuat orang merinding. Bergambar perempuan-perempuan telanjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sadar bahkan sangat sadar, apa yang dimaui Dino di kamar ini. Aku beranjak ke jendela. Menutup gordynnya hingga ruangan itu kelihatan sedikit gelap. Namun tak lama, karena kemudian Dino menyalakan lampu. Aku berputar membelakangi Dino, dan mulai melucuti pakaian yang aku kenakan. Dari blouse, kemudian rok bawahanku kubiarkan meluncur bebas ke mata kakiku. Kemudian aku memutar balik badanku berbalik menghadap Dino.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa terkejutnya aku ketika aku berbalik, ternyata di hadapanku kini tidak hanya ada Dino, namun Maki juga sedang berdiri di situ sambil cengengesan. Dengan gerakan reflek, aku menyambar blouseku untuk menutupi tubuhku yang setengah telanjang. Melihat keterkejutanku, kedua laki-laki itu malah tertawa terbahak-bahak.&lt;br /&gt;"Ayolah Winda, Toh engkau juga sudah sering memperlihatkan tubuh telanjangmu kepada beberapa laki-laki lain?".&lt;br /&gt;"Kurang ajar kau Dino!" Aku mengumpat sekenanya.&lt;br /&gt;Wajah laki-laki itu berubah seketika, dari tertawa terbahak-bahak menjadi serius, sangat serius. Dengan tatapan yang sangat tajam dia berujar, "Apakah engkau punya pilihan lain? Ayolah, lakukan saja dan sesudah selesai kita boleh melupakan kejadian ini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tertegun, melayani dua orang sekaligus belum pernah aku lakukan sebelumnya. Apalagi orang-orang yang bertampang seram seperti ini. Tapi seperti yang dia bilang, aku tak punya pilihan lain. Seribu satu pertimbangan berkecamuk di kepalaku hingga membuat aku pusing. Tubuhku tanpa sadar sampai gemetaran, terasa sekali lututku lemas sepertinya aku sudah kehabisan tenaga karena digilir mereka berdua, padahal mereka sama sekali belum memulainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, dengan sangat berat aku menggerakkan kedua tangan ke arah punggungku di mana aku bisa meraih kaitan BH yang aku pakai. Baju yang tadi aku pakai untuk menutupi bagian tubuhku dengan sendirinya terjatuh ke lantai. Dengan sekali sentakan halus BH-ku telah terlepas dan meluncur bebas dan sebelum terjatuh ke lantai kulemparkan benda itu ke arah Dino yang kemudian ditangkapnya dengan tangkas. Ia mencium bagian dalam mangkuk bra-ku dengan penuh perasaan.&lt;br /&gt;"Harum!", katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu ia seperti mencari-cari sesuatu dari benda itu, dan ketika ditemukannya ia berhenti.&lt;br /&gt;"36B!", katanya pendek.&lt;br /&gt;Rupanya ia pingin tahu berapa ukuran dadaku ini.&lt;br /&gt;"BH-nya saja sudah sedemikian harum, apalagi isinya!", katanya seraya memberikan BH itu kepada Maki sehingga laki-laki itu juga ikut-ikutan menciumi benda itu. Namun demikian mata mereka tak pernah lepas menatap belahan payudaraku yang kini tidak tertutup apa-apa lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kini hanya berdiri menunggu, dan tanpa diminta Dino melangkah mendekatiku. Ia meraih kepalaku. Tangannya meraih kunciran rambut dan melepaskannya hingga rambutku kini tergerai bebas sampai ke punggung.&lt;br /&gt;"Nah, dengan begini kau kelihatan lebih cantik!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia terus berjalan memutari tubuhku dan memelukku dari belakang. Ia sibakkan rambutku dan memindahkannya ke depan lewat pundak sebelah kiriku, sehingga bagian punggung sampai ke tengkukku bebas tanpa penghalang. Lalu ia menjatuhkan ciumannya ke tengkuk belakangku. Lidahnya menjelajah di sekitar leher, tengkuk kemudian naik ke kuping dan menggelitik di sana. Kedua belah tangannya yang kekar dan berbulu yang tadi memeluk pinggangku kini mulai merayap naik dan mulai meremas-remas kedua belah payudaraku dengan gemas. Aku masih menanggapinya dengan dingin dengan tidak bereaksi sama sekali selain memejamkan mataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dino rupanya tidak begitu suka aku bersikap pasif, dengan kasar ia menarik wajahku hingga bibirnya bisa melumat bibirku. Aku hanya berdiam diri saja tak memberikan reaksi. Sambil melumat, lidahnya mencari-cari dan berusaha masuk ke dalam mulutku, dan ketika berhasil lidahnya bergerak bebas menjilati lidahku hingga secara tak sengaja lidahkupun meronta-ronta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil memejamkan mata aku mencoba untuk menikmati perasaan itu dengan utuh. Tak ada gunanya aku menolak, hal itu akan membuatku lebih menderita lagi. Dengan kuluman lidah seperti itu, ditingkahi dengan remasan-remasan telapak tangannya di payudaraku sambil sekali-sekali ibu jari dan telunjuknya memilin-milin puting susuku, pertahananku akhirnya bobol juga. Memang, aku sudah sangat terbiasa dan sangat terbuai dengan permaian seperti ini hingga dengan mudahnya Dino mulai membangkitkan nafsuku. Bahkan kini aku mulai memberanikan menggerakkan tangan meremas kepala Dino yang berada di belakangku. Sementara dengan ekor mataku aku melihat Maki beranjak berjalan menuju sofa dan duduk di sana, sambil pandangan matanya tidak pernah lepas dari kami berdua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin karena merasa sudah menguasai diriku, ciuman Dino terus merambat turun ke leherku, menghisapnya hingga aku menggelinjang. Lalu merosot lagi menelusup di balik ketiak dan merayap ke depan sampai akhirnya hinggap di salah satu pucuk bukit di dadaku, Dengan satu remasan yang gemas hingga membuat puting susuku melejit Dino untuk mengulumnya. Pertama lidahnya tepat menyapu pentilnya, lalu bergerak memutari seluruh daerah puting susuku sebelum mulutnya mengenyot habis puting susuku itu. Ia menghisapnya dengan gemas sampai pipinya kempot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuhku secara tiba-tiba bagaikan disengat listrik, terasa geli yang luar biasa bercampur sedikit nyeri di bagian itu. Aku menggelinjang, melenguh apalagi ketika puting susuku digigit-gigit perlahan oleh Dino. Buah anggur yang ranum itu dipermainkan pula dengan lidah Dino yang kasap. Dipilin-pilinnya kesana kemari. Dikecupinya, dan disedotnya kuat-kuat sampai putingnya menempel pada telaknya. Aku merintih. Tanganku refleks meremas dan menarik kepalanya sehingga semakin membenam di kedua gunung kembarku yang putih dan padat. Aku sungguh tak tahu mengapa harus begitu pasrah kepada lelaki itu. Mengapa aku justeru tenggelam dalam permaianan itu? Semula aku hanya merasa terpaksa demi menutupi rahasia atas perbuatanku. Tapi kemudian nyatanya, permainan yang Dino mainkan begitu dalam. Dan aneh sekali, Tanpa sadar aku mulai mengikuti permainan yang dipimpin dengan cemerlang oleh Dino.&lt;br /&gt;"Winda...", "Ya?", "Kau suka aku perlakukan seperti ini?". Aku hanya mengangguk. Dan memejamkan matanya. membiarkan payudaraku terus diremas-remas dan puting susunya dipilin perlahan. Aku menggeliat, merasakan nikmat yang luar biasa. Puting susu yang mungil itu hanya sebentar saja sudah berubah membengkak, keras dan mencuat semakin runcing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hsss..., ah!", Aku mendesah saat merasakan jari-jari tangan lelaki itu mulai menyusup ke balik celana dalamku dan merayap mencari liang yang ada di selangkanganku. Dan ketika menemukannya Jari-jari tangan itu mula-mula mengusap-usap permukaannya, terus mengusap-usap dan ketika sudah terasa basah jarinya mulai merayap masuk untuk kemudian menyentuh dinding-dinding dalam liang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam posisi masih berdiri berhadapan, sambil terus mencumbui payudaraku, Dino meneruskan aksinya di dalam liang gelap yang sudah basah itu. Makin lama makin dalam. Aku sendiri semakin menggelinjang tak karuan, kedua buah jari yang ada di dalam liang vaginaku itu bergerak-gerak dengan liar. Bahkan kadang-kadang mencoba merenggangkan liang vaginaku hingga menganga. Dan yang membuat aku tambah gila, ia menggerak-gerakkan jarinya keluar masuk ke dalam liang vaginaku seolah-olah sedang menyetubuhiku. Aku tak kuasa untuk menahan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nggghh...!", mulutku mulai meracau. Aku sungguh kewalahan dibuatnya hingga lututku terasa lemas hingga akhirnya akupun tak kuasa menahan tubuhku hingga merosot bersimpuh di lantai. Aku mencoba untuk mengatur nafasku yang terengah-engah. Aku sungguh tidak memperhatikan lagi yang kutahu kini tiba-tiba saja Dino telah berdiri telanjang bulat di hadapanku. Tubuhnya yang tinggi besar, hitam dan penuh bulu itu dengan angkuhnya berdiri mengangkang persis di depanku sehingga wajahku persis menghadap ke bagian selangkangannya. Disitu, aku melihat batang kejantanannya telah berdiri dengan tegaknya. Besar panjang kehitaman dengan bulu hitam yang lebat di daerah pangkalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan sekali rengkuh, ia meraih kepalaku untuk ditarik mendekati daerah di bawah perutnya itu. Aku tahu apa yang dimauinya, bahkan sangat tahu ini adalah perbuatan yang sangat disukai para lelaki. Di mana ketika aku melakukan oral seks terhadap kelaminnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, dengan kepalang basah, kulakukan apa yang harus kulakukan. Benda itu telah masuk ke dalam mulutku dan menjadi permainan lidahku yang berputar mengitari ujung kepalanya yang bagaikan sebuah topi baja itu. Lalu berhenti ketika menemukan lubang yang berada persis di ujungnya. Lalu dengan segala kemampuanku aku mulai mengelomoh batang itu sambil kadang-kadang menghisapnya kuat-kuat sehingga pemiliknya bergetar hebat menahan rasa yang tak tertahankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat itu aku sempat melirik ke arah sofa di mana Maki berada, dan ternyata laki-laki ini sudah mulai terbawa nafsu menyaksikan perbuatan kami berdua. Buktinya, ia telah mengeluarkan batang kejantanannya dan mengocoknya naik turun sambil berkali-kali menelan ludah. Konsentrasiku buyar ketika Dino menarik kepalaku hingga menjauh dari selangkangannya. Ia lalu menarik tubuhku hingga telentang di atas kasur yang terhampar di situ. Lalu dengan cepat ia melucuti celana dalamku dan dibuangnya jauh-jauh seakan-akan ia takut aku akan memakainya kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk beberapa detik mata Dino nanar memandang bagian bawah tubuhku yang sudah tak tertutup apa-apa lagi. Si Makipun sampai berdiri mendekat ke arah kami berdua seakan ia tidak puas memandang kami dari kejauhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun beberapa detik kemudian, Dino mulai merenggangkan kedua belah pahaku lebar-lebar. Paha kiriku diangkatnya dan disangkutkan ke pundaknya. Lalu dengan tangannya yang sebelah lagi memegangi batang kejantanannya dan diusap-usapkan ke permukaan bibir vaginaku yang sudah sangat basah. Ada rasa geli menyerang di situ hingga aku menggelinjang dan memejamkan mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedetik kemudian, aku merasakan ada benda lonjong yang mulai menyeruak ke dalam liang vaginaku. Aku menahan nafas ketika terasa ada benda asing mulai menyeruak di situ. Seperti biasanya, aku tak kuasa untuk menahan jeritanku pada saat pertama kali ada kejantanan laki-laki menyeruak masuk ke dalam liang vaginaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan perlahan namun pasti, kejantanan Dino meluncur masuk semakin dalam. Dan ketika sudah masuk setengahnya ia bahkan memasukkan sisanya dengan satu sentakan kasar hingga aku benar-benar berteriak karena terasa nyeri. Dan setelah itu, tanpa memberiku kesempatan untuk membiasakan diri dulu, Dino sudah bergoyang mencari kepuasannya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dino menggerak-gerakkan pinggulnya dengan kencang dan kasar menghunjam-hunjam ke dalam tubuhku hingga aku memekik keras setiap kali kejantanan Dino menyentak ke dalam. Pedih dan ngilu. Namun bercampur nikmat yang tak terkira. Ada sensasi aneh yang baru pertama kali kurasakan di mana di sela-sela rasa ngilu itu aku juga merasakan rasa nikmat yang tak terkira. Namun aku juga tidak bisa menguasai diriku lagi hingga aku sampai menangis menggebu-gebu, sakit keluhku setiap kali Dino menghunjam, tapi aku semakin mempererat pelukanku, Pedih, tapi aku juga tak bersedia Dino menyudahi perlakuannya terhadap diriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku semakin merintih. Air mataku meleleh keluar. kami terus bergulat dalam posisi demikian. Sampai tiba-tiba ada rasa nikmat yang luar biasa di sekujur tubuhku. Aku telah orgasme. Ya, orgasme bersama dengan orang yang aku benci. Tubuhku mengejang selama beberapa puluh detik. Sebelum melemas. Namun Dino rupanya belum selesai. Ia kini membalikkan tubuhku hingga kini aku bertumpu pada kedua telapak tangan dan kedua lututku. Ia ingin meneruskannya dengan doggy style. Aku hanya pasrah saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini ia menyetubuhiku dari belakang. Tangannya kini dengan leluasa berpindah-pindah dari pinggang, meremas pantat dan meremas payudaraku yang menggelantung berat ke bawah. Kini Dino bahkan lebih memperhebat serangannya. Ia bisa dengan leluasa menggoyangkan tubuhnya dengan cepat dan semakin kasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat itu tanpa terasa, Maki telah duduk mengangkang di depanku. Laki-laki ini juga telah telanjang bulat. Ia menyodorkan batang penisnya ke dalam mulutku, tangannya meraih kepalaku dan dengan setengah memaksa ia menjejalkan batang kejantanannya itu ke dalam mulutku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini aku melayani dua orang sekaligus. Dino yang sedang menyetubuhiku dari belakang. Dan Maki yang sedang memaksaku melakukan oral seks terhadap dirinya. Dino kadang-kadang malah menyorongkan kepalanya ke depan untuk menikmati payudaraku. Aku mengerang pelan setiap kali ia menghisap puting susuku. Dengan dua orang yang mengeroyokku aku sungguh kewalahan hingga tidak bisa berbuat apa-apa. Malahan aku merasa sangat terangsang dengan posisi seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka menyetubuhiku dari dua arah, yang satu akan menyebabkan penis pada tubuh mereka yang berada di arah lainnya semakin menghunjam. Kadang-kadang aku hampir tersedak. Maki yang tampaknya mengerti kesulitanku mengalah dan hanya diam saja. Dino yang mengatur segala gerakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan-lahan kenikmatan yang tidak terlukiskan menjalar di sekujur tubuhku. Perasaan tidak berdaya saat bermain seks ternyata mengakibatkan diriku melambung di luar batas yang pernah kuperkirakan sebelumnya. Dan kembali tubuhku mengejang, deras dan tanpa henti. Aku mengalami orgasme yang datang dengan beruntun seperti tak berkesudahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak lama kemudian Dino mengalami orgasme. Batang penisnya menyemprotkan air mani dengan deras ke dalam liang vaginaku. Benda itu menyentak-nyentak dengan hebat, seolah-olah ingin menjebol dinding vaginaku. Aku bisa merasakan air mani yang disemprotkannya banyak sekali, hingga sebagian meluap keluar meleleh di salah satu pahaku. Sesudah itu mereka berganti tempat. Maki mengambil alih perlakuan Dino. Masih dalam posisi doggy style. Batang kejantanannya dengan mulus meluncur masuk dalam sekali sampai menyentuh bibir rahimku. Ia bisa mudah melakukannya karena memang liang vaginaku sudah sangat licin dilumasi cairan yang keluar dari dalamnya dan sudah bercampur dengan air mani Dino yang sangat banyak. Permainan dilanjutkan. Aku kini tinggal melayani Maki seorang, karena Dino dengan nafas yang tersengal-sengal telah duduk telentang di atas sofa yang tadi diduduki Maki untuk mengumpulkan tenaga. Aku mengeluh pendek setiap kali Maki mendorong masuk miliknya. Maki terus memacu gerakkannya. Semakin lama semakin keras dan kasar hingga membuat aku merintih dan mengaduh tak berkesudahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat itu masuk Bram dan Tito bersamaan ke dalam ruangan. Tanpa basa-basi, mereka pun langsung melucuti pakaiannya hingga telanjang bulat. Lalu mereka duduk di lantai dan menonton adegan mesum yang sedang terjadi antara aku dan Maki. Bram nampak kelihatan tidak sabaran Tetapi aku sudah tidak peduli lagi. Maki terus memacu menggebu-gebu. Laki-laki itu sibuk memacu sambil meremasi payudaraku yang menggelantung berat ke bawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesaat kemudian tubuhku dibalikkan kembali telentang di atas kasur dan pada saat itu Bram dengan tangkas menyodorkan batang kejantanannya ke dalam mulutku. Aku sudah setengah sadar ketika Tito menggantikan Maki menggeluti tubuhku. Keadaanku sudah sedemikian acak-acakan. Rambut yang kusut masai. Tubuhku sudah bersimpah peluh. Tidak hanya keringat yang keluar dari tubuhku sendiri, tapi juga cucuran keringat dari para laki-laki yang bergantian menggauliku. Aku kini hanya telentang pasrah ditindihi tubuh gemuk Tito yang bergoyang-goyang di atasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laki-laki gemuk itu mengangkangkan kedua belah pahaku lebar-lebar sambil terus menghunjam-hunjamkan miliknya ke dalam milikku. Sementara Bram tak pernah memberiku kesempatan yang cukup untuk bernafas. Ia terus saja menjejal-jejalkan miliknya ke dalam mulutku. Aku sendiri sudah tidak bisa mengotrol diriku lagi. Guncangan demi guncangan yang diakibatkan oleh gerakan Titolah yang membuat Bram makin terangsang. Bukan lagi kuluman dan jilatan yang harusnya aku lakukan dengan lidah dan mulutku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ketika Tito melenguh panjang, ia mencapai orgasmenya dengan meremas kedua belah payudaraku kuat-kuat hingga aku berteriak mengaduh kesakitan. Lalu beberapa saat kemudian ia dengan nafasnya yang tersengal-sengal memisahkan diri dari diriku. Dan pada saat hampir bersamaan Bram juga mengerang keras. Batang kejantanannya yang masih berada di dalam mulutku bergerak liar dan menyemprotkan air maninya yang kental dan hangat. Aku meronta, ingin mengeluarkan banda itu dari dalam mulutku, namun tangan Bram yang kokoh tetap menahan kepalaku dan aku tak kuasa meronta lagi karena memang tenagaku sudah hampir habis. Cairan kental yang hangat itu akhirnya tertelan olehku. Banyak sekali. Bahkan sampai meluap keluar membasahi daerah sekitar bibirku sampai meleleh ke leher. Aku tak bisa berbuat apa-apa, selain dengan cepat mencoba menelan semua yang ada supaya tidak terlalu terasa di dalam mulutku. Aku memejamkan mata erat-erat, tubuhku mengejang melampiaskan rasa yang tidak karuan, geli, jijik, namun ada sensasi aneh yang luar biasa juga di dalam diriku. Sungguh sangat erotis merasakan siksa birahi semacam ini hingga akupun akhirnya orgasme panjang untuk ke sekian kalinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan ekor mataku aku kembali melihat seseorang masuk ke ruangan yang ternyata si bule dan orang itu juga mulai membuka celananya. Aku menggigit bibir, dan mulai menangis terisak-isak. Aku hanya bisa memejamkan mata ketika Marchell mulai menindihi tubuhku. Pasrah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak lama kemudian setelah orang terakhir melaksanakan hasratnya pada diriku mereka keluar. aku merasa seluruh tubuhku luluh lantak. Setelah berhasil mengumpulkan cukup tenaga kembali, dengan terhuyung-huyung, aku bangkit dari tempat tidur, mengenakan pakaianku seadanya dan pergi mencari kamar mandi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berpapasan dengan Dino yang muncul dari dalam sebuah ruangan yang pintunya terbuka. Lelaki itu sedang sibuk mengancingkan retsluiting celananya. Masih sempat terlihat dari luar di dalam kamar itu, di atas tempat tidur tubuh Shelly yang telanjang sedang ditindihi oleh tubuh Maki yang bergerak-gerak cepat. Memacu naik turun. Gadis itu menggelinjang-gelinjang setiap kali Maki bergerak naik turun. Rupanya anak itu bernasib sama seperti diriku.&lt;br /&gt;"Di mana aku bisa menemukan kamar mandi?" tanyaku pada Dino.&lt;br /&gt;Tanpa menjawab, ia hanya menunjukkan tangannya ke sebuah pintu. Tanpa basa-basi lagi aku segera beranjak menuju pintu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sana aku mandi berendam air panas sambil mengangis. Aku tidak tahu saya sudah terjerumus ke dalam apa kini. Yang membuat aku benci kepada diriku sendiri, walaupun aku merasa sedih, kesal, marah bercampur menjadi satu, namun demikian setiap kali teringat kejadian barusan, langsung saja selangkanganku basah lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berendam di sana sangat lama, mungkin lebih dari satu jam lamanya. Setelah terasa kepenatan tubuhku agak berkurang aku menyudahi mandiku. Dengan berjalan tertatih-tatih aku melangkah keluar kamar mandi dan berjalan mencari pintu keluar. Sudah hampir jam sebelas malam ketika aku keluar dari rumah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di dalam rumah, Aku langsung ngeloyor masuk ke kamar. Aku tak peduli dengan kakakku yang terheran-heran melihat tingkah lakuku yang tidak biasa, aku tak menyapanya karena memang sudah tidak ada keinginan untuk berbicara lagi malam ini. Aku tumpahkan segala perasaan campur aduk itu, kekesalan, dan sakit hati dengan menangis.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8096187244134823528-5193385992721004973?l=alita-dee.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alita-dee.blogspot.com/feeds/5193385992721004973/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://alita-dee.blogspot.com/2009/06/pesta-perawan_30.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8096187244134823528/posts/default/5193385992721004973'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8096187244134823528/posts/default/5193385992721004973'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alita-dee.blogspot.com/2009/06/pesta-perawan_30.html' title='pesta perawan'/><author><name>dee alita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15608335270076570228</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_klCrRrqSP08/SfEyqgcHvAI/AAAAAAAAAAk/RLjidh3m4gM/S220/gueeeeeeeeeeeeee.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8096187244134823528.post-8209794878220368171</id><published>2009-06-30T01:37:00.000-07:00</published><updated>2009-06-30T01:39:31.619-07:00</updated><title type='text'>Pesta Seks Kejutan</title><content type='html'>Hari itu adalah hari Minggu sebulan setelah peristiwaku di vila bersama Pak Imam dan Muklas ,selama ini aku belum ke sana lagi akibat kesibukan kuliahku. Hari Minggu itu aku pergi ke sana untuk refreshing seperti biasa karena Seninnya tanggal merah atau libur. Kali ini aku tidak sendiri tapi bersama 2 orang teman cewekku yaitu Kiki dan Indah, kami semua adalah teman akrab di kampus, sebenarnya geng kami ini ada 4 orang, satu lagi si Ratna yang hari ini tidak bisa ikut karena ada acara dengan keluarganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami sama-sama terbuka tentang seks dan sama-sama penggemar seks, Kiki dikaruniai tubuh putih mulus tinggi semampai dengan buah dada yang bulat montok berukuran 38B yang membuat pikiran kotor para cowok melayang-layang, beruntunglah mereka karena Kiki tidak sulit diajak ‘naik ranjang’ karena dia sudah ketagihan seks sejak SMP. Sedangkan Indah mempunyai wajah yang imut dengan rambut panjang yang indah, bodynya pun tidak kalah dari Kiki walaupun payudaranya lebih kecil, namun dibalik wajah imutnya ternyata Indah termasuk cewek yang lihai memanfaatkan cowok, sudah berkali-kali dia ganti pacar gara-gara sifat materenya. Sedangkan aku sendiri sepertinya kalian sudah tahulah cewek seperti apa aku ini dari cerita-ceritaku dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah, sekarang kita kembali ke kejadian hari itu yang rencananya mau mengadakan orgy party setelah sekian lama otak kami dijejali bahan-bahan kuliah dan urusan sehari-hari. Waktu itu Kiki protes karena aku tidak memperbolehkannya mengajak teman-teman cowok yang biasa diajak, begitu juga Indah yang ikut mendukung Kiki karena pacarnya juga tidak boleh diajak.&lt;br /&gt;“Emangnya lu ngundang siapa lagi sih Ni, masa si Chevy aja ga boleh ikutan ?” kata Indah&lt;br /&gt;“Iya nih, emangnya kita mau pesta lesbian apa, wah gua kan cewek normal nih” timpal Kiki&lt;br /&gt;“Udahlah, lu orang tenang aja, cowok-cowoknya nanti nyusul, pokoknya yang kali ini surprise deh ! dijamin kalian puas sampe ga bisa bangun lagi deh”&lt;br /&gt;Aku ingin sedikit membuat kejutan agar acara kali ini lain dari yang lain, karena itulah aku merahasiakan siapa pejantannya yang tidak lain adalah penjaga vilaku dan vila tetanggaku, Pak Imam dan Muklas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarinnya aku memang sudah mengabari Pak Imam lewat telepon bahwa aku besok akan ke sana dengan teman-temanku yang pernah kujanjikan pada mereka dulu. Pak Imam tentu antusias sekali dengan acara kali ini, kami telah mengatur skenario acaranya agar seru. Beberapa jam kemudian kami sampai di villaku, Pak Imam seperti biasa membukakan pintu garasi, bola matanya melihat jelalatan pada kami terutama Kiki yang hari itu pakaiannya seksi berupa rok mini dan sebuah tank top merah berdada rendah sehingga payudaranya seakan mau keluar. Dia kusuruh keluar dulu sampai aku memberi syarat padanya, dia menunggunya di villa tetangga yang tidak lain vila yang dijaga si Muklas. Setelah membereskan barang bawaan, kami menyantap makan siang, lalu ngobrol-ngobrol dan istirahat. Indah yang daritadi kelihatan letih terlelap lebih dulu. Kami bangun sore hari sekitar jam 4 sore.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh…sambil nunggu cowok-cowoknya mendingan kita berenang dulu yuk” ajakku pada mereka&lt;br /&gt;Aku melepaskan semua bajuku tanpa tersisa dan berjalan ke arah kolam dengan santainya&lt;br /&gt;“Wei…gila lo Ni, masa mau berenang ga pake apa-apa gitu, kalo keliatan orang gimana ?” tegur Indah&lt;br /&gt;“Iya Ni, lagian kan kalo si tua Imam itu dateng gimana tuh” sambung Kiki&lt;br /&gt;“Yah kalian, katanya mo party, masa berenang bugil aja ga berani, tenang aja Pak Imam udah gua suruh jangan ke sini sampai kita pulang nanti” bujukku sambil menarik tangan Kiki&lt;br /&gt;Di tepi kolam mereka masih agak ragu melepas pakaiannya, alasannya takut kepergok tetangga, setelah kutantang Kiki baru mulai berani melepas satu demi satu yang melekat di tubuhnya, aku membantu Indah yang masih agak malu mempreteli pakaiannya. Akhirnya kami bertiga nyebur ke kolam tanpa memakai apapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan-lahan rasa risih mereka pun mulai berkurang, kami tertawa-tawa, main siram-siraman air, dan balapan renang kesana kemari dengan bebasnya. Mungkin seperti inilah kira-kira gambaran tempat pemandian di istana haremnya para raja. Sesudah agak lama bermain di air aku naik ke atas dan mengelap tubuhku yang basah, lalu membalut tubuhku dengan kimono.&lt;br /&gt;“Ni, sekalian ambilin kita minum yah” pinta Kiki&lt;br /&gt;Akupun berjalan ke dalam dan meminum segelas air.&lt;br /&gt;“Ok, it’s the showtime” gumamku dalam hati, inilah saat yang tepat untuk menjalankan skenario ini. Aku segera menelepon vila sebelah menyuruh Pak Imam dan Muklas segera kesini karena pesta akan segera dimulai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya neng, kita segera ke sana” sahut Muklas sambil menutup gagang telepon&lt;br /&gt;Hanya dalam hitungan menit mereka sudah nampak di pekarangan depan vilaku. Aku yang sudah menunggu membukakan pintu untuk mereka.&lt;br /&gt;“Wah udah ga sabaran nih, dari tadi cuma ngintipin neng sama temen-temen neng dari loteng” kata Pak Imam&lt;br /&gt;“Pokoknya yang payudaranya gede itu buat saya dulu yah neng” ujar Muklas merujuk pada Kiki.&lt;br /&gt;"Saya juga mau yang dadanya aduhai neng" lanjut Pak Imam&lt;br /&gt;“Iya tenang, sabar, Pokoknya semua kebagian, ok” kataku “yang penting sekarang surprise buat mereka dulu”&lt;br /&gt;Setelah beberapa saat berbicara kasak-kusuk, akhirnya operasipun siap dilaksanakan. Pertama-tama dimulai dari Kiki. Aku berjalan ke arah kolam membawakan mereka dua gelas air, disana Indah sedang tiduran di kursi santai tanpa busana, sementara Kiki masih berendam di air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ki, lu bisa ke kamar gua sebentar ga, gua mo minta tolong dikit nih” pintaku padanya “lu lap badan dulu gih, gua tunggu di sana”&lt;br /&gt;Aku masuk ke dalam terlebih dahulu dan duduk di pingir ranjang menunggunya. Di balik pintu itu Pak Imam dan Muklas yang sudah kusuruh bugil telah siap memangsa temanku itu, kemaluan mereka sudah mengeras dan berdiri tegak seperti pedang yang terhunus. Tak lama kemudian Kiki memasuki kamarku sambil mengelap rambutnya yang masih basah.&lt;br /&gt;“Kenapa Ni, ada perlu apa emang ?” tanyanya.&lt;br /&gt;“Ngga, cuma mau ngasih surprise dikit kok” jawabku dengan menyeringai dan memberi aba-aba pada mereka. Sebelum Kiki sempat membalikkan badan, sepasang lengan hitam sudah memeluknya dari belakang dan tangan yang satunya dengan sigap membekap mulutnya agar tidak berteriak. Kiki yang terkejut tentu saja meronta-ronta , namun pemberontakkan itu justru makin membakar nafsu kedua orang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Imam dengan gemas meremas payudara kirinya dan memilin-milin putingnya. Si Muklas berhasil menangkap kedua pergelangan kakinya yang menendang-nendang. Dibentangkannya kedua tungkai itu, lalu dia berjongkok dengan wajah tepat di hadapan kemaluan Kiki.&lt;br /&gt;“Wah jembutnya lebat juga yah, kaya si neng” komentar Muklas sambil menyentuhkan lidahnya ke liang vagina Kiki, diperlakukan seperti itu Kiki cuma bisa merem melek dan mengeluarkan desahan tertahan karena bekapan Pak Imam begitu kokoh.&lt;br /&gt;“Hei, jangan rakus dong Klas, dia kan buat Pak Imam, tuh jatahlu masih nunggu di luar sana” kataku padanya&lt;br /&gt;Mengingat kembali sasarannya semula, Muklas menurunkan kembali kaki Kiki dan bergegas menuju ke kolam.&lt;br /&gt;“Jangan terlalu kasar yah ke dia, bisa-bisa pingsan gara-gara lu” godaku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Muklas keluar tinggallah kami bertiga di kamarku. Pak Imam langsung menghempaskan dirinya bersama Kiki ke ranjang spring bed-ku. Tak berapa lama terdengarlah jeritan Indah dari kolam, aku melihat dari jendela kamarku apa yang terjadi antara mereka. Indah terpelanting dari kursi santai dan berusaha melepaskan diri dari Muklas. Dia berhasil berdiri dan mendapat kesempatan menghindar, tapi kalah cepat dari Muklas, tukang kebun itu berhasil mendekapnya dari belakang lalu mengangkat badannya.&lt;br /&gt;“Jangan…tolong !!” jeritnya sambil meronta-ronta dalam gendongan Muklas&lt;br /&gt;Muklas dengan santai membawa Indah ke tepi kolam, lalu dilemparnya ke air, setelah itu dia ikutan nyebur. Dia air Indah terus berontak saat Muklas menggerayangi tubuhnya dalam himpitannya. Sekuat apapun Indah tentu saja bukan tandingan Muklas yang sudah kesurupan itu. Perlawanan Indah mengendur setelah Muklas mendesaknya di sudut kolam, riak di kolam juga mulai berkurang. Tidak terlalu jelas detilnya Muklas menggerayangi tubuh Indah, tapi aku dapat melihat Muklas memeluk erat Indah sambil melumat bibirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutinggalkan mereka menikmati saat-saat nikmatnya untuk kembali lagi pada situasi di kamarku. Aku lalu menghampiri Pak Imam dan Kiki untuk bergabung dalam kenikmatan ini. Sama seperti Indah, Kiki juga menjerit-jerit, namun jeritannya juga pelan-pelan berubah menjadi erangan nikmat akibat rangsangan-rangsangan yang dilakukan Pak Imam. Waktu aku menghampiri mereka Pak Imam sedang menjilati paha mulus Kiki sambil kedua tangannya masing-masing bergerilya pada payudara dan kemaluan Kiki.&lt;br /&gt;“Aduh Ni…tega-teganya lu nyerahin kita ke orang-orang kaya gini…ahhh !!” kata Kiki ditengah desahannya&lt;br /&gt;“Tenang Ki, ini baru namanya surprise, sekali kali coba produk kampung dong” kataku seraya melumat bibirnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berpagutan dengan Kiki beberapa menit lamanya. Jilatan Pak Imam mulai merambat naik hingga dia melumat dan meremas payudara Kiki secara bergantian, sementara tangannya masih saja mengobok-obok vaginanya. Desahan Kiki tertahan karena sedang berciuman denganku, tubuhnya menggeliat-geliat merasakan nikmat yang tiada tara.&lt;br /&gt;“Hhhmmhh…tetek Neng Kiki ini gede juga ya, lebih gede dari punya Neng” kata Pak Imam disela aktivitasnya.&lt;br /&gt;Memang sih diantara kami bereempat, payudara Kiki termasuk yang paling montok. Menurut pengakuannya, cowok-cowok yang pernah ML dengannya paling tergila-gila mengeyot benda itu atau mengocok penis mereka diantara himpitannya. Pak Imam pun tidak terkecuali, dia dengan gemas mengemut susunya, seluruh susu kanan Kiki ditelan olehnya dan Pak Imam juga mengocok penisnya diantara himpitan payudara montok Kiki….ach..aach..desah Kiki yang sangat menikmati kocokan penis di payudaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puas menetek pada Kiki, Pak Imam bersiap memasuki vagina Kiki dengan penisnya. Kulihat dalam posisinya diantara kedua belah paha Kiki dia memegang penisnya untuk diarahkan ke liang itu.&lt;br /&gt;“Ouch…sakit , duh kasar banget sih babu lu” Kiki meringis dan mencengkram lenganku waktu penis super Pak Imam mendorong-dorongkan penisnya dengan bernafsu&lt;br /&gt;“Tahan Ki, ntar juga lu keenakan kok, pokoknya enjoy aja” kataku sambil meremasi kedua payudaranya yang sudah basah dan merah akibat disedot Pak Imam.&lt;br /&gt;Pak Imam menyodokkan penisnya dengan keras sehingga Kiki pun tidak bisa menahan jeritannya, Kiki kelihatan mau menangis nampak dari matanya yang sedikit berair.Pak Imam mulai menggarap Kiki dengan genjotannya. Aku merasakan tangan Kiki menyelinap ke bawah kimonoku menuju selangkangan, eennghh…aku mendesah merasakan jari-jari Kiki menggerayangi kemaluanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku lalu naik ke wajah Kiki berhadapan dengan Pak Imam yang sedang menggenjotnya. Kiki langsung menjilati kemaluanku dan Pak Imam menarik tali pinggang kimonoku sehingga tubuhku tersingkap. Dengan terus menyodoki Kiki, dia meraih payudaraku yang kiri, mula-mula dibelainya dengan lembut tapi lama-lama tangannya semakin keras mencengkramnya sampai aku meringis menahan sakit. Dia juga menyorongkan kepalanya berusaha mencaplok payudara yang satunya. Aku yang mengerti apa maunya segera mencondongkan badanku ke depan sehingga dadaku pun makin membusung indah. Ternyata dia tidak langsung mencaplok payudaraku, tetapi hanya menjulurkan lidahnya untuk menjilati putingku menyebabkan benda itu makin mengeras saja. Aku merasakan sensasi yang luar biasa, geli bercampur nikmat. Sapuan-sapuan lidah Kiki pada vaginaku membuat daerah itu semakin becek, bukan cuma itu saja Kiki juga mengorek-ngoreknya dengan jarinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mendesah tak karuan marasakan jilatan dan sedotan pada klistoris dan putingku. Ciuman Pak Imam merambat naik dari dadaku hingga hinggap di bibirku, kami berCiuman dengan penuh nafsu. Tidak kuhiraukan nafasnya yang bau rokok, lidah kami beradu dengan liar sampai ludah kami bercampur baur.&lt;br /&gt;“Aahh…oohh…gua dah mau…Pak !!” erang Kiki bersamaan dengan tubuhnya yang mengejang dan membusur ke atas.&lt;br /&gt;Melihat reaksi Kiki, Pak Imam semakin memperdahsyat sodokannya dan semakin ganas meremas dadanya. Aku sendiri tidak merasa akan segera menyusul Kiki, dibawah sana seperti mau meledak rasanya. Dalam waktu yang hampir bersamaan aku dan Kiki mencapai klimaks, tubuh kami mengejang hebat dan cairan kewanitaanku tumpah ke wajah Kiki. Erangan kami memenuhi kamar ini membuat Pak Imam semakin liar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah aku ambruk ke samping, Pak Imam menindih Kiki dan mulai menciuminya, dijilatinya cairan cintaku yang blepotan di sekitar mulut Kiki, tangannya tak henti-hentinya menggerayangi payudara montok itu, seolah-oleh tak ingin lepas darinya.&lt;br /&gt;“Hhmmpphh…sluurrpp…cup…cup…” demikian bunyinya saat mereka bercipokan, lidah mereka saling membelit dan bermain di rongga mulut masing-masing. Pak Imam cukup pengertian akan kondisi Kiki yang mulai kepayahan, jadi setelah puas berciuman dia membiarkannya memulihkan tenaga dulu. Dan kini disambarnya tubuhku, padahal gairahku baru naik setengahnya setelah orgasme barusan. Tubuhku yang dalam posisi tengkurap diangkatnya pada bagian pinggul sehingga menungging. Dia membuka lebar bibir vaginaku dan menyentuhkan kepala penisnya disitu. Benda itu pelan-pelan mendesak masuk ke vaginaku. Aku mendesah sambil meremas-remas sprei menghayati proses pencoblosan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permainan Pak Imam sungguh membuatku terhanyut, dia memulainya dengan genjotan-genjotan pelan, tapi lama-kelamaan sodokannya terasa makin keras dan kasar sampai tubuhku berguncang dengan hebatnya. Aku meraih tangannya untuk meremasi payudaraku yang berayun-ayun. Tiba-tiba suara desahan Kiki terdengar lagi menjari sahut menyahut dengan desahanku. Gila, penjaga vilaku ini mengerjai kami berdua dalam waktu bersamaan, bedanya aku dikocok dengan penis sedangkan Kiki dikocok dengan jari-jarinya. Kiki membuka pahanya lebih lebar lagi agar jari-jari Pak Imam bermain lebih leluasa.&lt;br /&gt;“Aduhh…aahh…gila Ki…enak banget !!” ceracauku sambil merem-melek&lt;br /&gt;“Oohh…terus Pak…kocok terus” Kiki terus mendesah dan meremas-remas dadanya sendiri, wajahnya sudah memerah saking terangsangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yak…dikit lagi…aahh…Pak…udah mau” aku mempercepat iramaku karena merasa sudah hampir klimaks&lt;br /&gt;“Neng Nia…Neng Kiki…bapak juga…mau keluar…eerrhh” geramnya dengan mempercepat gerakkannya.&lt;br /&gt;Penis itu terasa menyodok semakin dalam bahkan sepertinya menyentuh dasar rahimku. Sebuah rintihan panjang menandai orgasmeku, tubuhku berkelejotan seperti kesetrum. Kemudian dia lepaskan penisnya dari vaginaku dan berdiri di ranjang. Disuruhnya Kiki berlutut dan mengoral penisnya yang berlumuran cairan cintaku. Kiki berlutut mengemut penis basah itu sambil tangan kanannya mengocok vaginanya sendiri yang tanggung belum tuntas. Aku bangkit perlahan dan ikut bergabung dengan Kiki menikmati penis Pak Imam. Kiki mengemut batangnya, aku mengemut buah zakarnya, kami saling berbagi menikmati ‘sosis’ itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah kulumannya mendadak Kiki merintih tertahan, tubuhnya seperti menggigil, dan kulihat ke bawah ternyata dari vaginanya mengucur cairan bening hasil masturbasinya sendiri. Disusul beberapa detik kemudian, Pak Imam mencabut penisnya dari mulutku lalu mengerang panjang. Cairan kental berbau khas memancar dengan derasnya membasahi wajah kami. Kami berebutan menelan cairan itu, penis itu kupompa dalam genggamanku agar semuanya keluar, nampak pemiliknya mendesah-desah dan kelabakan&lt;br /&gt;“Sabar, sabar dong neng, bisa putus kontol bapak kalo rebutan gini” katanya terbata-bata&lt;br /&gt;Setelah tidak ada yang keluar lagi Kiki menjilati sisanya di wajahku, demikian pula sebaliknya. Mereka berdua akhirnya ambruk kecapaian, wajah Pak Imam jatuh tepat di dada Kiki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat mereka ambruk, sebaliknya gairahku mulai timbul lagi. Maka kutinggalkan mereka untuk melihat keadaan Indah dan Muklas. Aku tiba di kolam melihat Muklas sedang menggarap tubuh mungil Indah. Di daerah dangkal Indah dalam posisi berpegangan pada tangga kolam, Muklas dari bawahnya juga dalam posisi berdiri sedang asyik menggenjot penisnya pada vagina Indah. Kedua payudara Indah bergoyang naik turun seirama goyang tubuhnya. Pasti adegan ini membuat para cowok di kampusku sirik pada Muklas yang buruk rupa tapi bisa ngentot dengan gadis seimut itu.&lt;br /&gt;“Belum selesai juga lu orang, udah berapa ronde nih ?” sapaku&lt;br /&gt;“Edan Ni…gua sampe klimaks tiga kali…aahh !!” desah Indah tak karuan&lt;br /&gt;“Neng….temennya enak banget, udah cantik, memeknya seret lagi” komentar Muklas sambil terus menggenjot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indah tak kuasa menahan rintihannya setiap Muklas menusukkan penisnya, tubuhnya bergetar hebat akibat tarikan dan dorongan penis penjaga vila itu pada kemaluannya. Kepala Muklas menyelinap lewat ketiak sebelah kirinya lalu mulutnya mencaplok buah dadanya. Pinggul Indah naik turun berkali kali mengikuti gerakan Muklas. Jeritannya makin menjadi-jadi hingga akhirnya satu lenguhan panjang membuatnya terlarut dalam orgasme, beberapa saat tubuhnya menegang sebelum akhirnya terkulai lemas di tangga kolam. Setelah menaklukkan Indah, Muklas memanggilku yang mengelus-ngelus kemaluanku sendiri menonton adegan mereka.&lt;br /&gt;“Sini neng, mendingan dipuasin pake kontol saya aja daripada ngocok sendiri”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akupun turun ke air yang merendam sebatas lutut kami, disambutnya aku dengan pelukannya, tangannya mengelusi punggungku terus turun hingga meremas bongkahan pantatku. Sementara tanganku juga turun meraih kemaluannya.&lt;br /&gt;“Gila nih kontol, masih keras juga…udah keluar berapa kali tadi ?” tanyaku waktu menggenggam batangnya yang masih ‘lapar’ itu.&lt;br /&gt;“Baru sekali tadi…abis saya masih nungguin neng sih” godanya saambil nyengir.&lt;br /&gt;Kemudian diangkatnya badanku dengan posisi kakiku dipinggangnya, aku melingkarkan tangan pada lehernya agar tidak jatuh. Diletakkannya aku pada lantai di tepi kolam, disebelah Indah yang terkapar, dia merapatkan badannya diantara kedua kakiku yang tergantung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mulai menciumiku dari telinga, lidah itu menelusuri belakang telingaku juga bermain-main di lubangnya. Dengusan nafas dan lidahnya membuatku merasa geli dan menggeliat-geliat. Mulutnya berpindah melumat bibirku dengan ganas, lidahnya menyapu langit-langit mulutku, kurespon dengan mengulum lidahnya. Tanganku meraba-raba kebawah mencari kemaluannya karena birahiku telah demikian tingginya, tak sabar lagi untuk dientot. Ketika kuraih benda itu kutuntun memasuki kemaluanku, tangan kanan Muklas ikut menuntun senjatanya menembaki sasaran. Saat kepala penisnya menyentuh bibir kemaluanku, dia menekannya ke dalam, mulutku menggumam tertahan karena sedang berciuman dengannya. Ciuman kami baru terlepas disertai jeritan kecil ketika Muklas mengehentakkan pinggulnya hingga penisnya tertanam semua dalam vaginaku. Pinggulnya bergerak cepat diantara kedua pahaku sementara mulutnya mencupangi pundak dan leher jenjangku. Aku hanya bisa menengadahkan kepala menatap langit dan mendesah sejadi-jadinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau dibandingkan dengan Pak Imam, memang sodokan Muklas lebih mantap selain karena usianya masih 30-an, badannya juga lebih berisi daripada Pak Imam yang tinggi kurus seperti Datuk Maringgih itu. Di tengah badai kenikmatan itu sekonyong-konyong aku melihat sesuatu yang bergerak-gerak di jendela kamarku. Kufokuskan pandanganku dan astaga…ternyata si Kiki, dia sedang disetubuhi dari belakang dengan posisi menghadap jendela, tubuhnya terlonjak-lonjak dan terdorong ke depan sampai payudaranya menempel pada kaca jendela, mulutnya tampak mengap-mengap atau terkadang meringis, sungguh suatu pemandangan yang erotis. Adegan itu ditambah serangan Muklas yang makin gencar membuatku makin tak terkontrol, pelukanku semakin erat sehingga dadaku tertekan di dadanya, kedua kakiku menggelepar-gelepar menepuk permukaan air. Aku merasa detik-detik orgasme sudah dekat, maka kuberitahu dia tentang hal ini. Muklas memintaku bertahan sebentar lagi karena dia juga sudah mau keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Susah payah aku bertahan agar bisa klimaks bersama, setelah kurasakan ada cairan hangat menyemprot di rahimku, akupun melepas sesuatu yang daritadi ditahan-tahan. Perasaan itu mengalir dengan deras di sekujur tubuhku, otot-ototku mengejang, tak terasa kukuku menggores punggungnya. Beberapa detik kemudian badanku terkulai lemas seolah mati rasa, begitu juga Muklas yang jatuh bersandar di pinggir kolam. Aku berbaring di pinggir kolam di atas lantai marmer, kedua payudaraku nampak bergerak naik turun seiring desah nafasku. Kugerakkan mataku, di jendela Kiki dan Pak Imam sudah tak nampak lagi, di sisi lain Indah yang sudah pulih merendam dirinya di air dangkal untuk membasuh tubuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami beristirahat sebentar, bahkan beberapa diantara kami tertidur. Pesta dimulai lagi sekitar pukul 8 malam setelah makan. Kami mengadakan permainan gila, ceritanya kami bertiga bermain poker dengan taruhan yang kalah paling awal harus rela dikeroyok kedua penjaga villa itu dan diabadikan dalam video klip dengan HP Nokia model terbaru milik Indah, filenya akan disimpan dalam komputer Indah untuk koleksi dan tidak akan boleh dicopy atau dilihat orang lain selain geng kami, mengingat kasus bokep Itenas. Kami duduk melingkar di ranjang, Pak Imam dan Muklas kusuruh menjauh dan kularang menyentuh siapapun sebelum ada yang kalah, mereka menunggu hanya dengan memakai kolor, sambil sebentar-sebentar mengocok anunya sendiri Aku mulai membagikan kartu dan permainan dimulai. Suasana tegang menyelimuti kami bertiga, setelah akhirnya Kiki melempar kartunya yang buruk sambil menepuk jidatnya, dia kalah. Kedua orang yang sudah tak sabar menunggu itu segera maju mengeksekusi Kiki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiki sempat berontak, tapi berhasil dilumpuhkan mereka dengan dipegangi erat-erat dan digerayangi bagian-bagian sensitifnya. Muklas menyusupkan tangannya ke kimono Kiki meraih payudaranya yang tak memakai apa-apa di baliknya. Pak Imam menyerang dari bawah dengan merentangkan lebar-lebar kedua paha Kiki dan langsung membenamkan kepalanya pada kemaluannya yang terawat dan berbulu lebat itu. Perlakuan ini membuat rontaan Kiki terhenti, kini dia malah mengelus-elus penis Muklas yang menegang sambil memejamkan mata menikmati vaginanya dijilati Pak Imam dan dadanya diremas Mulkas. Aku melihat lidah Pak Imam menjalar jari belahan bawah hingga puncak kemaluan Kiki, lalu disentil-sentilkan pada klistorisnya. Kiki tidak tahan lagi, dia merundukkan badan untuk memasukkan penis Muklas ke mulutnya, benda itu dikulumnya dengan rakus seperti sedang makan es krim. Event menarik itu tidak dilewatkan Indah dengan kamera-HP nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiki terengah-engah melayani penis super Muklas, sepertinya dia sudah tidak peduli keadaan sekitarnya, rasa malunya hilang digantikan dengan hasrat yang besar untuk menyelesaikan gairahnya. Dia mempertunjukkan suatu live show yang panas seperti aktris bokep dan Indah sebagai juru kameranya. Pak Imam yang baru saja melepaskan kolornya menggesek-gesekkan benda itu ke payudara Kiki, sebagai pemanasan sebelum memasukinya. Kemulusan tubuh Kiki terpampang begitu Muklas menarik lepas tali pinggang pada kimononya, sesosok tubuh yang putih mulus serta terawat baik diantara dua tubuh hitam dan kasar, sungguh perpaduan yang kontras tapi menggairahkan. Pak Imam mempergencar rangsangannya dengan menCiumi batang kakinya mulai dari betis, tumit, hingga jari-jari kakinya. Kiki yang sudah kesurupan ‘setan seks’ itu jadi makin gila dengan perlakuan seperti itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ahhh…awww…Pak enak banget….masukin aja sekarang !!” rintihnya manja sambil meraih penis Pak Imam yang masih bergesekan dengan bibir vaginanya.&lt;br /&gt;Pak Imam pun mendorong penis itu membelah kedua belahan kemaluan Kiki diiringi desahan nikmat yang memenuhi kamar ini sampai aku dibuat merinding mendengarnya. Aku mengeluarkan payudara kiriku dari balik kimono dan meremasnya dengan tanganku, tangan yang satu lagi turun menggesek-gesekkan jariku ke kemaluanku, Indah yang juga sudah horny sesekali mengelus kemaluannya sendiri. Kiki nampak sangat liar, kemaluannya digenjot dari depan, dan Muklas yang menopang tubuhnya dari belakang meremasi kedua payudaranya serta memencet-mencet putingnya. Rambutnya yang sudah terurai itu disibakkan Muklas, lalu melumat leher dan pundaknya dengan jilatan dan gigitan ringan. Hal ini menyebabkan Kiki tambah menggelinjang dan mempercepat kocokannya pada penis Muklas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serangan Pak Imam pada vagina Kiki semakin cepat sehingga tubuhnya menggelinjang hebat&lt;br /&gt;“Aaakhhh…aahhh !!” jerit Kiki dengan melengkungkan tubuhnya ke atas&lt;br /&gt;Kiki telah mencapai orgasme hampir bersamaan dengan Pak Imam yang menyemprotkan spermanya di dalam rahimnya. Adegan ini juga direkam oleh Indah, difokuskan terutama pada wajah Kiki yang sedang orgasme. Tanpa memberi istirahat, Muklas menaikkan Kiki ke pangkuannya dengan posisi membelakangi. Kembali vagina Kiki dikocok oleh penis Muklas. Walaupun masih lemas dia mulai menggoyangkan pantatnya mengikuti kocokan Muklas. Muklas yang merasa keenakan hanya bisa mengerang sambil meremas pantat Kiki menikmati pijatan kemaluannya. Pak Imam mengistirahatkan penisnya sambil menyusu dari kedua payudara Kiki secara bergantian. Aku semakin dalam mencucukkan jariku ke dalam vaginaku saking terangsangnya, sampai-sampai cairanku mulai meleleh membasahi selangkangan dan jari-jariku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bosan dengan gaya berpangkuan, Muklas berbaring telentang dan membiarkan Kiki bergoyang di atas penisnya. Kemudian dia menyuruh Indah naik ke atas wajahnya agar bisa menikmati kemaluannya. Indah yang daritadi sudah terangsang itu segera melakukan apa yang disuruh tanpa ragu-ragu. Seluruh wajah Muklas tertutup oleh daster transparan Indah, namun aku masih dapat melihat dia dengan rakusnya melahap kemaluannya sambil menyusupkan tangannya dari bawah daster menuju payudaranya. Pak Imam yang anunya sudah mulai bangkit lagi menerkamku, kami berguling-guling sambil berCiuman penuh nafsu. Dengan tetap berCiuman Pak Imam memasukkan penisnya ke vaginaku, cairan yang melumuri selangkanganku melancarkan penetrasinya. Dengan kecepatan tinggi penisnya keluar masuk dalam vaginaku hingga aku histeris setiap benda itu menghujam keras ke dalam. Aku cuma bisa pasrah di bawah tindihannya membiarkan tangannya menggerayangi payudaraku, mulutnya pun terus menjilati leherku. Aku masih memakai kimonoku, hanya saja sudah tersingkap kesana kemari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku melihat Muklas masih berasyik-masyuk dengan kedua temanku, hanya kali ini Indah sudah bertukar posisi dengan Kiki. Sekarang mereka saling berhadapan, Indah bergoyang naik turun diatas penis Muklas sambil berCiuman dengan Kiki yang mekangkangi wajah Muklas. Kiki membuka kakinya lebar-lebar sehingga cairannya semakin mengalir, cairan itu diseruput dengan rakus oleh si Muklas sampai terdengar suara sluurrpp…. sshhrrpp…Ketika aku sedang menikmati orgasmeku yang hebat, dia tekan sepenuhnya penis itu ke dalam dan ini membawa efek yang luar biasa padaku dalam menghayati setiap detik klimaks tersebut, tubuhku menggelinjang dan berteriak tak tentu arah sampai akhirnya melemas kembali. Pesta gila-gilaan ini berakhir sekitar jam 11 malam. Aku sudah setengah sadar ketika Pak Imam menumpahkan maninya di wajahku, tulang-tulangku serasa berantakan. Kiki sudah terkapar lebih dulu dengan tubuh bersimbah peluh dan ceceran sperma di dadanya, dari pangkal pahanya yang terbuka nampak cairan kewanitaan bercampur sperma yang mengalir bak mata air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum tak sadarkan diri aku masih sempat melihat Muklas menyodok memek Kiki tubuh keduanya sudah mandi keringat. Karena letih dan ngantuk aku pun segera tertidur tanpa kupedulikan jeritan histeris Kiki maupun tubuhku yang sudah lengket oleh sperma. Besok paginya aku terbangun ketika jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh pagi dan aku hanya mendapati Indah yang masih terlelap di sebelah kiriku. Kuguncang tubuh Indah untuk membangunkannya.&lt;br /&gt;“Gimana Dah…puas semalem ?” tanyaku&lt;br /&gt;“Gila gua dientotin sampe kelenger , barbar banget tuh dua orang, eh…omong-omong pada kemana yang lain si Kiki juga ga ada ?”&lt;br /&gt;“Ga tau juga tuh gua juga baru bangun kok, duh lengket banget mandi dulu yuk…udah lengket gini” ajakku karena merasa tidak nyaman dengan sperma kering terutama di wajahku, rasanya seperti ada sarang laba-laba menempel di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru saja keluar dari kamar, sayup-sayup sudah terdengar suara desahan, kuikuti asal suara itu yang ternyata dari kamar mandi. Kami berdua segera menuju ke kamar mandi yang pintunya setengah terbuka itu, kami tengok ke dalam dan melihat Kiki dan kedua penjaga villa itu. Darahku berdesir melihat pemandangan erotis di depan kami, dimana Kiki sedang dikerjai oleh mereka di lantai kamar mandi. Muklas sedang enak-enaknya mengocok senjatanya diantara kedua gunung bulat itu, sedangkan Pak Imam berlutut diantara paha jenjang itu sedang menyetubuhinya, air dan sabun membuat tubuh mereka basah berkilauan. Kedatangan kami sepertinya tidak terlalu membuat mereka terkejut, mereka malah menyapa kami sambil terus ‘bekerja’. Aku dengan tidak terlepas dari live show itu berjalan ke arah shower dan membuka kimonoku diikuti Indah dari belakang. Air hangat mengucur membasuh dan menyegarkan tubuh kami, kuambil sabun cair dan menggosokkannya ke sekujur tubuh Indah. Demikian juga Indah dia melakukan hal yang sama padaku, kami saling menyabuni satu sama lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami saling mengelus bagian tubuh masing-masing, suatu ketika ketika tanganku sampai ke bawah, iseng-iseng kubelai bibir kemaluannya sekaligus mempermainkan klistorisnya.&lt;br /&gt;“Uuhh...Ni !!” dia menjerit kecil dan mempererat pelukannya padaku sehingga buah dada kami saling berhimpit.&lt;br /&gt;Tangan Indah yang lembut juga mengelusi punggungku lalu mulai turun ke bawah meremas bongkahan pantatku. Darahku pun mengalir makin cepat ditambah lagi adegan panas Kiki dengan kedua pria itu membuatku makin naik. Indah mendekatkan wajahnya padaku dan menCium bibirku yang terbuka karena sedang mendesah, selama beberapa menit bibir kami berpagutan. Kemudian aku memutar badanku membelakangi Indah supaya bisa lebih nyaman menonton Kiki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku melihat wajah horny Kiki yang cantik, dia meringis dan mengerang menikmati tusukan Pak Imam pada vaginanya, sementara Muklas hampir mencapai orgasmenya, dia semakin cepat menggesek-gesekkan penisnya diantara gunung kembar itu, tangannya pun semakin keras mencengkram daging kenyal itu sehingga pemiliknya merintih kesakitan. Akhirnya menyemprotlah spermanya membasahi dada, leher dan mulut Kiki. Mataku tidak berkedip menyaksikan semua itu sambil menikmati belaian Indah pada daerah sensitifku. Dengan tangan kanannya dia memainkan payudaraku, putingnya dipencet dan dipilin hingga makin menegang, tangan kirinya meraba-raba selangkanganku. Perbuatan Indah yang mengobok-obok vaginaku dengan jarinya itu hampir membuatku orgasme, sungguh sulit dilukiskan dengan kata-kata betapa nikmatnya saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih menikmati jari-jari Indah bermain di vaginaku ketika Muklas yang baru menyelesaikan hajatnya dengan Kiki berjalan ke arahku, penisnya agak menyusut karena baru orgasme. Jantungku berdetak lebih kencang menunggu apa yang akan terjadi. Tangannya mendarat di payudara kiriku dan meremasnya dengan lembut sambil sesekali memelintirnya. Lalu dia membungkuk dan mengarahkan kepalanya ke payudara kananku yang langsung dikenyotnya. Aku memejamkan mata menghayati suasana itu dan mengeluarkan desahan menggoda. Lalu aku merasakan kaki kananku diangkat dan sesuatu mendesak masuk ke vaginaku. Sejenak kubuka mataku untuk melihat, dan ternyata yang bertengger di vaginaku bukan lagi tangan Indah tapi penis Muklas yang sudah bangkit lagi. Kembali aku disetubuhi dalam posisi berdiri sambil digerayangi Indah dari belakang. Tubuhku seolah terbang tinggi, wajahku menengadah dengan mata merem-melek merasakan nikmat yang tak terkira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir satu jam lamanya kami melakukan orgy di kamar mandi. Akhirnya setelah mandi bersih-bersih kami bertiga mencari udara segar dengan berjalan-jalan di kompleks sekalian makan siang di sebuah restoran di daerah itu. Setelah makan kami kembali ke vila dan mengepak barang untuk kembali ke Jakarta. Indah dan Kiki keluar dari kamar terlebih dulu meninggalkanku yang masih membereskan bawaanku yang lebih banyak. Cukup lama juga aku dikamar gara-gara sibuk mencari alat charge HP-ku yang ternyata kutaruh di lemari meja rias. Waktu aku menuju ke garasi terdengar suara desahan dan ya ampun...ternyata mereka sedang bermain ‘short time’ sambil menungguku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indah yang celana panjang dan dalamnya sudah dipeloroti sedang menungging dengan bersandar pada moncong mobil, Pak Imam menyodokinya dari belakang sambil memegangi payudaranya yang tidak terbuka. Sementara di pintu mobil, Kiki berdiri bersandar dengan baju dan rok tersingkap, paha kirinya bertumpu pada bahu Muklas yang berjongkok di bawahnya. Celana dalamnya tidak dibuka, Muklas menjilati kemaluannya hanya dengan menggeser pinggiran celana dalamnya, tangannya turut bekerja meremasi payudara dan pantatnya.&lt;br /&gt;“Weleh...weleh...masih sempat-sempatnya lu orang, asal jangan kelamaan aja, ntar kejebak macet kita” kataku sambil geleng-geleng kepala.&lt;br /&gt;“Tengan neng ga usah buru-buru, masih pagi kok, ini cuma sebentar aja kok” tanggap Pak Imam dengan terengah-engah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya setelah 15 menitan Pak Imam melepas penisnya dan memanggilku untuk bergabung dengan Indah menjilatinya. Aku tadinya menolak karena tak ingin make upku luntur, tapi karena didesak terus akhirnya aku berjongkok di sebelah Indah.&lt;br /&gt;“Tapi kalo keluar lu yang isep ya Dah, ntar muka gua luntur” kataku padanya yang hanya dijawab dengan anggukan kepala sambil mengulum benda itu&lt;br /&gt;Sesuai perjanjian tidak lama kemudian Pak Imam menggeram dan cepat-cepat kuberikan penis itu pada Indah yang segera memasukkan ke mulutnya. Pria itu mendesah panjang sambil menekan penisnya ke mulut Indah, Indah sendiri sedang menyedot sperma dari batang itu, sepertinya yang keluar tidak banyak lagi soalnya Indah tidak terlalu lama mengisapnya.&lt;br /&gt;“Yuk cabut, udah ga haus lagi kan Dah ?” ujar Kiki yang sudah merapikan kembali pakaiannya.&lt;br /&gt;Kami naik ke mobil dan kembali ke kota kami dengan kenangan tak terlupakan. Dalam perjalanan kami saling berbagi cerita dan kesan-kesan dari pengalaman kemarin dan membicarakan rencana untuk mengerjai si Ratna yang hari ini absen.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8096187244134823528-8209794878220368171?l=alita-dee.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alita-dee.blogspot.com/feeds/8209794878220368171/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://alita-dee.blogspot.com/2009/06/pesta-seks-kejutan_30.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8096187244134823528/posts/default/8209794878220368171'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8096187244134823528/posts/default/8209794878220368171'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alita-dee.blogspot.com/2009/06/pesta-seks-kejutan_30.html' title='Pesta Seks Kejutan'/><author><name>dee alita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15608335270076570228</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_klCrRrqSP08/SfEyqgcHvAI/AAAAAAAAAAk/RLjidh3m4gM/S220/gueeeeeeeeeeeeee.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8096187244134823528.post-987304325761395157</id><published>2009-06-30T01:35:00.000-07:00</published><updated>2009-06-30T01:37:09.746-07:00</updated><title type='text'>pesta sex</title><content type='html'>Hari itu adalah hari Minggu sebulan setelah peristiwaku di vila bersama Pak Joko dan Taryo ( baca: Berenang Bugil ), selama ini aku belum ke sana lagi akibat kesibukan kuliahku. Hari Minggu itu aku pergi ke sana untuk refreshing seperti biasa karena Seninnya tanggal merah atau libur. Kali ini aku tidak sendiri tapi bersama 2 orang teman cewekku yaitu Verna dan Indah, kami semua adalah teman akrab di kampus, sebenarnya geng kami ini ada 4 orang, satu lagi si Ratna yang hari ini tidak bisa ikut karena ada acara dengan keluarganya. Kami sama-sama terbuka tentang seks dan sama-sama penggemar seks, Verna dikaruniai tubuh tinggi semampai dengan buah dada yang bulat montok yang membuat pikiran kotor para cowok melayang-layang, beruntunglah mereka karena Verna tidak sulit diajak "naik ranjang" karena dia sudah ketagihan seks sejak SMP. Sedangkan Indah mempunyai wajah yang imut dengan rambut panjang yang indah, bodynya pun tidak kalah dari Verna walaupun payudaranya lebih kecil, namun dibalik wajah imutnya ternyata Indah termasuk cewek yang lihai memanfaatkan cowok, sudah berkali-kali dia ganti pacar gara-gara sifat materenya. Sedangkan aku sendiri sepertinya kalian sudah tahulah cewek seperti apa aku ini dari cerita-ceritaku dulu. Baiklah, sekarang kita kembali ke kejadian hari itu yang rencananya mau mengadakan orgy party setelah sekian lama otak kami dijejali bahan-bahan kuliah dan urusan sehari-hari. Waktu itu Verna protes karena aku tidak memperbolehkannya mengajak teman-teman cowok yang biasa diajak, begitu juga Indah yang ikut mendukung Verna karena pacarnya juga tidak boleh diajak. "Emangnya lu ngundang siapa aja sih Ci, masa si Chevy aja ga boleh ikutan?" kata Indah. "Iya nih, emangnya kita mau pesta lesbian apa, wah gua kan cewek normal nih" timpal Verna. "Udahlah, lu orang tenang aja, cowok-cowoknya nanti nyusul, pokoknya yang kali ini surprise deh! dijamin kalian puas sampe ga bisa bangun lagi deh". Aku ingin sedikit membuat kejutan agar acara kali ini lain dari yang lain, karena itulah aku merahasiakan siapa pejantannya yang tidak lain adalah penjaga vilaku dan vila tetanggaku, Pak Joko dan Taryo. Kemarinnya aku memang sudah mengabari Pak Joko lewat telepon bahwa aku besok akan ke sana dengan teman-temanku yang pernah kujanjikan pada mereka dulu. Pak Joko tentu antusias sekali dengan acara kali ini, kami telah mengatur skenario acaranya agar seru. Beberapa jam kemudian kami sampai di villaku, Pak Joko seperti biasa membukakan pintu garasi, bola matanya melihat jelalatan pada kami terutama Verna yang hari itu pakaiannya seksi berupa sebuah tank top merah berdada rendah dengan rok mini. Dia kusuruh keluar dulu sampai aku memberi syarat padanya, dia menunggunya di villa tetangga yang tidak lain vila yang dijaga si Taryo. Setelah membereskan barang bawaan, kami menyantap makan siang, lalu ngobrol-ngobrol dan istirahat. Indah yang daritadi kelihatan letih terlelap lebih dulu. Kami bangun sore hari sekitar jam 4 sore. "Eh.. sambil nunggu cowok-cowoknya mendingan kita berenang dulu yuk" ajakku pada mereka. Aku melepaskan semua bajuku tanpa tersisa dan berjalan ke arah kolam dengan santainya. "Wei.. gila lo Ci, masa mau berenang ga pake apa-apa gitu, kalo keliatan orang gimana?" tegur Indah. "Iya Ci, lagian kan kalo si tua Joko itu dateng gimana tuh" sambung Verna. "Yah kalian, katanya mo party, masa berenang bugil aja ga berani, tenang aja Pak Joko udah gua suruh jangan ke sini sampai kita pulang nanti" bujukku sambil menarik tangan Verna. Di tepi kolam mereka masih agak ragu melepas pakaiannya, alasannya takut kepergok tetangga, setelah kutantang Verna baru mulai berani melepas satu demi satu yang melekat di tubuhnya, aku membantu Indah yang masih agak malu mempreteli pakaiannya. Akhirnya kami bertiga nyebur ke kolam tanpa memakai apapun. Perlahan-lahan rasa risih mereka pun mulai berkurang, kami tertawa-tawa, main siram-siraman air, dan balapan renang kesana kemari dengan bebasnya. Mungkin seperti inilah kira-kira gambaran tempat pemandian di istana haremnya para raja. Sesudah agak lama bermain di air aku naik ke atas dan mengelap tubuhku yang basah, lalu membalut tubuhku dengan kimono. "Ci, sekalian ambilin kita minum yah" pinta Verna. Akupun berjalan ke dalam dan meminum segelas air. "Ok, it's the showtime" gumamku dalam hati, inilah saat yang tepat untuk menjalankan skenario ini. Aku segera menelepon vila sebelah menyuruh Pak Joko dan Taryo segera kesini karena pesta akan segera dimulai. "Iya neng, kita segera ke sana" sahut Taryo sambil menutup gagang telepon. Hanya dalam hitungan menit mereka sudah nampak di pekarangan depan vilaku. Aku yang sudah menunggu membukakan pintu untuk mereka. "Wah udah ga sabaran nih, daritadi cuma ngintipin neng sama temen-temen neng dari loteng" kata Pak Joko. "Pokoknya yang rambutnya dikuncir itu buat saya dulu yah neng" ujar Taryo merujuk pada Indah. "Iya tenang, sabar, Pokoknya semua kebagian, ok" kataku "yang penting sekarang surprise buat mereka dulu". Setelah beberapa saat berbicara kasak-kusuk, akhirnya operasipun siap dilaksanakan. Pertama-tama dimulai dari Verna. Aku berjalan ke arah kolam membawakan mereka dua gelas air, disana Indah sedang tiduran di kursi santai tanpa busana, sementara Verna masih berendam di air. "Ver, lu bisa ke kamar gua sebentar ga, gua mo minta tolong dikit nih" pintaku padanya. "Lu lap badan dulu gih, gua tunggu di sana". Aku masuk ke dalam terlebih dahulu dan duduk di pingir ranjang menunggunya. Di balik pintu itu Pak Joko dan Taryo yang sudah kusuruh bugil telah siap memangsa temanku itu, kemaluan mereka sudah mengeras dan berdiri tegak seperti pedang yang terhunus. Tak lama kemudian Verna memasuki kamarku sambil mengelap rambutnya yang masih basah. "Kenapa Ci, ada perlu apa emang?" tanyanya. "Ngga, cuma mau ngasih surprise dikit kok" jawabku dengan menyeringai dan memberi aba-aba pada mereka. Sebelum Verna sempat membalikkan badan, sepasang lengan hitam sudah memeluknya dari belakang dan tangan yang satunya dengan sigap membekap mulutnya agar tidak berteriak. Verna yang terkejut tentu saja meronta-ronta, namun pemberontakan itu justru makin membakar nafsu kedua orang itu. Pak Joko dengan gemas meremas payudara kirinya dan memilin-milin putingnya. Si Taryo berhasil menangkap kedua pergelangan kakinya yang menendang-nendang. Dibentangkannya kedua tungkai itu, lalu dia berjongkok dengan wajah tepat di hadapan kemaluan Verna. "Wah jembutnya lebat juga yah, kaya si neng" komentar Taryo sambil menyentuhkan lidahnya ke liang vagina Verna, diperlakukan seperti itu Verna cuma bisa merem melek dan mengeluarkan desahan tertahan karena bekapan Pak Joko begitu kokoh. "Hei, jangan rakus dong Tar, dia kan buat Pak Joko, tuh jatahlu masih nunggu di luar sana" kataku padanya. Mengingat kembali sasarannya semula, Taryo menurunkan kembali kaki Verna dan bergegas menuju ke kolam. "Jangan terlalu kasar yah ke dia, bisa-bisa pingsan gara-gara lu" godaku. Setelah Taryo keluar tinggallah kami bertiga di kamarku. Pak Joko langsung menghempaskan dirinya bersama Verna ke ranjang spring bed-ku. Tak berapa lama terdengarlah jeritan Indah dari kolam, aku melihat dari jendela kamarku apa yang terjadi antara mereka. Indah terpelanting dari kursi santai dan berusaha melepaskan diri dari Taryo. Dia berhasil berdiri dan mendapat kesempatan menghindar, tapi kalah cepat dari Taryo, tukang kebun itu berhasil mendekapnya dari belakang lalu mengangkat badannya. "Jangan.. tolong!" jeritnya sambil meronta-ronta dalam gendongan Taryo. Taryo dengan santai membawa Indah ke tepi kolam, lalu dilemparnya ke air, setelah itu dia ikutan nyebur. Dia air Indah terus berontak saat Taryo menggerayangi tubuhnya dalam himpitannya. Sekuat apapun Indah tentu saja bukan tandingan Taryo yang sudah kesurupan itu. Perlawanan Indah mengendur setelah Taryo mendesaknya di sudut kolam, riak di kolam juga mulai berkurang. Tidak terlalu jelas detilnya Taryo menggerayangi tubuh Indah, tapi aku dapat melihat Taryo memeluk erat Indah sambil melumat bibirnya. Kutinggalkan mereka menikmati saat-saat nikmatnya untuk kembali lagi pada situasi di kamarku. Aku lalu menghampiri Pak Joko dan Verna untuk bergabung dalam kenikmatan ini. Sama seperti Indah, Verna juga menjerit-jerit, namun jeritannya juga pelan-pelan berubah menjadi erangan nikmat akibat rangsangan-rangsangan yang dilakukan Pak Joko. Waktu aku menghampiri mereka Pak Joko sedang menjilati paha mulus Verna sambil kedua tangannya masing-masing bergerilya pada payudara dan kemaluan Verna. "Aduh Ci.. tega-teganya lu nyerahin kita ke orang-orang kaya gini.. ahh!" kata Verna ditengah desahannya. "Tenang Ver, ini baru namanya surprise, sekali kali coba produk kampung dong" kataku seraya melumat bibirnya. Aku berpagutan dengan Verna beberapa menit lamanya. Jilatan Pak Joko mulai merambat naik hingga dia melumat dan meremas payudara Verna secara bergantian, sementara tangannya masih saja mengobok-obok vaginanya. Desahan Verna tertahan karena sedang berciuman denganku, tubuhnya menggeliat-geliat merasakan nikmat yang tiada tara. "Hhhmmhh.. tetek Neng Verna ini gede juga ya, lebih gede dari punya Neng" kata Pak Joko disela aktivitasnya. Memang sih diantara kami bereempat, payudara Verna termasuk yang paling montok. Menurut pengakuannya, cowok-cowok yang pernah ML dengannya paling tergila-gila mengeyot benda itu atau mengocok penis mereka diantara himpitannya. Pak Joko pun tidak terkecuali, dia dengan gemas mengemut susunya, seluruh susu kanan Verna ditelan olehnya. Puas menetek pada Verna, Pak Joko bersiap memasuki vagina Verna dengan penisnya. Kulihat dalam posisinya diantara kedua belah paha Verna dia memegang penisnya untuk diarahkan ke liang itu. "Ouch.. sakit Ver, duh kasar banget sih babu lu" Verna meringis dan mencengkram lenganku waktu penis super Pak Joko mendorong-dorongkan penisnya dengan bernafsu. "Tahan Ver, ntar juga lu keenakan kok, pokoknya enjoy aja" kataku sambil meremasi kedua payudaranya yang sudah basah dan merah akibat disedot Pak Joko. Pak Joko menyodokkan penisnya dengan keras sehingga Verna pun tidak bisa menahan jeritannya, Verna kelihatan mau menangis nampak dari matanya yang sedikit berair.Pak Joko mulai menggarap Verna dengan genjotannya. Aku merasakan tangan Verna menyelinap ke bawah kimonoku menuju selangkangan, eennghh..aku mendesah merasakan jari-jari Verna menggerayangi kemaluanku. Aku lalu naik ke wajah Verna berhadapan dengan Pak Joko yang sedang menggenjotnya. Verna langsung menjilati kemaluanku dan Pak Joko menarik tali pinggang kimonoku sehingga tubuhku tersingkap. Dengan terus menyodoki Verna, dia meraih payudaraku yang kiri, mula-mula dibelainya dengan lembut tapi lama-lama tangannya semakin keras mencengkramnya sampai aku meringis menahan sakit. Dia juga menyorongkan kepalanya berusaha mencaplok payudara yang satunya. Aku yang mengerti apa maunya segera mencondongkan badanku ke depan sehingga dadaku pun makin membusung indah. Ternyata dia tidak langsung mencaplok payudaraku, tetapi hanya menjulurkan lidahnya untuk menjilati putingku menyebabkan benda itu makin mengeras saja. Aku merasakan sensasi yang luar biasa, geli bercampur nikmat. Sapuan-sapuan lidah Verna pada vaginaku membuat daerah itu semakin becek, bukan cuma itu saja Verna juga mengorek-ngoreknya dengan jarinya. Aku mendesah tak karuan merasakan jilatan dan sedotan pada klistoris dan putingku. Ciuman Pak Joko merambat naik dari dadaku hingga hinggap di bibirku, kami berciuman dengan penuh nafsu. Tidak kuhiraukan nafasnya yang bau rokok, lidah kami beradu dengan liar sampai ludah kami bercampur baur. "Aahh.. oohh.. gua dah mau.. Pak!" erang Verna bersamaan dengan tubuhnya yang mengejang dan membusur ke atas. Melihat reaksi Verna, Pak Joko semakin memperdahsyat sodokannya dan semakin ganas meremas dadanya. Aku sendiri tidak merasa akan segera menyusul Verna, dibawah sana seperti mau meledak rasanya. Dalam waktu yang hampir bersamaan aku dan Verna mencapai klimaks, tubuh kami mengejang hebat dan cairan kewanitaanku tumpah ke wajah Verna. Erangan kami memenuhi kamar ini membuat Pak Joko semakin liar. Setelah aku ambruk ke samping, Pak Joko menindih Verna dan mulai menciuminya, dijilatinya cairan cintaku yang blepotan di sekitar mulut Verna, tangannya tak henti-hentinya menggerayangi payudara montok itu, seolah-oleh tak ingin lepas darinya. "Hhmmpphh.. sluurrpp.. cup.. cup.." demikian bunyinya saat mereka bercipokan, lidah mereka saling membelit dan bermain di rongga mulut masing-masing. Pak Joko cukup pengertian akan kondisi Verna yang mulai kepayahan, jadi setelah puas berciuman dia membiarkannya memulihkan tenaga dulu. Dan kini disambarnya tubuhku, padahal gairahku baru naik setengahnya setelah orgasme barusan. Tubuhku yang dalam posisi tengkurap diangkatnya pada bagian pinggul sehingga menungging. Dia membuka lebar bibir vaginaku dan menyentuhkan kepala penisnya disitu. Benda itu pelan-pelan mendesak masuk ke vaginaku. Aku mendesah sambil meremas-remas sprei menghayati proses pencoblosan itu. Permainan Pak Joko sungguh membuatku terhanyut, dia memulainya dengan genjotan-genjotan pelan, tapi lama-kelamaan sodokannya terasa makin keras dan kasar sampai tubuhku berguncang dengan hebatnya. Aku meraih tangannya untuk meremasi payudaraku yang berayun-ayun. Tiba-tiba suara desahan Verna terdengar lagi menjari sahut menyahut dengan desahanku. Gila, penjaga vilaku ini mengerjai kami berdua dalam waktu bersamaan, bedanya aku dikocok dengan penis sedangkan Verna dikocok dengan jari-jarinya. Verna membuka pahanya lebih lebar lagi agar jari-jari Pak Joko bermain lebih leluasa. "Aduhh.. aahh.. gila Ver.. enak banget!" ceracauku sambil merem-melek. "Oohh.. terus Pak.. kocok terus" Verna terus mendesah dan meremas-remas dadanya sendiri, wajahnya sudah memerah saking terangsangnya. "Yak.. dikit lagi.. aahh.. Pak.. udah mau" aku mempercepat iramaku karena merasa sudah hampir klimaks. "Neng Citra.. Neng Verna.. bapak juga.. mau keluar.. eerrhh" geramnya dengan mempercepat gerakkannya. Penis itu terasa menyodok semakin dalam bahkan sepertinya menyentuh dasar rahimku. Sebuah rintihan panjang menandai orgasmeku, tubuhku berkelejotan seperti kesetrum. Kemudian dia lepaskan penisnya dari vaginaku dan berdiri di ranjang. Disuruhnya Verna berlutut dan mengoral penisnya yang berlumuran cairan cintaku. Verna berlutut mengemut penis basah itu sambil tangan kanannya mengocok vaginanya sendiri yang tanggung belum tuntas. Aku bangkit perlahan dan ikut bergabung dengan Verna menikmati penis Pak Joko. Verna mengemut batangnya, aku mengemut buah zakarnya, kami saling berbagi menikmati "sosis" itu. Di tengah kulumannya mendadak Verna merintih tertahan, tubuhnya seperti menggigil, dan kulihat ke bawah ternyata dari vaginanya mengucur cairan bening hasil masturbasinya sendiri. Disusul beberapa detik kemudian, Pak Joko mencabut penisnya dari mulutku lalu mengerang panjang. Cairan kental berbau khas memancar dengan derasnya membasahi wajah kami. Kami berebutan menelan cairan itu, penis itu kupompa dalam genggamanku agar semuanya keluar, nampak pemiliknya mendesah-desah dan kelabakan "Sabar, sabar dong neng, bisa putus kontol bapak kalo rebutan gini" katanya terbata-bata. Setelah tidak ada yang keluar lagi Verna menjilati sisanya di wajahku, demikian pula sebaliknya. Mereka berdua akhirnya ambruk kecapaian, wajah Pak Joko jatuh tepat di dada Verna. Saat mereka ambruk, sebaliknya gairahku mulai timbul lagi. Maka kutinggalkan mereka untuk melihat keadaan Indah dan Taryo. Aku tiba di kolam melihat Taryo sedang menggarap tubuh mungil Indah. Di daerah dangkal Indah dalam posisi berpegangan pada tangga kolam, Taryo dari bawahnya juga dalam posisi berdiri sedang asyik menggenjot penisnya pada vagina Indah. Kedua payudara Indah bergoyang naik turun seirama goyang tubuhnya. Pasti adegan ini membuat para cowok di kampusku sirik pada Taryo yang buruk rupa tapi bisa ngentot dengan gadis seimut itu. "Belum selesai juga lu orang, udah berapa ronde nih?" sapaku. "Edan Ci.. gua sampe klimaks tiga kali.. aahh!" desah Indah tak karuan. "Neng.. temennya enak banget, udah cantik, memeknya seret lagi" komentar Taryo sambil terus menggenjot. Indah tak kuasa menahan rintihannya setiap Taryo menusukkan penisnya, tubuhnya bergetar hebat akibat tarikan dan dorongan penis penjaga vila itu pada kemaluannya. Kepala Taryo menyelinap lewat ketiak sebelah kirinya lalu mulutnya mencaplok buah dadanya. Pinggul Indah naik turun berkali kali mengikuti gerakan Taryo. Jeritannya makin menjadi-jadi hingga akhirnya satu lenguhan panjang membuatnya terlarut dalam orgasme, beberapa saat tubuhnya menegang sebelum akhirnya terkulai lemas di tangga kolam. Setelah menaklukkan Indah, Taryo memanggilku yang mengelus-ngelus kemaluanku sendiri menonton adegan mereka. "Sini neng, mendingan dipuasin pake kontol saya aja daripada ngocok sendiri" . Akupun turun ke air yang merendam sebatas lutut kami, disambutnya aku dengan pelukannya, tangannya mengelusi punggungku terus turun hingga meremas bongkahan pantatku. Sementara tanganku juga turun meraih kemaluannya. "Gila nih kontol, masih keras juga..udah keluar berapa kali tadi?" tanyaku waktu menggenggam batangnya yang masih "lapar" itu. "Baru sekali tadi.. abis saya masih nungguin neng sih" godanya saambil nyengir. Kemudian diangkatnya badanku dengan posisi kakiku dipinggangnya, aku melingkarkan tangan pada lehernya agar tidak jatuh. Diletakkannya aku pada lantai di tepi kolam, disebelah Indah yang terkapar, dia merapatkan badannya diantara kedua kakiku yang tergantung. Dia mulai menciumiku dari telinga, lidah itu menelusuri belakang telingaku juga bermain-main di lubangnya. Dengusan nafas dan lidahnya membuatku merasa geli dan menggeliat-geliat. Mulutnya berpindah melumat bibirku dengan ganas, lidahnya menyapu langit-langit mulutku, kurespon dengan mengulum lidahnya. Tanganku meraba-raba kebawah mencari kemaluannya karena birahiku telah demikian tingginya, tak sabar lagi untuk dientot. Ketika kuraih benda itu kutuntun memasuki kemaluanku, tangan kanan Taryo ikut menuntun senjatanya menembaki sasaran. Saat kepala penisnya menyentuh bibir kemaluanku, dia menekannya ke dalam, mulutku menggumam tertahan karena sedang berciuman dengannya. Ciuman kami baru terlepas disertai jeritan kecil ketika Taryo mengehentakkan pinggulnya hingga penisnya tertanam semua dalam vaginaku. Pinggulnya bergerak cepat diantara kedua pahaku sementara mulutnya mencupangi pundak dan leher jenjangku. Aku hanya bisa menengadahkan kepala menatap langit dan mendesah sejadi-jadinya. Kalau dibandingkan dengan Pak Joko, memang sodokan Taryo lebih mantap selain karena usianya masih 30-an, badannya juga lebih berisi daripada Pak Joko yang tinggi kurus seperti Datuk Maringgih itu. Di tengah badai kenikmatan itu sekonyong-konyong aku melihat sesuatu yang bergerak-gerak di jendela kamarku. Kufokuskan pandanganku dan astaga.. ternyata si Verna, dia sedang disetubuhi dari belakang dengan posisi menghadap jendela, tubuhnya terlonjak-lonjak dan terdorong ke depan sampai payudaranya menempel pada kaca jendela, mulutnya tampak mengap-mengap atau terkadang meringis, sungguh suatu pemandangan yang erotis. Adegan itu ditambah serangan Taryo yang makin gencar membuatku makin tak terkontrol, pelukanku semakin erat sehingga dadaku tertekan di dadanya, kedua kakiku menggelepar-gelepar menepuk permukaan air. Aku merasa detik-detik orgasme sudah dekat, maka kuberitahu dia tentang hal ini. Taryo memintaku bertahan sebentar lagi karena dia juga sudah mau keluar. Susah payah aku bertahan agar bisa klimaks bersama, setelah kurasakan ada cairan hangat menyemprot di rahimku, akupun melepas sesuatu yang daritadi ditahan-tahan. Perasaan itu mengalir dengan deras di sekujur tubuhku, otot-ototku mengejang, tak terasa kukuku menggores punggungnya. Beberapa detik kemudian badanku terkulai lemas seolah mati rasa, begitu juga Taryo yang jatuh bersandar di pinggir kolam. Aku berbaring di pinggir kolam di atas lantai marmer, kedua payudaraku nampak bergerak naik turun seiring desah nafasku. Kugerakkan mataku, di jendela Verna dan Pak Joko sudah tak nampak lagi, di sisi lain Indah yang sudah pulih merendam dirinya di air dangkal untuk membasuh tubuhnya. Kami beristirahat sebentar, bahkan beberapa diantara kami tertidur. Pesta dimulai lagi sekitar pukul 8 malam setelah makan. Kami mengadakan permainan gila, ceritanya kami bertiga bermain poker dengan taruhan yang kalah paling awal harus rela dikeroyok kedua penjaga villa itu dan diabadikan dalam video klip dengan HP Nokia model terbaru milik Verna, filenya akan disimpan dalam komputer Verna untuk koleksi dan tidak akan boleh dicopy atau dilihat orang lain selain geng kami, mengingat kasus bokep Itenas. Kami duduk melingkar di ranjang, Pak Joko dan Taryo kusuruh menjauh dan kularang menyentuh siapapun sebelum ada yang kalah, mereka menunggu hanya dengan memakai kolor, sambil sebentar-sebentar mengocok anunya sendiri Aku mulai membagikan kartu dan permainan dimulai. Suasana tegang menyelimuti kami bertiga, setelah akhirnya Indah melempar kartunya yang buruk sambil menepuk jidatnya, dia kalah. Kedua orang yang sudah tak sabar menunggu itu segera maju mengeksekusi Indah. Indah sempat berontak, tapi berhasil dilumpuhkan mereka dengan dipegangi erat-erat dan digerayangi bagian-bagian sensitifnya. Taryo menyusupkan tangannya ke kimono Indah meraih payudaranya yang tak memakai apa-apa di baliknya. Pak Joko menyerang dari bawah dengan merentangkan lebar-lebar kedua paha Indah dan langsung membenamkan kepalanya pada kemaluannya yang terawat dan berbulu lebat itu. Perlakuan ini membuat rontaan Indah terhenti, kini dia malah mengelus-elus penis Taryo yang menegang sambil memejamkan mata menikmati vaginanya dijilati Pak Joko dan dadanya diremas Mulkas. Aku melihat lidah Pak Joko menjalar jari belahan bawah hingga puncak kemaluan Indah, lalu disentil-sentilkan pada klistorisnya. Indah tidak tahan lagi, dia merundukkan badan untuk memasukkan penis Taryo ke mulutnya, benda itu dikulumnya dengan rakus seperti sedang makan es krim. Event menarik itu tidak dilewatkan Verna dengan kamera-HP nya. Indah terengah-engah melayani penis super Taryo, sepertinya dia sudah tidak peduli keadaan sekitarnya, rasa malunya hilang digantikan dengan hasrat yang besar untuk menyelesaikan gairahnya. Dia mempertunjukkan suatu live show yang panas seperti aktris bokep dan Verna sebagai juru kameranya. Pak Joko yang baru saja melepaskan kolornya menggesek-gesekkan benda itu pada bibir kemaluan Indah, sebagai pemanasan sebelum memasukinya. Kemulusan tubuh Indah terpampang begitu Taryo menarik lepas tali pinggang pada kimononya, sesosok tubuh yang putih mulus serta terawat baik diantara dua tubuh hitam dan kasar, sungguh perpaduan yang kontras tapi menggairahkan. Pak Joko mempergencar rangsangannya dengan menciumi batang kakinya mulai dari betis, tumit, hingga jari-jari kakinya. Indah yang sudah kesurupan "setan seks" itu jadi makin gila dengan perlakuan seperti itu "Ahh.. awww.. Pak enak banget.. masukin aja sekarang!" rintihnya manja sambil meraih penis Pak Joko yang masih bergesekan dengan bibir vaginanya. Pak Joko pun mendorong penis itu membelah kedua belahan kemaluan Indah diiringi desahan nikmat yang memenuhi kamar ini sampai aku dibuat merinding mendengarnya. Aku mengeluarkan payudara kiriku dari balik kimono dan meremasnya dengan tanganku, tangan yang satu lagi turun menggesek-gesekkan jariku ke kemaluanku, Verna yang juga sudah horny sesekali mengelus kemaluannya sendiri. Indah nampak sangat liar, kemaluannya digenjot dari depan, dan Taryo yang menopang tubuhnya dari belakang meremasi kedua payudaranya serta memencet-mencet putingnya. Rambutnya yang sudah terurai itu disibakkan Taryo, lalu melumat leher dan pundaknya dengan jilatan dan gigitan ringan. Hal ini menyebabkan Indah tambah menggelinjang dan mempercepat kocokannya pada penis Taryo. Serangan Pak Joko pada vagina Indah semakin cepat sehingga tubuhnya menggelinjang hebat. "Aaakhh..aahh!" jerit Indah dengan melengkungkan tubuhnya ke atas. Indah telah mencapai orgasme hampir bersamaan dengan Pak Joko yang menyemprotkan spermanya di dalam rahimnya. Adegan ini juga direkam oleh Verna, difokuskan terutama pada wajah Indah yang sedang orgasme. Tanpa memberi istirahat, Taryo menaikkan Indah ke pangkuannya dengan posisi membelakangi. Kembali vagina Indah dikocok oleh penis Taryo. Walaupun masih lemas dia mulai menggoyangkan pantatnya mengikuti kocokan Taryo. Taryo yang merasa keenakan hanya bisa mengerang sambil meremas pantat Indah menikmati pijatan kemaluannya. Pak Joko mengistirahatkan penisnya sambil menyusu dari kedua payudara Indah secara bergantian. Aku semakin dalam mencucukkan jariku ke dalam vaginaku saking terangsangnya, sampai-sampai cairanku mulai meleleh membasahi selangkangan dan jari-jariku. Bosan dengan gaya berpangkuan, Taryo berbaring telentang dan membiarkan Indah bergoyang di atas penisnya. Kemudian dia menyuruh Verna naik ke atas wajahnya agar bisa menikmati kemaluannya. Verna yang daritadi sudah terangsang itu segera melakukan apa yang disuruh tanpa ragu-ragu. Seluruh wajah Taryo tertutup oleh daster transparan Verna, namun aku masih dapat melihat dia dengan rakusnya melahap kemaluannya sambil menyusupkan tangannya dari bawah daster menuju payudaranya. Pak Joko yang anunya sudah mulai bangkit lagi menerkamku, kami berguling-guling sambil berciuman penuh nafsu. Dengan tetap berciuman Pak Joko memasukkan penisnya ke vaginaku, cairan yang melumuri selangkanganku melancarkan penetrasinya. Dengan kecepatan tinggi penisnya keluar masuk dalam vaginaku hingga aku histeris setiap benda itu menghujam keras ke dalam. Aku cuma bisa pasrah di bawah tindihannya membiarkan tangannya menggerayangi payudaraku, mulutnya pun terus menjilati leherku. Aku masih memakai kimonoku, hanya saja sudah tersingkap kesana kemari. Aku melihat Taryo masih berasyik-masyuk dengan kedua temanku, hanya kali ini Verna sudah bertukar posisi dengan Indah. Sekarang mereka saling berhadapan, Verna bergoyang naik turun diatas penis Taryo sambil berciuman dengan Indah yang mekangkangi wajah Taryo. Indah membuka kakinya lebar-lebar sehingga cairannya semakin mengalir, cairan itu diseruput dengan rakus oleh si Taryo sampai terdengar suara sluurrpp.. sshhrrpp..Ketika aku sedang menikmati orgasmeku yang hebat, dia tekan sepenuhnya penis itu ke dalam dan ini membawa efek yang luar biasa padaku dalam menghayati setiap detik klimaks tersebut, tubuhku menggelinjang dan berteriak tak tentu arah sampai akhirnya melemas kembali. Pesta gila-gilaan ini berakhir sekitar jam 11 malam. Aku sudah setengah sadar ketika Pak Joko menumpahkan maninya di wajahku, tulang-tulangku serasa berantakan. Indah sudah terkapar lebih dulu dengan tubuh bersimbah peluh dan ceceran sperma di dadanya, dari pangkal pahanya yang terbuka nampak cairan kewanitaan bercampur sperma yang mengalir bak mata air. Sebelum tak sadarkan diri aku masih sempat melihat Taryo menyodomi Verna yang masih dalam gaun transparan yang sudah berantakan, tubuh keduanya sudah mandi keringat. Karena letih dan ngantuk aku pun segera tertidur tanpa kupedulikan jeritan histeris Verna maupun tubuhku yang sudah lengket oleh sperma. Besok paginya aku terbangun ketika jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh pagi dan aku hanya mendapati Indah yang masih terlelap di sebelah kiriku. Kuguncang tubuh Indah untuk membangunkannya. "Gimana Dah.. puas semalem?" tanyaku . "Gila gua dientotin sampe kelenger, barbar banget tuh dua orang, eh.. omong-omong pada kemana yang lain si Verna juga ga ada?" "Ga tau juga tuh gua juga baru bangun kok, duh lengket banget mandi dulu yuk.. udah lengket gini" ajakku karena merasa tidak nyaman dengan sperma kering terutama di wajahku, rasanya seperti ada sarang laba-laba menempel di sana. Baru saja keluar dari kamar, sayup-sayup sudah terdengar suara desahan, kuikuti asal suara itu yang ternyata dari kamar mandi. Kami berdua segera menuju ke kamar mandi yang pintunya setengah terbuka itu, kami tengok ke dalam dan melihat Verna dan kedua penjaga villa itu. Darahku berdesir melihat pemandangan erotis di depan kami, dimana Verna sedang dikerjai oleh mereka di lantai kamar mandi. Taryo sedang enak-enaknya mengocok senjatanya diantara kedua gunung bulat itu, sedangkan Pak Joko berlutut diantara paha jenjang itu sedang menyetubuhinya, air dan sabun membuat tubuh mereka basah berkilauan. Kedatangan kami sepertinya tidak terlalu membuat mereka terkejut, mereka malah menyapa kami sambil terus "bekerja". Aku dengan tidak terlepas dari live show itu berjalan ke arah shower dan membuka kimonoku diikuti Indah dari belakang. Air hangat mengucur membasuh dan menyegarkan tubuh kami, kuambil sabun cair dan menggosokkannya ke sekujur tubuh Indah. Demikian juga Indah dia melakukan hal yang sama padaku, kami saling menyabuni satu sama lain. Kami saling mengelus bagian tubuh masing-masing, suatu ketika ketika tanganku sampai ke bawah, iseng-iseng kubelai bibir kemaluannya sekaligus mempermainkan klistorisnya. "Uuhh.. Ci!" dia menjerit kecil dan mempererat pelukannya padaku sehingga buah dada kami saling berhimpit. Tangan Indah yang lembut juga mengelusi punggungku lalu mulai turun ke bawah meremas bongkahan pantatku. Darahku pun mengalir makin cepat ditambah lagi adegan panas Verna dengan kedua pria itu membuatku makin naik. Indah mendekatkan wajahnya padaku dan mencium bibirku yang terbuka karena sedang mendesah, selama beberapa menit bibir kami berpagutan. Kemudian aku memutar badanku membelakangi Indah supaya bisa lebih nyaman menonton Verna. Aku melihat wajah horny Verna yang cantik, dia meringis dan mengerang menikmati tusukan Pak Joko pada vaginanya, sementara Taryo hampir mencapai orgasmenya, dia semakin cepat menggesek-gesekkan penisnya diantara gunung kembar itu, tangannya pun semakin keras mencengkram daging kenyal itu sehingga pemiliknya merintih kesakitan. Akhirnya menyemprotlah spermanya membasahi dada, leher dan mulut Verna. Mataku tidak berkedip menyaksikan semua itu sambil menikmati belaian Indah pada daerah sensitifku. Dengan tangan kanannya dia memainkan payudaraku, putingnya dipencet dan dipilin hingga makin menegang, tangan kirinya meraba-raba selangkanganku. Perbuatan Indah yang mengobok-obok vaginaku dengan jarinya itu hampir membuatku orgasme, sungguh sulit dilukiskan dengan kata-kata betapa nikmatnya saat itu. Aku masih menikmati jari-jari Indah bermain di vaginaku ketika Taryo yang baru menyelesaikan hajatnya dengan Verna berjalan ke arahku, penisnya agak menyusut karena baru orgasme. Jantungku berdetak lebih kencang menunggu apa yang akan terjadi. Tangannya mendarat di payudara kiriku dan meremasnya dengan lembut sambil sesekali memelintirnya. Lalu dia membungkuk dan mengarahkan kepalanya ke payudara kananku yang langsung dikenyotnya. Aku memejamkan mata menghayati suasana itu dan mengeluarkan desahan menggoda. Lalu aku merasakan kaki kananku diangkat dan sesuatu mendesak masuk ke vaginaku. Sejenak kubuka mataku untuk melihat, dan ternyata yang bertengger di vaginaku bukan lagi tangan Indah tapi penis Taryo yang sudah bangkit lagi. Kembali aku disetubuhi dalam posisi berdiri sambil digerayangi Indah dari belakang. Tubuhku seolah terbang tinggi, wajahku menengadah dengan mata merem-melek merasakan&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8096187244134823528-987304325761395157?l=alita-dee.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alita-dee.blogspot.com/feeds/987304325761395157/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://alita-dee.blogspot.com/2009/06/pesta-sex.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8096187244134823528/posts/default/987304325761395157'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8096187244134823528/posts/default/987304325761395157'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alita-dee.blogspot.com/2009/06/pesta-sex.html' title='pesta sex'/><author><name>dee alita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15608335270076570228</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_klCrRrqSP08/SfEyqgcHvAI/AAAAAAAAAAk/RLjidh3m4gM/S220/gueeeeeeeeeeeeee.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8096187244134823528.post-8520481773953298176</id><published>2009-06-30T01:25:00.000-07:00</published><updated>2009-06-30T01:35:00.867-07:00</updated><title type='text'>Pesta Seks dengan Gadis SMA - 2</title><content type='html'>Mereka masing-masing berusia 18 tahun, dan kelas dua sebuah SMA negeri. Dua-duanya adalah anggota cheerleader sekolah tersebut. Desi mengaku sedang tidak punya pacar, sedangkan Putri sudah punya seseorang. Desi sering menggoda kalau Putri adalah bunga SMAnya. Banyak yang mengejar-ngejarnya untuk dijadikan pacar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bohong tuh Oom.. Jangan percaya.." kata Putri sambil merengut lucu ke arah Desi.&lt;br /&gt;"Oom sih percaya.. Habis kamu cantik sih.." jawabku.&lt;br /&gt;"Mirip ini lho.. Siapa sih yang di TV itu.. Oom pernah nonton sinetronnya."&lt;br /&gt;"Oh.. Masayu Anastasia.. Memang mirip kok Oom.." jawab Desi.&lt;br /&gt;"Mungkin kembar.. Cuma yang satu jadi bintang sinetron.. Yang ini jadi bintang mal.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamipun tertawa mendengar celetukkan Desi. Sampai-sampai beberapa orang di cafe tersebut menengok ke arah kami. Beberapa pria tampak melihat dengan bernafsu kepada kedua gadis ini, terutama pada Putri. Sesudah bosan berada di cafe tersebut, kuajak mereka jalan-jalan keluar. Kamipun berjalan menuju tempat parkir di basement.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wow.., mobilnya keren banget Oom.. Sama kaya orangnya" kata Desi setelah kami sampai di mobilku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kubuka pintu mobilku dan Desipun duduk di kursi depan di sebelahku. Aku agak kecewa karena sebenarnya aku ingin Putri yang duduk di situ. Tak lama kamipun meluncur meninggalkan mal tersebut. Sesekali kulirik lewat kaca spionku, Putri yang sedang duduk dibelakang. Tampak dia menyadari kalau aku perhatikan, dan dia hanya tersenyum tersipu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mau kemana nih?" tanyaku membuka percakapan setelah suasana hening sejenak.&lt;br /&gt;"Terserah Oom aja deh" sahut Desi. Memang Desi ini kelihatannya lebih bandel dan berani.&lt;br /&gt;"Oom capek nih.. Gimana kalau kita istirahat dulu di motel?"&lt;br /&gt;"Desi sih Ok aja. Put, gimana loe?"&lt;br /&gt;"Nggak ah.. Putri ada janji sama cowok Putri nih"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sangat kecewa mendengarnya. Yang aku incar Putri, malah dapatnya Desi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sebentar aja deh.. Kasihan khan Desi sendirian" kataku.&lt;br /&gt;"Iya Put.. Gimana sih loe.. Gampang deh loe cari alasan aja" tukas Desi lebih lanjut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena tidak ada jawaban dari Putri, kuanggap saja dia setuju untuk menemani Desi dan aku beristirahat di motel. Tak lama kami sudah sampai di motel langgananku. Desi dan aku turun di garasi dan menuju kamar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Gue tunggu di mobil aja ya Des"&lt;br /&gt;"Duh gimana sih.. Udah deh loe ikut aja. Di dalam loe diam aja juga nggak apa kok" jawab Desi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya kami bertiga masuk ke dalam kamar motel itu. Seperti biasa, petugas motel datang untuk menarik pembayaran. Aku membook untuk 6 jam seperti biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah petugas motel pergi aku merebahkan diriku di atas ranjang. Putri tampak duduk di kursi yang tersedia di pojok kamar. Sementara Desi pergi ke kamar kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah muncul kembali, Desi kemudian ikut rebahan di ranjang bersamaku. Kulingkarkan tanganku pada pundaknya dan kuelus-elus dia. Tak ada rotan akarpun jadi, pikirku. Toh Desi juga lumayan manis dan badannyapun sexy. Tak lama akupun sudah menciumi bibirnya sambil tanganku meraba-raba dadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Put.. Sini donk.. Nggak apa cowok loe nggak bakal tau " ajak Desi.&lt;br /&gt;"Nggak ah.. Des.. Gimana sih gue ditungguin cowok gue nih" jawabnya sambil mengambil HP dari tas sekolahnya.&lt;br /&gt;"Udah deh loe telpon aja.. Cari alasan apa kek"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putri kemudian tampak menelpon pacarnya. Sayup-sayup kudengar suaranya mengatakan kalau dia sedang ada tugas sekolah. Tak kudengar percakapan selebihnya karena Desi sudah menciumiku penuh gairah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kubuka baju sekolah Desi dan sekalian kubuka pengait BHnya. Begitu kuloloskan penutup dadanya, gumpalan daging kenyal Desi tampak begitu menggoda. Langsung kuciumi dan kujilati buah dada itu dengan rakus. Kuhisap-hisap putingnya sambil mataku menatap Putri yang tampak termangu menyaksikan sahabatnya sedang aku gumuli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kubuka juga rok abu-abu Desi sehingga tampak celana dalamnya yang berwarna hitam berenda. Kusibakkan celana dalam itu, sehingga jariku dapat meraba bibir vaginanya. Desipun melenguh nikmat ketika jariku menemukan klitorisnya. Sementara itu, mulutku masih dengan rakus menikmati buah dada gadis SMA ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desi yang sudah sangat bernafsu kemudian berbalik menindih tubuhku. Dengan cepat dia melucuti kancing kemejaku. Dihisapnya puting dadaku satu persatu, sementara tangannya melucuti celanaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Desi buka dulu ya Oom" katanya sambil bangkit duduk dan membuka seluruh pakaianku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama akupun tinggal bercelana dalam, dan tampak kepala kemaluanku mencuat keluar tak mampu tertampung di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ihh.. Besar sekali Oom.. Put.. Sini deh loe lihat.. Punya si Oom gede banget" kata Desi sambil mengelus-elus kemaluan dari balik celana dalamku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desipun kemudian membuka celana dalamku, dan kemaluanku yang sudah berontak tampak berdiri tegak menjulang dengan gagahnya dihadapan mata kedua gadis remaja ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Gila.. Gede banget.. Bikin Desi nafsu.." kata Desi sambil menundukkan kepalanya mulai menjilati kemaluanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desi menjilati kemudian mengulum kemaluanku. Kulirik tampak Putri melihat adegan ini dengan muka yang memerah, dan tangannya tampak meraba-raba dadanya tanda dia mulai terangsang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Put.. Bantuin gue dong.." kata Desi sambil terus menghisapi kemaluanku. Kuelus-elus rambutnya yang panjang itu. Kadang tanganku berpindah ke dadanya yang sekal dan kupermainkan puting susunya.&lt;br /&gt;"Put.. Enak banget Put.." desah Desi lebih lanjut sambil dia menjilati kemaluanku. Putri tampak sudah tak bisa lagi menahan nafsunya melihat sahabatnya sedang mengulum kemaluanku. Dia bangkit dari kursinya dan berjalan ke arahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putri merebahkan badannya di sampingku. Langsung kurengkuh wajahnya yang cantik dan kuciumi dengan penuh gairah. Tangankupun bergerilya membuka kancing baju seragamnya. Dadanya yang putih bersih terbalut BH warna krem sangat mengundang hasrat siapapun yang melihatnya. Tanpa tunggu lebih lama lagi, aku langsung membuka BHnya. Buah dada Putripun tampak jelas di depan wajahku. Bentuknya yang padat dibalut oleh kulitnya yang putih mulus membuatku gemas. Kuciumi dan kuhisap buah dadanya sambil sesekali kujilat puting susunya yang berwarna merah muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sstt.. Hah.. Sstt.. Hah " Putri mendesis ketika buah dadanya yang ranum itu sedang kunikmati sepuas hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, Desi masih sibuk menjilati dan mengulum kemaluanku. Terkadang dihisapnya juga buah zakarku. Tatkala mulutnya memberikan kepuasan padaku, tangannya tampak sibuk meremas-remas buah dadanya sendiri. Setelah aku puas menikmati buah dada Putri, kudorong sedikit tubuhnya ke arah selangkanganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ayo isap punya Oom ya"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa menjawab, dia langsung menciumi dan menjilati pahaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nih Put.." kata Desi sambil mengeluarkan kemaluanku dari mulutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangan Putri yang halus memegang batang kemaluanku. Dipandangnya dengan gemas kemaluanku, kemudian dia menurunkan kepalanya dan mulai menjilati kepala kemaluanku. Tak lama, dia sudah mengulum kemaluanku di dalam mulutnya yang memberikan kenikmatan luar biasa padaku. Sementara mulutnya mengulum, tangannya mengocok-ngocok batang kemaluanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah beberapa lama, diberikannya kembali kemaluanku pada Desi. Dengan sigap, Desipun kembali menghisapi kemaluanku lagi. Demikian berlangsung terus menerus. Secara bergantian Putri dan Desi menghisap kemaluanku. Tampak kemaluanku yang besar menyesaki mulut kedua gadis pelajar belia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putri kemudian berdiri dan melepas pakaiannya. Tampak vaginanya bersih tak ditutupi rambut selembarpun. Dinaikinya tubuhku dan tangannya mengarahkan kemaluanku pada liang vaginanya. Diturunkannya tubuhnya dan kemaluankupun mulai menerobos liang vaginanya yang sempit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ooh.. Des.. Besar banget nih si Oom.. Ahh.." desah Putri ketika kemaluanku telah berhasil memasuki liang kemaluan gadis remaja ini.&lt;br /&gt;"Tapi enak khan.." tanya Desi menggoda&lt;br /&gt;"Iya sih.. Aduh.. Oh.. Sstt.. Hah.. Hah.." erangnya lagi ketika aku mulai menggenjot vaginanya. Tanganku memegang pinggangnya sambil terus kupompa liang nikmat gadis cantik pelajar SMA ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Desi berpindah ke sampingku dan menyodorkan buah dadanya ke mulutku. Dengan senang hati kunikmati buah dadanya yang besar itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oom.. Gimana Oom.. Enak khan ngentotin Putri?" tanya Desi menggoda.&lt;br /&gt;"Dia jarang lho mau begini.. Oom beruntung banget" katanya lebih lanjut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putri masih meliuk-liukan tubuhnya. Akupun terus menggenjot vaginanya dari bawah, sambil sesekali tanganku meremasi buah dadanya yang berayun-ayun menggemaskan. Setelah bosan dengan posisi itu, aku membalikkan tubuh Putri sehingga kami berada pada posisi missionary. Kugenjot kemaluanku dalam vagina gadis belia ini, sambil mulutku menciumi wajahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ehmm.. Sstt.. Oom.. Enak.. Ohh" racau Putri ketika aku menyetubuhi tubuh mulusnya.&lt;br /&gt;"Ayo isap puting Oom" perintahku. Putripun kemudian menghisap puting dadaku sementara aku terus memompa kemaluannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama tubuh Putripun mengejang, dan dia mengerang dan menggelinjang mendapatkan orgasmenya. Kutarik kemaluanku dari vaginanya, dan kuciumi Desi yang berada di sebelahku. Kulepas celana dalamnya, lalu kuminta dia menungging membelakangiku. Dengan gaya doggy style kusetubuhi Desi dari belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aduh.. Oom.. Kuat banget.. Ohh.." erang Desi ketika aku memompa kemaluannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulihat Putri tampak lemas berbaring di ranjang menyaksikan persetubuhanku dengan Desi, sahabatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oom.. Desi hampir sampai Oom.. Eh.. Eh.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama tubuh Desipun menggelinjang mendapatkan orgasmenya. Masih kugenjot kemaluan gadis SMA ini, sambil sesekali kuremas buah dadanya yang bergoyang-goyang menantang. Aku merasakan sebentar lagi akan ejakulasi. Tak lama akupun menarik kemaluanku dan menyemburkan spermaku di bongkahan pantat Desi yang bundar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Makasih ya Oom" kata mereka ketika aku turunkan di halte bus terdekat. Sebelumnya tak lupa kami bertukar no HP sehingga dapat kontak sewaktu-waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan perasaan puas dan bertambah muda, kubalikkan arah mobilku di putaran jalan. Karena hati sedang senang sehabis menyetubuhi dua gadis ABG, kuberikan uang lima ribuan pada Mr. Cepek yang sedang mengatur jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Makasih banyak bos" serunya senang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kukebut mobilku pulang menuju apartemenku. Tiba-tiba kuingat kalau aku baru saja membeli HP baru. Mengapa tidak kupakai tadi untuk merekam adegan persetubuhanku. Well.. There is always next time, pikirku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagu "So Good" nya Al Jarreau mendayu-dayu dalam mobilku. Lagu itu tepat sekali menggambarkan perasaanku saat itu. It is so damn good..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8096187244134823528-8520481773953298176?l=alita-dee.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alita-dee.blogspot.com/feeds/8520481773953298176/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://alita-dee.blogspot.com/2009/06/pesta-seks-dengan-gadis-sma-2_30.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8096187244134823528/posts/default/8520481773953298176'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8096187244134823528/posts/default/8520481773953298176'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alita-dee.blogspot.com/2009/06/pesta-seks-dengan-gadis-sma-2_30.html' title='Pesta Seks dengan Gadis SMA - 2'/><author><name>dee alita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15608335270076570228</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_klCrRrqSP08/SfEyqgcHvAI/AAAAAAAAAAk/RLjidh3m4gM/S220/gueeeeeeeeeeeeee.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8096187244134823528.post-2381848856015128421</id><published>2009-06-19T00:37:00.000-07:00</published><updated>2009-06-19T00:38:09.143-07:00</updated><title type='text'>malam pertama</title><content type='html'>Cerita Seks kali ini merupakan pengalaman pribadiku saat malam pengantin!hehe.. Sebenarnya Pengalaman seks kali ini kurang sopan untuk diceritakan di depan umum, tapi khusus buat ceritaindonesia.info aku harap para pembaca dapat menikmatinya seperti halnya aku menikmati pengalaman ini pada malam pengantin. Cerita seks ini spesial hanya untuk pembaca yang sudah dewasa dan berumur 17 tahun ke atas! Kepada para pembaca situs dewasa ini selamat menikmati saya ucapkan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istriku bernama Niken, umurnya baru 19 tahun! Postur tubuhnya Niken sangat proporsional, dengan tinggi tubuhnya 168m dan berat badan kurang lebih 50kg. Wajahnya manis sekali, mirip artis gitu, rambutnya panjang isi semir merah dikit2, dan kulitnya mulus sekali! Sebelum menikah, kami sempat berpacaran selama dua bulan, dan harus aku akui Aku cinta dan sayang sekali ama Niken! Dear Niken I love U! perkenalan pertama kami lewat chating dan awalnya benci dan lama kelamaan cinta itu tumbuh dengan sendiri. Saat kopi darat untuk pertama kalinya kami berhasil menahan hasrat masing-masing sampai akhirnya aku beranikan diri untuk melamar dia di depan orangtuanya. Niken adalah wanita yang baik, asik diajak ngobrol kaya iklan XL nyambung terus serta dia sedikit pemalu menyatakan cintanya kepadaku. Aku sama sekali tak menyangka bahwa pada malam pengantin kami, ia akan menjadi gadis yang sangat ganas, buas dan sangat hot!hihihihi…… Sungguh tak pernah kubayangkan sebelumnya pada malam itu dia akan seperti itu!&lt;br /&gt;Dengan perasaan senang serta detak jantung berdebar-debar, aku mengetuk pintu kamar pengantin itu. Memang, sejak acara resepsi selesai, aku sibuk di luar membantu beres-beres dan mengobrol teman temanku serta ayah mertuaku, sementara Niken sudah masuk duluan ke dalam kamar pengantin itu! Pintu kamar itu dihiasi dengan rangkaian bunga berwarna-warni. Aku penasaran, apa yang sudah dipersiapkan istriku itu ya di dalam sana!&lt;br /&gt;“Masuk aja, ga dikunci kok sayang” suaranya yang merdu dan sedikit mesum mulai terdengar dari dalam kamar pengantin yang sangat indah itu!Aku membuka pintu kamar pengantin itu dan mendapati suasana yang membuat adrenalinku bergolak nafsu mode : On! Semerbak bau kemenyan menyeruak membuatku melayang-layang. Kuperhatikan, tempat tidur kami yang berwarna putih bersih ditaburi dengan kembang tujuh rupa, menambah suasana romantis malam indah yang sudah lama aku impikan!. Sementara itu, Niken duduk di pinggir ranjang dengan mengenakan pakaian yang sangat menggairahkan, pakaian yang tak pernah kulihat ia pakai sebelumnya. Ia memakai pakaian yang bagus. Aku tak pernah melihat ia memakai pakaian yang bagus sebelumnya.&lt;br /&gt;Ketika aku menatap wajahnya, ia tersipu malu sambil memalingkan wajah gitu!hihihi….masih malu malu juga dia ternyata! Ia lalu menggeser duduknya dan mengajakku duduk di sampingnya. Dengan perlahan-lahan, aku duduk di sebelahnya dan merangkul pinggangnya, namun ia masih belum berani menatapku wajahku yang jelek!he&lt;br /&gt;“Wii...,” ujarnya seraya mendesah, “Wii udah mandi?”&lt;br /&gt;“Udah kok, dek Niken Sayang. Baru aja, dua hari yang lalu,” jawabku jujur sambil sedikit ketawa kecil!&lt;br /&gt;“Kalo gitu, kunci dulu dong pintunya sayang. Malu kan, kalau kelihatan orang luar,” ucapnya pelan sambil melirik ke arahku.&lt;br /&gt;“Oh iya kelupaan saying sudah ga sabar soalnya!hihihi… tunggu sebentar ya nisa..., kamu jangan kemana-mana,” kataku sambil mesra mesraan!&lt;br /&gt;Dan aku terbangung dan segera ke arah pintu untuk mengunci pintunya! Setelah itu aku mengambil kunci digital yang dilengkapi dengan password 120 digit, tidak lupa dengan sensor infrared serta alarm yang berbunyi jika ada yang menginti, sehingga tak mungkin ada siapapun yang bisa mengintip malam pertama kami yang sangat privat ini.soalnya aku punya teman yang suka sekali mengintip namanya ochiek dan ngakan! Setelah selesai dengan semua peralatan pengamanan itu, aku menyadari bahwa sebentar lagi aku akan melakukan sesuatu yang sudah ku tunggu selama ini!&lt;br /&gt;“Wii lampunya dimatiin aja ya?” tanya Niken pelan.&lt;br /&gt;“Ok sayang ...rupanya kamu suka gelap-gelapan ya?” tanyaku menggoda.&lt;br /&gt;“Soalnya Wii kan juga suka yang remang-remang!hihihi...malu tau” jawab Niken dengan polosnya&lt;br /&gt;Lalu Lampu kamar ia matikan sehingga suasana menjadi sangat gelap. Aku tak tahu dimana Niken berada. Dalam kegelapan ini, yang kurasakan hanya keheningan sehinga membuat penasaran jiwa ini!&lt;br /&gt;“Niken...! Kamu dimana, Sayang? Aku nggak bisa melihat kamu nih!”&lt;br /&gt;Aku berjalan dalam kegelapan sambil meraba-raba. Setelah tiga kali aku menabrak lemari akhirnya menyadari dimana Niken berada. Aku mengelus-elus rambutnya yang halus sambil tanpa berkata apa-apa. Lama-kelamaan elusanku turun sampai ke bawah, dan aku sadari ada banyak rambut halus yang sekarang sedang aku raba-raba. Sangat halus, seperti bulu kucing atau bulu anjing.&lt;br /&gt;“Niken, kamu belum cukuran ya?kok masih lebat banget”hihihi… sahutku&lt;br /&gt;“ehmmmm..... wii ga suka ya yang banyak bulunya” tanyanya&lt;br /&gt;“Suka Kok Sayang…tapi untuk jilat memeknya agak jijik jadinya ntar nyangkut di gigiku”hehehehe…..&lt;br /&gt;Aku pun tersenyum, menyadari bahwa istriku adalah tipe yang akan menjadi buas ketika lampu dimatikan. Dan ternyata benar saja, beberapa saat kemudian ia mulai menciumku dengan ganasnya. Samar-samar terdengar suara nafasnya terengah-engah. Padahal aku belum melakukan apa-apa, tapi ia sudah terengah-engah begini.&lt;br /&gt;“busetttttt...!!!”&lt;br /&gt;Dan aku pun menghipukan HPku click! Suasana kembali agak terang, dan betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa Niken sudah berdiri di hadapanku tanpa selembar busana. Aku memang belum pernah melihat tubuh Niken telanjang bugil sebelumnya, tapi aku tak menyangka tubuh Niken begitu luar biasa. Maksudku, memang benar-benar 'luar biasa'. Bulu-bulunya lebat menghiasi anunya pemandangan indah ini sangat eksotis. Ia lalu mendekatiku lali menerkamku! Nikmat banget ciumannya Niken!!&lt;br /&gt;kemudian Niken mulai menjilatiku dari mulut, leher hingga perutku lalu sampailah ke adik gw, Niken terlihat ahli dalam menjilat kontolku, tanpa disuruh pun dia mulai menjilati adiknya aku rasanya seperti mimpi saja nikmat banget jilatan mulut Niken di kontolku!!!! kemudian dia meminta aku untuk menjilati memeknya! Wow nikmat banget rasanya memek Niken!sliurpppp…sliurpppp kayaknya dia udah horney banget malam ini! Dan dia pun memposisikan dirinya dengan posisi 69!wuichhhh kerennn banget! harum banget bau dari selangkangannya Niken! gw langsung memainkan lidahku menusuk2annya kedalam lubang kemaluanya!Niken terlihat sangat terangsang, namun dia terlalu asik menikmati mainan baru yaitu kontol besarku dan trus menyuruhku untuk menilati memeknya yang kayaknya udah ga perawan lagi!hihihihi…perawan Niken katanya didapatkan oleh mantan pacarnya yang dulu! But it’s Ok! I love Niken dan aku ga peduli dengan masa lalunya!&lt;br /&gt;“ sayangggg jangan berhenti...terus saying….ohhhhh” Niken berkata sambil menikmati memeknya di jilat olehku “&lt;br /&gt;Setelah puas saling menjilat alat pital masing2 kami setelah itu Niken terus menciumiku sambil sesekali mengocok Kontolku yang udah super tegang!&lt;br /&gt;Uhhhhhhh…..sayang …..dan akupun membalasnya dengan menggesek gesek jariku ke lubang vaginanya untuk mencari daerah g-spotnya!tak lama kemudian Niken mengambil posisi berada diatas pinggangku dan langsung mengarahkan Adiku ke arah lubang lubang kemaluanya! oughhhhhh.....Niken terlihat sangat ahli memasukannya!&lt;br /&gt;Sudah masuk wiii…..!!!! trussss gw dikejutkan oleh tamparan keras di wajah ku! Woeeeeee…….. bangun dahhhhhh siang tau!!!! gw lihat sebuah wajah seorang yang ga asing di mata gw! Ehhh ternyata ohhhh ternyata ibuku membangunkanku dari mimpi basah dan jorok tentang Niken!&lt;br /&gt;Dan ternyata tadi itu cuma mimpi aku kira mimpi sunguhan gituan ama si Niken!kekekeke..&lt;br /&gt;Niken tetaplah seorang gadis yang baik!hehehe..dan sampai saat ini aku sangat menharapkan cinta darinya!rupanya mimpi ini terjadi kerana aku terlalu memikirkanya dan sangat sayang kepadanya! Dear Niken terimalah cintaku! I Love U&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8096187244134823528-2381848856015128421?l=alita-dee.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alita-dee.blogspot.com/feeds/2381848856015128421/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://alita-dee.blogspot.com/2009/06/malam-pertama.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8096187244134823528/posts/default/2381848856015128421'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8096187244134823528/posts/default/2381848856015128421'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alita-dee.blogspot.com/2009/06/malam-pertama.html' title='malam pertama'/><author><name>dee alita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15608335270076570228</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_klCrRrqSP08/SfEyqgcHvAI/AAAAAAAAAAk/RLjidh3m4gM/S220/gueeeeeeeeeeeeee.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8096187244134823528.post-1928217482908534734</id><published>2009-06-19T00:35:00.001-07:00</published><updated>2009-06-19T00:36:21.458-07:00</updated><title type='text'>Memijiti Mama</title><content type='html'>Mah, kemana saja sih kok sudah sebulan ini baru datang?", tanyaku sengit ketika Mama ku datang mengunjungiku di Bandung.&lt;br /&gt;"Mama sudah dapat pacar baru ya? sampe enggak sempet datang? Pokoknya aku enggak mau kalo Mama dapat Papa baru".&lt;br /&gt;Mama ku terlihat kaget ketika aku marah, padahal beliau baru saja datang dari Jakarta hari jumat sore itu. Tetapi ketika kepalaku di elus-elusnya dan mama mengatakan minta maaf karena terlalu sibuk dengan pekerjaannya dan sekaligus juga mengatakan kalau mama tetap sayang denganku, perasaan marahku pun jadi luluh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Masak sih Mas (namaku sebenarnya Pur tetapi mama selalu memangggilku Mas sejak aku masih kecil), kamu enggak percaya sama mama? Mama terlalu sayang padamu, jadi kamu jangan curiga kalau mama pacaran lagi", katanya terisak sambil menciumi pipiku dan akhirnya kami berpelukan.&lt;br /&gt;Setelah makan malam, lalu kami berdua ngobrol di ruang tamu sambil melihat acara TV.&lt;br /&gt;"Mas, rambutmu itu sudah mulai banyak lagi yang putih... sini mama cabutin", kata mama yang biasanya selalu mencabuti ubanku bila datang ke Bandung. Segera saja aku bergegas ke kamar untuk mengambil cabutan rambut lalu duduk menghadap kearah TV di lantai sambil sandaran di sofa yang diduduki mama.&lt;br /&gt;Terus terang, aku paling senang kalau mama sudah mulai mencabuti ubanku, soalnya bisa sampai ngantuk.&lt;br /&gt;"Banyak betul sih Mas ubanmu ini?", komentar mama sambil mulai mencabuti ubanku.&lt;br /&gt;"Habis sih... Mama sudah lama enggak kesini... cuman ngurusin kerjaan melulu."&lt;br /&gt;"Ya sudah, sekarang deh mama cabutin ubanmu sampai habis."&lt;br /&gt;Kami lalu diam tanpa berkata kata.&lt;br /&gt;"Mas""ngomong2 kamu sudah punya pacar apa belum?", tanya mama tiba2, sambil masih tetap mencabuti ubanku di kepala bagian belakang.&lt;br /&gt;"Belum kok Ma"..masih dalam penjajakan", sahutku.&lt;br /&gt;"Tuh... kan. Kamu ngelarang mama cari pacar, tapi kamu sendiri malah mau pacaran.", sahut mama dengan nada agak kesal.&lt;br /&gt;"Pokoknya, mama enggak mau lho kalau kamu mulai pacaran, apalagi masih sekolah bisa2 pelajaranmu jadi ketinggalan dan berarti kamu juga sudah enggak sayang lagi sama mama", tambahnya.&lt;br /&gt;"Enggak kok Ma, aku masih sayang kok sama mama."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sudah selesai Mas yang belakang, sekarang yang bagian depan", perintahnya.&lt;br /&gt;Lalu kuputar dudukku menghadap ke arah Mama dan tetap duduk dilantai diantara kedua paha mamaku serta Mamapun langsung saja meneruskan mencabuti uban-ubanku.&lt;br /&gt;"Mas, kamu kan sekarang sudah tambah dewasa, apa enggak pingin punya pacar atau pingin meluk atau dipeluk seorang perempuan?", kata mama tiba2.&lt;br /&gt;"Atau kamu sudah jadi laki-laki yang enggak normal barangkali ya, Sayang?", lanjut Mama.&lt;br /&gt;"Ah, mama ini kok nanyanya yang enggak2 sih?", sambil kucubit paha mama yang mulus dan putih bersih.&lt;br /&gt;"Habisnya selama ini kan kamu enggak pernah cerita soal temen wanita kamu, Mas.", sahut mama.&lt;br /&gt;"Aku ini masih laki-laki tulen Mah. Kalau mama enggak percaya, boleh deh dibuktiin atau di test ke dokter.", tambahku sambil kuelus-elus paha mama. Kata Mama, aku enggak boleh pacaran dulu, tambahku.&lt;br /&gt;"Naaah... gitu dong Mas. Pacarannya nanti-nanti saja deh Mas, kalau kamu sudah lulus".&lt;br /&gt;"Tapi, kamu kan sudah dewasa, apa enggak kepingin meluk dan mencium lawan jenis kamu", tanyanya lagi.&lt;br /&gt;"Kadang-kadang sih kepingin juga sih Ma, apalagi banyak teman-temanku yang sudah punya pasangan masing-masing. Tapi ngapain sih Ma, kok nanya2 gituan?"&lt;br /&gt;"Ya... enggak apa apa sih, mama cuman pingin tahu saja.", sahut mama sambil tetap mencari ubanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena aku duduk menghadap mama dan jaraknya sangat dekat, tanpa kusadari mataku tertuju kebagian dada mama dan karena Mama ku hanya memakai baju tidur putih yang tipis sekali, maka tetek dan puting susunya secara transparan terlihat dengan jelas.&lt;br /&gt;"Mah... ngapain sih Mama pake baju tidur ini?"&lt;br /&gt;"Lho... memangnya kenapa mas dengan baju tidur mama ini? emangnya kamu enggak suka ya Mas?", tanya mamaku, tanpa menghentikan kerjanya mencabuti ubanku.&lt;br /&gt;"Emangnya Mama enggak malu?"... tuh kelihatan?", sambil kututul puting tetek mama yang terlihat menonjol keluar dari balik baju tidurnya dengan ujung jariku.&lt;br /&gt;"Huuuusss, teriak mama kaget. Mama kirain kenapa? wong enggak ada orang lain saja kecuali kamu dan bibi dirumah ini. Lagipula mama kan enggak keluar rumah. Memangnya kamu enggak suka ya Mas?", sahut mama menghentikan kerjanya dan memandang mataku.&lt;br /&gt;"Wah"... ya suka bangeet dong Mah. Apalagi kalau boleh megang...", senyumku.&lt;br /&gt;"Huussss...", sambil menjundul dahiku.&lt;br /&gt;"Wong kamu ini masih kecil saja", tambahnya.&lt;br /&gt;"Mah. Aku ini sudah mahasiswa lho.. bukan anak TK lagi, masak sih aku masih kecil? kalo ngeliat sedikit kan enggak apa apa kan mah... boleh kan Mah?", rengekku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mama tidak segera menjawab dan tetap saja meneruskan mencabuti ubanku seolah olah enggak ada apa-apa.&lt;br /&gt;Setelah kutunggu sebentar dan mama tidak menjawab atau melarangku, akhirnya kuberanikan untuk menjulurkan tanganku kearah kancing baju tidurnya didekat dadanya.&lt;br /&gt;"Sebentar aja lho Mas ngelihatnya", ujarnya tanpa menghalangi tanganku yang sudah melepas 3 buah kancing bajunya.&lt;br /&gt;"Aduh Mah...putih betul sih tetek mama." komentarku sambil membuka baju tidurnya sehingga tetek mamaku tersembul keluar. Aku enggak tahu ukurannya, tetapi yang pasti tidak terlalu besar sehingga kelihatan tegang menantang serta berwarna merah gelap di sekitar puting nya.&lt;br /&gt;"Sudah ah Mas, tutup lagi sekarang", katanya sambil tetap mencabuti ubanku.&lt;br /&gt;"Lho... Kok malah bengong, tutup dong Mas?", katanya lagi ketika kata-kata mama enggak aku ikutin dan tetap memandang kedua tetek mama yang kupandang begitu indah.&lt;br /&gt;"Bentar dong Mah... aku belum puas nih Mah, melihat tetek mama yang begitu indah ini. Boleh ya Mah pegang dikit?"&lt;br /&gt;"Tuh kan... Mas ini sudah ngelunjak. Katanya tadi cuman mau ngelihat sebentar, eeeh sekarang pingin pegang.", sahut mama sambil tetap melanjutkan mencabut ubanku.&lt;br /&gt;"Sebentar aja lho...", sahutnya tiba2 ketika melihatku hanya bengong aja mengagumi tetek mama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Mama mengizinkan dan dengan penuh keraguan serta tanpa berani melihat wajah Mama, segera saja kuremas pelan kedua tetek mama dengan kedua telapak tanganku.&lt;br /&gt;"Aahh... sungguh terasa halus dan kenyal tetek mama", gumanku dalam hati. Lalu kedua tetek mama kuelus2 dan kuremas2 dengan kedua tanganku.&lt;br /&gt;Karena asyiknya meremasi tetek mama, baru aku sadar kalau tangan mama sudah tidak lagi mencabuti ubanku lagi di kepalaku dan setelah kulirik, ternyata mama telah bersandar di sofa dengan mata tertutup rapat, mungkin sedang menikmati nikmatnya remasan tangan ku di tetek nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat mamaku hanya diam saja dan memejamkan matanya, lalu timbul keberanianku dan segera saja kumajukan wajahku mendekati tetek kirinya dan mulai kujilat puting teteknya dengan ujung lidahku.&lt;br /&gt;Setelah beberapa kali teteknya kuremas dan tetek satunya kujilati, kudengar desahan mama sangat pelan "ssshhh... ssssshhhh... aaaahh.. Maaaass... suuuudaaaahh..."&lt;br /&gt;Desahan ini walaupun hampir tidak terdengar membuat ku semakin berani dan jilatan di puting teteknya dan kuselingi dengan hisapan halus serta remasan di tetek mama sebelah kanan pun kuselingi dengan elusan elusan lembut.&lt;br /&gt;Tiba2 saja terdengar bunyi "kling" di lantai dan itu mungkin cabutan ubanku yang sudah terlepas dari tangan mama, karena bersamaan dengan itu, terasa kedua tangan mama sudah meremas remas rambutku dan kepalaku di tekannya kearah badannya sehingga kepalaku sudah menempel rapat di tetek mama dan nafasku pun sedikit tersengal. Desahan dari mulut mamaku pun semakin keras.&lt;br /&gt;"Ssssshhh... ooooohh... aaaaahhh... Maaaaaassss..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desahan yang keluar dari mulut mamaku ini menjadikan ku semakin bersemangat dan kugeser kepalaku yang sedang dipegangi mama kearah tetek yang satunya dan tangan kananku kuremaskan lembut di tetek kiri mama dan tak henti2 nya desahan mama terdengar semakin kuat dengan nafas cepat.&lt;br /&gt;"Maaasss... aaaaahhh", desah mama dengan keras dan tubuhnya meliuk liuk, seraya mendekap kepalaku sangat kuat sehingga wajahku tenggelam kedalam teteknya.&lt;br /&gt;"Aaaahhhh", teriaknya dan diakhiri dengan nafasnya yang cepat dan tersengal-sengal.&lt;br /&gt;"Maaas, mama lemes sekali", kata mama dengan suara yang hampir tidak terdengar dengan nafasnya yang masih tersengal-sengal. "Maass, tolong bawa mama ke kamar", tambahnya dengan nafasnya yang masih cepat.&lt;br /&gt;"Ayoooo Maas. Cepat bawa mama ke kamar", katanya lagi dan tanpa berfikir panjang akhirnya kubopong mama dan kuangkat ke tempat tidurnya dan dengan hati2 kutidurkan terlentang di tempat tidurnya dan mata Mama masih tetap merem tapi nafasnya yang cepat sudah sedikit mereda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku enggak tahu harus berbuat apa, jadi aku hanya tiduran saja disamping mama sambil ku elus elus dahi yang berkeringat dan rambutnya serta pandanganku tidak pernah lepas dari wajah mama karena takut terjadi apa2, tapi sering juga mataku tertuju ke tetek mama yang menyembul keluar dari baju tidurnya yang terbuka. Nafas mama makin lama semakin teratur.&lt;br /&gt;Tak lama kemudian mata mama mulai terbuka pelan-pelan dan ketika melihatku ada disampingnya, mama tersenyum manis sambil tangannya dieluskan ke wajahku.&lt;br /&gt;"Kenapa Mah. Aku sampai takut", kataku sambil kuciumi tangan yang sedang memegang wajahku.&lt;br /&gt;"Mama lemes sekali sayang... kaki mama gemetaran, tolong kamu pijitin mama", perintahnya dengan suara yang hampir tidak terdengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa membantah, segera saja aku berpindah ke dekat kaki mama dan ketika kedua kakinya di geser kearah berlawanan, lalu kutempatkan dudukku diantara kedua paha mama yang sudah terbuka lebar. Kulihat mama sudah menutup matanya kembali.&lt;br /&gt;Penisku yang tadi sudah tidur karena rasa takut, kembali mulai bangun ketika baju tidur mama yang tersingkap dan cd nya terlihat jelas. Benar-benar merupakan pemandangan yang sangat indah, pahanya yang putih mulus serta padat berisi itu membuat jantungku serasa mau copot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena enggak pernah tahu bagaimana caranya memijat, akhirnya kedua tanganku kuletakkan di kedua paha mama dan kupijit-pijit dari bawah ke atas. Aku enggak tahu, apakah pijitanku itu enak apa tidak, tetapi kelihatannya mama tetap memejamkan matanya tanpa ada protes. Demikian juga ketika kedua tanganku kusodokan di cdnya beberapa kali, mama pun tetap diam saja.&lt;br /&gt;Memang godaan syahwat bisa mengalahkan segalanya. Penisku pun sudah begitu tegang sehingga kugunakan salah satu tanganku untuk membetulkan arahnya keatas agar tidak terasa sakit.&lt;br /&gt;"Mah... celana mama mengganggu nih. Aku buka saja ya mah?", tanyaku minta izin sambil memandang ke arah nya.&lt;br /&gt;Mama enggak segera menjawab, tapi kuperhatikan mama mengangguk sedikit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa berlama-lama walaupun aku masih ragu, segera kutarik turun cdnya dan ketika bagian bawah pantat mama sulit kutarik, mama malah membantunya dengan mengangkat badannya sedikit sehingga cdnya dengan mudah kupelas dari kedua kakinya. Lalu sekalian saja kulepas beberapa kancing baju tidur nya yang tersisa dengan salah satu tanganku dan dengan cepat, kupelas juga kaos dan celana yang melekat di tubuhku.&lt;br /&gt;Sambil kembali kupijati paha mama, mataku enggak lepas memandang memek mama yang baru pertama kali ini kulihat. Bulu jembutnya terlihat hanya beberapa lembar sehingga bentuk memeknya terlihat dengan jelas dan dari celah bibirnya kulihat sudah berair. Detak jantungku menjadi kian kencang terpacu melihat bagian-bagian indah milik mamaku.&lt;br /&gt;Karena enggak tahan cuma memelototi lubang kenikmatan mama, lalu kuselonjorkan badanku kebelakang sehingga wajahku pun sudah berada tepat diatas memek mama tapi tanganku pun masih memijati pahanya walaupun itu hanya berupa elusan elusan barangkali.&lt;br /&gt;Awalnya sih aku hanya mencoba membaui memek mama dengan hidungku. Ah, ada bau yang meruap asing di hidungku, segar dan membuatku tambah terangsang. Eeeh... kuperhatikan mama tetap tenang saja, walaupun nafasnya sudah lebih cepat dari biasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika lidahku mulai kumainkan dengan menjilat di seputar belahan bibir memeknya yang sudah terlihat basah dari tadi dan terasa asin tapi enak, pinggul mama tergelinjang keras sehingga hidungku basah terkena cairan mama.&lt;br /&gt;"Aduuuuh Mas!", teriak mama tiba2 dengan suara serak dan tersendat sendat diantara nafasnya yang sudah memburu. tetapi mama kembali diam dan aku artikan mama setuju saja dengan apa yang aku lakukan dan walaupun kedua tangannya memegangi kepalaku.&lt;br /&gt;Tanpa minta izin, segera saja jari-jariku kugunakan untuk membuka bibir vagina dan memainkan bibir vagina serta daging kecil yang sudah menyembul dari sela-sela bibir vaginanya.&lt;br /&gt;"Aduh... aaaaaah... aaahhh... Maaaaas", kudengar desahan mama agak keras.&lt;br /&gt;Dapat kurasakan cairan lendirnya yang sudah semakin membasahi vagina mama yang indah itu. Betapa nikmat rasanya, apalagi dengan desahan mama yang semakin lama semakin keras, membuatku semakin bersemangat dan mulai kujilati, kuendus dan kumasukkan hidungku kedalam vaginanya serta kumainkan lidahku di lobang memek mama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin karena keenakan, desahan mama sudah menjadi erangan yang keras dan rambut kepalaku pun sudah diremas remas mama seraya di tekan tekannya kepalaku dan pantatnya pun digoyangnya naik turun sehingga seluruh wajahku terasa basah semua terkena cairan yang keluar dari memek mama. Aku terus saja memainkan lidahku tetapi tidak berapa lama kemudian bisa kurasakan goyangan tubuh mama semakin cepat dan nafasnya pun sudah terdengar cepat dan keras sekali. Tubuh mama mengejang dan akhirnya dia mendesah keras,&lt;br /&gt;"Maaaas... addduuuuh... aaaaaah... ssssh. teee..ruuuuusss..maaas", sambil kepalaku ditekannya dalam dalam kearah memeknya. Lalu mama terkapar melepas tangan nya dari kepalaku dengan nafas ngos2an yang cepat dan aku yakin sekali kalau mama sudah mencapai orgasmenya lagi.&lt;br /&gt;Tanpa disuruh aku segera naik dan tiduran miring menghadapnya disamping mama yang terlentang dengan nafasnya yang masih cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aduuuh"maaas, kamu nakal sekali ya? kamu bikin mama jadi keenakan sampe lemes sekali", katanya setelah nafasnya agak normal sambil memencet hidungku.&lt;br /&gt;"Mah... booo leeeh enggak aaaa kuuuu?", tanyaku tapi enggak berani meneruskan kalimatnya, sambil ku usap2 dahi mama yang masih berkerigat. Mudah2an saja mama mengerti maksudku itu, soalnya penisku sudah tegang sekali.&lt;br /&gt;"jangan ya sayang...", jawab mama seraya mengecup pipiku dan jawaban itu tentu saja membuatku menjadi sedikit kecewa.&lt;br /&gt;Mungkin mama melihat perubahan wajahku dan karena merasa kasihan, lalu katanya "...Mas, boleh deh, tapi hanya digesek gesekin saja ya di luar?". Mendengar jawaban itu membuat hatiku agak lega. Yah... dari pada enggak boleh sama sekali, padahal rasa kepinginku sudah sampe diujung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sini sayang naiklah", lanjut nya sambil meraih tubuhku untuk naik di atas tubuh mama dan dari rasa sentuhan dikakiku, terasa mama juga sudah membuka ke dua pahanya, tapi tidak terlalu lebar.&lt;br /&gt;Tanpa berkata kata, lalu kunaiki tubuh mama dengan penisku yang sudah siap tempur dengan kepalanya yang mengkilap tegang. Tangan mama sudah memegangi penisku dan mengarahkan batang kemaluanku ke memeknya. Lalu, penisku yang sedang dipegangnya di gesek2an keatas dan kebawah secara perlahan-lahan di memeknya yang memang sudah licin dan kupergunakan kesempatan ini untuk menjilati leher mama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pun harus bersabar sedikit dan menunggu agar nafsu mama naik kembali karena sentuhan penisku dimemeknya dan jilatan2 ku di lehernya. Sesekali kuperhatikan wajah mama dan kulihat mama sedang memejamkan kedua matanya yang mungkin sedang menikmati gesekan2 penisku di memeknya.&lt;br /&gt;Suatu ketika, mama menghentikan gerakan tangannya dan melepaskan pegangan tangannya di penisku.&lt;br /&gt;Kedua tangan mama lalu memegangi kepalaku dan melepaskanku dari dadanya yang sedang kujilati serta memandangku dengan mata sayu.&lt;br /&gt;"Gimana... sayang, enak enggak?", tanyanya.&lt;br /&gt;"Ya enak dong maaaah... tapiii...", jawabku di telinganya tanpa berani meneruskan.&lt;br /&gt;"Tapi... kenapa Maaas?", tanya mama pura2 enggak mengerti kata-kataku tadi.&lt;br /&gt;"Boo.. leh ya maaaah dimasukin?", jawabku agak gugup didekat telinganya lagi.&lt;br /&gt;Belum sampai kata-kata yang aku ucapkan itu selesai, terasa ibu telah berusaha merenggangkan ke dua kakinya pelan2 lebih lebar lagi dan kulihat ibu tidak berusaha menjawab, tapi malah terus menutup matanya.&lt;br /&gt;Dengan tanpa melihat, karena aku sibuk menjilati telinga dan leher mama dan kedua tangan mama hanya dipelukannya di punggungku, kutekan pantatku sedikit dan mama lalu menggeser pantatnya sedikit saat penisku sudah menempel di memeknya, sepertinya mama yang memang sudah lebih berpengalaman, sedang berusaha menempatkan lobang memeknya agar penisku mudah memasukinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika mama sudah tidak menggerakkan tubuhnya lagi, pelan2 kutekan penisku ke memek mama, tetapi sepertinya kepala penisku terganjal dan tidak mudah masuk atau mungkin salah tempat, walau aku tahu memek ibu sudah basah sekali dari tadi.&lt;br /&gt;Tetapi ketika kuperhatikan wajah mama yang lagi merem itu, sepertinya mama agak menyeringai, mungkin sedang menahan rasa sakit sewaktu penisku kutekan ke memeknya...&lt;br /&gt;"Peel.. laaan.. pelaaan sayyy...aang, saaa...kiiitt, mama sudah lama enggak pernah lagi", kudengar bisik mama didekat telingaku. Karena kasihan mendengar suara mama yang kesakitan, segera saja kuangkat pelan2 penisku tetapi tangan mama yang dari tadi ada di punggungku sepertinya berusaha menahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nggggak aaapppaa aapa Maaas", terdengar bisik mama lagi. Aku nggak menjawab apa2, tetapi kemudian terasa tangan mama sepertinya menekan pantatku, mungkin menyuruhku untuk mencoba memasukan penisku, lalu kutusukkan lagi saja penisku pelan2 ke memek mama dan "..ssssrreeeeeeeet", terasa kepala penisku seperti menguak sesuatu yang tadinya tertutup rapat dan langsung saja kuhentikan tusukan penisku ke memek mama, karena terlihat mama menyeringai menahan sakit dan terdengar lagi mama merintih.&lt;br /&gt;"Aduuuuhh... maaaaas...", sambil kedua tangannya menahan punggungku sedikit dan kembali tekanan pantatku kebawah segera kuhentikan. Aku jadi kasihan melihat wajah mama selalu menyeringai seperti kesakitan.&lt;br /&gt;Tetapi beberapa saat kemudian,&lt;br /&gt;"Teken lagi mas, tapi pelan pelan ya...", sambil kedua tangan mama menekan pantatku pelan-pelan, langsung saja aku mengikuti tekanan tangan dipantatku menekan pelan2 dan tiba2 "..sssrrrrreeett... bleesss...", terasa kepala penisku masuk ke memek mama.&lt;br /&gt;"...Maaaaasss!..", teriak mama pelan bersamaan dengan masuknya kepala penisku.&lt;br /&gt;"Sudah maaass..suuuuukk... saaa... yaang...", lanjutnya sambil melepas nafas panjang tapi tangan mama malah menahan tekanan pantatku.&lt;br /&gt;Aku diamkan sebentar pergerakan penisku sambil menunggu reaksi mama, tetapi dalam keadaan diam seperti ini, aku merasa penisku sedang terhisap kuat di dalam memek mama dan tanpa kusadari terucap dari mulutku,&lt;br /&gt;"..Maaah... maaah... terr... uuusss... Maaah e...naaaaak.'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saking enaknya, aku sudah nggak memperhatikan tangan atau wajah mama lagi, lalu kegerakkan pantatku naik turun pelan2 dan mamapun mengimbanginya dengan mengerakkan pantatnya seperti berputar-putar.&lt;br /&gt;"Maaasss.. terus... maaas.. enaaakk... aduuuhhh... enak Mas...", kudengar kata-kata mama terbata-bata dan kubungkam bibir mama dengan mulutku sambil lidahku kuputar didalam mulutnya, serta kedua tanganku kucengkeram kuat diwajah mama..&lt;br /&gt;Sedang kan kedua tangan mama masih tetap di posisi pantatku dan menekan pantatku apabila pantatku lagi naik. Goyangan dan gerakan aku dan mama semakin cepat dan kudengar bunyi&lt;br /&gt;"Crreeettt... creeettt.. creeetttt."&lt;br /&gt;Secara teratur sesuai dengan gerakan naik-turunnya pantatku serta bunyi suara mama, "Hhhmmm... aaahhhh... aaahhh...", yang nggak keluar karena bibirnya tertutup bibirku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba2 saja mama menghentikan gerakan tubuhnya dan mengatakan, "berhenti sebenar sayang".&lt;br /&gt;"Kenapa Ma?"&lt;br /&gt;"Maasss, tolong cabut punyamu dulu, mama mau mengelap punya mama supaya agak kering sedikit, biar kita sama sama enak nantinya", katanya.&lt;br /&gt;Bener juga kata Mama, kataku dalam hati, tadi memek Mama terasa sangat basah sekali. Lalu pelan2 kontolku kucabut keluar dari Memek Mama dan kuambil handuk kecil yang ada di tempat tidur sambil kukatakan, "Maaam, biar aku saja deh yang ngelap..boleeeh kan Maaam?"&lt;br /&gt;"Terserah kamu deh Maasss", jawab Mama pendek sambil membuka kedua kakinya lebar2 dan aku merangkak mendekati memek Mama dan setelah dekat dengan memek Mama, lalu kukatakan, "Aku bersihkan sekarang ya maaaaa?", dan kudengar Mama hanya menjawab pendek.&lt;br /&gt;"Boleh sayaaang". Lalu kupegang dan kubuka bibir memek Mama dan kutundukkan kepalaku ke memeknya lalu kujilat-jilat itil dan belahan memek mama dan pantat Mama tergelinjang keras mungkin karena kaget sambil berseru, "Maaas... kamu... nakal yaaaaa!".&lt;br /&gt;Tanpa menjawab, aku teruskan isapan dan jilatan di semua bagian memek Mama dan membuat Mama menggerak-gerakkan terus pantatnya dan kedua tangannya kembali menekan kepalaku. Beberapa saat kemudian, terasa kepalaku seperti ditarik Mama sambil berkata, "Maas... sudaaaah sayaaaaang. Mama nggak tahaaan. Kalau kamu gituin terus. Sini... yaaaang".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu kuikuti tarikan tangan Mama dan aku langsung naik diatas badan Mama dan setelah itu kudengar mama seperti berbisik di telingaku, "Mas, masukin lagi... punyamu... sayaaang... Mama sudah ngak tahan... ya aang", dan tanpa membuang-buang waktu, kuangkat kedua kaki Mami dan kutaruh diatas pundakku sambil ingin mempraktekkan seperti apa yang kulihat di blue film yang sering kulihat dan sambil kupegang batang kontolku, kuarahkan ke memek Mama yang bibirnya terbuka lebar lalu kutusukkan pelan2, sedangkan mama dengan menutup matanya seperti pasrah saja dengan apa yang kuperbuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena memek Mama masih tetap basah dan apalagi baru kujilat dan kuisap-isap, membuat memek mama semakin basah sehingga sodokan kontolku dapat dengan mudah memasuki lobang memek Mama.&lt;br /&gt;Mama mulai meggerakkan pantatnya naik turun mengikuti gerakan kontolku yang keluar masuk memeknya.&lt;br /&gt;"Mas, terus teken yang kuat", desah mama dan tanpa perintah kedua kalinya, akupun menggenjot memeknya lebih kuat sehingga terdengar bunyi "crroooooot... croooott", mungkin akibat memek mamaku yang sudah basah sekali.&lt;br /&gt;"Ayyooo maaasss", serunya lagi dengan nafasnya yang sudah tersengal sengal.&lt;br /&gt;"Maas... turunkan kaki mama", mintanya dan sambil kontolku masih kusodok sodokkan kedalam memek mama, satu persatu kakinya kuturunkan dari bahuku dan akupun sudah menempel tubuh mama serta mama mulai menciumi seluruh wajahku sampai basah semua...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nggak lama kemudian gerakan pantat mama yang berputar itu semakin cepat dan kedua tangannya mencengkeram kuat2 di pantatku dan... tiba-tiba mama melepas ciumanku serta berkata tersendat-sendat agak keras ".. Maaaaassss... mama.. haam.. piirr.. maaaas... aa... yyoooo ..maass.. cepppaaaat..'&lt;br /&gt;Moment ini nggak kusia-siakan, karena aku sudah nggak kuat menahan desakan pejuku yang akan keluar. "Ayyooo maaaah... Aduuuh... maaah...", sambil kutekan kontolku kuat2 kedalam memek mama dan kurasakan cengkeraman kuat kedua tangan mama di pantatku makin keras dan agak sakit seakan ada kukunya yang menusuk pantatku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuperhatikan mama dengan nafas yang masih ter-engah2 terdiam lemas seperti tanpa tenaga dan kedua tangannya walau terkulai tapi masih dalam posisi memelukku, sedangkan posisiku yang masih diatas tubuh mama dengan kontolku masih menancap semuanya didalam memeknya.&lt;br /&gt;Karena mama hanya diam saja tapi nafasnya mulai agar teratur, aku berpikir mama mau istirahat atau langsung tidur, lalu kuangkat pantatku pelan2 untuk mencabut kontolku yang masih ada di dalam memek mama, eeehh... nggak tahunya mama dengan kedua tangannya yang masih tetap di punggungku dan memiringkan badannya sehingga aku tergeletak disampingnya lalu dengan matanya masih terpejam dia berguman pelan, "Maaas... biarkan.. Mas. Biarkan punyamu itu didalam sebentar. Rasanya enak... ada yang mengganjel didalam...", sambil mencium bibirku mesra sekali dan kami terus ketiduran sambil berpelukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah berapa lama aku sudah tertidur dan akhirnya aku terbangun karena aku merasakan ada sesuatu yang menghisap-hisap kontolku. Ketika kulihat jam diding, kulihat sudah jam 5 pagi dan kulihat pula mamaku sudah berada di bagian bawah lagi asyik mengulum dan mengocok ngocok kontolku. Aku pura2 masih tidur sambil menikmati kuluman mulut mama di kontolku. Mama mengulum kontolku dan memainkan dengan lidahnya, aku terasa geli.&lt;br /&gt;Sambil mengulum, terasa kelembutan jari jemari mama mengusap dan membelai batang kontolku. Diusap dan diurutnya keatas dan kebawah. Terasa mau tercabut batang kontolku diperlakukan seperti itu. Aku hanya mendesis geli sambil mendongakkan kepala menahan nikmat yang luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, giliran pangkal paha kananku diselusurinya. Lidah mama mengusap-usap pangkal pahaku, terus menyusur ke paha dan terus naik lagi ke buah zakar, ke batang kontolku, ke kepala kontolku, enuaaaknyaa.&lt;br /&gt;Tetapi lama lama tidak tahan juga sehingga mau tak mau pantanku pun mulai kugerakkan naik turun dan yang membuat mama nengok kearahku dan melepas kuluman di kontolku tapi tetap masih memeganginya.&lt;br /&gt;"Sudah bangun saayaaang.", katanya dengan suara lembut.&lt;br /&gt;"Terus maaah, enaaaaakk", kataku dan kembali mamaku mengulum kontolku sehingga terlihat kontolku keluar masuk mulut mama. Setelah beberapa lama kontolku dikulum dan mengurut batang kontolku, tiba-tiba saja mama melepas kontolku. Kini, lidah mama sudah naik menyusuri perutku, menjilat-jilat pusarku, terus naik lagi ke dada kanan, melumuri puting susu kananku dengan air liur yang hangat, lalu ke leher, dan akhirnya ke mulutku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lidah mama ketika memasuki mulutku, kugigit sedikit dengan gemas... Tiba-tiba, aduuhhhh... aku merasa batang kemaluanku memasuki jepitan daging hangat, kenyal dan berlendir.... memek mama. Rupanya saat mulutku asyik menikmati lidahnya, mama menyodokkan vaginanya ke kontolku yang memang sudah tegang sekali. Tanpa mengeluarkan lidahnya dari mulutku, mama mulai menekan pantatnya ke bawah. "Blesssss...", kontolku menerobos masuk kedalam memek mama. Hangat rasanya.&lt;br /&gt;Mama terus melakukan gerakan memompa.&lt;br /&gt;Aduhhhhh batang kontolku merasakan elusan dan remasan dinding vagina mama... Akupun menggelepar sehingga lidah mama keluar dari mulutku. Tapi lidah mama terus mengejar mulutku sehingga bisa kembali masuk ke dalam mulutku. Sementara pantatnya tetap memompa dan terdengar bunyia "crooot... croott..."&lt;br /&gt;"Aduhhhh... enaaaknya", seruku tanpa sadar.&lt;br /&gt;"Enaaak sayaaaaang?", tanya mama.&lt;br /&gt;"Terruuss maaaaah, enak sekali..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba saja mama melepaskan mulutnya dari mulutku. Lalu tangan mama diletakkan dan bertumpu di dadaku, serta mulai naik turun memompa dan memutar-mutar pantatnya.&lt;br /&gt;"Serrrr... serrr..."&lt;br /&gt;Batang kontolku pun serasa ikut terputar seirama dengan putaran pantat mama.&lt;br /&gt;"Addduuuuuuhhhh, maaaaah, aku nggak tahaannn nih..." ,desisku.&lt;br /&gt;Mama kelihatannya tidak ambil pusing dengan rintihanku, dia tetap memutar, memompa, memutar, memompa pantatnya, tapi nafasnya pun sudah begitu cepat.&lt;br /&gt;Tetek mama yang ada dihadapanku pun juga ikut tergoyang-goyang seirama dengan gerakkan tubuhnya dan kuremas remas keduanya dengan tanganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar beberapa menit aku terombang-ambing dalam kenikmatan yang luar biasa, sampai akhirnya ketika ibu mulai mengubah posisi dengan membalik tubuhku sehingga aku sekarang sudah berada diatas tubuh mama dan nafas mama kuperhatikan sudah begitu cepat.&lt;br /&gt;"Maaaas... ceeepaaaat, teken yang kuat maaass", perintahnya sambil memeluk punggungku erat-erat serta menggerakkan pinggulnya naik turun dengan cepat sehingga membuat kontolku terasa sedikit ngilu.&lt;br /&gt;"Cepaaaat Maaas", serunya lagi dengan nada suara yang cukup keras seraya tangannya mendekap punggungku kuat-kuat. Mungkin mama sudah mendekati orgasmenya barangkali, padahal akupun sudah hampir tidak kuat menahan air maniku agar tidak keluar.&lt;br /&gt;"Ini maaaah. Ini tahan yaaa maaah...", sahutku seraya kugenjot memek mama kuat2 beberapa kali.&lt;br /&gt;"Ter..rrruss..saaayang terruuuus", katanya lagi dengan gerakan pinggulnya semakin liar saja.&lt;br /&gt;"Maaah...maaaaaaah. Aku gak tahan lagiiiiiii", teriakku kuat-kuat kutekan kontolku lebih kuat lagi kedalam memek mama dan "crreeeeet...", air maniku akhirnya jebol dan menyemprot kuat kedalam memek mama dan mungkin setelah menerima semprotan air maniku akhirnya mama pun berteriak, "Maaaaassss, mama juuuugaaaaaaaa", teriaknya sambil merangkulkan kedua kakinya kuat2 dipunggungku dan cengkeraman tangannya pun membuat punggungku terasa sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akupun akhirnya menjatuhkan tubuh ku disamping mama dan sama2 terengah engah kecapaian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah nafas kami mulai teratur, sambil memelukku mama berkata serasa berbisik dekat telingaku.&lt;br /&gt;"Enaaak.. maaaaaasss?"&lt;br /&gt;"Enak sekali maaaah.".&lt;br /&gt;"Mas, jangan sampai ada yang tahu soal ini yaaaa? Kamu kan bisa jaga rahasia kita ya", kata mama.&lt;br /&gt;"Iya maaah".&lt;br /&gt;"Dan satu lagi...", kata mama sambil memandangku tajam.&lt;br /&gt;"Apa itu Maaah?"&lt;br /&gt;"Yang ini punya mama. Jangan kamu kasihkan ke orang lain ya?", katanya seraya mencengkeram kontolku yang lagi tidur kecapean dan mengelus elusnya.&lt;br /&gt;"Janji ya.. saaaayang?", tambahnya lagi.&lt;br /&gt;"Asal ini semua juga buat saya ya Maaah.", sahutku sambil kuremas memek mama dan kueluskan jariku dibelahan memek mama yang masih terasa basah oleh air maniku.&lt;br /&gt;Akhirnya kami tertawa berbarengan dan tiba2 saja ada ketukan di pintu kamar, "Buuuu... sudah siang!". Rupanya ketukan dari pembantu karena saat itu sudah jam 9.00 pagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, mama selalu tidak pernah absen mengunjungiku di Bandung atau kalau mama berhalangan, maka akulah yang datang ke Jakarta.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8096187244134823528-1928217482908534734?l=alita-dee.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alita-dee.blogspot.com/feeds/1928217482908534734/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://alita-dee.blogspot.com/2009/06/memijiti-mama.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8096187244134823528/posts/default/1928217482908534734'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8096187244134823528/posts/default/1928217482908534734'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alita-dee.blogspot.com/2009/06/memijiti-mama.html' title='Memijiti Mama'/><author><name>dee alita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15608335270076570228</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_klCrRrqSP08/SfEyqgcHvAI/AAAAAAAAAAk/RLjidh3m4gM/S220/gueeeeeeeeeeeeee.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8096187244134823528.post-6534880204406496517</id><published>2009-06-19T00:34:00.001-07:00</published><updated>2009-06-19T00:34:58.412-07:00</updated><title type='text'>Pesta Perawan</title><content type='html'>Dengan langkah ragu-ragu aku mendekati ruang dosen di mana Pak Hr berada.&lt;br /&gt;"Winda...", sebuah suara memanggil.&lt;br /&gt;"Hei Ratna!".&lt;br /&gt;"Ngapain kau cari-cari dosen killer itu?", Ratna itu bertanya heran.&lt;br /&gt;"Tau nih, aku mau minta ujian susulan, sudah dua kali aku minta diundur terus, kenapa ya?".&lt;br /&gt;"Idih jahat banget!".&lt;br /&gt;"Makanya, aku takut nanti di raport merah, mata kuliah dia kan penting!, tauk nih, bentar ya aku masuk dulu!".&lt;br /&gt;"He-eh deh, sampai nanti!" Ratna berlalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan memberanikan diri aku mengetuk pintu.&lt;br /&gt;"Masuk...!", Sebuah suara yang amat ditakutinya menyilakannya masuk.&lt;br /&gt;"Selamat siang pak!".&lt;br /&gt;"Selamat siang, kamu siapa?", tanyanya tanpa meninggalkan pekerjaan yang sedang dikerjakannya.&lt;br /&gt;"Saya Winda...!".&lt;br /&gt;"Aku..? Oh, yang mau minta ujian lagi itu ya?".&lt;br /&gt;"Iya benar pak."&lt;br /&gt;"Saya tidak ada waktu, nanti hari Mminggu saja kamu datang ke rumah saya, ini kartu nama saya", Katanya acuh tak acuh sambil menyerahkan kartu namanya.&lt;br /&gt;"Ada lagi?" tanya dosen itu.&lt;br /&gt;"Tidak pak, selamat siang!"&lt;br /&gt;"Selamat siang!".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan lemas aku beranjak keluar dari ruangan itu. Kesal sekali rasanya, sudah belajar sampai larut malam, sampai di sini harus kembali lagi hari Minggu, huh!&lt;br /&gt;Mungkin hanya akulah yang hari Minggu masih berjalan sambil membawa tas hendak kuliah. Hari ini aku harus memenuhi ujian susulan di rumah Pak Hr, dosen berengsek itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah Pak Hr terletak di sebuah perumahan elite, di atas sebuah bukit, agak jauh dari rumah-rumah lainnya. Belum sempat memijit Bel pintu sudah terbuka, Seraut wajah yang sudah mulai tua tetapi tetap segar muncul.&lt;br /&gt;"Ehh...! Winda, ayo masuk!", sapa orang itu yang tak lain adalah pak Hr sendiri.&lt;br /&gt;"Permisi pak! Ibu mana?", tanyaku berbasa-basi.&lt;br /&gt;"Ibu sedang pergi dengan anak-anak ke rumah neneknya!", sahut pak Hr ramah.&lt;br /&gt;"Sebentar ya...", katanya lagi sambil masuk ke dalam ruangan.&lt;br /&gt;Tumben tidak sepeti biasanya ketika mengajar di kelas, dosen ini terkenal paling killer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah Pak Hr tertata rapi. Dinding ruang tamunya bercat putih. Di sudut ruangan terdapat seperangkat lemari kaca temapat tersimpan berbagai barang hiasan porselin. Di tengahnya ada hamparan permadani berbulu, dan kursi sofa kelas satu.&lt;br /&gt;"Gimana sudah siap?", tanya pak Hr mengejutkan aku dari lamunannya.&lt;br /&gt;"Eh sudah pak!"&lt;br /&gt;"Sebenarnya..., sebenarnya Winda tidak perlu mengikuti ulang susulan kalau..., kalau...!"&lt;br /&gt;"Kalau apa pak?", aku bertanya tak mengerti. Belum habis bicaranya, Pak Hr sudah menuburuk tubuhku.&lt;br /&gt;"Pak..., apa-apaan ini?", tanyaku kaget sambil meronta mencoba melepaskan diri.&lt;br /&gt;"Jangan berpura-pura Winda sayang, aku membutuhkannya dan kau membutuhkan nilai bukan, kau akan kululuskan asalkan mau melayani aku!", sahut lelaki itu sambil berusaha menciumi bibirku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serentak Bulu kudukku berdiri. Geli, jijik..., namun detah dari mana asalnya perasaan hasrat menggebu-gebu juga kembali menyerangku. Ingin rasanya membiarkan lelaki tua ini berlaku semaunya atas diriku. Harus kuakui memang, walaupun dia lebih pantas jadi bapakku, namun sebenarnya lelaki tua ini sering membuatku berdebar-debar juga kalau sedang mengajar. Tapi aku tetap berusaha meronta-ronta, untuk menaikkan harga diriku di mata Pak Hr.&lt;br /&gt;"Lepaskan..., Pak jangan hhmmpppff...!", kata-kataku tidak terselesaikan karena terburu bibirku tersumbat mulut pak Hr.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku meronta dan berhasil melepaskan diri. Aku bangkit dan berlari menghindar. Namun entah mengapa aku justru berlari masuk ke sebuah kamar tidur. Kurapatkan tubuhku di sudut ruangan sambil mengatur kembali nafasku yang terengah-engah, entah mengapa birahiku sedemikian cepat naik. Seluruh wajahku terasa panas, kedua kakikupun terasa gemetar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Hr seperti diberi kesempatan emas. Ia berjalan memasuki kamar dan mengunci pintunya. Lalu dengan perlahan ia mendekatiku. Tubuhku bergetar hebat manakala lelaki tua itu mengulurkan tangannya untuk merengkuh diriku. Dengan sekali tarik aku jatuh ke pelukan Pak Hr, bibirku segera tersumbat bibir laki-laki tua itu. Terasa lidahnya yang kasap bermain menyapu telak di dalam mulutku. Perasaanku bercampur aduk jadi satu, benci, jijik bercampur dengan rasa ingin dicumbui yang semakin kuat hingga akhirnya akupun merasa sudah kepalang basah, hati kecilku juga menginginkannya. Terbayang olehku saat-saat aku dicumbui seperti itu oleh Aldy, entah sedang di mana dia sekarang. aku tidak menolak lagi. bahkan kini malah membalas dengan hangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merasa mendapat angin kini tangan Pak Hr bahkan makin berani menelusup di balik blouse yang aku pakai, tidak berhenti di situ, terus menelup ke balik beha yang aku pakai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jantungku berdegup kencang ketika tangan laki-laki itu meremas-remas gundukan daging kenyal yang ada di dadaku dengan gemas. Terasa benar, telapak tangannya yang kasap di permukaan buah dadaku, ditingkahi dengan jari-jarinya yang nakal mepermainkan puting susuku. Gemas sekali nampaknya dia. Tangannya makin lama makin kasar bergerak di dadaku ke kanan dan ke kiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah puas, dengan tidak sabaran tangannya mulai melucuti pakaian yang aku pakai satu demi satu hingga berceceran di lantai. Hingga akhirnya aku hanya memakai secarik G-string saja. Bergegas pula Pak Hr melucuti kaos oblong dan sarungnya. Di baliknya menyembul batang penis laki-laki itu yang telah menegang, sebesar lengan Bayi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak terasa aku menjerit ngeri, aku belum pernah melihat alat vital lelaki sebesar itu. Aku sedikit ngeri. Bisa jebol milikku dimasuki benda itu. Namun aku tak dapat menyembunyikan kekagumanku. Seolah ada pesona tersendiri hingga pandangan mataku terus tertuju ke benda itu. Pak Hr berjalan mendekatiku, tangannya meraih kunciran rambutku dan menariknya hingga ikatannya lepas dan rambutku bebas tergerai sampai ke punggung.&lt;br /&gt;"Kau Cantik sekali Winda...", gumam pak Hr mengagumi kecantikanku.&lt;br /&gt;Aku hanya tersenyum tersipu-sipu mendengar pujian itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan lembut Pak Hr mendorong tubuhku sampai terduduk di pinggir kasur. Lalu ia menarik G-string, kain terakhir yang menutupi tubuhku dan dibuangnya ke lantai. Kini kami berdua telah telanjang bulat. Tanpa melepaskan kedua belah kakiku, bahkan dengan gemas ia mementangkan kedua belah pahaku lebar-lebar. Matanya benar-benar nanar memandang daerah di sekitar selangkanganku. Nafas laki-laki itu demikian memburu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian Pak membenamkan kepalanya di situ. Mulut dan lidahnya menjilat-jilat penuh nafsu di sekitar kemaluanku yang tertutup rambut lebat itu. Aku memejamkan mata, oohh, indahnya, aku sungguh menikmatinya, sampai-sampai tubuhku dibuat menggelinjang-gelinjang kegelian.&lt;br /&gt;"Pak...!", rintihku memelas.&lt;br /&gt;"Pak..., aku tak tahan lagi...!", aku memelas sambil menggigit bibir. Sungguh aku tak tahan lagi mengalamai siksaan birahi yang dilancarkan Pak Hr. Namun rupanya lelaki tua itu tidak peduli, bahkan senang melihat aku dalam keadaan demikian. Ini terlihat dari gerakan tangannya yang kini bahkan terjulur ke atas meremas-remas payudaraku, tetapi tidak menyudahi perbuatannya. Padahal aku sudah kewalahan dan telah sangat basah kuyup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Paakk..., aakkhh...!", aku mengerang keras, kakinya menjepit kepala Pak Hr melampiaskan derita birahiku, kujambak rambut Pak Hr keras-keras. Kini aku tak peduli lagi bahwa lelaki itu adalah dosen yang aku hormati. Sungguh lihai laki-laki ini membangkitkan gairahku. aku yakin dengan nafsunya yang sebesar itu dia tentu sangat berpengalaman dalam hal ini, bahkan sangat mungkin sudah puluhan atau ratusan mahasiswi yang sudah digaulinya. Tapi apa peduliku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba Pak Hr melepaskan diri, lalu ia berdiri di depanku yang masih terduduk di tepi ranjang dengan bagian bawah perutnya persis berada di depan wajahku. aku sudah tahu apa yang dia mau, namun tanpa sempat melakukannya sendiri, tangannya telah meraih kepalaku untuk dibawa mendekati kejantanannya yang aduh mak.., Sungguh besar itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa melawan sama sekali aku membuka mulut selebar-lebarnya, Lalu kukulum sekalian alat vital Pak Hr ke dalam mulutku hingga membuat lelaki itu melek merem keenakan. Benda itu hanya masuk bagian kepala dan sedikit batangnya saja ke dalam mulutku. Itupun sudah terasa penuh. Aku hampir sesak nafas dibuatnya. Aku pun bekerja keras, menghisap, mengulum serta mempermainkan batang itu keluar masuk ke dalam mulutku. Terasa benar kepala itu bergetar hebat setiap kali lidahku menyapu kepalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa saat kemudian Pak Hr melepaskan diri, ia membaringkan aku di tempat tidur dan menyusul berbaring di sisiku, kaki kiriku diangkat disilangkan di pinggangnya. Lalu Ia berusaha memasuki tubuhku belakang. Ketika itu pula kepala penis Pak Hr yang besar itu menggesek clitoris di liang senggamaku hingga aku merintih kenikmatan. Ia terus berusaha menekankan miliknya ke dalam milikku yang memang sudah sangat basah. Pelahan-lahan benda itu meluncur masuk ke dalam milikku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ketika dengan kasar dia tiba-tiba menekankan miliknya seluruhnya amblas ke dalam diriku aku tak kuasa menahan diri untuk tidak memekik. Perasaan luar biasa bercampur sedikit pedih menguasai diriku, hingga badanku mengejang beberapa detik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Hr cukup mengerti keadaan diriku, ketika dia selesai masuk seluruhnya dia memberi kesempatan padaku untuk menguasai diri beberapa saat. Sebelum kemudian dia mulai menggoyangkan pinggulnya pelan-pelan kemudian makin lama makin cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sungguh tak kuasa untuk tidak merintih setiap Pak Hr menggerakkan tubuhnya, gesekan demi gesekan di dinding dalam liang senggamaku sungguh membuatku lupa ingatan. Pak Hr menyetubuhi aku dengan cara itu. Sementara bibirnya tak hentinya melumat bibir, tengkuk dan leherku, tangannya selalu meremas-remas payudaraku. Aku dapat merasakan puting susuku mulai mengeras, runcing dan kaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bisa melihat bagaimana batang penis lelaki itu keluar masuk ke dalam liang kemaluanku. Aku selalu menahan nafas ketika benda itu menusuk ke dalam. Milikku hampir tidak dapat menampung ukuran Pak Hr yang super itu, dan ini makin membuat Pak Hr tergila-gila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak sampai di situ, beberapa menit kemudian Pak Hr membalik tubuhku hingga menungging di hadapannya. Ia ingin pakai doggy style rupanya. Tangan lelaki itu kini lebih leluasa meremas-remas kedua belah payudara aku yang kini menggantung berat ke bawah. Sebagai seorang wanita aku memiliki daya tahan alami dalam bersetubuh. Tapi bahkan kini aku kewalahan menghadapi Pak Hr. Laki-laki itu benar-benar luar biasa tenaganya. Sudah hampir setengah jam ia bertahan. Aku yang kini duduk mengangkangi tubuhnya hampir kehabisan nafas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kupacu terus goyangan pinggulku, karena aku merasa sebentar lagi aku akan memperolehnya. Terus..., terus..., aku tak peduli lagi dengan gerakanku yang brutal ataupun suaraku yang kadang-kadang memekik menahan rasa luar biasa itu. Dan ketika klimaks itu sampai, aku tak peduli lagi..., aku memekik keras sambil menjambak rambutnya. Dunia serasa berputar. Sekujur tubuhku mengejang. Sungguh hebat rasa yang kurasakan kali ini. Sungguh ironi memang, aku mendapatkan kenikmatan seperti ini bukan dengan orang yang aku sukai. Tapi masa bodohlah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkali-kali kuusap keringat yang membasahi dahiku. Pak Hr kemudian kembali mengambil inisiatif. kini gantian Pak Hr yang menindihi tubuhku. Ia memacu keras untuk mencapai klimaks. Desah nafasnya mendengus-dengus seperti kuda liar, sementara goyangan pinggulnya pun semakin cepat dan kasar. Peluhnya sudah penuh membasahi sekujur tubuhnya dan tubuhku. Sementara kami terus berpacu. Sungguh hebat laki-laki ini. Walaupun sudah berumur tapi masih bertahan segitu lama. Bahkan mengalahkan semua cowok-cowok yang pernah tidur denganku, walaupun mereka rata-rata sebaya denganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun beberapa saat kemudian, Pak Hr mulai menggeram sambil mengeretakkan giginya. Tubuh lelaki tua itu bergetar hebat di atas tubuhku. Penisnya menyemburkan cairan kental yang hangat ke dalam liang kemaluanku dengan derasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa saat kemudian, perlahan-lahan kami memisahkan diri. Kami terbaring kelelahan di atas kasur itu. Nafasku yang tinggal satu-satu bercampur dengan bunyi nafasnya yang berat. Kami masing-masing terdiam mengumpulkan tenaga kami yang sudah tercerai berai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sendiri terpejam sambil mencoba merasakan kenikmatan yang baru saja aku alami di sekujur tubuhku ini. Terasa benar ada cairan kental yang hangat perlahan-lahan meluncur masuk ke dalam liang vaginaku. Hangat dan sedikit gatal menggelitik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian bawah tubuhku itu terasa benar-benar banjir, basah kuyub. Aku menggerakkan tanganku untuk menyeka bibir bawahku itu dan tanganku pun langsung dipenuhi dengan cairan kental berwarna putih susu yang berlepotan di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bukan main Winda, ternyata kau pun seperti kuda liar!" kata Pak Hr penuh kepuasan. Aku yang berbaring menelungkup di atas kasur hanya tersenyum lemah. aku sungguh sangat kelelahan, kupejamkan mataku untuk sejenak beristirahat. Persetan dengan tubuhku yang masih telanjang bulat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Hr kemudian bangkit berdiri, ia menyulut sebatang rokok. Lalu lelaki tua itu mulai mengenakan kembali pakaiannya. Aku pun dengan malas bangkit dan mengumpulkan pakaiannya yang berserakan di lantai.&lt;br /&gt;Sambil berpakaian ia bertanya, "Bagaimana dengan ujian saya pak?".&lt;br /&gt;"Minggu depan kamu dapat mengambil hasilnya", sahut laki-laki itu pendek.&lt;br /&gt;"Kenapa tidak besok pagi saja?", protes aku tak puas.&lt;br /&gt;"Aku masih ingin bertemu kamu, selama seminggu ini aku minta agar kau tidak tidur dengan lelaki lain kecuali aku!", jawab Pak Hr.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sedikit terkejut dengan jawabannya itu. Tapi akupun segera dapat menguasai keadaanku. Rupanya dia belum puas dengan pelayanan habis-habisanku barusan.&lt;br /&gt;"Aku tidak bisa janji!", sahutku seenaknya sambil bangkit berdiri dan keluar dari kamar mencari kamar mandi. Pak Hr hanya mampu terbengong mendengar jawabanku yang seenaknya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sedang berjalan santai meninggalkan rumah pak Hr, ini pertemuanku yang ketiga dengan laki-laki itu demi menebus nilai ujianku yang selalu jeblok jika ujian dengan dia. Mungkin malah sengaja dibuat jeblok biar dia bisa main denganku. Dasar..., namun harus kuakui, dia laki-laki hebat, daya tahannya sungguh luar biasa jika dibandingkan dengan usianya yang hapir mencapai usia pensiun itu. Bahkan dari pagi hingga sore hari ini dia masih sanggup menggarapku tiga kali, sekali di ruang tengah begitu aku datang, dan dua kali di kamar tidur. Aku sempat terlelap sesudahnya beberapa jam sebelum membersihkan diri dan pulang. Berutung kali ini, aku bisa memaksanya menandatangani berkas ujian susulanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Masih ada mata kuliah Pengantar Berorganisasi dan Kepemimpinan", katanya sambil membubuhkan nilai A di berkas ujianku.&lt;br /&gt;"Selama bapak masih bisa memberiku nilai A", kataku pendek.&lt;br /&gt;"Segeralah mendaftar, kuliah akan dimulai minggu depan!".&lt;br /&gt;"Terima kasih pak!" kataku sambil tak lupa memberikan senyum semanis mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Winda!" teriakan seseorang mengejutkan lamunanku. Aku menoleh ke arah sumber suara tadi yang aku perkirakan berasal dari dalam mobil yang berjalan perlahan menghampiriku. Seseorang membuka pintu mobil itu, wajah yang sangat aku benci muncul dari balik pintu Mitsubishi Galant keluaran tahun terakhir itu.&lt;br /&gt;"Masuklah Winda...".&lt;br /&gt;"Tidak, terima kasih. Aku bisa jalan sendiri koq!", Aku masih mencoba menolak dengan halus.&lt;br /&gt;"Ayolah, masa kau tega menolak ajakanku, padahal dengan pak Hr saja kau mau!".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tertegun sesaat, Bagai disambar petir di siang bolong.&lt;br /&gt;"Da...,Darimana kau tahu?".&lt;br /&gt;"Nah, jadi benar kan..., padahal aku tadi hanya menduga-duga!"&lt;br /&gt;"Sialan!", Aku mengumpat di dalam hati, harusnya tadi aku bersikap lebih tenang, aku memang selalu nervous kalau ketemu cowok satu ini, rasanya ingin buru-buru pergi dari hadapannya dan tidak ingin melihat mukanya yang memang seram itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti tipikal orang Indonesia bagian daerah paling timur, cowok ini hitam tinggi besar dengan postur sedikit gemuk, janggut dan cambang yang tidak pernah dirapikan dengan rambut keritingnya yang dipelihara panjang ditambah dengan caranya memakai kemeja yang tidak pernah dikancingkan dengan benar sehingga memamerkan dadanya yang penuh bulu. Dengan asesoris kalung, gelang dan cincin emas, arloji rolex yang dihiasi berlian..., cukup menunjukkan bahwa dia ini orang yang memang punya duit. Namun, aku menjadi muak dengan penampilan seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dino memang salah satu jawara di kampus, anak buahnya banyak dan dengan kekuatan uang serta gaya jawara seperti itu membuat dia menjadi salah satu momok yang paling menakutkan di lingkungan kampus. Dia itu mahasiswa lama, dan mungkin bahkan tidak pernah lulus, namun tidak ada orang yang berani mengusik keberadaannya di kamus, bahkan dari kalangan akademik sekalipun.&lt;br /&gt;"Gimana? Masih tidak mau masuk?", tanya dia setengah mendesak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tertegun sesaat, belum mau masuk. Aku memang sangat tidak menyukai laki-laki ini, Tetapi kelihatannya aku tidak punya pilihan lain, bisa-bisa semua orang tahu apa yang kuperbuat dengan pak Hr, dan aku sungguh-sungguh ingin menjaga rahasia ini, terutama terhadap Erwin, tunanganku. Namun saat ini aku benar benar terdesak dan ingin segera membiarkan masalah ini berlalu dariku. Makanya tanpa pikir panjang aku mengiyakan saja ajakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dino tertawa penuh kemenangan, ia lalu berbicara dengan orang yang berada di sebelahnya supaya berpindah ke jok belakang. Aku membanting pantatku ke kursi mobil depan, dan pemuda itu langsung menancap gas. Sambil nyengir kuda. Kesenangan.&lt;br /&gt;"Ke mana kita?", tanyaku hambar.&lt;br /&gt;"Lho? Mestinya aku yang harus tanya, kau mau ke mana?", tanya Dino pura-pura heran.&lt;br /&gt;"Sudahlah Dino, tak usah berpura-pura lagi, kau mau apa?", Suaraku sudah sedemikian pasrahnya. Aku sudah tidak mau berpikir panjang lagi untuk meminta dia menutup-nutupi perbuatanku. Orang yang duduk di belakangku tertawa.&lt;br /&gt;"Rupanya dia cukup mengerti apa kemauanmu Dino!", Dia berkomentar.&lt;br /&gt;"Ah, diam kau Maki!" Rupanya orang itu namanya Maki, orang dengan penampilan hampir mirip dengan Dino kecuali rambutnya yang dipotong crew-cut.&lt;br /&gt;"Bagaimana kalau ke rumahku saja? Aku sangat merindukanmu Winda!", pancing Dino.&lt;br /&gt;"Sesukamulah...!", Aku tahu benar memang itu yang diinginkannya.&lt;br /&gt;Dino tertawa penuh kemenangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia melarikan mobilnya makin kencang ke arah sebuah kompleks perumahan. Lalu mobil yang ditumpangi mereka memasuki pekarangan sebuah rumah yang cukup besar. Di pekarangan itu sudah ada 2 buah mobil lain, satu Mitsubishi Pajero dan satu lagi Toyota Great Corolla namun keduanya kelihatan diparkir sekenanya tak beraturan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Interior depan rumah itu sederhana saja. Cuma satu stel sofa, sebuah rak perabotan pecah belah. Tak lebih. Dindingnya polos. Demikian juga tempok ruang tengah. Terasa betapa luas dan kosongnya ruangan tengah itu, meski sebuah bar dengan rak minuman beraneka ragam terdapat di sudut ruangan, menghadap ke taman samping. Sebuah stereo set terpasang di ujung bar. Tampaknya baru saja dimatikan dengan tergesa-gesa. Pitanya sebagian tergantung keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pintu samping kemudian muncul empat orang pemuda dan seorang gadis, yang jelas-jelas masih menggunakan seragam SMU. Mereka semua mengeluarkan suara setengah berbisik. Keempat orang laki-laki itu, tiga orang sepertinya sesuku dengan Dino atau sebangsanya, sedangkan yang satu lagi seperti bule dengan rambutnya yang gondrong. Sementara si gadis berperawakan tinggi langsing, berkulit putih dan rambutnya yang hitam lurus dan panjang tergerai sampai ke pinggang, ia memakai bandana lebar di kepalanya dengan poni tebal menutupi dahinya. Wajahnya yang oval dan bermata sipit menandakan bahwa ia keturunan Cina atau sebangsanya. Harus kuakui dia memang cantik, seperti bintang film drama Mandarin. Berbeda dengan penampilan ketiga laki-laki itu, gadis ini kelihatannya bukan merupakan gerombolan mereka, dilihat dari tampangnya yang masih lugu. Ia masih mengenakan seragam sebuah sekolah Katolik yang langsung bisa aku kenali karena memang khas. Namun entah mengapa dia bisa bergaul dengan orang-orang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dino bertepuk tangan. Kemudian memperkenalkan diriku dengan mereka. Yos, dan Bram seperti tipikal orang sebangsa Dino, Tito berbadan tambun dan yang bule namanya Marchell, sementara gadis SMU itu bernama Shelly. Mereka semua yang laki-laki memandang diriku dengan mata "lapar" membuat aku tanpa sadar menyilangkan tangan di depan dadaku, seolah-olah mereka bisa melihat tubuhku di balik pakaian yang aku kenakan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampak tak sabaran Dino menarik diriku ke loteng. Langsung menuju sebuah kamar yang ada di ujung. Kamar itu tidak berdaun pintu, sebenarnya lebih tepat disebut ruang penyangga antara teras dengan kamar-kamar yang lain Sebab di salah satu ujungnya merupakan pintu tembusan ke ruang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sana ada sebuah kasur yang terhampar begitu saja di lantai kamar. Dengan sprei yang sudah acak-acakan. Di sudut terdapat dua buah kursi sofa besar dan sebuah meja kaca yang mungil. Di bawahnya berserakan majalah-majalah yang cover depannya saja bisa membuat orang merinding. Bergambar perempuan-perempuan telanjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sadar bahkan sangat sadar, apa yang dimaui Dino di kamar ini. Aku beranjak ke jendela. Menutup gordynnya hingga ruangan itu kelihatan sedikit gelap. Namun tak lama, karena kemudian Dino menyalakan lampu. Aku berputar membelakangi Dino, dan mulai melucuti pakaian yang aku kenakan. Dari blouse, kemudian rok bawahanku kubiarkan meluncur bebas ke mata kakiku. Kemudian aku memutar balik badanku berbalik menghadap Dino.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa terkejutnya aku ketika aku berbalik, ternyata di hadapanku kini tidak hanya ada Dino, namun Maki juga sedang berdiri di situ sambil cengengesan. Dengan gerakan reflek, aku menyambar blouseku untuk menutupi tubuhku yang setengah telanjang. Melihat keterkejutanku, kedua laki-laki itu malah tertawa terbahak-bahak.&lt;br /&gt;"Ayolah Winda, Toh engkau juga sudah sering memperlihatkan tubuh telanjangmu kepada beberapa laki-laki lain?".&lt;br /&gt;"Kurang ajar kau Dino!" Aku mengumpat sekenanya.&lt;br /&gt;Wajah laki-laki itu berubah seketika, dari tertawa terbahak-bahak menjadi serius, sangat serius. Dengan tatapan yang sangat tajam dia berujar, "Apakah engkau punya pilihan lain? Ayolah, lakukan saja dan sesudah selesai kita boleh melupakan kejadian ini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tertegun, melayani dua orang sekaligus belum pernah aku lakukan sebelumnya. Apalagi orang-orang yang bertampang seram seperti ini. Tapi seperti yang dia bilang, aku tak punya pilihan lain. Seribu satu pertimbangan berkecamuk di kepalaku hingga membuat aku pusing. Tubuhku tanpa sadar sampai gemetaran, terasa sekali lututku lemas sepertinya aku sudah kehabisan tenaga karena digilir mereka berdua, padahal mereka sama sekali belum memulainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, dengan sangat berat aku menggerakkan kedua tangan ke arah punggungku di mana aku bisa meraih kaitan BH yang aku pakai. Baju yang tadi aku pakai untuk menutupi bagian tubuhku dengan sendirinya terjatuh ke lantai. Dengan sekali sentakan halus BH-ku telah terlepas dan meluncur bebas dan sebelum terjatuh ke lantai kulemparkan benda itu ke arah Dino yang kemudian ditangkapnya dengan tangkas. Ia mencium bagian dalam mangkuk bra-ku dengan penuh perasaan.&lt;br /&gt;"Harum!", katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu ia seperti mencari-cari sesuatu dari benda itu, dan ketika ditemukannya ia berhenti.&lt;br /&gt;"36B!", katanya pendek.&lt;br /&gt;Rupanya ia pingin tahu berapa ukuran dadaku ini.&lt;br /&gt;"BH-nya saja sudah sedemikian harum, apalagi isinya!", katanya seraya memberikan BH itu kepada Maki sehingga laki-laki itu juga ikut-ikutan menciumi benda itu. Namun demikian mata mereka tak pernah lepas menatap belahan payudaraku yang kini tidak tertutup apa-apa lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kini hanya berdiri menunggu, dan tanpa diminta Dino melangkah mendekatiku. Ia meraih kepalaku. Tangannya meraih kunciran rambut dan melepaskannya hingga rambutku kini tergerai bebas sampai ke punggung.&lt;br /&gt;"Nah, dengan begini kau kelihatan lebih cantik!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia terus berjalan memutari tubuhku dan memelukku dari belakang. Ia sibakkan rambutku dan memindahkannya ke depan lewat pundak sebelah kiriku, sehingga bagian punggung sampai ke tengkukku bebas tanpa penghalang. Lalu ia menjatuhkan ciumannya ke tengkuk belakangku. Lidahnya menjelajah di sekitar leher, tengkuk kemudian naik ke kuping dan menggelitik di sana. Kedua belah tangannya yang kekar dan berbulu yang tadi memeluk pinggangku kini mulai merayap naik dan mulai meremas-remas kedua belah payudaraku dengan gemas. Aku masih menanggapinya dengan dingin dengan tidak bereaksi sama sekali selain memejamkan mataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dino rupanya tidak begitu suka aku bersikap pasif, dengan kasar ia menarik wajahku hingga bibirnya bisa melumat bibirku. Aku hanya berdiam diri saja tak memberikan reaksi. Sambil melumat, lidahnya mencari-cari dan berusaha masuk ke dalam mulutku, dan ketika berhasil lidahnya bergerak bebas menjilati lidahku hingga secara tak sengaja lidahkupun meronta-ronta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil memejamkan mata aku mencoba untuk menikmati perasaan itu dengan utuh. Tak ada gunanya aku menolak, hal itu akan membuatku lebih menderita lagi. Dengan kuluman lidah seperti itu, ditingkahi dengan remasan-remasan telapak tangannya di payudaraku sambil sekali-sekali ibu jari dan telunjuknya memilin-milin puting susuku, pertahananku akhirnya bobol juga. Memang, aku sudah sangat terbiasa dan sangat terbuai dengan permaian seperti ini hingga dengan mudahnya Dino mulai membangkitkan nafsuku. Bahkan kini aku mulai memberanikan menggerakkan tangan meremas kepala Dino yang berada di belakangku. Sementara dengan ekor mataku aku melihat Maki beranjak berjalan menuju sofa dan duduk di sana, sambil pandangan matanya tidak pernah lepas dari kami berdua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin karena merasa sudah menguasai diriku, ciuman Dino terus merambat turun ke leherku, menghisapnya hingga aku menggelinjang. Lalu merosot lagi menelusup di balik ketiak dan merayap ke depan sampai akhirnya hinggap di salah satu pucuk bukit di dadaku, Dengan satu remasan yang gemas hingga membuat puting susuku melejit Dino untuk mengulumnya. Pertama lidahnya tepat menyapu pentilnya, lalu bergerak memutari seluruh daerah puting susuku sebelum mulutnya mengenyot habis puting susuku itu. Ia menghisapnya dengan gemas sampai pipinya kempot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuhku secara tiba-tiba bagaikan disengat listrik, terasa geli yang luar biasa bercampur sedikit nyeri di bagian itu. Aku menggelinjang, melenguh apalagi ketika puting susuku digigit-gigit perlahan oleh Dino. Buah anggur yang ranum itu dipermainkan pula dengan lidah Dino yang kasap. Dipilin-pilinnya kesana kemari. Dikecupinya, dan disedotnya kuat-kuat sampai putingnya menempel pada telaknya. Aku merintih. Tanganku refleks meremas dan menarik kepalanya sehingga semakin membenam di kedua gunung kembarku yang putih dan padat. Aku sungguh tak tahu mengapa harus begitu pasrah kepada lelaki itu. Mengapa aku justeru tenggelam dalam permaianan itu? Semula aku hanya merasa terpaksa demi menutupi rahasia atas perbuatanku. Tapi kemudian nyatanya, permainan yang Dino mainkan begitu dalam. Dan aneh sekali, Tanpa sadar aku mulai mengikuti permainan yang dipimpin dengan cemerlang oleh Dino.&lt;br /&gt;"Winda...", "Ya?", "Kau suka aku perlakukan seperti ini?". Aku hanya mengangguk. Dan memejamkan matanya. membiarkan payudaraku terus diremas-remas dan puting susunya dipilin perlahan. Aku menggeliat, merasakan nikmat yang luar biasa. Puting susu yang mungil itu hanya sebentar saja sudah berubah membengkak, keras dan mencuat semakin runcing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hsss..., ah!", Aku mendesah saat merasakan jari-jari tangan lelaki itu mulai menyusup ke balik celana dalamku dan merayap mencari liang yang ada di selangkanganku. Dan ketika menemukannya Jari-jari tangan itu mula-mula mengusap-usap permukaannya, terus mengusap-usap dan ketika sudah terasa basah jarinya mulai merayap masuk untuk kemudian menyentuh dinding-dinding dalam liang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam posisi masih berdiri berhadapan, sambil terus mencumbui payudaraku, Dino meneruskan aksinya di dalam liang gelap yang sudah basah itu. Makin lama makin dalam. Aku sendiri semakin menggelinjang tak karuan, kedua buah jari yang ada di dalam liang vaginaku itu bergerak-gerak dengan liar. Bahkan kadang-kadang mencoba merenggangkan liang vaginaku hingga menganga. Dan yang membuat aku tambah gila, ia menggerak-gerakkan jarinya keluar masuk ke dalam liang vaginaku seolah-olah sedang menyetubuhiku. Aku tak kuasa untuk menahan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nggghh...!", mulutku mulai meracau. Aku sungguh kewalahan dibuatnya hingga lututku terasa lemas hingga akhirnya akupun tak kuasa menahan tubuhku hingga merosot bersimpuh di lantai. Aku mencoba untuk mengatur nafasku yang terengah-engah. Aku sungguh tidak memperhatikan lagi yang kutahu kini tiba-tiba saja Dino telah berdiri telanjang bulat di hadapanku. Tubuhnya yang tinggi besar, hitam dan penuh bulu itu dengan angkuhnya berdiri mengangkang persis di depanku sehingga wajahku persis menghadap ke bagian selangkangannya. Disitu, aku melihat batang kejantanannya telah berdiri dengan tegaknya. Besar panjang kehitaman dengan bulu hitam yang lebat di daerah pangkalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan sekali rengkuh, ia meraih kepalaku untuk ditarik mendekati daerah di bawah perutnya itu. Aku tahu apa yang dimauinya, bahkan sangat tahu ini adalah perbuatan yang sangat disukai para lelaki. Di mana ketika aku melakukan oral seks terhadap kelaminnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, dengan kepalang basah, kulakukan apa yang harus kulakukan. Benda itu telah masuk ke dalam mulutku dan menjadi permainan lidahku yang berputar mengitari ujung kepalanya yang bagaikan sebuah topi baja itu. Lalu berhenti ketika menemukan lubang yang berada persis di ujungnya. Lalu dengan segala kemampuanku aku mulai mengelomoh batang itu sambil kadang-kadang menghisapnya kuat-kuat sehingga pemiliknya bergetar hebat menahan rasa yang tak tertahankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat itu aku sempat melirik ke arah sofa di mana Maki berada, dan ternyata laki-laki ini sudah mulai terbawa nafsu menyaksikan perbuatan kami berdua. Buktinya, ia telah mengeluarkan batang kejantanannya dan mengocoknya naik turun sambil berkali-kali menelan ludah. Konsentrasiku buyar ketika Dino menarik kepalaku hingga menjauh dari selangkangannya. Ia lalu menarik tubuhku hingga telentang di atas kasur yang terhampar di situ. Lalu dengan cepat ia melucuti celana dalamku dan dibuangnya jauh-jauh seakan-akan ia takut aku akan memakainya kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk beberapa detik mata Dino nanar memandang bagian bawah tubuhku yang sudah tak tertutup apa-apa lagi. Si Makipun sampai berdiri mendekat ke arah kami berdua seakan ia tidak puas memandang kami dari kejauhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun beberapa detik kemudian, Dino mulai merenggangkan kedua belah pahaku lebar-lebar. Paha kiriku diangkatnya dan disangkutkan ke pundaknya. Lalu dengan tangannya yang sebelah lagi memegangi batang kejantanannya dan diusap-usapkan ke permukaan bibir vaginaku yang sudah sangat basah. Ada rasa geli menyerang di situ hingga aku menggelinjang dan memejamkan mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedetik kemudian, aku merasakan ada benda lonjong yang mulai menyeruak ke dalam liang vaginaku. Aku menahan nafas ketika terasa ada benda asing mulai menyeruak di situ. Seperti biasanya, aku tak kuasa untuk menahan jeritanku pada saat pertama kali ada kejantanan laki-laki menyeruak masuk ke dalam liang vaginaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan perlahan namun pasti, kejantanan Dino meluncur masuk semakin dalam. Dan ketika sudah masuk setengahnya ia bahkan memasukkan sisanya dengan satu sentakan kasar hingga aku benar-benar berteriak karena terasa nyeri. Dan setelah itu, tanpa memberiku kesempatan untuk membiasakan diri dulu, Dino sudah bergoyang mencari kepuasannya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dino menggerak-gerakkan pinggulnya dengan kencang dan kasar menghunjam-hunjam ke dalam tubuhku hingga aku memekik keras setiap kali kejantanan Dino menyentak ke dalam. Pedih dan ngilu. Namun bercampur nikmat yang tak terkira. Ada sensasi aneh yang baru pertama kali kurasakan di mana di sela-sela rasa ngilu itu aku juga merasakan rasa nikmat yang tak terkira. Namun aku juga tidak bisa menguasai diriku lagi hingga aku sampai menangis menggebu-gebu, sakit keluhku setiap kali Dino menghunjam, tapi aku semakin mempererat pelukanku, Pedih, tapi aku juga tak bersedia Dino menyudahi perlakuannya terhadap diriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku semakin merintih. Air mataku meleleh keluar. kami terus bergulat dalam posisi demikian. Sampai tiba-tiba ada rasa nikmat yang luar biasa di sekujur tubuhku. Aku telah orgasme. Ya, orgasme bersama dengan orang yang aku benci. Tubuhku mengejang selama beberapa puluh detik. Sebelum melemas. Namun Dino rupanya belum selesai. Ia kini membalikkan tubuhku hingga kini aku bertumpu pada kedua telapak tangan dan kedua lututku. Ia ingin meneruskannya dengan doggy style. Aku hanya pasrah saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini ia menyetubuhiku dari belakang. Tangannya kini dengan leluasa berpindah-pindah dari pinggang, meremas pantat dan meremas payudaraku yang menggelantung berat ke bawah. Kini Dino bahkan lebih memperhebat serangannya. Ia bisa dengan leluasa menggoyangkan tubuhnya dengan cepat dan semakin kasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat itu tanpa terasa, Maki telah duduk mengangkang di depanku. Laki-laki ini juga telah telanjang bulat. Ia menyodorkan batang penisnya ke dalam mulutku, tangannya meraih kepalaku dan dengan setengah memaksa ia menjejalkan batang kejantanannya itu ke dalam mulutku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini aku melayani dua orang sekaligus. Dino yang sedang menyetubuhiku dari belakang. Dan Maki yang sedang memaksaku melakukan oral seks terhadap dirinya. Dino kadang-kadang malah menyorongkan kepalanya ke depan untuk menikmati payudaraku. Aku mengerang pelan setiap kali ia menghisap puting susuku. Dengan dua orang yang mengeroyokku aku sungguh kewalahan hingga tidak bisa berbuat apa-apa. Malahan aku merasa sangat terangsang dengan posisi seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka menyetubuhiku dari dua arah, yang satu akan menyebabkan penis pada tubuh mereka yang berada di arah lainnya semakin menghunjam. Kadang-kadang aku hampir tersedak. Maki yang tampaknya mengerti kesulitanku mengalah dan hanya diam saja. Dino yang mengatur segala gerakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan-lahan kenikmatan yang tidak terlukiskan menjalar di sekujur tubuhku. Perasaan tidak berdaya saat bermain seks ternyata mengakibatkan diriku melambung di luar batas yang pernah kuperkirakan sebelumnya. Dan kembali tubuhku mengejang, deras dan tanpa henti. Aku mengalami orgasme yang datang dengan beruntun seperti tak berkesudahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak lama kemudian Dino mengalami orgasme. Batang penisnya menyemprotkan air mani dengan deras ke dalam liang vaginaku. Benda itu menyentak-nyentak dengan hebat, seolah-olah ingin menjebol dinding vaginaku. Aku bisa merasakan air mani yang disemprotkannya banyak sekali, hingga sebagian meluap keluar meleleh di salah satu pahaku. Sesudah itu mereka berganti tempat. Maki mengambil alih perlakuan Dino. Masih dalam posisi doggy style. Batang kejantanannya dengan mulus meluncur masuk dalam sekali sampai menyentuh bibir rahimku. Ia bisa mudah melakukannya karena memang liang vaginaku sudah sangat licin dilumasi cairan yang keluar dari dalamnya dan sudah bercampur dengan air mani Dino yang sangat banyak. Permainan dilanjutkan. Aku kini tinggal melayani Maki seorang, karena Dino dengan nafas yang tersengal-sengal telah duduk telentang di atas sofa yang tadi diduduki Maki untuk mengumpulkan tenaga. Aku mengeluh pendek setiap kali Maki mendorong masuk miliknya. Maki terus memacu gerakkannya. Semakin lama semakin keras dan kasar hingga membuat aku merintih dan mengaduh tak berkesudahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat itu masuk Bram dan Tito bersamaan ke dalam ruangan. Tanpa basa-basi, mereka pun langsung melucuti pakaiannya hingga telanjang bulat. Lalu mereka duduk di lantai dan menonton adegan mesum yang sedang terjadi antara aku dan Maki. Bram nampak kelihatan tidak sabaran Tetapi aku sudah tidak peduli lagi. Maki terus memacu menggebu-gebu. Laki-laki itu sibuk memacu sambil meremasi payudaraku yang menggelantung berat ke bawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesaat kemudian tubuhku dibalikkan kembali telentang di atas kasur dan pada saat itu Bram dengan tangkas menyodorkan batang kejantanannya ke dalam mulutku. Aku sudah setengah sadar ketika Tito menggantikan Maki menggeluti tubuhku. Keadaanku sudah sedemikian acak-acakan. Rambut yang kusut masai. Tubuhku sudah bersimpah peluh. Tidak hanya keringat yang keluar dari tubuhku sendiri, tapi juga cucuran keringat dari para laki-laki yang bergantian menggauliku. Aku kini hanya telentang pasrah ditindihi tubuh gemuk Tito yang bergoyang-goyang di atasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laki-laki gemuk itu mengangkangkan kedua belah pahaku lebar-lebar sambil terus menghunjam-hunjamkan miliknya ke dalam milikku. Sementara Bram tak pernah memberiku kesempatan yang cukup untuk bernafas. Ia terus saja menjejal-jejalkan miliknya ke dalam mulutku. Aku sendiri sudah tidak bisa mengotrol diriku lagi. Guncangan demi guncangan yang diakibatkan oleh gerakan Titolah yang membuat Bram makin terangsang. Bukan lagi kuluman dan jilatan yang harusnya aku lakukan dengan lidah dan mulutku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ketika Tito melenguh panjang, ia mencapai orgasmenya dengan meremas kedua belah payudaraku kuat-kuat hingga aku berteriak mengaduh kesakitan. Lalu beberapa saat kemudian ia dengan nafasnya yang tersengal-sengal memisahkan diri dari diriku. Dan pada saat hampir bersamaan Bram juga mengerang keras. Batang kejantanannya yang masih berada di dalam mulutku bergerak liar dan menyemprotkan air maninya yang kental dan hangat. Aku meronta, ingin mengeluarkan banda itu dari dalam mulutku, namun tangan Bram yang kokoh tetap menahan kepalaku dan aku tak kuasa meronta lagi karena memang tenagaku sudah hampir habis. Cairan kental yang hangat itu akhirnya tertelan olehku. Banyak sekali. Bahkan sampai meluap keluar membasahi daerah sekitar bibirku sampai meleleh ke leher. Aku tak bisa berbuat apa-apa, selain dengan cepat mencoba menelan semua yang ada supaya tidak terlalu terasa di dalam mulutku. Aku memejamkan mata erat-erat, tubuhku mengejang melampiaskan rasa yang tidak karuan, geli, jijik, namun ada sensasi aneh yang luar biasa juga di dalam diriku. Sungguh sangat erotis merasakan siksa birahi semacam ini hingga akupun akhirnya orgasme panjang untuk ke sekian kalinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan ekor mataku aku kembali melihat seseorang masuk ke ruangan yang ternyata si bule dan orang itu juga mulai membuka celananya. Aku menggigit bibir, dan mulai menangis terisak-isak. Aku hanya bisa memejamkan mata ketika Marchell mulai menindihi tubuhku. Pasrah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak lama kemudian setelah orang terakhir melaksanakan hasratnya pada diriku mereka keluar. aku merasa seluruh tubuhku luluh lantak. Setelah berhasil mengumpulkan cukup tenaga kembali, dengan terhuyung-huyung, aku bangkit dari tempat tidur, mengenakan pakaianku seadanya dan pergi mencari kamar mandi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berpapasan dengan Dino yang muncul dari dalam sebuah ruangan yang pintunya terbuka. Lelaki itu sedang sibuk mengancingkan retsluiting celananya. Masih sempat terlihat dari luar di dalam kamar itu, di atas tempat tidur tubuh Shelly yang telanjang sedang ditindihi oleh tubuh Maki yang bergerak-gerak cepat. Memacu naik turun. Gadis itu menggelinjang-gelinjang setiap kali Maki bergerak naik turun. Rupanya anak itu bernasib sama seperti diriku.&lt;br /&gt;"Di mana aku bisa menemukan kamar mandi?" tanyaku pada Dino.&lt;br /&gt;Tanpa menjawab, ia hanya menunjukkan tangannya ke sebuah pintu. Tanpa basa-basi lagi aku segera beranjak menuju pintu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sana aku mandi berendam air panas sambil mengangis. Aku tidak tahu saya sudah terjerumus ke dalam apa kini. Yang membuat aku benci kepada diriku sendiri, walaupun aku merasa sedih, kesal, marah bercampur menjadi satu, namun demikian setiap kali teringat kejadian barusan, langsung saja selangkanganku basah lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berendam di sana sangat lama, mungkin lebih dari satu jam lamanya. Setelah terasa kepenatan tubuhku agak berkurang aku menyudahi mandiku. Dengan berjalan tertatih-tatih aku melangkah keluar kamar mandi dan berjalan mencari pintu keluar. Sudah hampir jam sebelas malam ketika aku keluar dari rumah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di dalam rumah, Aku langsung ngeloyor masuk ke kamar. Aku tak peduli dengan kakakku yang terheran-heran melihat tingkah lakuku yang tidak biasa, aku tak menyapanya karena memang sudah tidak ada keinginan untuk berbicara lagi malam ini. Aku tumpahkan segala perasaan campur aduk itu, kekesalan, dan sakit hati dengan menangis.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8096187244134823528-6534880204406496517?l=alita-dee.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alita-dee.blogspot.com/feeds/6534880204406496517/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://alita-dee.blogspot.com/2009/06/pesta-perawan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8096187244134823528/posts/default/6534880204406496517'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8096187244134823528/posts/default/6534880204406496517'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alita-dee.blogspot.com/2009/06/pesta-perawan.html' title='Pesta Perawan'/><author><name>dee alita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15608335270076570228</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_klCrRrqSP08/SfEyqgcHvAI/AAAAAAAAAAk/RLjidh3m4gM/S220/gueeeeeeeeeeeeee.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8096187244134823528.post-5296575458282699471</id><published>2009-06-19T00:33:00.001-07:00</published><updated>2009-06-19T00:33:55.910-07:00</updated><title type='text'>Utang Uang, Dibayar Istri</title><content type='html'>Aku sebenarnya tidak tega menagih utang pada kawanku yang satu ini. Namun, karena keadaanku juga sangat mendesak, aku memberanikan diri dengan harapan temanku bisa membayar; minimal separuhnya dulu. Sayang sekali, Darta, kawanku yang baru menikah enam bulan yang lalu ini, tak bisa membayar barang sedikit pun. Memang aku mengerti keadaannya. Ia menikah pun karena desakan orang tua Mila, yang kini jadi istrinya. Darta sendiri, sampai saat ini belum punya pekerjaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena hari sudah larut, aku tahu diri, segera permisi pada Darta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Gua jadi enggak enak nih.."&lt;br /&gt;"Sudahlah Ta. Gua gak apa-apa koq. Gua cuma nyoba aja, barangkali ada," aku menukasnya, takut membuatnya jadi beban pikiran.&lt;br /&gt;"Ma, gua mau bisikin sesuatu..' tiba-tiba Darta mendekatkan mulutnya ke arah telingaku. Dan aku benar-benar terkejut, ketika Darta menawarkan istrinya untuk kutiduri.&lt;br /&gt;"Gila lu.. Sialan.." ucapku.&lt;br /&gt;"Sstt.. Jangan berisik. Gua juga kan ingin balas budi sama elu. Soalnya eu udah banyak berbuat baik sama gua. Gak ada salahnya kan, kalau kita saling berbagi kesenangan.." begitulah ucap Darta dengan serius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang diam-diam sudah sejak lama aku selalu memperhatikan Mila. Bahkan aku pun memuji Darta, bisa mendapatkan gadis secantik Mila. Selain posturnya yang tinggi, Mila memiliki kulitnya yang putih dan mulus. Tubuhnya menggairahkan. Memang selalu terbungkus rapat, dengan baju yang longgar. Namun aku dapat membayangkan, betapa kenyalnya tubuh Mila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru melihat wajah dan jemari tangannya pun, aku memang suka langsung berpantasi; membayangkan Mila jika berada di hadapanku tanpa busana. Lalu Mila kugumuli dengan sesuka hati. Namun untuk berbuat macam-macam, rasanya kubuang jauh-jauh. Karena aku sangat tahu, Mila itu orang baik-baik, dan keturunan orang baik-baik pula. Lihat saja penampilannya, yang selalu terbungkus sopan dan rapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lu serius, Ta? Bagaimana dengan Mila? Apa dia mau?" aku pun akhirnya mulai terbuka.&lt;br /&gt;"Kita pasang strategi, donk! Kalau secara langsung, jelas istri gua kagak bakalan mau," jawabnya.&lt;br /&gt;"Gimana caranya?" aku penasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Darta kembali membisikan lagi rencana gilanya. Aku memang sangat menginginkan hal itu terjadi. Sudah kubayangkan, betapa nikmatnya bersetubuh dengan perempuan aduhai seperti Mila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mila..! Mila..! Milaa..!" Darta memanggil istrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tanpa selang waktu lama, Mila ke luar dari dalam kamarnya dengan dandanan yang tetap rapat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ada apa, Bang?" tanya Mila.&lt;br /&gt;"Tolong belikan rokok ke warung..!" kata Darta sambil merogoh uang ribuan ke dalam sakunya.&lt;br /&gt;"Baik, Bang," Mila menerima uang itu, lalu ke luar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Darta segera menyuruhku masuk ke dalam kamarnya, seraya masuk ke kolong ranjang. Aku mau saja, berbaring di tembok dingin, di bawah ranjang. Lalu Darta ke luar lagi. Pintu kamar, tampak masih terbuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak lama kemudian, terdengar suara Mila yang datang. Mereka bercakap-cakap di ruang tamu. Dan Darta mengatakan kalau aku sudah pulang, karena ada ditelepon sama bos-ku. Mila kedengarannya tidak banyak tanya. Dia tak terlalu mempedulikan kehadiranku. Hingga suara pintu yang dikunci pun, bisa terdengar dengan jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulihat dua pasang kaki memasuki kamar. Pintu ditutup. Dikunci pula. Bahkan termasuk lampu pun dimatikan, sehingga mataku tak melihat apa-apa lagi. Yang kudengar hanya suara ranjang yang berderit dan suara kecupan bibir, entah siapa yang mengecup. Lalu ada juga yang terdengar suara seleting celana, dan nafas Mila yang mulai tak beraturan. Pluk, pluk, pluk.. Sepertinya pakaian mereka mulai dilemparkan ke lantai, satu persatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Emh.. Ah.. Uh.. Oh.." Jelas, itu suara milik Mila.&lt;br /&gt;"Euh.. He.. Euh.." nah kalau itu, suara Darta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampaknya mereka sudah mulai bercumbu dengam hebatnya. Ranjang pun sampai bergoyang-goyang begitu dahsyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Emh.. Akh.. Ayo Bang.. Aduuh ss.." suara Mila membuat nafasku bergerak lebih kencang dari biasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bisa merasakan, Mila sedang ada dalam puncak nafsunya. Aku sudah tidak tahan mendengar suara dengusan nafas kedua insan yang tengah memadu berahi ini. Hingga aku mulai membuka celanaku, bajuku dan celana dalamku. Aku sudah telanjang bulat. Lalu aku bergerak perlahan, ke luar dari tempat persembunyian, kolong tempat tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski keadaan sangat gelap, namun aku masih bisa melihat dua tubuh yang bergumul. Terutama tubuh Mila, yang putih mulus. Darta sudah memasukan penisnya, dan sedang memompanya turun naik, diiringi desahan nafas yang tersengal-sengal. Konvensional. Mila sepertinya lebih menikmati berada di posisi bawah, sambil kedua tangannya memeluk erat tubuh Darta, dan kakinya menjepit pantat Darta. Aku mulai tidak tahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba Darta semakin mempercepat pompaannya. Ranjang bergoyang lebih ganas lagi. Dan suara erangan tertahan Mila semakin menjadi-jadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Emh, emh, emh, emh.. Ah.. Oh.." Hanya itu yang keluar dari mulut Mila, karena mulutnya disumpal oleh mulut Darta. Dan akhirnya.&lt;br /&gt;"Agh.. Agh..!" suara Darta mengakhiri pendakian itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun tampaknya Mila belum selesai. Terbukti, kakinya masih menyilang erat, mengunci paha Darta, agar tak segera mencabut penisnya. Tetapi apa hendak dikata, Darta sudah lemas. Ia tergolek dengan nafas yang lemah-lunglai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesempatan inilah, saatnya aku harus masuk. Demikian yang direncanakan Darta tadi. Maka tanpa ragu lagi, aku segera melompat ke atas ranjang. Meraih tubuh Mila dan langsung menindihnya. Tentu saja Mila terpekik kaget.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Siapa Kau..! Kurang ajar..! Pergi..! Ke luar..! jangan..! setaan..!" Mila berontak. Ia sangat marah tampaknya.&lt;br /&gt;"Mila, aku punya hutang pada kawanku. Berilah ia sedikit kesempatan.." Darta yang menjawab, sambil mengelus rambutnya.&lt;br /&gt;"Biadab..! Aku tidak mau..! Lepaskan..! bangsat..!" Mila mendorong tubuhku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun karena nafsuku sudah memuncak, aku tak mungkin menyerah. Kutekan lebih keras tubuhnya, sambil tanganku berusaha menuntun agar penisku segera masuk. Mila tetap meronta. Mila berkali-kali meludahi mukaku. Tetapi aku diam-diam menikmatinya. Bahkan ludahnya malah kusedot dari bibirnya, dan kutelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun liang vagina Mila sudah licin, namun penisku tetap agak seret untuk segera menembusnya. Mila terpekik, ketika aku menekan dan memaksakannya sekaligus. Bles..! Akhirnya masuk juga. Kudiamkan beberapa saat, karena aku ingin mencumbu dulu bibirnya. Mila tetap berontak, sampai akhirnya kehabisan tenaga. Akhirnya ia hanya diam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurasakan ada air mata yang mengalr dari kedua kelopak matanya. Tetapi aku semakin bernafsu. Kuremas-remas payu daranya yang ternyata memang cukup besar dan begitu kenyal. Lalu aku mulai memompa penisku. Mila terpekik kembali. Kasihan juga, aku melihatnya. Sehingga aku bergerak perlahan-lahan, sampai akhirnya vagina Mila bisa beradaptasi dengan penisku. Mila tidak bereaksi. Ia diam saja. Namun aku sangat menikmatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun Mila diam, tentunya jauh lebih nikmat dari pada melakukannya dengan patung. Aku terus memompanya, sampai napasku mulai ngos-ngosan. Kucoba menyalurkan nafasku ke arah telinga Mila. Dan hasilnya cukup bagus. Lama kelamaan, di sela isakan tangisnya, diam-diam kurasakan vaginanya diangkat, seakan Mila ingin menerima hunjaman penisku lebih dalam. Tentu saja aku semakin bersemangat. Kupompa lebih cepat lagi. Tiba-tiba isakan tangisnya berhenti, diganti dengan nafasnya yang kian memburu. Dan yang lebih mengagetkan lagi, kakinya tiba-tiba mengunci pantatku. Aku tersenyum, sambil mencumbui telinganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau menikmatinya, sayang?" bisikku.&lt;br /&gt;"Diam..!" dia membentakku. Namun aku yakin, Mila hanya tidak mau mengakui kekalahan dirinya. Buktinya, ketika penisku kucabut, Mila menekan pantatku. Tangannya pun memeluk tubuhku, agar aku merapatkannya kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu ada suara erangan dari bibirnya yang tertahan. Bersamaan erangan itu, kedua kakinya semakin erat menekan pantatku. Dan vaginanya ditekan pula ke atas. Aku pun sangat terangsang. Hingga detik-detik akhir pun akan segera tiba. Kupeluk erat pula tubuh Mila. Kugenjot lebih cepat dan lebih keras. Sampai akhirnya tiba pada genjotan yang terakhir. Aku tekan sangat kuat. Kugigit pelan lehernya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Agh.. Agh.. Agh.." Maniku keluar di dalam vaginanya. Begitupun Mila.&lt;br /&gt;"Akh.. Akh.. Akh.. Ss.." begitulah yang keluar dari mulut Mila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu kemudian Mila mendorong tubuhku dan seakan menyesali dan tak mau lagi bersentuhan denganku.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8096187244134823528-5296575458282699471?l=alita-dee.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alita-dee.blogspot.com/feeds/5296575458282699471/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://alita-dee.blogspot.com/2009/06/utang-uang-dibayar-istri.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8096187244134823528/posts/default/5296575458282699471'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8096187244134823528/posts/default/5296575458282699471'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alita-dee.blogspot.com/2009/06/utang-uang-dibayar-istri.html' title='Utang Uang, Dibayar Istri'/><author><name>dee alita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15608335270076570228</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_klCrRrqSP08/SfEyqgcHvAI/AAAAAAAAAAk/RLjidh3m4gM/S220/gueeeeeeeeeeeeee.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8096187244134823528.post-908897895554011821</id><published>2009-06-19T00:32:00.000-07:00</published><updated>2009-06-19T00:33:08.004-07:00</updated><title type='text'>Pesta Seks Kejutan</title><content type='html'>Hari itu adalah hari Minggu sebulan setelah peristiwaku di vila bersama Pak Imam dan Muklas ,selama ini aku belum ke sana lagi akibat kesibukan kuliahku. Hari Minggu itu aku pergi ke sana untuk refreshing seperti biasa karena Seninnya tanggal merah atau libur. Kali ini aku tidak sendiri tapi bersama 2 orang teman cewekku yaitu Kiki dan Indah, kami semua adalah teman akrab di kampus, sebenarnya geng kami ini ada 4 orang, satu lagi si Ratna yang hari ini tidak bisa ikut karena ada acara dengan keluarganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami sama-sama terbuka tentang seks dan sama-sama penggemar seks, Kiki dikaruniai tubuh putih mulus tinggi semampai dengan buah dada yang bulat montok berukuran 38B yang membuat pikiran kotor para cowok melayang-layang, beruntunglah mereka karena Kiki tidak sulit diajak ‘naik ranjang’ karena dia sudah ketagihan seks sejak SMP. Sedangkan Indah mempunyai wajah yang imut dengan rambut panjang yang indah, bodynya pun tidak kalah dari Kiki walaupun payudaranya lebih kecil, namun dibalik wajah imutnya ternyata Indah termasuk cewek yang lihai memanfaatkan cowok, sudah berkali-kali dia ganti pacar gara-gara sifat materenya. Sedangkan aku sendiri sepertinya kalian sudah tahulah cewek seperti apa aku ini dari cerita-ceritaku dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah, sekarang kita kembali ke kejadian hari itu yang rencananya mau mengadakan orgy party setelah sekian lama otak kami dijejali bahan-bahan kuliah dan urusan sehari-hari. Waktu itu Kiki protes karena aku tidak memperbolehkannya mengajak teman-teman cowok yang biasa diajak, begitu juga Indah yang ikut mendukung Kiki karena pacarnya juga tidak boleh diajak.&lt;br /&gt;“Emangnya lu ngundang siapa lagi sih Ni, masa si Chevy aja ga boleh ikutan ?” kata Indah&lt;br /&gt;“Iya nih, emangnya kita mau pesta lesbian apa, wah gua kan cewek normal nih” timpal Kiki&lt;br /&gt;“Udahlah, lu orang tenang aja, cowok-cowoknya nanti nyusul, pokoknya yang kali ini surprise deh ! dijamin kalian puas sampe ga bisa bangun lagi deh”&lt;br /&gt;Aku ingin sedikit membuat kejutan agar acara kali ini lain dari yang lain, karena itulah aku merahasiakan siapa pejantannya yang tidak lain adalah penjaga vilaku dan vila tetanggaku, Pak Imam dan Muklas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarinnya aku memang sudah mengabari Pak Imam lewat telepon bahwa aku besok akan ke sana dengan teman-temanku yang pernah kujanjikan pada mereka dulu. Pak Imam tentu antusias sekali dengan acara kali ini, kami telah mengatur skenario acaranya agar seru. Beberapa jam kemudian kami sampai di villaku, Pak Imam seperti biasa membukakan pintu garasi, bola matanya melihat jelalatan pada kami terutama Kiki yang hari itu pakaiannya seksi berupa rok mini dan sebuah tank top merah berdada rendah sehingga payudaranya seakan mau keluar. Dia kusuruh keluar dulu sampai aku memberi syarat padanya, dia menunggunya di villa tetangga yang tidak lain vila yang dijaga si Muklas. Setelah membereskan barang bawaan, kami menyantap makan siang, lalu ngobrol-ngobrol dan istirahat. Indah yang daritadi kelihatan letih terlelap lebih dulu. Kami bangun sore hari sekitar jam 4 sore.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh…sambil nunggu cowok-cowoknya mendingan kita berenang dulu yuk” ajakku pada mereka&lt;br /&gt;Aku melepaskan semua bajuku tanpa tersisa dan berjalan ke arah kolam dengan santainya&lt;br /&gt;“Wei…gila lo Ni, masa mau berenang ga pake apa-apa gitu, kalo keliatan orang gimana ?” tegur Indah&lt;br /&gt;“Iya Ni, lagian kan kalo si tua Imam itu dateng gimana tuh” sambung Kiki&lt;br /&gt;“Yah kalian, katanya mo party, masa berenang bugil aja ga berani, tenang aja Pak Imam udah gua suruh jangan ke sini sampai kita pulang nanti” bujukku sambil menarik tangan Kiki&lt;br /&gt;Di tepi kolam mereka masih agak ragu melepas pakaiannya, alasannya takut kepergok tetangga, setelah kutantang Kiki baru mulai berani melepas satu demi satu yang melekat di tubuhnya, aku membantu Indah yang masih agak malu mempreteli pakaiannya. Akhirnya kami bertiga nyebur ke kolam tanpa memakai apapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan-lahan rasa risih mereka pun mulai berkurang, kami tertawa-tawa, main siram-siraman air, dan balapan renang kesana kemari dengan bebasnya. Mungkin seperti inilah kira-kira gambaran tempat pemandian di istana haremnya para raja. Sesudah agak lama bermain di air aku naik ke atas dan mengelap tubuhku yang basah, lalu membalut tubuhku dengan kimono.&lt;br /&gt;“Ni, sekalian ambilin kita minum yah” pinta Kiki&lt;br /&gt;Akupun berjalan ke dalam dan meminum segelas air.&lt;br /&gt;“Ok, it’s the showtime” gumamku dalam hati, inilah saat yang tepat untuk menjalankan skenario ini. Aku segera menelepon vila sebelah menyuruh Pak Imam dan Muklas segera kesini karena pesta akan segera dimulai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya neng, kita segera ke sana” sahut Muklas sambil menutup gagang telepon&lt;br /&gt;Hanya dalam hitungan menit mereka sudah nampak di pekarangan depan vilaku. Aku yang sudah menunggu membukakan pintu untuk mereka.&lt;br /&gt;“Wah udah ga sabaran nih, dari tadi cuma ngintipin neng sama temen-temen neng dari loteng” kata Pak Imam&lt;br /&gt;“Pokoknya yang payudaranya gede itu buat saya dulu yah neng” ujar Muklas merujuk pada Kiki.&lt;br /&gt;"Saya juga mau yang dadanya aduhai neng" lanjut Pak Imam&lt;br /&gt;“Iya tenang, sabar, Pokoknya semua kebagian, ok” kataku “yang penting sekarang surprise buat mereka dulu”&lt;br /&gt;Setelah beberapa saat berbicara kasak-kusuk, akhirnya operasipun siap dilaksanakan. Pertama-tama dimulai dari Kiki. Aku berjalan ke arah kolam membawakan mereka dua gelas air, disana Indah sedang tiduran di kursi santai tanpa busana, sementara Kiki masih berendam di air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ki, lu bisa ke kamar gua sebentar ga, gua mo minta tolong dikit nih” pintaku padanya “lu lap badan dulu gih, gua tunggu di sana”&lt;br /&gt;Aku masuk ke dalam terlebih dahulu dan duduk di pingir ranjang menunggunya. Di balik pintu itu Pak Imam dan Muklas yang sudah kusuruh bugil telah siap memangsa temanku itu, kemaluan mereka sudah mengeras dan berdiri tegak seperti pedang yang terhunus. Tak lama kemudian Kiki memasuki kamarku sambil mengelap rambutnya yang masih basah.&lt;br /&gt;“Kenapa Ni, ada perlu apa emang ?” tanyanya.&lt;br /&gt;“Ngga, cuma mau ngasih surprise dikit kok” jawabku dengan menyeringai dan memberi aba-aba pada mereka. Sebelum Kiki sempat membalikkan badan, sepasang lengan hitam sudah memeluknya dari belakang dan tangan yang satunya dengan sigap membekap mulutnya agar tidak berteriak. Kiki yang terkejut tentu saja meronta-ronta , namun pemberontakkan itu justru makin membakar nafsu kedua orang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Imam dengan gemas meremas payudara kirinya dan memilin-milin putingnya. Si Muklas berhasil menangkap kedua pergelangan kakinya yang menendang-nendang. Dibentangkannya kedua tungkai itu, lalu dia berjongkok dengan wajah tepat di hadapan kemaluan Kiki.&lt;br /&gt;“Wah jembutnya lebat juga yah, kaya si neng” komentar Muklas sambil menyentuhkan lidahnya ke liang vagina Kiki, diperlakukan seperti itu Kiki cuma bisa merem melek dan mengeluarkan desahan tertahan karena bekapan Pak Imam begitu kokoh.&lt;br /&gt;“Hei, jangan rakus dong Klas, dia kan buat Pak Imam, tuh jatahlu masih nunggu di luar sana” kataku padanya&lt;br /&gt;Mengingat kembali sasarannya semula, Muklas menurunkan kembali kaki Kiki dan bergegas menuju ke kolam.&lt;br /&gt;“Jangan terlalu kasar yah ke dia, bisa-bisa pingsan gara-gara lu” godaku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Muklas keluar tinggallah kami bertiga di kamarku. Pak Imam langsung menghempaskan dirinya bersama Kiki ke ranjang spring bed-ku. Tak berapa lama terdengarlah jeritan Indah dari kolam, aku melihat dari jendela kamarku apa yang terjadi antara mereka. Indah terpelanting dari kursi santai dan berusaha melepaskan diri dari Muklas. Dia berhasil berdiri dan mendapat kesempatan menghindar, tapi kalah cepat dari Muklas, tukang kebun itu berhasil mendekapnya dari belakang lalu mengangkat badannya.&lt;br /&gt;“Jangan…tolong !!” jeritnya sambil meronta-ronta dalam gendongan Muklas&lt;br /&gt;Muklas dengan santai membawa Indah ke tepi kolam, lalu dilemparnya ke air, setelah itu dia ikutan nyebur. Dia air Indah terus berontak saat Muklas menggerayangi tubuhnya dalam himpitannya. Sekuat apapun Indah tentu saja bukan tandingan Muklas yang sudah kesurupan itu. Perlawanan Indah mengendur setelah Muklas mendesaknya di sudut kolam, riak di kolam juga mulai berkurang. Tidak terlalu jelas detilnya Muklas menggerayangi tubuh Indah, tapi aku dapat melihat Muklas memeluk erat Indah sambil melumat bibirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutinggalkan mereka menikmati saat-saat nikmatnya untuk kembali lagi pada situasi di kamarku. Aku lalu menghampiri Pak Imam dan Kiki untuk bergabung dalam kenikmatan ini. Sama seperti Indah, Kiki juga menjerit-jerit, namun jeritannya juga pelan-pelan berubah menjadi erangan nikmat akibat rangsangan-rangsangan yang dilakukan Pak Imam. Waktu aku menghampiri mereka Pak Imam sedang menjilati paha mulus Kiki sambil kedua tangannya masing-masing bergerilya pada payudara dan kemaluan Kiki.&lt;br /&gt;“Aduh Ni…tega-teganya lu nyerahin kita ke orang-orang kaya gini…ahhh !!” kata Kiki ditengah desahannya&lt;br /&gt;“Tenang Ki, ini baru namanya surprise, sekali kali coba produk kampung dong” kataku seraya melumat bibirnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berpagutan dengan Kiki beberapa menit lamanya. Jilatan Pak Imam mulai merambat naik hingga dia melumat dan meremas payudara Kiki secara bergantian, sementara tangannya masih saja mengobok-obok vaginanya. Desahan Kiki tertahan karena sedang berciuman denganku, tubuhnya menggeliat-geliat merasakan nikmat yang tiada tara.&lt;br /&gt;“Hhhmmhh…tetek Neng Kiki ini gede juga ya, lebih gede dari punya Neng” kata Pak Imam disela aktivitasnya.&lt;br /&gt;Memang sih diantara kami bereempat, payudara Kiki termasuk yang paling montok. Menurut pengakuannya, cowok-cowok yang pernah ML dengannya paling tergila-gila mengeyot benda itu atau mengocok penis mereka diantara himpitannya. Pak Imam pun tidak terkecuali, dia dengan gemas mengemut susunya, seluruh susu kanan Kiki ditelan olehnya dan Pak Imam juga mengocok penisnya diantara himpitan payudara montok Kiki….ach..aach..desah Kiki yang sangat menikmati kocokan penis di payudaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puas menetek pada Kiki, Pak Imam bersiap memasuki vagina Kiki dengan penisnya. Kulihat dalam posisinya diantara kedua belah paha Kiki dia memegang penisnya untuk diarahkan ke liang itu.&lt;br /&gt;“Ouch…sakit , duh kasar banget sih babu lu” Kiki meringis dan mencengkram lenganku waktu penis super Pak Imam mendorong-dorongkan penisnya dengan bernafsu&lt;br /&gt;“Tahan Ki, ntar juga lu keenakan kok, pokoknya enjoy aja” kataku sambil meremasi kedua payudaranya yang sudah basah dan merah akibat disedot Pak Imam.&lt;br /&gt;Pak Imam menyodokkan penisnya dengan keras sehingga Kiki pun tidak bisa menahan jeritannya, Kiki kelihatan mau menangis nampak dari matanya yang sedikit berair.Pak Imam mulai menggarap Kiki dengan genjotannya. Aku merasakan tangan Kiki menyelinap ke bawah kimonoku menuju selangkangan, eennghh…aku mendesah merasakan jari-jari Kiki menggerayangi kemaluanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku lalu naik ke wajah Kiki berhadapan dengan Pak Imam yang sedang menggenjotnya. Kiki langsung menjilati kemaluanku dan Pak Imam menarik tali pinggang kimonoku sehingga tubuhku tersingkap. Dengan terus menyodoki Kiki, dia meraih payudaraku yang kiri, mula-mula dibelainya dengan lembut tapi lama-lama tangannya semakin keras mencengkramnya sampai aku meringis menahan sakit. Dia juga menyorongkan kepalanya berusaha mencaplok payudara yang satunya. Aku yang mengerti apa maunya segera mencondongkan badanku ke depan sehingga dadaku pun makin membusung indah. Ternyata dia tidak langsung mencaplok payudaraku, tetapi hanya menjulurkan lidahnya untuk menjilati putingku menyebabkan benda itu makin mengeras saja. Aku merasakan sensasi yang luar biasa, geli bercampur nikmat. Sapuan-sapuan lidah Kiki pada vaginaku membuat daerah itu semakin becek, bukan cuma itu saja Kiki juga mengorek-ngoreknya dengan jarinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mendesah tak karuan marasakan jilatan dan sedotan pada klistoris dan putingku. Ciuman Pak Imam merambat naik dari dadaku hingga hinggap di bibirku, kami berCiuman dengan penuh nafsu. Tidak kuhiraukan nafasnya yang bau rokok, lidah kami beradu dengan liar sampai ludah kami bercampur baur.&lt;br /&gt;“Aahh…oohh…gua dah mau…Pak !!” erang Kiki bersamaan dengan tubuhnya yang mengejang dan membusur ke atas.&lt;br /&gt;Melihat reaksi Kiki, Pak Imam semakin memperdahsyat sodokannya dan semakin ganas meremas dadanya. Aku sendiri tidak merasa akan segera menyusul Kiki, dibawah sana seperti mau meledak rasanya. Dalam waktu yang hampir bersamaan aku dan Kiki mencapai klimaks, tubuh kami mengejang hebat dan cairan kewanitaanku tumpah ke wajah Kiki. Erangan kami memenuhi kamar ini membuat Pak Imam semakin liar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah aku ambruk ke samping, Pak Imam menindih Kiki dan mulai menciuminya, dijilatinya cairan cintaku yang blepotan di sekitar mulut Kiki, tangannya tak henti-hentinya menggerayangi payudara montok itu, seolah-oleh tak ingin lepas darinya.&lt;br /&gt;“Hhmmpphh…sluurrpp…cup…cup…” demikian bunyinya saat mereka bercipokan, lidah mereka saling membelit dan bermain di rongga mulut masing-masing. Pak Imam cukup pengertian akan kondisi Kiki yang mulai kepayahan, jadi 
